Hari Pertama Masuk Kuliah Part 1

Hari Pertama Masuk Kuliah | Part 1

Hari Pertama Masuk Kuliah | Part 1

Ibu memelukku sangat erat, padahal selama perjalanan aku telah mengucapkan berbagai kalimat untuk menghiburnya. “Ibu jangan khawatir aku bakal baik-baik aja.”

Hari Pertama Masuk Kuliah Part 1

“Iya Ibu tahu, pertama kalinya dalam hidup ibu harus berpisah dengan kamu.”

“Bu kita udah bahas ini dari kemarin, Tyas bakal baik-baik aja bu di Solo. Ibu juga harus baik-baik di Jakarta.”

Sekali lagi ibu memelukku, Ibu sudah tidak mempedulikan lagi kehadiran Bang Irfan di belakang. Aku mengerti ini adalah pertama kalinya aku memutuskan untuk pergi jauh dari rumah hanya untuk melanjutkan pendidikanku di kota Solo. Sebenarnya di Jakarta juga banyak Universitas ternama, namun bagiku tak akan mungkin bisa aku belajar kesenian jawa jika tidak ditempatnya. Jakarta kota yang penuh dengan budaya hedonis, sedangkan Solo masih kental dengan adat dan budayanya.

“Ibu, Ayo pulang nanti sampai rumah bisa kemalaman”

Akhirnya ucapan Bang Irfan bisa menghentikan tangisan Ibu. Dengan berat hati Ibu kembali ke mobil. Aku mendampinginya, aku masih melihat bayang-bayang ibu dan melihat mobil Bang Irfan berlalu.

Suasana kamar kostku masih berantakan, banyak barangku yang belum aku tata. Semua barang dan kenganku tersimpan dalam kardus. Baiklah aku nggak boleh diem aja, harus mulai bersih-bersih sekarang.

Baju, sepatu, beberapa tas dan foto telah aku susun serapi mungkin dalam ruang kamar 4×5 m ini. Daripada harus tinggal di apartemen atau asrama lebih baik aku tinggal di kostan putri sederhana saja. Aku mencoba berkeliling kostan. Kondisi disini masih bersih, maklum saja ini termasuk kostan baru. Mungkin aku aku penghuni pertama disini. Perjalanan Jakarta – Solo memang melelakan, ditambah harus membereskan kamar.

Tokk Tokk…

Suara ketukan pintu membangunkanku, apa disini ada orang lain selain aku? Aku memberanikan diri untuk membuka pintu kamar. Aku tak mendengar suara orang lain. Jujur aku sedikit merinding, apalagi kalau saat-saat seperti ini aku jadi ingat waktu kecil ditinggal di rumah sendiri. “Mbak…”

Mendengar suara itu aku langsung membuka pintu. “Ah iya ada apa ya?”

Seorang berpenampilan sederhana dengan daster motif bunga, dengan wajah yang masih sangat polos. “Mbak baru ngekost disini? Saya Lastri mbak. Saya baru pindahan kemarin.”

Kesan pertamaku saat bertemu Lastri, Udik. “iya mbak saya Tyas, baru pindah hari ini. Mbaknya Mahasiwa baru juga?”

“Iya mbak, Saya jurusan Seni Tari dan Gamelan. Kalo mbaknya?”

“wah sama mbak, saya juga ngambil jurusan itu.”

“Alhamdulillah nanti kita bisa jadi teman sekelas ya mbak.”

Dalam hatiku sebenarnya aku nggak yakin bisa menjadi teman sekelas yang baik untuknya, jujur aku sudah budaya jawa. Namun aku juga masih mengikuti adanya modernisasi.

Hari pertama masuk kampus,

Hari ini dijadwalkan mahasiswa baru untuk Technical Meeting mengenai perlengkapan dan aturan Ospek. Tema pakaian hari ini kemeja putih dan bawahan hitam. Meskipun memiliki tema warna, namun bagiku fashion tetaplah fashion. Aku tidak ingin tampak terlalu polos seperti mahasiswa baru lainnya. Aku harus tampil berbeda.

Selama acara berlangsung aku selalu bersama dengan Lastri. Bagaimanapun dia adalah satu-satunya orang yang aku kenal saat ini. Mulai dari latihan upacara hingga jam ISHOMA, Lastri terus menggandengku. Waktu istirahat hanya 30 menit karena aku tidak membawa bekal, meminta lastri untuk  menemaniku pergi ke kantin. Kondisi kantin ini cukup sepi, hanya ada beberapa mahasiswa yang ada disini. tanpa pikir panjang aku mendatangi ibu penjual nasi goreng di kantin, tak lama nasi goreng pesananku datang. Kalau kelaparan mau makana terasa apaun pasti semua enak.

Tapi, dari kejauhan aku merasa ada kakak senior menuju kearah kami. Pura-pura tidak lihat saja… “Woiii jam ISHOMAnya udah habis ngapain masih disini?” sungguh apes. Kami berdua tidak diizinkan untuk kembali ke ruang aula. Kakak senior yang memergoki kami, meminta agar kami keliling lapangan 5 kali sambil nyanyi potong bebek angsa. Sungguh itu adalah hal yang memalukan, tapi entah kenapa aku menjadi tertawa, saat aku lihat Lastri kesusahan merapikan aksesorisnya.

“Potong bebek angsa… haa haa..”

“Kamu kenapa ketawa? Topi sama kaling kamu lepas”

“Oh iya.. Kaos kaki kamu juga mlorot”

“Siapa yang suruh berhenti nyanyi?!!”

“Sorong ke kiri, Sorong ke kanan lalalala…”

Usai berlari rasanya diriku dipenuhi dengan keringat, lebih baik hapus make up saja. “aku kelupaan bawa kapas pembersih. Duh gimana ya…”

“Tyas aku bawa tissue basah, kamu pakek nih”

“Wahh makasih Las”

Semenjak hari itu aku menjadi semakin dekat dengan Lastri, adalah kesalahanku ketika aku menilainya sebagai seseorang yang udik. Kepribadian yang Lastri miliki ternyata mengasyikan, ramah, baik, dan dia adalah gadis yang cukup pandai.

Selama ospek aku sering meminta bantuannya untuk melengkapi beberapa barang. Maklum saja aku masih minim pengetahuan mengenai Bahasa jawa dan aku juga belum berani untuk berkeliling kota Solo sendiri.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *