Hari Pertama Masuk Kuliah | Part 4

Hari Pertama Masuk Kuliah | Part 3

Hari Pertama Masuk Kuliah | Part 3

Hari Pertama Masuk Kuliah | Part 4Aku menengok ke belakang, dan tak gambar ekpresi apapun dari dia. Yang terlihat hanya teman-temannya yang menggoda karena dia menjadi anggota kelompokku. Aku tak tahu kenapa yang jelas aku begitu senang, akhirnya aku bisa mengucapkan terima kasih padanya.

“Oh ya, sebelum kita mulai buat diskusi kelompok. Sebaiknya kita kenalan dulu, aku Triyoso Sutyono Putra. Kalian boleh panggi aku”

“Kak Putra. Eh.. aku Tyas”

“Aku Lastri”

“Putra ngakpapa sih, tapi temen-temen aku biasanya manggil aku Yono. Tapi senyamannya kalian aja sih”

“Kak Putra, satu jurusan sama kita ya?”

“Sorry aku nggak biasa dipanggil Kak, panggil mas atau putra langsung aja nggak papa”

“Oh maaf kak, eh mas. Sejak SMA aku udah biasa manggil kakak kelas dengan Kak”

“Iya gakpapa. Yaudah senyamannya kamu aja Tyas. Malah jadi canggung kan sekarang, ayo mulai diskusinya”

Siang itu, pertama kalinya aku bisa berbicara langsung dengan dia, Putra. Aku sungguh ingin melanjutkan obrolan kami. Mungkin terdengan sedikit jahat tapi jujur sementara bolehkah Lastri pergi sebentar dan meninggalkan kami?

“Las, kamu mau es krim apa? Hari ini aku traktir es krim deh.”

“Beneran baik banget kamu, lagi berbunga-bunga ya kamu.”

“Apaan sih Las, udah ambil aja”

“Silahkan beli kak, mumpung kami sedang promo beli 2 gratis 1”

“Beli 2 GRATIS 1!!”

Aku dan Lastri memilih rasa yang berbeda, Lastri memilih es krim rasa mocha. Sedangkan aku memilih rasa strowberri dan coklat. “Yas, yang 1 kira-kira buat siapa?”

“Iya ya, eh Las kamu pulang ke kostan dulu gakpapa. Aku mau ke perpus bentar”

“sendirian berani? Gak mau aku temenin?”

“Gak usah, aku kan gak mungkin nyasar di kampus sendiri”

Terpaksa aku berbohong dengan Lastri. Aku ingin menemui Kak Putra sendiri dan mengucapkan kata terima kasih padanya. Semenjak diskusi kemarin aku merasa dia pasti lupa dengan kejadian inagurasi. Lebih baik aku mengucapkannya sekarang. Satu-satunya tempat yang aku tahu hanyalah kantin, warung kopi sebelah kampus atau ruang kelas. Maklum saja hanya 1 mata kuliah yang membuat kami bertemu.

Aku mencoba menyelusuri sudut kampus, kantin, tempat parker, ruang kelas. Namun tak juga ku temui dia. Hingga langkahku berhenti pada tepat disebuah lapangan olahraga milik fakultas pendidikan Jasmani. Terlihat dia sedang bermain basket dengan beberapa mahasiswa laki-laki lain. Sepertinya mereka adalah mantan panitia ospek kemarin. Aku ingin sekali mendekatinya namun ketika aku melihat satu sosok kakak senior yang memarahiku dan Lastri saat makan di kantin rasanya lebih baik aku melangkah mundur saja. “Eh yang disana boleh minta tolong ambilin bola?”

Niatku untuk kabur kini gagal, salah satu dari gerombolan senior itu memanggilku. Ku ambil bola tersebut, dan Kak Putra yang menerimanya. Aku berniat untuk langsung pamitan pulang namun setelah ku dengar “Tyas, mau langsung pulang? Gak mau coba gabung sama kita?”

Aku berpikir beberapa kali namun sisi lain kesempatan seperti ini tak mungkin datang dua kali. “iya Kak boleh.”

Kak Putra memperkenalkanku dengan mantan panitia ospek ini, dia juga bercerita jika kami menjadi teman satu kelas. Bukan hanya itu, senior yang memarahi waktu ospek ternyata tak semenyeramkan yang aku kira. Waktu berlalu begitu cepat Kak putra, pamit untuk pulang lebih dulu begitupun aku. Kami akhirnya jalan beriringan menyelusuri taman kampus.

“Kak, makasih ya”

“Untuk apa?”

“karena udah ngenalin aku sama mereka”

“Dah, santai aja lagian mereka juga seneng kenal sama kamu”

“Iya, aku juga. Dulu aku takut banget sama senior-senior selama OSPEK. Aku juga sempet dihukum karena makan di kantin”

“Dan sekarang masih takut?”

“Enggak sama sekali. Eh ya kak, aku lupa. Aku mau ngucapin makasih sama Kak Putra, karena dulu waktu malam inagurasi kakak yang udah nyelametin aku dari kerusuhan”

“Masak? Gimana ceritanya aku sampe gak inget.”

Aku pun menceritakan kronologi secara detail bagaimana aksi heroit Kak Putra malam itu. Akhirnya obrolan kami menjadi sangat menyenangkan. Beberapa kali Kak Putra memberikan lolucon yang sedikit garing sebenarnya, namun karena itu diucapkan oleh orang yang aku suka tak tahu kenapa aku selalu tertawa. Tunggu… orang yang aku suka?

“Oh iya Kak aku lupa! Ada es krim buat kam.. Duh es krimnya udah cair Kak, maaf ya”

“Udah gakpapa, sini nanti aku masukin freezer lagi juga jadi es  krim lagi”

Apa benar aku menyukai seniorku ini. bukannya aku hanya ingin sekedar berterima kasih telah menyelamatkanku dan Lastri? Harusnya perasaanku tidak lebih dari ini bukan?

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *