Ibu Lebih Sayang Kakak Part 1

Ibu Lebih Sayang Kakak | Part 1

Ibu Lebih Sayang Kakak | Part 1

Pagi ini, dengan tas yang dipenuhi dengan pakaian aku memasuki angkot. Untung saja isi angkot ini cukup sepi, jadi tak membuatku kerepotan untuk membawa tas besar. Sebenanya langkahku cukup sulit untuk pergi ke tempat ini. Setiap pagi aku harus mondar mandir antara rumah dan tempat yang aku tuju sekarang. Hatiku sungguh berat badanku pelahan juga semakin lelah, namun di sana ada satu orang yang teramat berharga bagiku. Aku tak bisa meninggalkannya begitu saja, dia telah berkorban banyak untukku. Sekarang adalah giliranku…Ibu Lebih Sayang Kakak Part 1

“Mbak sudah sampai”

Lamunanku pecah saat pak supir mengatakan jika aku telah sampai tujuanku. Rumah Sakit Permata Bunda, langkahku selalu berat untuk menyelusuri lorong di sini. Suara tangisan bayi, orang dewasa dan anak-anak terdengar. Ya kepergian sosok yang dicintai memang berat apalagi jika sudah terikan oleh darah. Tak sadar jika sudah berada di depan pintu ruang merak 3. Ruangan dimana orang yang paling ku sayangi terbaring lemah di dalam.

“Bu,” ucapku begitu lirih.. semenjak operasi pengankatan tumor di otak beberapa waktu lalu, Ibu menjadi sering melamun. Bukan hanya itu sekarang daya ingatnya menjadi menurun.

Aku merasa semakin sedih, karena Ibu sangat jarang memanggil namaku. Ia lebih sering memanggil nama tante setiap kali meminta bantuan. Apakah Ibu mulai melupakanku? Padahal aku adalah anak satu-satunya. Bagaimana dia bisa lupa, padahal sudah 23 tahun ini kami bersama.

Aku segera menghapus air mataku, dan kembali mendekati Ibu. “Bu.. makan bubur dulu”

“Yuni.. Yuni.. Yuni..”

“Tante Yuni lagi ke luar Bu, sementara Ibu sama Keyla dulu ya.”

“Yuni..” ucap ibu sambil dengan nada yang merengek. Kalau sudah begini, biarlah tante Yuni yang menyuapi Ibu. Aku harus mencari tante Yuni secepatnya.

Dengan sedikit berlari aku mencari sosok tante Yuni, dan tampak dari kejauhan dirinya tampak begitu lemas. Aku tahu tante Yuni amat lelah, aku ingin menggantikannya meskipun sehari saja. Namun sikap Ibu yang mengharuskan aku tersingkir. Tanpa pikir panjang.. aku menemui tante Yuni.

“Tante, Ibu nyariin tante”

“Ah Keyla udah nyampe sini ternyata”

“Wajah tante seperti habis menangis”

“Gakpapa kok, ini cuma karena kurang tidur aja”

“Maaf ya tante..”

“Nggak papa, namanya juga ujian dari Tuhan. Keyla harus kuat, kalo Keyla kuat Tante juga sama”

Aku merasa sangat bersalah dengan tante Yuni. Tak seharusnya dia menghabiskan waktu selama beberapa hari hanya untuk di rumah sakit. Bukan hanya suami dan anak tante saja yang kurang terurus namun diri tante sendiri sering diabaikan. Aku sungguh ingin meringankan tante dan Ibu!

Tak terasa aku tertidur di samping Ibu, tangannya masih saja ku genggam. Ku amati kembali wajah Ibu yang teduh. Rambutnya telah habis dicukur setelah operasi. Aku berharap besok ibu segera pulang ke rumah. Rumah sakit adalah tempat yang menyebalkan. Berulang kali aku mendengar tangisan disini. aku tak ingin melakukan hal yang serupa dengan mereka. “rill… rill…” suara Ibu terdengar samar aku mencoba mendekatkan wajahku berharap lebih jelas lagi apa yang dikatakan Ibu.

“Keyla Boleh tante bicara?”

Aku membalikan badanku, ku tatap wajah tante. Kali ini ekspresinya sangat berbeda daripada biasanya. Suasana malam begitu dingin, apalagi setelah hujan seperti ini. Aku dan tante Yuni berjalan di depan ruangan Ibu. Suasana rumah sakit sungguh sepi. wajah tante begitu sangat gelisah, sungguh aku sangat penasaran apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan?

“Sebagian ingatan Ibu kamu hilang, dan itu bisa jadi permanen. Makanya sampai sekarang Ibu tidak pernah menyebut namamu…”

Aku mendengarkan baik-baik penjelasan dari tante Yuni. Jujur dada terasa sesak, penjelasan tante Yuni begitu menyakitkan. Bagaimana bisa Ibu melupakanku, anak satu-satunya yang ia kasihi selama ini.

“Tapi ibu hanya ingat satu nama anaknya.. Feril kakakmu.”

“Siapa? Kakak? Aku nggak paham tante! Ibu bilang aku anak tunggal, dan tidak memiliki saudara.”

“Saat sedang mengandungmu. Ayah kamu ketahuan berselingkuh dengan wanita lain, tentu ibu kamu begitu sakit hati dan memutuskan untuk berpisah. Ayah kamu memilih wanita selingkuhannya dan mengajak Feril saat masih berusia 3 tahun…” suara tante Yuni semakin serak. Nadanya terasa begitu berat. Aku terus mendengarkan, meski rasanya seluruh tubuhku gemetar. Sebuah fakta yang ditutupi selama hidupku ini. Ayah yang dibilang Ibu telah meninggal ternyata meninggalkan Ibu dan aku.

“Selama ini Ibu kamu memendam lukanya sendiri. Dia tetap menyimpan dendam pada Ayah kamu, mungkin sulit baginya untuk memaafkan. Ia berharap bisa melupakan Ayahmu, tapi semakin lama kebencian Ibumu terhadap Ayah semakin tubuh. Sulit baginya untuk melupakan.”

“Tapi kenapa Ibu gak pernah cerita ke aku?”

“Tante juga nggak tahu. Ibumu mempunyai hati yang kaku, sulit bagi tante untuk menasehatinya.”

“Akibat operasi ingatan Ibu kembali pada saat masih bersama Ayah. Jadi bisakah kamu membawa Feril dan Ayahmu kemari? Semakin Ibumu mengingat sumber lukanya, maka mudah baginya mengingat hal yang lain termasuk kamu..”

Pernyataan tante Yuni semalam, bagaimakan sebuah mimpi buruk bagiku. Rasanya aku ingin berteriak dan mengatakan jika Tuhan tidak adil!! Tapi aku tau itu semua sia-sia. Tuhan akan semakin membenciku dan Ibu justru akan semakin melupakanku. Aku sudah lelah, benar-benar lelah. Semalaman aku tak bisa tidur, aku terus menangis sambil menatap Ibu. Ibu, kenapa harus menanggung kebohongan seperti ini sendirian? Kenapa tak sedari dulu Ibu jujur padaku, aku tak akan marah. Justru aku rela membagi luka denganmu.

Tante Yuni menyiapkan seluruh perlengkapanku dalam ransel. Beberapa hari ini aku akan berpisah dengan Ibu. Aku merasa berat untuk meninggalkannya meski hanya sehari, namun akan lebih berat lagi jika dalam sisa hidup Ibu tak mengingat aku anaknya sendiri.

Aku harus menempuh perjalanan dari Batu Malang menuju Bogor. Semua tiket dan penginapan telah disiapkan tante Yuni.

Ku pandang lagi wajah Ibu yang begitu lelap dalam tidur. Aku menghapus air mataku, aku tak boleh terlalu lemah. Aku harus menyimpan tenagaku. Ku tatap tante Yuni, dia tersenyum kepadaku. Aku tahu tante adalah satu-satunya orang yang bisa aku percayai untuk menjaga Ibu.

Tante merentangkan tangannya, mengisyaratkan sebuah pelukan. Pelukan tante Yuni adalah pelukan terbaik setelah Ibu. “Jaga Ibu baik-baik ya tante.”

“Pasti.” Ucapnya sambil mengecup keningku.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *