Garis Depan | Part 4

Garis Depan | Part 4

Garis Depan | Part 4Garis Depan | Part 4

Tepat satu hari sebelum aksi turun ke jalan. Ada perkumpulan, sesuai dugaanku, banyak mahasiswa yang berpartisipasi. Wajah Mas Ilham terlihat sumringah. Banyak pihak yang mendukungnya, termasuk kampus kami. Aku duduk di barisan paling depan bersama Rangga. Aku menatap Rangga penuh dengan semangat, setelah semalam ku katakan padanya jika Mama merestuiku.

Aku menengok kanan kiri dan belakang, halaman Fakultas Hukum penuh oleh mahasiswa. Bukan hanya dari fakultas hukum saja, namun beberapa program studi lainnya juga ikut bergabung. Aku bahagia melihat antusias mahasiwa sebesar ini. Tepat di depanku, ada presiden Mahasiswa Univesitas Negeri Semarang dan beberapa presiden fakultas, termasuk Mas Ilham.

Mas Ilham menatapku keheranan. Ia mencoba berbicara denganku, suaranya mungkin tak terdengar tapi dari gerak bibirnya aku bisa membaca apa yang dia katakan. “Kamu jadi ikut?”

Aku menganggukan dengan penuh semangat. Mas Ilham pun tersenyum, selepas perkumpulan tadi sore. Presiden Mahasiswa kami meminta untuk berkumpul tepat jam 09.00 dan akan berangkat ke lokasi sekitar jam 10.15, selepas dibubarkan aku menghampiri mas Ilham. “Mas Ilham!”

“Iya, gimana?”

“Mas, akhirnya aku dibolehin sama Mama.. besok aku bakal ikut turun ke jalan!”

“Syukurlah, tapi kamu bagian tim medis aja ya.. Mas Ilham takut kalau kamu kenapa-napa. Apalagi kamu paling familiar sama obat-obatan.”

“Yah Mas Ilham padahal aku pengen di garis depan.”

“Hei.. garis depan itu buat cowok-cowok. Tim medis itu penting, bagaimana kalo ada orang terluka?”

“Iya, iya.. Rangga besok kamu ikut kan?”

“Ah… iya”

“Nanti kamu di garis depan ya bareng Mas Ilham.”

“Hei.. Rangga harus bareng kamu. Karena Mas jauh sama kamu, Cuma Rangga yang bisa jagain. Tolong ya Ngga, besok jagain adekku ini.”

Rangga tak menjawab dia hanya tersenyum. Aku merasa Rangga terlihat aneh setiap kali membahas aksi turun ke jalan.

Esok pagi tepat pukul 10.00 aku masih memutar badanku, ku amati dengan teliti sosok Rangga sampai sekarang belum nampak. “Grace nunggu apa?”

“Rangga Mas.”

“Udah, nanti kita bakal ketemu sama Rangga di sana. Percaya sama mas Ilham.”

Aku pun menurut. Mungkin saja Rangga masih ada urusan, sesekali aku mengecek chat terakhir yang aku kirim dan benar Rangga belum membalasnya. Tepat di Jalan Pahlawn kota Semarang, Mas Ilham berada di barisan paling depan bersama beberapa Mahasiswa laki-laki dari kampus lainnya. Sesuai dengan pesan Mas Ilham, aku harus di baris belakang bersama tim medis lainnya. Sempat aku berkenalan dengan beberapa mahasiswa dari kampus lain. Sesuai dengan dress code baju hitam dan almamater. Kalau di lihat dari atas mungkin ini seperti warna pelangi. Kami memutari Simpang Lima, tepat pukul 11.30 suasana terasa makin panas. Banyak keringat yang bercucuran di dahi, area hidung dan punggung. Dari kejauhan aku mendengar jika anak-anak barisan depan hendak menuju gedung DPRD Jawa Tengah dan bertemu dengan pak Gubernur.

Jarak yang terbentang antara aku dan Mas Ilham cukup jauh. Padahal aku ingin di dekat mas Ilham, kemudian terdengar suara kericuhan di baris depan. Sepertinya mahasiswa sedang memaksa masuk gedung. Aku merasa takut dengan kondisi Mas Ilham. Aku tak mau Mas Ilham kena pukul, aku gak mau mas Ilham dikeroyok oleh aparat. Aku mau Mas Ilham selamat!

Tanpa memikirkan apa pun, aku langsung menuju baruisan depan. Ku belah lautan mahasiswa yang padat merayap ini. Ada yang duduk, ada pula yang berdiri. Aku berusaha secepat mungkin untuk sampai ke depan. Terdengar sorakan mahasiswa semakin kencang, sedikit lagi aku akan sampai.

GUBRAKKKKK!!!!!

Mahasiswa berhasil menjebol gerbang. Semua orag yag melihat ini bersorak, semua berteriak nama Pak Ganjar, selaku Gubernur Jawa tengah. Aku masih menyelip diantara mahasiswa lainnya. Aku tahu mereka seperti aku, ingin mendekat garis depan, jebolnya gerbang gedung DPRD Jateng mengobarkan semangat seluruh mahasiswa yang turun di jalan. Langkahku semakin sempit, aku justru sedikit terdesak dengan mahasiswa yang lain. Dari kejauhan aku mulai melihat sosok Mas Ilham. Aku berusaha memanggil mas Ilham, tapi orang-orang di depanku terlalu tinggi dan menutupiku. Aku mencoba dengan sopan melewati mereka dan mereka memberikan jalan padaku.

Sekitar 3 meter jarakku dari Mas Ilham, aku memanggilnya sekali lagi. “Mas..” tapi sedetik kemudian pandanganku teralihkan. Sosok Rangga berada jauh di dalam area halaman gedung DPRD. Tanpa mengenakan dress code yang sama dengan kami. Rangga terlihat begitu rapi, bergerombol dengan beberapa aparat di sana. Aku menatap Rangga begitu lama, hingga akhirnya ia sadar dengan keberadaanku. Kami saling menatap. Aku melihat Rangga dengan perasaan kecewa, aku mematung begitu lama.

Suasana kembali ramai, para mahasiswa bergerak ke arahku. Pak Ganjar menemui kami. Semua berusaha mendekat sambil mendengarkan beliau beorasi. Namun aku masih mematung. Aku tidak sadar jika tubuhku telah didorong-dorong. Suasana semakin ramai dan sedikit sesak. Pandanganku kabur… namun aku melihat satu tangan menarik tubuhku, dan menyelamatkanku dari lautan manusia.

Aku tak melihat siapa yang menarikku, yang jelas aku mencengkram erat tubuhnya. Setelah jauh dari lautan manusia. “Rangga..”

“Kamu nggak papa?”

Kataku telah habis, dadaku terasa sesak. Lututku mulai lemas, rasanya aku ingin terjatuh tapi Rangga menopang tubuhku. Aku tidak tahu rasaya asmaku kabuh dan tubuhku sangat lelah, namun hatiku jauh lebih lelah… aku melepaskan diri dari Rangga. “Grace, biarkan aku mengantarmu pulang. Wajah kamu pucat.”

Aku menggeleng.. aku sungguh kecewa dengan Rangga. Dia membuatku benar-benar terluka… aku berusaha melangkah pelahan menjauh darinya. Tanpa sadar aku menabrak seseorang, “Mas Ilham.”

Tanpa sepatah kata apa pun Mas Ilham menggendongku, dia mungkin paham apa yang aku rasakan.  Mas Ilham hanya memandang Rangga dengan dalam, dan sempat tersenyum padanya. Aku tak ingat jelas apakah Mas Ilham mengatakan sesuatu, yang jelas selama digendong, aku tak sadarkan diri.

Terdengar suara samar orang berbicara… pelahan aku membuka mata. Mas Ilham dan Mama sedang berdiskusi di depanku. Aku memanggil Mama pelahan.. “Mama…”

“Iya sayang Udah sadar? Kamu minum dulu ya biar enakan.”

“Ma, Grace mau ngomong sama Mas Ilham benta boleh?”

Mama mengerti maksudku. Ia meninggalkanku bersama Mas Ilham. Mas Ilham mengambil posisi duduk di depanku, “Mas Ilham sudah tahu?”

“Tahu soal apa Grace?”

“Soal Rangga.”

Mas Ilham mengangguk, sudah ku duga.. Rangga hanya menutupi ini dariku saja.

“Kenapa Rangga begitu jahat.”

“Grace, Rangga juga berada dalam kesulitan. Dia tak tahu harus berpihak ke siapa. Ke orangtuanya atau temannya.”

“Aku tidak mempermasalahkan soal dia yang tidak ikut bersama kita. Aku kecewa padanya karena dia berbohong dan tidak terbuka denganku. Aku ini pacarnya, tapi kenapa dia tak pernah bilang latar belakang keluarganya. Kenapa dia tidak bilang jika dia anak dari pejabat atau aparat pemerintah. Kenapa dia masih saja ikut denganku, dan menjanjikan jika kami akan berada di garis depan.”

“Grace…”

“Aku hanya terluka karena ucapannya yang ingkar.”

“Iya, Mas Ilham paham. Terus kalau sudah begini kamu mau gimana?”

“Putus dengannya..”

Suara kicauan burung, hari ini cuaca cukup panas. Tapi karena rindangnya pohon bayangannya melindungiku dari sengatan matahari. Di sampingku, Rangga. Dengan wajahnya yang takut, cemas, dan tak ada senyuman. Kamu duduk berdua, sudah semalaman aku menangis. Aku tahu Rangga pasti melihat mataku yang sembab. Tapi keputusanku telah bulat..

“Ngga.. aku tahu ini keputusan sepihak. Tapi aku kecewa denganmu, aku tidak suka hubungan yang tidak dilandasi keterbukaan. Aku pernah dikecewakan oleh kebohongan dulunya… dan sekarang kamu melakukan hal yang sama.”

“Grace apa nggak ada kesempatan buat aku memperbaikinya?”

“Seharusnya ada, tapi kekecewaanku jauh lebih besar dibanding kesempatan kedua.”

“Sebaiknya kita pisah. Kamu akan lebih fokus dengan duniamu aku juga akan begitu.”

“Grace tolong..”

“Ngga Tolong, mataku telah sembab memikirkan luka. Jangan kau buat semakin besar dengan penyesalan. Kamu lelaki yang baik, tapi sayang akan lebih baik kamu tidak denganku.”

“Cuma kamu satu-satunya wanita di hatiku.”

“Cuma kamu satu-satunya lelaki yang membuatku patah hati sedalam ini.”

Lagi.. aku menangis dan menatap Rangga. Aku berusaha menahan ini. Tapi ternyata aku tak sekuat harapanku. “Nggak, kamu boleh bahagia.. tapi untuk terakhir kalinya jangan libatkan aku.”

Rangga mematung, aku tak ingin semakin memperlihatkan kesedihanku. Aku pergi Rangga… maaf jika perpisahan ini melukaimu. Tapi aku harus pergi, segeralah cari wanita lain agar semakin cepat sembuh dari luka yang ku buat hari ini. Biarkan patah hati ini yang menjelaskan jika kita tak memiliki kecocokan, biarkan patah hati yang mengatakan jika aku tidak menyukai kebohongan..

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *