DELAPAN FEBRUARI | 2

DELAPAN FEBRUARI | 2

Aku sangat terkejut. Sebuah pernyataan yang benar-benar diluar dugaan.

“Bin? Serius?”

Bintang mengangguk, aku tak bisa berkata apa-apa lagi.

“Aku tetap menyukaimu meskipun hampir setiap hari kamu bercerita tentang lelaki yang sedang dekat denganmu, atau kisah cintamu yang berakhir pilu. Meskipun kamu selalu bilang jika aku tak pernah paham perasaanmu. Tapi aku sangat mengenalmu, sikap kerasku dan pertanyaan ketusku hanyalah caraku untuk lebih dekat denganmu. Aku tak pandai merayu seperti mantanmu yang dulu, tapi percayalah jika kamu butuh sesuatu Aku adalah orang yang paling bisa kamu andalkan.”

“Ini terlalu cepat buat Aku Bin.”

“Aku tahu, untuk itu. Aku akan memberikanmu waktu, untuk siap menjawabnya. Kapan pun itu..”

Aku mendapatkan PR yang besar lagi. Setelah berhasil memutuskan hubungan dengan mantan kekasih, kini justru teman yang sangat denganku menyatakan hal yang diluar dugaan. Aku bahkan sampai takut menemuinya.

Satu minggu setelah Bintang menyatakan perasaannya kepadaku. Aku masih tak mau menemui atau menghubunginya. Aku merasa Bintang tak seharusnya mengatakan itu,  bahkan tak semestinya ia memiliki perasaan suka terhadapku. Kita kan hanya teman, dan itu akan berlaku selamanya.

Hari-hari berlalu, setelah putus dari mantan kekasihku, aku justru semakin dilema. Sejak Bintang menyatakan perasaanya, sempat kemarin kami bertemu. Bintang tak menanyakan jawabanku, dia masih bersikap sama seperti sebelumnya. Aku menjadi sangat kepikiran. Aku bahkan membaca buku tentang teman tapi menikah, pandangan psikologis tentang hubungan persahabatan antar lawan jenis dan masih banyak lagi.

Sampai akhirnya 3 bulan berlalu. Hari ini adalah hari wisuda Bintang, yah meskipun kami seumuran, tapi Bintang telat menyelesaikan ujian skripsinya. Karena terlalu sibuk mengurus bisnis yang jatuh bangun katanya. Sebenarnya, aku ingin mencari alasan untuk tidak hadir di hari wisudanya tapi. Tapi orangtuaku meminta untuk menyempatkan waktu, dikala jam istirahat nanti. Karena kami berteman sejak SMA, kedua orangtua kami tentu saling kenal. Bila diingat, 2 tahun lalu Bintang juga datang ke acara wisudaku, membawakan buket Matahari yang sangat aku sukai. Hah… baiklah aku akan menemui Bintang

Aku telah menghubungi Bintang, dia memintaku untuk menunggu di taman belakang Gedung DKV. Bintang datang, namun aku sedikit terkejut, dia datang dan dikeliling banyak wanita. Aku tak pernah mengenal wanita-wanita itu, apakah itu teman atau entahlah. Hatiku sedikit sakit, karena perhatian Bintang pasti akan terbagi. Buru-buru ku tepis perasaan itu, aku memberikan bunga yang sama seperti saat aku wisuda dulu, kami mengambil foto berdua sebelum akhirnya aku pamit pulang ke kantor.

Sesak dadaku, sangat, bahkan lebih sesak dari sebelumnya. Aku merasa sedikit sedih, tapi tidak tahu kenapa. Entah perasaan apa yang muncul dalam hatiku? Takut, kehilangan, dan duka. Ahh sial kenapa aku jadi tidak karuan lagi?

Malam hari, Bintang mengajakku keluar dia bilang akan mengajakku makan ke salah satu tempat favorit rekan-rekan kerjanya. “Tenang ini bukan makanan pinggir jalan kayak biasanya.” Ucapnya saat aku menggerutu dengan tawaran nasi goreng abang-abang biasanya.

Kami tiba di sebuah restoran bertemakan Jepang. Dari tampilan restorannya sangatlah berkelas, tahu begitu aku berpakaian rapi. Entah dapat Jackpot apa, sampai Bintang berani mentraktirku di restoran semewah ini. Hidangan datang Aku dan Bintang makan dengan sangat kalap.

“Aku sangat kenyang, bagaimana denganmu La?”

“Mantap!! Kenyang banget, berat badanku bisa saja naik dalam semalam”

Kami melanjutkan makan, hingga hidangan yang terakhir, Tokyo Banana.

“Aku menyukainya..” ucapku

“Siapa? Aku?”

Pertanyaan Bintang membuatku kembali berpikir. Tentang beberapa waktu terakhir, tentang perasaannya, sikapnya, bahkan wanita-wanita yang bersamanya.

“Makanan ini, siapa tadi siang yang bersamamu? Banyak sekali.”

“Temanku, semua temanku. Termasuk dirimu bukan?”

“Apa semua wanita yang menjadi temanmu, akan kamu sukai?”

“Tidak. Aku hanya menyukaimu La. Sampai sekarang pun hanya menyukaimu.”

Obrolan ini menjadi dingin. Aku merasa sangat canggung.

“Sejujurnya Aku sedih melihat kamu memiliki teman wanita lain. Aku..”

“Juga menyukaiku La?”

Aku terdiam, ini jawaban yang membuat jantungku sangat berdebar. Aku mengangguk, meski setengah hatiku menolak karena Bintang adalah temanku selamanya. Tapi setengah hatiku lagi merasa sangat takut kehilangan Bintang.

“Iya Bin, sepertinya aku juga begitu. Sangat menyukaimu. Aku nggak punya sosok lain yang bisa aku andalkan selain kamu. Jika kamu bersama dengan yang lain, bagaimana aku bisa seperti diriku yang sebenarnya?”

“Kamu bilang aku adalah orang yang sangat tidak memahami perasaanmu. Maaf atas semua kata ketusku. Aku tahu kamu sakit, tapi Aku tahu kamu terlahir sangat kuat. Karena Aku tahu kekuatanmu, aku berani bilang itu. Maaf jika terkadang aku menjadi pembakar, bukan pendengar.”

“Aku memakluminya, karena semua katamu selalu benar setelah aku tahu bagaimana kerasnya kenyataan. Aku mau memulai semua hal baik denganmu.”

Meski dihatiku masih menyimpan keraguan, tapi aku yakin. Bintang akan punya banyak cara agar aku bisa yakin dengannya. 50% hatimu telah diisi oleh cinta bintang, sedangkan sisanya Bintang minta untuk diberikan pada diriku sendiri. Yups, separuh dariku adalah milik Bintang.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *