Cerpen Siti

Cerpen: Siti

Cerpen: Siti

Cerpen Siti

Sumber gambar : https://www.freepik.com/free-vector/women-elegant-line-art-style-design_9730172.htm

Siti. Wanita 23 tahun yang kini telah menjadi Ibu tunggal. Ia memiliki anak yang berusia 8 tahun dan kini memasuki sekolah dasar. Siti memang tak ingin hidup seperti ini.
Sama seperti gadis lainnya ia memiliki mimpi. Lulus sekolah, bekerja sambil kuliah, dan mengangkat derajat orangtuanya. Tapi sayang, itu hanyalah mimpinya. Di usia yang ke-15 tahun Siti menjadi korban kekerasan seksual oleh pacarnya sendiri. Ia kemudian dinikahkan paksa dengan pacarnya itu diusia 16 tahun. Itupun pernikahan siri, kedua orangtuanya terlalu malu, untuk membuat pesta resepsi anaknya yang hamil diluar nikah.

Banyak orangtua mengira jika menikah adalah solusi yang tepat bagi perempuan yang hamil di luar nikah. Tapi ternyata tidak, itu justru petaka baru untuk Siti. Suaminya, justru melakukan tindak kekerasan fisik dan verbal. Batin dan tubuhnya benar-benar terluka.
2 tahun setelah pernikahan pengadilan agama memutuskan gugatan perceraian diterima. Di usia 18 tahun, Siti telah menjadi Janda. Para tetangga dan warga desa merasa risih dengannya. Bahkan beberapa ibu-ibu yang sering belanja sayur mengucapkan sumpah serapah, mengumpat begitu kejam. Masa muda yang begitu menyakitkan. Akibat Siti, orangtuanya dan anaknya juga kena imbas. Sulit bagi orang-orang memberi mereka pekerjaan. Padahal kedua orangtua hanyalah burub serabutan. Anaknya selalu dikucilkan bahkan dianggap najis beberapa orang. Jika ini sebuah film mungkin backsound sedih atau lagu ‘you rest me up’ sudah disenandungkan sejak tadi.
Rasanya dalam 1 waktu, semua ujian hidup ditimpakan begitu saja. Sempat ada niat untuk mengakhiri hidup tapi, lagi-lagi ada orangtua dan anaknya yang harus ia hidupi.
Malam ini. Siti menyelesaikan cucian tetangga, ya meskipun banyak warga desa yang menyumpahinya. Namun, ada beberapa yang masih berbaik hati memberikan pekerjaan kecil2an pada Siti.

Tenaganya mulai menipis, namun masih ada seember pakaian yang harus dijemur. Bagas. Putra Siti, penyemangat hidupnya sampai mati. Menghampiri Siti.
“Bu, kenapa banyak orang yang benci sama Ibu?”
Siti terdiam. Dia tak ingin anaknya tahu betapa kelamnya masa lalu yang ia miliki.
“Bu banyak orang yang bilang. Ibu, wanita nakal. Tapi setiap hari, Ibu selalu bilang Bagas gak boleh jadi anak nakal”
“Jangan dengerin, apa kata orang ya nak”
“Bu, Bagas punya tugas dari sekolah. Kata bu guru, Bagas harus ngucapin Terima kasih sama orangtua.”
Siti hanya tersenyum. Itu hanya sekadar tugas sekolah yang bisa dikerjakan Bagas sendiri.
“Makasih Ibu udah lahirin Bagas di dunia ini.”
Air mata Siti terkumpul dan mengaliri pipinya. Tenaganya yang sudah menipis seakan terisi kembali.
Bagas. Mungkin beberapa irang merasa jijik dengannya. Klasik memang jika beberapa orang mengganggap bagas haram namun itulah kenyataannya. Mungkin melahirkan Bagas ke dunia ini adalah sebuah cobaan. Tapi ternyata tidak, Bagas adalah anugerah. Kini Siti memiliki mimpi baru, yakni menemani Bagas dan membesarkannya menjadi pria yang tangguh

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *