Garis Depan Part 2

Garis Depan | Part 2

Garis Depan | Part 2Garis Depan Part 2

Rangga masih duduk termenung di depan basecamp kami. Entah apa yang ia pikirkan, aku mendatanginya, aku ingin membujuknya untuk ikut ke pertemuan mahasiswa se-Semarang bersama Mas Ilham. “Rangga!”

“Iya?”

“Ikut Mas Ilham ke perkumpulan mahasiswa Semarang yuk!”

“Buat bahas gerakan Mahasiswa menolak pengesahan UU bermasalah lah. Yuk!”

Aku tak pernah menjumpai ekspresi Rangga yang seperti. Dia tampak ragu dan bimbang. Sebelumnya setiap ajakanku, dia selalu antusias dan tak pernah berpikir dua kali.

“Tapi aku ada janji dengan teman SMA malam ini.”

“Janjian jam berapa?”

“Jam 8!”

“Yaudah nanti kita pulang jam 7 aja. Yuk!”

“Gak bisa, soalnya aku juga perlu mandi sama siapain beberapa perlengkapan sebelum ketemu dia!”

“Oh.. yuaudah kalo kamu nggak bisa. Aku samperin Mas Ilham dulu ya, aku mau bilang kalau nggak jadi ikut.”

Rangga mengangguk, dia tak menemaniku menghampiri Mas Ilham. Dia masih duduk di tempatnya.

“Mas, aku gak jadi ikut. Rangga malam ini ada acara ternyata, maaf ya!”

Aku tidak enak dengan Mas Ilham, aku yang memaksa ikut tapi malah aku sendiri yang membatalkannya. Aku tak ingin memaksa Rangga untuk menuruti semua keinginanku, memang ada kalanya aku harus menghargai waktunya dengan orang lain.

“Iya gakpapa…”

“Maaf ya Mas.”

“Gakpapa santai aja.. Udah gak usah sedih, nanti kalau selesainya lebih cepet dari dugaan. Mas Ilham mampir ke rumah deh. Nanti Mas cerita semua ke kamu, senyum dong. Masak udah Mahasiswa masih aja manyun.”

Mendengar apa yang dikatakan Mas Ilham aku kembali tersenyum, dia memang sosok kakak yang sempurna untukku. Tidak di rumah atau di kampus dia selalu melindungi dan mengerti diriku. Aku kembali ke basecamp, Rangga termenung lagi.. lebih baik aku menanyakannya nanti.

Biasanya setiap kali aku memboncengnya, Ia selalu banyak bicara dan membuat guyonan. Tapi kali ini berbeda, ia hanya berbicara singkat dan seperlunya. “Udah sampai..”

“Makasih ya Rangga.”

“Iya sama-sama.. aku pulang ya salam buat Mama”

“Tunggu.. aku mau tanya sesuatu!”

“Apa?”

“Dari tadi kamu mikirin apa sih?”

“Kamu!” celetusnya.

“Rangga aku serius, kamu gak pernah sediam ini sebelumnya! jujur!”

“Gakpapa, aku cuma kepikiran gak enak aja sama Ilham dan kamu. Kamu pasti kecewa ya, maaf ya.”

“Kan aku udah bilang gakpapa, lagian aku juga gak mau temen kamu kecewa.”

Aku senang jika pikiran aneh-anehku ternyata salah. Rangga Rangga… kamu memang selalu seperti ini..

Di dalam kamar sambil memposisikan tubuh rebahan, aku membolak-balik setiap kertas tadi siang. Aku menggarisbawahi kalimat yang menurutku krusial. Aku menunggu kabar dari Mas Ilham. Apa dia sampai malam? Sudah jam 09.00 dia belum mengabari apa-apa.

Terdengar bunyi getar dari ponselku, sepertinya ini ada telpon masuk. Mas Ilham! Aku buru-buru mengangkatnya.

“Hah? Gerakan Mahasiswa? Demo depan Gedung DPRD?”

“Jangan kenceng-kenceng juga kali, ini udah malem. Nanti ganggu tetangga di sebelah rumah.”

“Iya, maaf soalnya aku kaget banget waktu Mas Ilham bilang demo. Jadi kapan mas?”

“Selama minggu depan tanggal 24.”

“Sebenarnya udah ada gerakan mahasiswa tapi masih dibilang kecil, tapi untuk tanggal 24 nanti itu gerakan seluruh mahasiswa Semarang.”

Aku tak menyangka jika akan terjadi pergerakan sebesar ini. Sebenarnya dalam hati aku ingin ikut, tapi apakah Mama ngizinin aku pergi? Aku berpikir keras. Sampai aku tak sadar Mas Ilham memanggilku beberapa kali.

“Grace ngalamun. Udah jam setengah 12 malem, aku pamit pulang ya. Capek mas, besok kuliah pagi juga..”

“Iya Mas, maaf ya. Aku malah minta Mas Ilham mampir ke rumah padahal besok diobrolin di kampus juga bisa.”

“Iya gakpapa, lagian Mas kesini mau numpang istirahat minta minum haus banget.”

“Kalo mas pulang jam segini gak takut? Apa nginep aja mas? Aku takut Mas Ilham kenapa-kenapa.”

“Udah gakpapa, mas naik motornya cepet kok 15 menit paling udah nyampe rumah.”

“Yaudah deh kalau gitu. Nanti kalau sampai rumah kabarin ya mas.”

“Iya, minta tolong bukain gerbangnya dong.”

Bayangan Mas Ilham berlalu, aku bergegas menutup pintu dan masuk kamar ku tatap langit-langit kamarku. Kalau aku ikut demo tanpa izin tentu aku akan kena marah, tapi jika aku bilang Mama pasti gak ngizinin. Demo di jalan memang mengingatkan Mama pada papah. Mei 1998 lalu, saat aku masih dalam kandungan, semua orang pasti tahu jika tahun tersebut Indonesia mengalami krisis moneter dan terjadi demo dan penjarahan besar-besaran di Jakarta.

Korban bukan lagi dari kalangan mahasiswa atau militer namun juga warga sipil. Papah menjadi salah satu korban penjarahan, aku tidak tahu pasti apa penyebabnya? Mama bilang saat itu sangat mengerikan dan Ia tak mau menceritakannya, Mama gak mau sedih teringat kepergian Papah. Oleh sebab itu, 1 tahun setelah kelahiranku. Mama putuskan kembali ke Semarang agar kondisi perekonomian kami lebih stabil, dan tinggal bersama nenek di sini.

Dan inilah alasanku memilih Hukum, karena aku sadar banyak rakyat yang harus dibela. Aku gak mau ada anak-anak yang kehilangan orangtuanya karena ketidakadilan. Aku tak ingin banyak orang yang merasakan hal sama sepertiku, ditinggal Papah sejak lahir. Melihat Papah hanya dari foto album, tak bisa merayakan hari Ayah di sekolah. Tanpa sadar air mataku menetes, astaga cengengnya aku…

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *