Garis Depan | Part 3

Garis Depan | Part 3

Garis Depan | Part 3Garis Depan | Part 3

Bau nasi goreng buatan Mama sudah tercium harum dari kamarku. Pagi ini nasi goreng spesial telah siap di meja makan. Nenek dan Mama sudah siap, aku mengambil beberapa centong nasi goreng, seperti biasa Nenek menyalakan televisi sambil sarapan. Kebiasan menonton berita dipagi hari telah menjadi kebiasaanku sejak kecil. Jika orang-orang lebih memilih kartun atau sinetron aku justru memilih perdebatan dan berita.

“#Gejayanmemanggil terjadi demonstrasi mahasiswa di kota Jogjakarta yang menentang RUU KUHP,….”

Mendengar berita yang disiarkan di TV, rasanya nasi gorengku berubah menjadi hambar. Nenek sepertinya menyimak betul apa yang dikatakan oleh reporter. Sedangkan Mama sibuk memotong sayur untuk di masak nanti siang.

“Banyak yag demo ya….” ketus nenek keheranan.

Aku tak merespon apa pun. Dibading aku mencoba membenarkan tindakan mahasiswa justru akan membuat Mama dan nenek terluka.

Selama mata kuliah, aku terus melamun. Aku tak dapat mencerna setiap materi yang disampaikan oleh dosenku kali ini. Aku masih dilema antara berpartisipasi menyuarakan penolakan atau berdiam diri. “Grace?”

Tanpa sadar suasana kelas berubah sepi, di depanku kini ada Rangga sambil membawa beberapa berkat tugas kuliah.

“Udah makan?”

“Udah tadi di rumah.”

“Hmmm itu namanya sarapan… ke kantin yuk!”

Aku mengiyakan ajakan Rangga. Meja makan di kantin sudah penuh hanya ada 2 bangku kosong, mau tidak mau aku dan Rangga harus berbaur dengan yang lain. “Grace! Rangga Sini!!” Suara Mas Ilham memanggil kami untuk bergabung di meja makannya. Untung saja…

“Sore nanti kita ke basecamp ya. Ada hal penting yang harus aku sampein.” Mendengar permintaan Mas Ilham aku berfirasat jika ini tentang demo minggu depan.

Pukul 15.30, tepat 30 menit yang lalu basecamp ini dipenuhi dengan canda tawa dan guyonan anak-anak. Namun setelah Mas Ilham menceritakan niatnya untuk menggrebek gedung DPRD Jawa Tengah suasana telah berubah. Ada yang ikut bergejolak membawa kemarahan, ada yang bersikap biasa juga. “Aku gak akan maksa kalian buat berpartisipasi, aku ingin kalian bersuara atas keinginan dan kesadaran masing-masing. Aku gak akan marah jika kalian tidak ikut turun ke jalan, kalian punya hak masing-masing.”

Setelah perkataan itu, tak ada banyak orang yang menanggapi. Suasana mulai terasa panas, Mas Ilham akhirnya membubarkan rapat sore ini. Mas Ilham keluar ruangan, wajahnya memerah aku tahu dia menahan kekesalan. Dia menuju halaman depan basecamp dan duduk di bawah pohon mangga, aku mencoba menghampirinya.

Dari belakang terlihat, seputung rokok dia ambil. Dibakarlah ujung rokok itu dan dia hisap dengan mantap, “Mas Ilham…” ucapku pelan. Mas Ilham membalikan badannya, melihat diriku ia langsung mematikan putung rokok yang tadi dia genggam.

Aku mengambil posisi duduk di sebelah kanan Mas Ilham. Ku amati wajahnya dengan baik-baik, aku paham saat berusaha menahan amarah ataupun menghadapi masalah rokoklah yang mampu menenangkan Mas Ilham. Sejak SMA ia telah terbiasa merokok, namun setiap kali mengajakku berbicara Ia selalu mematikan rokok karena Mas Ilham tahu penyakit asma yang aku miliki.

“Mas.. Aku tahu..”

“Tahu apa Grace, kamu sukanya nebak-nebak?”

“Mas Ilham jangan sedih ya, aku yakin akan banyak yang dukung Mas Ilham. Meskipun mereka belum berani berpendapat. Tapi aku yakin akan banyak orang yang bakal ikut serta.”

“Kamu peramal ya?”

“Aku memprediksi Mas..”

“Iya.. iya Mas tahu, by the way. Khusus buat kamu aku gak maksa buat ikut, Mas takut nanti kamu kenapa-napa. Kalo asma kamu kambuh, nanti Mas Ilham yang dimarahin Mama..”
“Mas Ilham jangan gitu, padahal aku telah membakar semangatku buat dukung Mas Ilham tapi Mas Ilham malah gini. Aku pengen ikut tapi, aku gak tahu izin ke Mama gimana?”

“Ya kamu bilang aja apa adanya…”

“Mama gak bakal ngizinin kalo aku bilang apa adanya.”

“Kalo kamu bohong Mama lebih marah dan gak ngizinin kamu lagi.”

Aku terdiam kehabisan kata dan ide, baik berbohong ataupun jujur sama saja Mama gak bakal mengizinkan aku turun ke jalan.

Rangga menantapku, pandanganku masih kosong. “Hei… dari tadi masih ngalamun. Apa sih yang dipikirin?”

“Aku gak yakin Ngga..”

“Kenapa sini cerita.”

“Menurut kamu kalo aku ikut turun ke jalan gimana? Aku pengen tapi Mama gak ngizinin mungkin.”

“Kamu kan punya asma, kalau kamu kenapa-napa gimana?”

“Aku gak papa, asal bawa Inhiler pasti aman.”

“Kamu tahu kan Mama kamu sayang banget sama kamu, dia pasti khawatir… ada baiknya kamu dengerin Mama. Ingat restu orangtua itu penting buat anaknya.”

“Iya kamu bener… Tapi kamu ikut turun ke jalan kan?”

Rangga tak langsung menjawab, Ia menunduk cukup lama… apa dia termasuk kelompk orang yang ragu-ragu untuk ikut? Tapi setahuku Rangga adalah orang yang siap badan demi orang banyak. Dia tak pernah seperti ini sebelumnya. beberapa waktu terakhir Rangga juga sering ikut kegiatan menyampaikan aspirasi saat CFD, dan aku ingat dia adalah saingan terberat Mas Ilham saat berorasi merebut kursi Presiden BEM Fakultas. Rangga tak pernah menunjukan keraguannya.

“Rangga!”

“Ahh iya, tadi tanya apa?”

“Kamu besok ikut turun ke jalan kan? Seandainya aku gak dapet izin, aku pengen kamu ikut dan dukung Mas Ilham.”

“Iya aku ikut!”

“Oke, aku akan berusaha.. nanti kita akan sama-sama maju di garis depan.”

Sampai pada hari ini, 2 hari sebelum agenda aksi turun ke jalan. Mama masih belum tahu, karena aku belum menceritakan apapun. Mas Ilham berulang kali bilang jika jangan terlalu memaksakan. Tapi aku tak bisa terus diam. Kesempatanku hanya hari ini dan esok. Jika aku melewatkannya lagi… aku tak ada kesempatan, Sore ini aku akan bicara dengan Mama…

Setelah diantara pulang Rangga aku memasuki kamar Mama, dia terlihat begitu letih. Bangun pagi menyiapkan sarapan dan harus pergi ke pasar menjajakan dagangan untuk membiayai hidup kami sekeluarga. Aku menyentuh wajah Ibu, raut mukanya terlihat jelas ia kelelahan. Perasaan bersalah muncul, ada baiknya aku mendengar saran Mas Ilham dan Rangga. Tanpa sadar air mataku jatuh. Mama… Maafin Grace keras kepala, tapi…

“Kamu udah pulang nak.”

Suara Mama terdengar pelan, buru-buru aku menghapus air mataku. Aku bisa dimarahi jika ketahuan menangis seperti ini. “Iya… barusan nyampe Mah.”

“Ada apa?”

“Gakpapa Mah.. Grace cuma laper mau tanya Mama masak apa.”

“Beneran Cuma laper?”

Aku mengangguk. Sebenarnya aku tidak lapar, bahkan tidak nafsu untuk makan.

“Ada apa? Kamu nangis tadi?”

“Mama kenapa sih. Grace kan cuma laper, terus tadi pas dijalan lupa kaca helm belom ditutup jadinya kelilipan.”

“Jangan bohong sama Mama, kamu berantem sama Rangga? Atau habis dimarahin Ilham?”

Ikatan seorang Ibu memang kuat, aku telah berusaha menyimpan perasaanku yang sebenarnya. Tapi Mama terlalu cerdas untuk membaca apa yang aku rasakan. Aku memeluk Mama, hangat… pelukan Mama memang hangat. Mengalahkan pelukan Rangga.

“Ma… Maafin Grace. Mama pasti gak akan ngizinin. Tapi hatiku gak bisa bohong…”

Aku menceritakan semua.. rencana untuk turun ke jalan. Wajah Mama tak memberikan respon apapun, aku tahu Ia pasti terkejut. Aku siap menerima penolakan, bagaimana pun restu Mama lah yang bisa membuatku pergi bersama Mas Ilham dan Rangga. Mama menundukan kepalanya. Suaranya terasa berat, Mama menangis? Astaga… selama hidupku aku terus mewanti-wanti hal ini terjadi. Tapi kenapa? Aku melukai orang yang sangat mencintaiku sebesar ini.

“Maafin Grace Ma…” aku menggenggam erat tangan Mama. Mama mendongakan kepalanya… air matanya berjatuhan. Tangan kananku meraih wajah Mama. Ku hapus dengan pelan, air mata yang telah menetes ke pipi Mama.

“Dari dulu.. Semenjak kamu masih dalam kandungan Mama. Papa selalu berdoa sambil menyetuh perut Mama. Papa selalu bilang, ia ingin punya anak yang pemberani. Selalu bersikap jujur, dan mandiri. Demo mungkin berbahaya… karena Mama takut kamu akan bernasib sama seperti Papa dulu…”

Mendengar itu, tak ada lagi harapanku untuk turun ke jalan. Aku juga tak ingin memaksa Mama, traumanya sampai saat ini belum hilang. “Grace ngerti Ma.. Maafin Grace.”

“Kamu gak perlu minta maaf nak. Kamu nggak salah, Kamu gak perlu minta maaf…”

Aku masih menatap Mama begitu dalam. Wajah Mama menampakan senyuman, “Mama.. mengizinkan kamu.. Mama sangat khawatir. Tapi sedari kecil Grace memang selalu menjadi wanita yang pemberani. Selalu bela anak tetangga yang dijahilin. Berani melawan anak-anak cowok di sekolah. Kalo Papa masih hidup, Papa pasti bangga. Kamu menjadi anak pemberani seperti yang diharapkan. Grace, kamu adalah anak Mama yang kuat! Hati-hati ya, jaga diri. Mama percaya kamu pasti bisa, Mama akan selalu mendukung Grace..”

Aku tak menyangka, Mama mengizinkanku. Aku memeluk Mama begitu erat, “Makasih Ma…. Grace sayang sama Mama.”

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *