Hari Pertama Masuk Kuliah | Part 4

Hari Pertama Masuk Kuliah | Part 4

Hari Pertama Masuk Kuliah | Part 4“Tyas!! Hei sadar!”

“Duh Lastri apaan sih, ngagetin tahu nggak.”

“Lagian kamu tuh makan kebanyakan ngalamunnya. Kamu lagi jatuh cinta ya! Ayo cerita”

“Enggak kok Las, aku nggak papa.”

“Beneran? Yaudah kalau gitu kamu abisin gih baksonya, sayang tahu.”

“kamu tuh Las, bakso aja disayang apalagi…”

“Apalagi cowok.”

“Bisa aja kamu.”

Hari semakin berganti, tanpa sepengetahuan Lastri aku dan kak Putra sering jalan berdua. Ternyata dia adalah lelaki yang berjiwa tinggi. Bukan hanya itu kak Putra juga sering mengajakku berkumpul dengan temannya yang menjadi panitia ospek. Aku ingat kata temen SMA ku di Jakarta, kata mereka kalo ada cowok yang sering mengajakmu pergi berdua dan ngenalin temen-temennya. Itu adalah tanda kalo dia suka sama kamu!

“Las menurutmu kalo cewek nembak cowok gimana?”

“Bagus dong, lagian sekarang udah gak zamannya cewek harus nunggu loh. Lagian kamu mau nembak siapa?”

“Duh, aku cuma tanya doing bukan berarti aku sendiri yang nembak.”

Bahkan aku tak berkata jujur dengan Lastri tentang perasaanku ke kak Putra. Mungkin aku bisa cerita kalau hubungan kami sudah jelas.

Hari ini memang gak ada mata kuliah, tapi aku putuskan untuk pergi ke kampus. Kata Lastri benar sekarang sudah bukan zamannya wanita menunggu. Aku yakin kak Putra pasti juga menyukaiku, sebelum bertemu, aku membeli es krim di dekat kampus. Aku ingat kesalahanku yang memberi es krim cair ke kak Putra.

Aku mengirim pesan kepada kak Putra untuk menemuiku di taman Fakultas. Dia membalas oke akan datang. Jujur ini adalah pertama kalinya aku menyatakan perasaanku kepada laki-laki. Sebelumnya aku selalu menaruh gengsi yang tinggi. Bagiku gaya tetaplah yang diutamakan bagiku dan pacarku kelak, namun setelah mengenal kak Putra aku sadar. Gaya setiap orang berbeda-beda dan tak bisa disamakan.

“Hei udah lama nunggu?”

“Ah.. enggak kak, kakak baru selesai kuliah?”

“Iya, kamu kok sendirian aja. Lastri kemana?”

“Di kostan dia kak, paling lagi streaming film”

“Oalah dia suka nonton film, banyak hal yang belum aku tahu soal dia ya.. kira-kira selain film dia sukan apa lagi?”

Entah mengapa pertanyaan kak Putra membuatku sedikit curiga, kenapa begitu besar rasa penasarannya terhadap Lastri?

“Hei ngalamun.. kamu pasti bingung. Aku mau jujur sama kamu karena kamu sahabatnya Lastri, mungkin kamu bisa bantuin aku buat PDKT sama dia. Jujur nih, semenjak pertama kali ospek Lastri udah mencuri perhatianku. Wajahnya yang lugu membuatku selalu memperhatiin dia, apalagi waktu kerisuhan, aku sangat khawatir kalau Lastri kenapa napa. Sebenarnya aku sempet pesimis bisa deketin dia atau enggak, tapi semenjak kita akrab gini aku yakin kamu pasti bisa bantuin aku”

Hatiku hancur seketika, kenapa Lastri?? Aku menyukai kamu kak! Apa selama ini kamu nggak pernah nyadar?

“Hei bengong lagi, sorry ya Tyas. Aku malah cerita panjang kek kamu, btw kamu mau kan bantuin aku buat PDKT sama Lastri?”

Awalnya aku merasa begitu marah, aku sungguh kesal. Namun aku sadar ini bukan kesalahan Lastri atau kak Putra. Sedari awal memang aku tak memiliki kesempatan. Lastri telah baik denganku aku tak boleh membencinya. “iya Kak aku bantuin”.

Bayangan kak Putra memang sudah berlalu, tapi kesedihanku masih membendung. Kakiku terasa sangat goyah hingga tak mampu berjalan, mataku sudah mulai sembab. Aku harus bagaimana lagi? Rasa sakit ku masih terasa, tak ada seorang pun yang mengerti diriku.

“Mau es krim?”

Terdengar suara laki-laki yang pernah aku dengar sebelumnya, ku angkat wajahku dan ku tamatkan wajahnya. Senior yang menghukumku waktu ospek. “Orang yang patah hati harus punya tenaga buat nangis.”

Tanpa meminta izin dari ku, dia langsung duduk di sebelah. Aku tak bisa berkata apapun sauna sore itu cukup canggung.

“Kamu sudah berapa lama suka sama Yono?” aku tak berniat untuk menjawab pertanyaan itu. Ia mengambil es krim ku yang telah mencair.

“Kenapa jadi canggung ya? Es krim yang mencair mugkin bisa mencairkan suasana kita. Oh ya, aku juga suka padamu sejak kita bertemu di kantin”

Apa? Aku tak salah dengar? Aku menatap wajahnya semakin dalam, air mataku menetes lagi. Namun kali ini ku teteskan di pundak dia. “kenapa tak sedari awal kakak bilang” aku menangis di pundak laki-laki yang aku takuti.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *