DELAPAN FEBRUARI | 1

DELAPAN FEBRUARI | 1

Hatiku hari ini sangat patah… Lagi-lagi aku ditinggalkan orang yang paling aku sayangi. Ya, Aku putus dengan kekasihku, setelah 2 tahun lamanya kita menjalin hubungan asmara.

“Kamu kenapa Lala?” Tanya Bintang. Sahabat priaku yang sudah lama aku kenal sejak kami duduk di bangku SMA.

“Aku diselingkuhin Bin. Baru aja kemarin Aku sama dia jalan berdua. Eh tahunya, dia selingkuh dariku, dan memilih selingkuhannya dibanding Aku.”

“Lalu kenapa kamu menangis?”

Pertanyaan Bintang selalu membuatku kesal, dia memang tak pernah memahami perasaanku yang sebenarnya.

“Kamu ngerti nggak sih? Orang putus pasti sedih!”

“Tapi, dia lebih mencintai orang lain bukan? Untuk apa menangisi orang yang jelas nggak cinta sama kamu.”

Aku sangat malam untuk menjelaskan ke Bintang. Meskipun diselingkuhi namun tetap saja, rasa kecewa, marah, terluka, dan kehilangan sangat memenuhi dadaku sampai rasanya sesak. Aku tak menjawab pernyataan dari Bintang. Dia adalah pria yang lama mengenalku, namun tak juga paham dengan sikap-sikapku. Apa yang dikatakan selalu bertolak belakang dengan maksudku.

Satu hari setelah aku dan mantan kekasihku putus. Aku masih masuk kerja, meskipun dengan wajah yang sangat lesu. Pikiranku masih membayangkan kejadian kemarin. Untungnya pekerjaanku hari ini tidak sepadat biasanya, sehingga aku masih memiliki waktu untuk membangun mood kembali.

Aku menuju pantry untuk membuat secangkir cokelat hangat agar perasaan tenang dan nyaman bisa aku rasakan. Aku meneguk perlahan cokelat panasku, namun perasaanku justru semakin gelisah. Rasanya masih ada kata yang harus aku ungkap. Masih ada perasaan yang harus segera aku keluarkan. Aku mengatakan hal penting pada mantan kekasihku. Tapi bagaimana? Tanpa sadar air mataku jatuh. Beberapa teman kerjaku yang melihat ini langsung mendekat. Mereka memelukku dan memberikan semangat. Aku senang akhirnya ada orang paham dengan perasaanku. Ya… perasaan seseorang yang baru saja diselingkuhi. Tapi sepertinya, ini tak cukup membuatku merasa lega.

Pekerjaan hari ini telah berlalu, Aku keluar dari kantor dan berjalan sebentar menuju taman kota yang mana jaraknya hanya 160 meter saja. Di bangku bawah lampu taman Aku berdiam, aku menggalaukan lagi perasaanku. Padahal ada banyak pekerjaan yang menungguku, tapi kenapa perasaanku kacau sekali. Jika terus begini, Aku akan dipecat dari kantor.

“Ahhhh…. Seballllllll” jeritku cukup keras, untungnya taman ini cenderung sepi. Tak banyak orang yang mengunjungi taman kota jika malam hari.

“Hey.. berisik gangguin orang lain.” Suara yang sangat aku kenal. Yups aku menoleh ke sebelah kiri, itu adalah Bintang. Dia datang sambil membawa sebotol air mineral dingin yang kemudian duduk di sampingku.

“Apa yang membuatmu sangat kesal?” Tanya Bintang lagi. Aku rasa, dia tak akan paham perasaan orang yang selalu putus.

“Aku sangat capek jika menjelaskan masalah cinta pada orang yang keras sepertimu. Yang selalu mengatakan logika tanpa ada rasa. Kamu sangat tidak paham seberapa patah hatinya aku sekarang.”

“Baiklah, lalu kamu mau Aku bagaimana La?”

“Sudah diam aja Bin. Aku akan semakin kesal jika kamu terlalu banyak bicara.”

“Apakah diam bisa membuatmu lebih tenang dan kesalmu jadi redam?”

“Tidak.” Jawabku dengan jelas. Aku tahu, aku malas menanggapi pernyataan dari Bintang. Tapi duduk terdiam terus juga tak akan membuatku tenang.

“Lalu kamu mau bagaimana?”

Aku berpikir sejenak. Pertanyaan Bintang membuatku berpikir tentang apa yang harus aku lakukan. Aku tak bisa terus kesal sendiri seperti ini. Aku harus mengeluarkannya. Harus. Aku menarik napas, dan menepuk-nepuk pipi kanak dan kiriku. Aku harus mengumpulkan nyali terlebih dahulu sebelum yakin dengan keputusan ini.

“Antar Aku Bin. Antar aku menemui mantan kekasihku.”

Bintang mengiyakan permintaanku ini. Untuk urusan antar-mengantar Bintang adalah orang yang sangat aku andalkan. Dia tak pernah mengeluh, meskipun permintaanku aneh-aneh.

Karena 2 tahun kami berpacaran, tentu saja aku sangat hafal tempat mana saja yang mungkin mantan kekasihku kunjungi di malam hari. Aku mengarahkan Bintang untuk menuju sebuah kafe elite yang terletak di depat hotel berbintang dan pusat perbelanjaan. Sialan memang dia, selama denganku dia tak pernah mengajakku ke sana. Tapi diam-diam dia ke sana dengan selingkuhannya. Tebakanku tak salah, aku melihat mantan kekasihku dengan selingkuhan yang kini sudah resmi jadi kekasihnya tengah mengobrol mesra di ruang outdoor kafe.

Aku menata rambutku dengan sangat rapi dan menghapus bekas air mata di pipi, aku harus tampak kuat. Meskipun dalam hatiku masing sangat kacau. Aku tidak terima jujur saja, melihat dia yang sudah bahagia, sedangkan aku menangis semalaman dan pekerjaanku jadi berantakan olehnya. Aku tidak terima! Dengan dikawal Bintang, aku memantapkan langkah mendekati mejanya. Tentu mereka berdua sangat terkejut dengan kehadiranku. Aku bagai seorang penyihir yang merusak acara jamuan makan raja dan permaisuri.

“Mau apa kamu? Kita kan udah putus” tanya mantan kekasihku, yang sangat Aku benci ini.

“Aku tidak mau kamu. Tapi, Aku tidak mau hubungan ini berakhir begitu saja.”

“Maksudnya apa?” cela si selingkuhan, yang rasanya pengen Aku IHHHHHHHH…. Remet wajahnya.

“2 tahun yang lalu, kamu bilang akan bersamaku. Kamu bilang Akulah satu-satunya yang ada di hatiku, baik sekarang ataupun di kehidupan mendatang. Aku tahu, itu adalah gombalan yang sering kamu katakan ke wanita-wanita. Dan sialnya, Akulah yang terjebak. Aku terpikat pada kalimatmu yang berlebihan itu.”

Kini orang-orang memperhatikan kami. Kami seperti reality show settingan yang ada di TV-TV nasional dan mendapatkan rating yang tinggi.

“Setelah aku tahu, perlakuanmu kemarin. Bodohnya Aku menangisimu, Aku menggalaukanmu, dan aku merasa kehilanganmu. Padahal, seharusnya aku bersyukur, sebelum melangkah lebih jauh. Kamu telah menunjukkan sifat burukmu itu. Aku tak masalah jika kamu memilih dia dibanding aku. Aku tak masalah. Karena pada akhirnya kamu mencari tempat baru untuk dituju selain itu. Mungkin perkataan ini belum sempat kita bicarakan kemarin, meskipun secara nggak langsung kita sudah melakukannya. Mulai hari ini kita putus.”

Aku mengulurkan tangan ke arah selingkuhan yang kini sudah SAH, RESMI dan DIAKUI menjadi pasangan mantanku. “Selamat, kamu sudah resmi menjadi kekasih terang yang sebelumnya ada di kegelapan. Aku serahkan pria bangsat ini ke kamu.”

Tanganku ditangkis begitu saja. Ya, mereka berdua pasti malu Aku perlakukan begitu. Sekarang hatiku melega. Sekarang waktunya pulang dan bersiap untuk tidur lebih tenang. Aku mengendarai motor bersama Bintang. Di perjalanan Aku beberapa kali berteriak kencang seperti “Dasar pria bansat!”, “Selamat datang kesendirian!” dan luapan ekspresi lainnya. Hatiku benar-benar lega sekarang.

Sebelum sampai rumah, Bintang mengajakku mencicipi nasi goreng langganannya. Meskipun dipinggir jalan, namun rasanya sangat juara. Nasi goreng abang-abang emang tiada dua.

“Bagaimana perasaanmu La?”

Aku tersenyum sambil menyuap sesendok besar nasi goreng. Dari ekspresiku Bintang tahu jika aku sudah senang sekarang.

“Tadi kamu keren.”

“Iya dong, semua keberanian aku kumpulkan untuk mengatakan semuanya itu. Rasanya aku sangat lega membuat mereka malu. Tapi jahat nggak sih Bin?”

Bintang menggeleng, dia sama lahapnya denganku. Kami menikmati setiap suap nasi goreng malam ini. Karena perasaan yang lega, rasanya nasi goreng ini 2 kali lebih enak dari biasanya.

“Bicara jujur emang lega ya La?”

Aku mengangguk penuh semangat.

“Kalau gitu, Aku juga mau jujur La….” Bintang terdiam sebentar. “Aku sudah menyukaimu sejak kita kelas satu.”

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *