Hari Pertama Masuk Kuliah Part 2

Hari Pertama Masuk Kuliah | Part 2

Hari Pertama Masuk Kuliah | Part 2Hari Pertama Masuk Kuliah Part 2

“Dengan ini Masa Orientasi Mahasiswa saya nyatakan selesai”

Sorakan anak-anak masa siswa baru terdengar keras dan membuat bising aula, aku memeluk Lastri. Akhirnya 4 hari penuh penyiksaanpun berakhir. Aku bisa bisa tidur nyenyak mala mini, upacara penutupan ospek selesai. Kegiatan selanjutnya adalah malam inagurasi, it’s time to party beib..

Aku merangkul Lastri dengan erat, suasana aula mulai sedikit berantakan, padahal tadi semua barisan disusun rapi oleh kaka senior. Semakin lama suasana aula jadi semakin anarkis, dorong-dorongan sesama mahasiswa terjadi. Tepat dibelakangku seperti ada 2 orang laki-laki yang bertengkar. Aku dan Lastri mencoba untuk menyingkir dari mereka. Tapi yang terjadi kami malah terjebak dan kesusahan untuk keluar dari kerumunan. Aku dan Lastri berusaha untuk membelah lautan manusia ini. Hingga aku tak tahu siapa, ada seseorang yang menarik tanganku dan menyelamatkan kami dari kerumunan.

“Kalian nggak papa?”

“Nggak papa makasih ya”

Dari pakaian yang ia kenakan, ia adalah salah satu kakak senior. Laki-laki berbadan agak kurus, menggunakan almamater warna biru. Kumis tipis menghias dan sedikit rambut gondrong, wajahnya tidak terlalu jelas ku lihat. Namun suaranya begitu khas begitu mudah ku hafalkan.

Akhinya malam inagurasi berakhir dengan tenang kembali, aku menarik tangan Lastri ku ajak dia untuk mencari kakak senior yang menyelamatkan kami. Jujur aku sangat penasaran degan dia. Aku ingat di lengan kanannya ada terikat sebuah sliyer berwarna hitam. Aku mencoba menyelusuri namun malam itu kami gagal menemukan sosok lelaki itu.

Kringg…!!!!

Bunyi alarm dari ponselku, tepat pukul 05.30 pagi. Inilah saatnya, hari pertama aku masuk kuliah. Lastri terus mengetuk pintu kamar, maklum saja untuk berdandan aku membutuhkan waktu 20 – 30 menit. Kebiasaan ini sudah aku lakukan sejak kelas 3 SMA. Karena aku sudah kuliah, tak ada lagi seragam putih abu-abu yang melekat. Aku sangat menyukai MIX&MATCH ku coba padu padankan mini dress dengan beberapa outer milikku.

“Tyas mau nyampe kapan? Ini udah jam berapa? Nanti kita telah masuk mata kuliah pertama.”

“iya Las, bentar.”

Dress mini motif bunga dan sweeter wana pulih sepertinya cocok denganku. Jarak kost sampai kampus tak terlalu jauh cukup berjalan sekitar 8 menit kami sudah sampai di salah satu gedung Fakultas Ilmu Sarta, Seni dan Budaya. Aku menggandeng tangan Lastri, sungguh jantungku sangat berdebar. Inilah hari yang aku tunggu selama ini. Aku telah resmi menjadi seorang mahasiswa, “Tyas kamu kenapa senyum-senyum sendiri? kayak wong edan tahu.”

“Haduh Las, aku tuh lagi seneng. Akhinya aku bisa kuliah di jurusan dan kampus yang aku suka.”

“Iya ya… Aku juga seneng banget. Oh ya nanti kita duduk sebelahan ya!”

Tanpa pikir panjang aku dan Lastri pergi menuju ruang kelas, tanpa kondisi ruang kelas sangat penuh. Kami duduk dibangku nomor dua dari belakang. Aku dan Lastri mencoba memperkenalkan diri dengan kawan lainnya yang satu kelas dengan kami.

Suasana kuliah memang sangat berbeda dibandingkan masih SMA. Setiap mahasiswa di kelas memberikan gayanya masing-masing. Aku tak merasa terganggu sedikitpun dengan mereka, bahkan aku melihat ada teman satu kelasku bertato pada bagian lengannya. Yah, maklum di Jakarta juga banyak ku temui wanita seperti itu. Tak selang begitu lama Dosen mata kuliah “Estetika dalam Drama” masuk ke ruang kelas.

“Saya absen satu-satu ya!”

“Iya Pak”

“Triyoso Sutyono Putra”

“Hadir Pak!”

Suara itu, sepertinya tidak asing bagiku. Aku memutas badanku hingga 180 derajat. Aku mencoba mencuri padang dengan seorang mahasiswa yang baru saja dipanggil namanya. Badan agak kurus, berkumis tipis dan sedikit gondrong. Apa benar dia yang menyelamatkanku di malam inagurasi kemarin? Tapi kenapa bisa kami menjadi satu kelas sekarang?

TYAS!!”

“Eh iya Las?”

“Kamu dipanggil dosen”

“Tyas Savirasatya Dwirandani”

“Iya Pak, Saya Hadir”

Semua orang jadi melihatku, termasuk dia lelaki yang ku perhatikan. Tingkah ku memang sangat memalukan apalagi jika sedang salah tingkah.

2 sks berlalu begitu cepat, tak lama setelah dosen keluar dari ruangan. Gerombolan mahasiswa berburu keluar termasuk lelaki yang sedari tadi aku amati. Sebenarnya dalam hati aku ingin menemuinya dan berkata terima kasih padanya. Tapi hampir setiap waktu di kelas, di depan ruang kelas, hingga di kantin ia selalu dikelilingi oleh teman-temannya. Kata Lastri Dia itu kakak tingkat yang sedang mengulang mata kuliah “Estetika dalam Drama”.

“Las, kamu inget nggak dulu waktu inagurasi siapa yang nyelametin kita dari kericuhan?”

“Lupa-lupa ingat aku”

“Masak kamu nggak inget Las, kayaknya dia deh yang nyelametin kita”

“Oh yaudah..”

“Ih Lastri kenapa kamu bilang gitu, kita belum ngucapin makasih sama dia”

“kamu yakin cuma bilang makasih? Jangan-jangan kamu naksir sama dia?”

“Ye.. bukannya gitu juga kali Las”

Sudah satu minggu ini aku dan dia menjadi teman satu kelas. Rasanya aku tak punya kesempatan untuk berbicara atu sekedar mengucapkan terima kasih padanya.

“Karena sudah saya jelaskan materi ini dalam 2 pertemuan, maka saya akan berikan tugas kelompok.”

“Yah…”

“Sudah jangan terlalu banyak protes. Saya yang akan bentuk kelompoknya. Untuk kelompok 1 : Sri Sulastri, Tyas Savirasatya Dwirandani, dan Triyoso Sutyono Putra”

Apa aku nggak salah denger? Aku dan dia menjadi teman satu kelompok? Ternyata Tuhan mengabulkan permintaanku begitu cepat.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *