Garis Depan | Part 1

Garis Depan | Part 1

Garis Depan | Part 1Garis Depan | Part 1

“Saya Akhiri pertemuan kali ini, tolong diingat lagi mendekati UAS proposal penelitiannya segera dikumpulkan 1 minggu sebelum UAS.”

Mendengarkan 3 sks mata kuliah memang menyebalkan. Apalagi jika dosen hanya membacakan presentasi tapi tidak mengajak mahasiswanya berdiskusi. Aku adalah salah satu mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Negeri Semarang. Sebagai mahasiswa aku memang dituntut untuk belajar di kampus, tapi juga aktif dalam kegiatan sosial.

Semua mahasiswa berhamburan beberapa orang pergi ke warung atau kantin kampus untuk makan siang. Aku? dibanding harus membuang waktu bermain atau bercanda gurau lebih baik aku datang ke basecamp sesuai mandat ketua organisasi jam 2 siang nanti akan ada pertemuan. Tapi seperti biasa, aku harus pergi ke minimarket untuk membeli beberapa jajanan untuk dimakan bersama. sudah menjadi kebiasaanku menyiapkan makanan yang dapat dikonsumsi bersama.

“Grace!! Tunggu”

Suara yang tak asing untuk ku dengar, aku menghentikan langkahku saat menuruni tangga. “Grace” terdengar lagi teriakan itu. Aku pun menoleh ke belakang. Rangga. Pacarku, dia mahasiswa fakultas hukum sama sepertiku, akan tetapi dia satu tingkat lebih tinggi dariku. Aku ingat kami bertemu dalam organisasi ini, aku menjadi junior dan dia senior.

Aku ingat tepat 1  tahun yang lalu, Semenjak acara bootcamp ditengah api unggun dan udara Bandungan yang dingin. Aku memanjatkan harapan bersama lilin yang kupengang sampai ku tak sadar jika hampir semua orang telah kembali ke vila. Rangga menghampiriku, memberikan selimut ia tak memarahiku karena belum masuk kamar. Rangga justru menemaniku, kami mengobrol hangat waktu itu.

“Apa yang kamu lakukan? Kenapa tidak segera masuk kamar seperti yang lain?” tanyanya, aku tersenyum.

“Aku butuh waktu sedikit lebih lama untuk memanjatkan doa.”

“Apa yang kau doakan?”

“Bahagia dan keadilan.”

“Waw.. keren. Aku harap itu dikabulkan.”

Dan esoknya, sesampainya di kampus, aku menunggu jemputan di gerbang pintu masuk. Rangga datang menghampiriku, aku tak tahu maksudnya apa. Namun dengan tiba-tiba dia berkata “Aku menyukaimu sejak pertama melihatmu masuk organisasi. Mau jadi pacarku? Aku beri waktu untuk kita saling mengenal dulu.”

Dan beginilah kami…

Hampir 8 bulan bersama. Aku sungguh berterima kasih dengan organisasi ini, mempertemukanku dengan orang yang bisa ku percayai dan ku cintai. “Kamu mau beli jajan apa aja?” tanya Rangga sambil membolak-balik beberapa merk kripik kentang yang di-display.

“Ini masih milih-milih. Kamu mau sesuatu?”

“Aku? kalo ada Nasi Padang instant disini aku mau.”

“Ya gak adalah rangga. Roti aja ya..”

“Udah gak usah, lihat kamu udah kenyang kok.”

“Gombal.”

Dia tersenyum padaku. Setiap kali gombalan alay-nya keluar aku selalu tertawa, meskipun berlebihan tapi aku terus tertawa karenanya. Suasana basecamp sudah cukup ramai, aku datang bersama Rangga dan tampak teman-teman yang lain menyambut kami dengan gembira. Terutama dengan kantor kresek yang aku bawa.

“Minta dong… kalian memang pasangan paling top deh. Langgeng terus ya!” ucap salah satu teman seorganisasi. Aku hanya menyikapinya dengan tertawa, sepertinya rapat hari ini belum dimulai. Apalagi Mas Ilham juga belum datang, mas Ilham adalah ketua organisasi ini. Ya, dia adalah Presiden BEM Fakultas Hukum, sekaligus kakak sepupuku dan teman seangkatan Rangga. Sekantong kresek jajanan telah habis dimakan anak-anak.

Mas Ilham belum juga datang, padahal dia adalah tipekal orang yang selalu tepat waktu. Aku mencoba mengirim pesan singkat ke Mas Ilham. Aku telah mengenal Mas Ilham sejak kecil, jika sudah seperti ini biasanya aku memiliki firasat buruk. “Grace kenapa?”

“Gakpapa, aku Cuma sedikit gelisah gak biasanya Mas Ilham telat. Aku takut ada masalah..”

“Grace tenang… Ilham adalah orang yang cerdas dan kuat. Gak akan ada masalah…”

Aku mencoba tersenyum di depan Rangga, meskipun yang ia katakan benar tapi tetap saja rasa kekhawatiranku terhadap kakak sepupuku begitu besar.

30 menit berlalu… Mas Ilham datang. Membawa berlembar-lembar kertas, dengan raut wajah yang sangat serius, sedikit marah dan gelisah. Aku yakin isi kertas itulah yang membuatnya seperti ini.

Rapat dimulai, aku mendengarkan dengan seksama topik rapat kali ini. Selain itu aku membaca isi kertas yang dibagikan Mas Ilham. Aku tau kenapa Mas Ilham marah, ya… pemerintah telah berulah. Ada beberapa point UU yang bermasalah dan cenderung menguntungkan para elite politik dan merugikan rakyat kecil. Bukan hanya aku yang merasakan gejolak kekecewaan terhadap para wakil rakyat, tapi seisi ruangan juga merasakan. “Aku akan mengkoordinir beberapa mahasiswa lainnya di kampus lain. Beberapa kampus di Jakarta sudah membuat aksi untuk menggugat pengesahan RUU ini…” Mas Ilham menghela nafas. Memandangi kami satu persatu, dialah pemimpin kami. Berusaha menggerakan kami sebagai mahasiswa yang mewakili hati rakyat.

“Ingat, kita harus menyuarakan ini semua demi kepentingan bersama. aku meminta kerja sama kalian, siapa lagi yang bisa memulainya jika bukan kita generasi muda. RUU ini bukan hanya masalah utama, masih ada masalah lain yang perlu kita sampaikan. Ingat kita adalah Mahasiswa! Harus bergerak demi kepentingan semua pihak. Ini adalah kepentingan seluruh rakyat Indonesia, jangan biarkan reformasi ini dikorupsi!

Closing statement dari Mas Ilham memang selalu membakar semangat siapapun yang mendengarnya. Aku menyimpan kertas yang dibagikan Mas Ilham dalam tasku. Seusai rapat Mas Ilham dan beberapa temannya pamit pergi untuk bertemu dengan mahasiswa Univesitas lain, untuk membahas topik pembicaraan yang sama. “Mas, aku boleh ikut?”

“Kamu yakin Grace? Nanti Mas Ilham sampai malem banget, Nanti kamu dimarahin Mama.”

“Gakpapa Mas, aku ajak Rangga nanti semisal udah jam 9 biar aku pulang, jadi Mas Ilham tetep bisa nerusin obralannya. Gimana?”

“Yaudah gakpapa.. udah sana bilang sama Rangga. Mas tunggu di parkiran ya.”

“Siap!”

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *