"Kisah Kasih Kekasihku" : Isunya Bagus Tapi Kurang Dijelaskan dengan Baik

“Kisah Kasih Kekasihku” : Isunya Bagus Tapi Kurang Dijelaskan dengan Baik

“Kisah Kasih Kekasihku” : Isunya Bagus Tapi Kurang Dijelaskan dengan Baik

"Kisah Kasih Kekasihku" : Isunya Bagus Tapi Kurang Dijelaskan dengan Baik "Kisah Kasih Kekasihku" : Isunya Bagus Tapi Kurang Dijelaskan dengan Baik

Halo, hari ini aku mau review buku. Sebenarnya ini buku yang kurang dikenal banyak orang. Apalagi melihat tahun terbitnya 2016 lalu, dan aku mendapatkan buku itu di tahun 2019 saat acara bazar buku Patjar Merah. Cerita sedikit tentang momen saat aku membeli buku itu, sebenarnya aku adalah orang senang memborong buku murah saat acara bazar. Aku sangat mudah tertarik dengan buku yang tidak terlalu tebal namun berjudul menarik menurutku.

Saat melihat buku ini, Aku langsung tertarik karena judulnya. Aku senang membahas relationship, apalagi saat itu aku masih bekerja penuh sebagai content writer. Akhirnya setelah memilih 4 macam buku, aku membayar. Dan betapa kagetnya buku ‘Kisah Kasih Kekasihku’ ternyata isinya kurang menarik secara visual. Selain tone color yang cukup mengganggu, pemilihan font juga kurang tepat. Sulit untuk dibaca. Akhirnya, ku letakan buku itu dalam rak selama berbulan-bulan.

Karena sekarang ini aku memiliki banyak waktu luang, akhirnya ku buka kembali buku-buku lamaku dan Aku mulai membaca buku itu.

Buku “Kisah Kasih Kekasihku” ditulis oleh sepasang suami istri, Sirot Fajar & Futri Zakariyah. Jujur dari gambar sampulnya sih bagus. Dan itulah yang menjadi pemikat bagiku sehingga membeli buku ini.

Nah, membahas sedikit tentang buku ini. Buku ini berisikan, 50 sepintas cerita yang berkaitan dengan dunia rumah tangga. Prespektif yang diambil buku ini sebenarnya cukup beragam, akan tetapi yang paling dominan cenderung ke agama islam. Kisah-kisah pernikahan yang dijelaskan diambil dari kisah dari Nabi Muhammad SAW, dan para sahabat. Tapi ada 1 kisah yang menceritakan tentang kehidupan pernikahan Nabi Ismail AS. Aku akan menuliskan beberapa hal yang dibahas, mulai dari:

  • Pasangan yang bahagia sejak malam pertama
  • Lebih mengenal pasangan satu sama lain
  • Saling menjaga rahasia rumah tangga khususnya urusan ranjang
  • Pasangan yang saling belajar entah dengan orang lain atau pasangannya sendiri (istri yang belajar dari suami, atau suami yang belajar dari istri)
  • Saat suami istri sedang berselisih
  • Kebiasaan kecil yang berkesan sangat dalam
  • Selisih usia kedua pasangan
  • Membawa kebaikan ke masyarakat
  • Menjaga perasaan pasangan
  • Setia mendampingi pasangan
  • Dan masih banyak lagi

Sebenarnya setiap cerita yang diangkat sangatlah menarik, entah dari kisah islami ataupun kisah lainnya. Akan tetapi sangat disayangkan mereka hanya sebatas bercerita tentang point-point-nya saja, tanpa ada ulasan lebih dalam. Bagiku yang mungkin belum menikah namun cukup senang dengan kegiatan membaca merasa apa yang disampaikan dari buku ini cukup nanggung. Rasanya berhenti di tengah jalan. Memang sih, semua yang ditulis itu berdasarkan sejarah dunia, jadi butuh waktu lama untuk mengulas lebih dalam.

Selain membahas tentang cerita-cerita pernikahan tokoh-tokoh bersejarah dunia. Dalam buku ini juga dijelaskan secara singkat tentang konsep ta’aruf. Bagiku, konsep ta’aruf mungkin seperti apa yang digambarkan di ayat-ayat cinta. Ya, sekali ketemu, klik, langsung nikah. Aku sendiri melihat sistem yang seperti itu merasa cukup ngeri-ngeri sedap. Maklum saja aku bukan dari background yang ahli agama banget. Meskipun ta’aruf itu baik, namun menurutku secara pribadi menikah itu hal yang susah. Mana bisa menentukan siap hidup dengan seseorang dalam sekali bertemu.

Akan tetapi dalam buku ini dijelaskan jika ta’aruf tidak saklek seperti itu. Konsep ta’aruf pada dasarnya konsep pengenalan antara dua orang (laki-laki dan perempuan) yang berkeinginan untuk menikah. Konsep ta’aruf bukan hanya sekali pandang saja, namun kedua pihak boleh melakukan pertemuan lebih dari sekali. Jangka waktunya pun juga tidak dibatasi, seseorang bisa melakukan proses pengenalan selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, sampai pada akhirnya mantap menikah. Selain itu ta’aruf juga tidak hanya mengenalkan kedua calon namun juga keluarga besar mereka. Jadi setiap pertemuan umumnya, kedua pihak harus ditemani orang lain, baik itu teman dekat, kerabat, atau orangtuanya.

Sebenarnya buku ini cukup bagus, tapi ada beberapa hal yang disayangkan selain karena pemilihan tone color kertas (khususnya isi) serta font yang sulit dibaca. Cerita dan isu yang diangkat kurang digali lebih dalam. Jika hal itu diperbaiki mungkin akan lebih baik.

Itu dia sedikit review tentang buku yang beberapa waktu lalu ku selesaikan untuk membacanya, semoga apa yang disampaikan bermanfaat bagi semua! See you

Reuni Virtual Semasa #3 Kebebasan Diri Bersama Atma Parindra

Reuni Virtual Semasa #3 : Kebebasan Diri Bersama Atma Parindra

Reuni Virtual Semasa #3 : Kebebasan Diri Bersama Atma Parindra

Hai, bertemu lagi. masih dalam series Reuni virtual beberapa waktu lalu aku menghubungi teman SMAku, namanya Atma Parindra. Sejujurnya kami nggak pernah saling ngobrol di sekolah, kalau bicara ya paling sekadar tanya “Ada si … nggak di kelas?” udah gitu doang.

Reuni Virtual Semasa #3 Kebebasan Diri Bersama Atma Parindra

Aku memang tak akrab dengan Atma, tapi dulu waktu SMA Atma termasuk orang yang populer. Dia seperti memiliki gaya tersendiri dan dibilang cukup kreatif dibanding siswa-siswa lain. 1 minggu pertama saat masa Orientasi sekolah, kami pernah satu kelas. Sebelum akhirnya Atma pindah ke kelas ICT. Dia termasuk pribadi yang introvert.

Meskipun demikian, Aku tahu melalui akun media sosialnya dia melancong ke berbagai tempat. Bahkan Aku tahu jika beberapa waktu lalu ia bersama tim Borneo Tattoo melakukan ekspedisi kalimantan. Sebagai teman satu angkatan tentu Aku penasaran ingin mengulik kisah perjalanannya. Setelahku hubungi dan ku ajak untuk bergabung di acara reuni virtual dengan topik “Kebebasan Diri” ini.

Setelah masing-masing dari kami menyepakati jadwal, siaran langsung pun dimulai. Aku bertanya sedikit tentang ekspedisi Atma selama di Kalimantan. Atma hanya menjelaskan jika ekspedisi itu dilakukan dengan tujuan mengarsipkan tato-tato khas suku dayak baik dalam bentuk film dokumenter maupun buku.

Atma memang bisa dibilang anak pelancong, dia mengaku sering melakukan turing ke beberapa tempat di Indonesia. Mulai dari Jogja, kota-kota Jateng, NTT, NTB, Bali, dan Kalimantan. Dia merasa jiwanya lebih bergairah saat berada di jalan, memang itu arti kebebasan buat Atma. Berbeda denganku yang bebas menyusun kata, mengungkapkan perasaan, dan bercerita sepuasnya di meja depan laptop, dan alat-alat tulis.

Reuni Virtual Semasa 3 Kebebasan Diri Bersama Atma Parindra

Tapi meskipun berada di tempat yang berbeda, bukan berarti Aku yang terkekang dan Atma yang hidup liar. Bagi kami berdua kebebasan itu bukan hanya soal tempat, tapi tentang batin dan pikiran. Bahkan Atma sendiri menegaskan jika kebebasan yang mutlak tidak ada, saat seseorang memilih sesuatu atau melakukan sesuatu maka akan ada tanggung jawab atau konsekuensi yang harus dihadapi. Memang terkadang beberapa orang menganggap kebebasan adalah mereka berhak atas apa yang diinginkan, tapi kembali lagi setiap hal yang dilakukan ada risiko dan konsekuensinya.

Terkadang dalam perjalanan Atma bukan hanya mengalami kendala teknis saja namun juga terpisah dari rombongan karena beberapa hal, entah itu perbedaan visi atau hal lainnya. Ada insight baru yang aku dapatkan dari Atma, dan itu juga jadi salah satu hal penting saat membangun komunikasi dengan orang lain. Ia bilang apabila ditengah perjalanan mengalami perdebatan, Atma akan berusaha memposisikan dirinya menjadi lawan bicara. Tentu itu menjadi hal yang sering kita lupakan, saat sedang berdiskusi atau berdebat dengan teman, rekan kerja, atau pasangan sekalipun.

Jika dipikir lagi, semakin jauh Atma pergi atau berpetualang maka semakin besar dan luas pula jaringan relasi yang dimiliki. Namun bukan berarti anak rumahan tidak memiliki jaringan relasi, kunci dari membangun relasi tentu diri kita yang terbuka dengan orang lain.

Aku juga bertanya tentang satu hal yaitu finansial. Iya, tentu kesiapan finansial sangat penting sebelum berpetualang. Atma sendiri memiliki beberapa bisnis, seperti bisnis event, dan wedding photography. Selama ia melakukan ekspedisi 8 bulan bisnis-bisnis tersebut dikelola oleh orang terpercaya, untuk pembagian komisinya sendiri masih ia rahasiakan. Tapi dengan sistem seperti itu, kebutuhan batin Atma akan petualangan juga terpenuhi dan bisnis tetap berjalan. Namun bagi yang belum memulai bisnis, tentu kegiatan menabung itu penting. Pastikan uang tabungan dan perencanaan keuangan selama perjalanan itu jelas, dan jangan lupa sediakan dana darurat jika terjadi sesuatu sewaktu perjalanan.

Setiap petualangan yang dilakukan tentu memiliki masalah, salah satunya kehabisan uang. Untuk mengatasi itu, Atma bahkan sampai bekerja serabutan, entah sebagai Fotografer untuk para turist bahkan kuli bangunan. Menghadapi krisis keuangan saat di tempat orang lain tentu hal yang sulit, namun kembali lagi otak harus tetap berpikir tubuh harus bergerak manfaatkan segala yang kita miliki untuk melanjutkan hidup, petualangan atau bahkan cara pulang.

Ke depannya memang akan ada ekspedisi lagi, dengan visi tersendiri. Ada banyak persiapan yang harus dilakukan selain finansial, kesehatan tentu penting apalagi dimasa pandemi seperti ini. Selain mengonsumsi vitamin, Atma dan teman-teman Borneo Tattoo harus melakukan pemeriksaan kesehatan. Mereka tentu tak ingin niat baik justru membuat panik orang-orang.

Jiwa Atma memang petualang, tapi dia tak lupa kemana ia harus pulang. Bebas bukan pada tempat, tapi bebas adalah saat kita bisa memilih, melakukan, atau berpendapat tentang sesuatu yang disukai dan diyakini tanpa ada tekanan dari orang lain, serta kita berani bertanggung jawab atas segala resikonya. Atma petualang karena memang jiwanya ada di jalan, namun beberapa orang juga berpetualang namun dengan media yang berbeda.

Reuni Virtual 2 Ratih dan Suami

Reuni Virtual #2 : Nikah Muda? Bersama Ratih

Reuni Virtual #2 : Nikah Muda? Bersama Ratih

Halo! Setelah beberapa waktu lalu aku bikin acara reuni virtual #1 yang membahas tentang body shaming, tepat kemarin (19/09) bersama teman SMA ku Ratih. Topik yang aku angkat kemarin sangatlah menarik, jujur ini demi menjawab pertanyaanku pribadi tentang “Nikah Muda”.

Reuni Virtual 2 Ratih dan Suami

Ya, beberapa orang mungkin menganggap nikah muda adalah hal yang menyia-nyiakan masa mudanya. Kenapa demikian? Gini, Aku pun juga berpikir begitu dulu. Masa muda adalah saatnya kita mengejar mimpi, berjelajah, mencari jati diri yang sebenarnya, dan belajar menjadi lebih dewasa. Tapi jika sudah menikah, rasanya hidup bukan milik sendiri saja, namun sudah milik berdua dengan pasangan.

Kebanyakan orang berpikir di usia muda memiliki ego yang besar dan kondisi emosional yang nggak stabil. Tentu akan sulit bagi mereka untuk menghadapi berbagai problematikan pernikahan. Tapi sedikit cerita tentangku saat membahas topik ini. Sejujurnya ini topik yang cukup berat buatku, selain karena Aku yang belum menikah. Bagiku isu pernikahan muda cukup sensitif, sebelum memulai acara reunivirtual aku membekali diriku dengan beberapa pengetahuan tentang pernikahan. Aku cari UU perkawinan negara (Aku cari tahu berapa batas minimal seorang wanita menikah, Aku pribadi nggak mau jika ternyata temanku dikategorikan KAWIN ANAK, dan untunglah tidak). Aku belajar bagaimana kehidupan pernikahan melalui buku.

Sungguh, Aku sangat berhati-hati membawakan topik tersebut. Aku nggak mau, konsep awal yang ingin membedah kisah teman tentang kehidupannya yang menikah muda, justru menggiring opini audiens untuk sesegera mungkin menikah.

Lanjut ke pembahasan reuni kemarin, berbeda dengan sebelumnya. Kali ini Aku cenderung mengajukan beberapa pertanyaan kepada Ratih tentang kehidupannya saat menikah muda. Ratih menikah di saat usianya 18 tahun. Ia baru lulus SMA dan selang beberapa bulan akhirnya menikah. Tentu aku penasaran dorongan apa yang membuat dirinya pribadi memutuskan untuk menikah dengan orang yang selisihnya 13 tahun lebih tua? Bagaimana kondisi emosionalnya? Bagaimana dia menurunkan egonya?

 

Ratih menceritakan sedikit keputusannya menerima lamaran suami. Ratih mengenal suami sudah 3 tahun lamanya, setelah ia lulus. Ratih dan suami mulai menjalin hubungan spesial, selang 3 bulan. Akhirnya sang suami meminta restu kedua orangtua, singkat cerita setelah pertemuan kedua keluarga tanggal pernikahan pun diperoleh. Awalnya Ratih masih diberi kesempatan untuk merintis karir beberapa tahun, tapi ternyata ia justru akan menikah dalam waktu terdekat. Ratih sempat mengalami dilematik, antara lanjut menikah atau berhenti saja. Tapi ia pikirkan lagi, tentang kepribadian sang suami yang baik, sikap religiusnya, menurutnya sulit saat ini mencari seorang imam keluarga yang baik. dan mumpung ia menemukan calon seperti itu, akhirnya ia memilih menerima.

Di awal pernikahan Ratih juga mengalami gejolak emosi. Kehidupan pernikahan dengan kehidupan lajang tentu berbeda jauh. Namun, sang suami senantiasa sabar menyikapi gejolak emosi Ratih yang berubah. Sang suami tentu paham, selain karena usia Ratih yang masih muda, Ratih juga butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan kondisi pernikahan. Ia bilang butuh waktu 3 bulan untuk menstabilkan emosinya. Apalagi, di usia pernikahannya yang baru 1 bulan, Ratih diamanahkan anak. kondisinya yang hamil membuat Ratih harus benar-benar belajar mengendalikan emosi dan menjadi lebih dewasa.

Ratih mungkin masih menyimpan harapan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, dan merintis karir lagi. Tapi ketika anaknya lahir, Ratih mulai merasa dilema. Meskipun sang suami mendukung jika dirinya ingin mengejar cita-cita. Tapi sebagai seorang ibu, Ratih masih memikirkan tumbuh kembang anaknya yang masih berusia 4 tahun. berganti peran memang berganti sudut pandang, Ratih mungkin belum sempat mengenyam bangku Universitas. Tapi karena suaminya seorang guru, Ratih sering kali membantu suami mengoreksi hasil ujian para siswa saat UAS dan UTS. Yang itu berarti Ratih juga masih belajar, meskipun dirinya ibu rumah tangga.

Kalau membahas pernikahan memang ada aja yang dibahas, bahkan aku sempat bertanya pada Ratih, apakah dia pernah merasa menyesal karena menikah muda? Pernah merasa irikah dengan teman-teman seusianya yang bekerja atau kuliah?

Ratih menjawab jujur jika dia pernah merasakan itu. Apalagi jika dia membuka media sosial, yang isinya penuh dengan gambaran teman-temannya yang kuliah, yang merintis karir dan lain-lain. Sesekali ia bercerita dengan suami, tapi apa yang ia katakan justru membuat suami merasa bersalah. Akhirnya Ratih memendam perasaan itu, ia memilih kembali kepada komitmen yang dibangun berdua dengan pasangannya.

Kini peran Ratih tak lagi sama. Ratih menjadi anak perempuan, istri dan ibu. Peran tersebut terkadang membuatnya semakin belajar bagaimana ibunya dulu yang bersusah payah mendidik anak, sekaligus istri.

Dari obolanku malam itu, mungkin ada hal yang bisa dipetik dari kisah pernikahannya Ratih. Kunci pernikahan bukan berada di dalam diri sendiri saja, namun juga pasangan. Saat satu pihak sedang belajar maka pihak yang lain perlu bersabar.

Tujuanku tetap cukup terpenuhi malam itu. Aku ingin mematahkan streotip masyarakat yang bilang jika nikah muda itu menyia-nyiakan masa mudanya. Itu menurutku salah.

KONSEP MENYIA-NYIAKAN AKAN ADA JIKA KITA TIDAK MENIKMATI PERNIKAHAN ITU SENDIRI DAN MERASA MENYESAL ATAS KEPUTUSAN TERSEBUT.

Jadi kalau kita menikah di usia 18 seperti Ratih. Atau 20, 30, bahkan 40 tahun kalau kita tidak bisa menikmatinya dan tidak menjalin hubungan yang baik dengan pasangan semua itu akan sia-sia. Menikah muda, memang pilihan. Aku yang berusia 23 tahun saja sudah ditanya punya calon atau belom. Menikah bukan hal yang mudah, perlu banyak persiapan. Baik secara mental, emosional, fisik, dan finansial. Untuk itu sebaiknya pertimbangkan sebaik mungkin, jangan sampai merasa menyesal dengan keputusan bersama seseorang sehingga kita merasa menyia-nyiakan waktu saat bersamanya.

Itu dulu cerita dariku, semoga ada pembelajaran yang diperoleh dari sesi reuni virtual kemarin. Tunggu konten reuni virtual berikutnya ya!

REUNIVIRTUAL #1 Menyikapi Body Shaming dengan Mera

REUNIVIRTUAL #1 : Menyikapi Body Shaming dengan Mera

REUNIVIRTUAL #1 : Menyikapi Body Shaming dengan Mera

 

REUNIVIRTUAL #1 Menyikapi Body Shaming dengan Mera

Hallo semua! Hari ini Aku mau berbagi pengalaman. Mungkin pengalaman body shaming bukan hanya dialami oleh aku saja, kebanyakan orang juga mengalaminya. Dikatain gendut lah, pendek lah, kecil lah, terlalu kurus, lah, jelek, dan lain-lain. Awalnya ledekan itu sebagai bahan bercandaan, tapi lama-lama malah menyakitkan bagi mereka yang bersangkutan.

Jujur Aku juga orang yang sering sekali mengalami body shaming. Alasannya karena tinggi badanku yang masih dibawah rata-rata orang seusiaku. Body shaming aku alami sejak SMP. Awalnya biasa, atau lebih tepatnya saat itu aku nggak bisa ngelawan. Bingung gimana caranya bisa menjawab semua ledekan mereka. Hal itu terus aku alami. Tapi aku bersyukur, dibalik teman-teman yang mengejekku masih ada teman yang mau nemenin dan berteman denganku. Kekesalanku terhadap tindakan body shaming dari teman-teman membuatku mudah marah. Aku sering memukul mereka dengan tangan atau mengumpat padanya. Maklum waktu itu aku banyak nememukan kosa kata baru, dan belum bisa bersikap sabar. Cenderung lebih sering memberontak. Aku nggak peduli apa mereka merasa sakit, karena apa yang mereka katakan jauh lebih sakit. Aku merasa menyimpan dendam pada mereka yang mengatakan itu.

Emang sih body shaming bikin rasa percaya diri kita jadi turun. Apalagi kalo diledeknya di depan orang banyak. Wahh itu pasti rasanya malu dan marah banget. Lalu saat masuk SMA, Aku mendapatkan pengalaman yang berbeda. Tepat kelas X aku bertemu dengan temanku Mera. Kami memiliki tinggi badan yang sama. Bahkan setiap kali jalan ke kantin berdua, kami dianggap kembar oleh anak-anak.

Siapa sih yang suka kalo dipanggil 1 meter tak sampai? Kalau ada mungkin dia bermental baja. Masa SMA aku memiliki teman-teman dengan bentuk tubuh yang lebih proposional dibanding waktu SMP. Anak laki-laki tubuhnya kurus tinggi. Sedangkan anak perempuan, body goals lah.

REUNIVIRTUAL #1 Menyikapi Body Shaming dengan Mera

Awalnya aku pede-pede aja karena di kelas aku bertemu banyak orang yang bertubuh mungil. Ya ngerasa ada temennya. Dan karena Mera dan teman-teman yang lain juga aku merasa lebih diterima oleh lingkungan di kelas ataupun di sekolah. Aku merasa lebih dihargai keberadaannya di banding diintimidasi. Meskipun body shaming itu tetap ada, dan beberapa orang memanfaatkan postur tubuhku untuk kepentingan pribadinya. Tapi aku merasa lebih aman di lingkungan SMA ini.

Karena apa yang aku alami sama seperti yang Mera rasakan, beberapa waktu lalu kami memutuskan untuk membuat 1 ide konten baru. Aku sungguh sangat bersyukur melalui konten #reunivirtual kemarin Aku dan Mera saling bercerita di moment kemarin. Melalui IGLIVE aku dan dia saling cerita tentang pengalaman Body shaming yang kami rasakan semasa SMA. Namun, saat masih SMA aku dan Mera merasakan dan memberikan sikap yang sama. Ya, menganggapnya sebagai lelucon yang menyenangkan. Karena jujur orang yang selalu meledek kami berdua punya gaya pelawak gitu.

Dari obrolan selama 1 jam itu, kami berdua sama-sama merasakan. Terkadang cara terbaik menyikapi body shaming atau bentuk bullying lainnya adalah dengan fokus pada diri sendiri. Memang kita nggak punya bisa meminta orang lain untuk lebih menghargai perasaan kita. Kita nggak punya kontrol atas apa yang dilakukan oleh orang lain. Kita Cuma punya kontrol pada diri sendiri.

Mera juga mengaku kalau berkat body shaming dari temen-temennya dia justru memiliki mental yang kuat. Terkadang memang Mera sering bertanya, kenapa selalu dia yang diledek dari semua temen-temennya? Kalau dipahami lagi terkadang teman-teman yang sering meledek, justru mereka yang paham betul dengan karakter kita. Karena bisa saja mereka yang meledek kita benar-benar tak bermaksud untuk melukai kita. Memang berusah mengakrabkan diri, tapi ternyata cara itu membuat kita merasa tidak nyaman.

Balik lagi ke bagaimana menyikapi Body Shaming itu. Kuncinya kita harus berganti fokus. Jangan terlalu fokus pada hal yang membuat kita terluka atau kepada mereka yang melakukan body shaming. Fokuslah pada hal besar yang kita miliki. Kondisi fisik adalah sebagian dari kehidupan kita, ada hal lain yang lebih besar dari itu. Ya sebut saja perasaan kita dan pikiran kita.

Aku sendiri juga merasa sedikit bersyukur atas hal yang tidak aku sukai di masa lalu itu. Berkat bully-an dan tindakan body shaming teman-temanku Aku bisa membuat karya yang bisa melegakan hatiku dan dinikmati orang-orang di sekitarku.

Mungkin itu dulu, sedikit rangkuman dari Reunivirtual kemarin. Semoga dengan apa yang aku dan Mera sampaikan bisa bermanfaat bagi siapa saja. Sekian dariku, selanjutnya aku akan membahas banyak hal lain dengan teman lamaku di masa SMA. See You! #reunivirtual SEMASA

“TILIK” Short Movie Bahasa Jawa Yang Membumi

“TILIK” Short Movie Bahasa Jawa Yang Membumi

“TILIK” Short Movie Bahasa Jawa Yang Membumi

“TILIK” Short Movie Bahasa Jawa Yang Membumi

Halo, sudah lama sekali Aku nggak review film hehehe. Ya maklumlah lagi pandemi kayak gini gak bisa pergi ke bioskop. Meskipun begitu, bukan berarti Aku tak memiliki tontonan. Di masa pandemi saat ini tentu banyak orang yang beralih ke streaming serial dan film yang berbayar atau bajakan. Bahkan sadar atau nggak saat ini, selama pandemi ini Drama Korea begitu laris di pasaran. Sebut aja The World Of Married, Crash Landing On You, Itaewon Class, sampai yang barusan selesai Pshyco But It’s Okay.

Aku memang termasuk orang yang suka nonton drama korea. Cuma semenjak lulus kuliah, dan mempersiapkan diri untuk TA (tugas akhir) jatah drakorku sangat Aku kurangi. Bahkan keblabasan sampai sekarang, padahal dulu candu banget bahkan kalo udah marathon gila banget nyampe makan dan mandi.

Eits… tapi kali ini Aku nggak mau bahas Drakor. Hahaha mumpu masih hangat suasana kemerdekaan alias 17an Aku mau bahas film pendek yang sangat viral diperbincangkan oleh netizen bahkan sempet trending di Twitter. Ya, nggak lain dan nggak bukan itu adalah ‘TILIK.’ Tilik merupakan film pendek yang diproduksi oleh Ravacana Film. Untuk set tempatnya sendiri berlokasi di kota istimewa Yogyakarta.

Aku mau bahas sedikit sipnosisnya.

Kisah ini menceritakan sebuah rombongan ibu-ibu yang hendak berkunjung atau lebih tepatnya menjenguk Bu Lurah yang sedang sakit di rumah sakit kota Jogjakarta. Karena lokasinya yang jauh akhirnya rombongan ibu-ibu itu menggunakan truk angkut barang untuk menuju rumah sakit. Selama diperjalanan, banyak cerita yang mereka sampaikan. Ya, bisa dibilang rumpinya ibu-ibu tentang sosok gadis desa yang bernama Dian. Dalam cerita ada tokoh ibu-ibu yang bisa dibilang “Biang Gosip” bernama Bu Tejo. Nah, sama halnya cerita pada umumnya, ada sisi peran protagonis yang berusaha mengingatkan Bu Tejo untuk tidak asal cerita tentang sosok Dian, dia adalah Yu Ning. Selama perjalanan mereka sering kali berdebat, bahkan sempat karena perdebatan mereka truk yang ditumpangi kena tilang pak polisi. Singkat cerita mereka sampai ke Rumah Sakit, namun karena Bu Lurah masih dalam kamar ICU dan tak bisa dijenguk akhirnya rombongan ibu-ibu itu pulang kembali. Yang sedikit mengejutkan diakhir adalah apa yang diceritakan Bu Tejo ternyata benar adanya.

Setelah menonton film ini, banyak hal yang Aku sukai. Pertama karena Aku orang jawa, Aku merasa sangat related apalagi orang desa umumnya seperti itulah cara ngerumpinya. Mulai dari topik, sampai hal-hal sepele tentang ledekan yang berkaitan dengan informasi di internet sangatlah mirip dengan kondisi ibu-ibu yang ada di rumahku. Kedua, secara nggak langsung film ini mengajarkan kita tentang bahasa krama alus, emang sekarang banyak anak muda yang mengalami kesusahan jika berbicara krama alus, termasuk diriku yang kebiasaan ngomong bahasa Indonesia saat bekerja dan ngobrol dengan teman-teman kuliah. Mungkin Aku paham sedikitlah tentang krama alus, tapi ketika menonton film ini Aku merasa benar-benar diajari. Ketiga, film ini membangun nuansa jawa yang kental. Mungkin bagi orang yang tinggil di luar Jawa Tengah dan Yogyakarta, akan merasakan kehidupan sederhana orang-orang jawa. Keempat, Film pendek berdurasi 30 menitan ini, memiliki alur cerita yang ringan, ringkas, dan sederhana. Meskipun begitu, banyak pelajaran yang kita dapatkan. Seperti, jangan sembarang menceritakan hal yang belum tentu benar, selalu punya empati terhadap orang lain. Serta yang paling utama kita harus ati-ati kalau kemana-mana jangan sampai tahu tetangga, takutnya malah diomongin sampai segitunya, hehehe becanda.

Jujur film ini sangat menghibur, apalagi karakter Bu Tejo. Memang biang gosip adalah peran yang nggak baik dalam hidup bermasyarakat, tapi dalam film ini Bu Tejo-lah yang menjadi attention-nya. Mulai dari cara bahasanya, bahkan ekspresi dan gerakan mulutnya lah yang membuat para penonton terhibur dan merasa sangat related. Bahkan kata temen-temenku “Kek tetanggaku banget!”

Setelah nonton ini, rasanya Aku lebih membumi dengan sekitar dan negara Indonesia ini tentunya. Bahkan karena sangat related, Aku jadi ingat kehidupan di rumah, memang pada umumnya kalau mau jenguk atau tilik orang yang sedang sakit modelnya rombongan gitu, tapi nggak harus pakai truk bis atau mobil travel juga bisa. Setelah nonton Film ini, rasanya film Indonesia tak kalah menghibur dibanding Drakor atau film luar lainnya. Ya, ada baiknya kita menonton film-film seperti ini terlebih dahulu, rehatlah dari Drakor yang mungkin membuat kita baper tapi nggak bisa bikin kita kangen sama kampung halaman.

Nah, itu dia pendapat Aku tentang Tilik. Semoga kalian yang belum nonton, bisa nonton segera mumpu bisa ditonton gratis di YouTube! See You… Eh Sampai ketemu lagi!

‘Ford Vs Ferrari’ Film Otomotif Yang Menginspirasi

‘Ford Vs Ferrari’ Film Otomotif Yang Menginspirasi

‘Ford Vs Ferrari’ Film Otomotif Yang Menginspirasi‘Ford Vs Ferrari’ Film Otomotif Yang Menginspirasi

Sumber gambar: Times

Ini review memang sedikit lama aku buat, sejujurnya dari kemarin aku bingung apakah sebaiknya aku review atau tidak. Sampai setelah diberitahu teman tak ada salahnya untuk memberikan review pada film ini meskipun aku tidak paham dengan dunia otomotif.

Jujur kesan pertama saat mendengar judulnya ‘Ford vs Ferrari’ sempat ku pikir jika ini adalah film yang berkaitan tentang persaingan antara dua merk penjual mobil yang terkenal di dunia. Tapi ternyata film ini mengisahkan sejarah antara pembuat mobil balap terkenal bernama Carrol Shelby dan pembalap profesional bernama Ken Miles.

Jujur selama 15 menit pertama rasanya otakku benar-benar berpikir keras mengenai film ini. sempat terpikir jika sepertinya aku salah nonton. 15 menit pertaman benar-benar membingungkan selain karena aku tidak kenal dengan castnya, ditambah rasanya 15 menit pertama dihabiskan untuk introducing all cast mulai dari pihak eksekutif ford, sang tokoh utama, dan figuran lainnya.

Munculnya konflik

Setiap film tentu memiliki konflik, munculnya konflik diawali oleh persaingan antara Ford dan Ferrari. Konflik dimulai saat Ferrari menolak kerjasama dengan Ford dan melecehkan derektur Utamanya yaitu Henry Ford II sebagai pemimpin yang sombong dan tak berguna.

Mendengar berita tersebut, Henry Ford II kemudian geram dan ingin membalas dendam. Ia berniat mengalahkan Ferrari dalam balapan mobil Le Mans. Dari konflik inilah kemudian membawa perusahaan Ford kepada salah satu pembuat mobil balap yang dikelola oleh Carrol Shelby. Shelby menyetujui kerjasama dengan Ford untuk membuat sebuah mobil balap yang akan mengalahkan Ferrari pada ajang Le Mans nantinya.

Persahabatan Carrol Shelby dan Ken Miles

Tentu untuk membuat sebuah mobil balap Shelby membutuhkan tim, untuk itu ia pun mengajak sahabatnya Ken Miles. Membuat mobil balap yang dapat mengalahkan Ferrari tentu sebuah tantangan yang baru bagi Shelby, namun juga ujian bagi persahabatannya dengan Miles.

Ken Miles bukanlah pembalap biasa, dia adalah pembalap yang paham benar dengan mobilnya sendiri. Namun karena Wakil Direktur Ford yang lebih mementingkan citra perusahaan membuat Miles gagal berangkat diajang balapan bergengsi Le Mans. Beliau berpendapat image Ken tidak sesuai dengan image perusahaan Ford.

Akhirnya setelah Ford mengalami kekalahan, dan Shelby mencoba bernegosiasi dengan Henry Ford II, pada kejuaran berikutnya Ken Miles dapat berpartisipasi. Selama perlombaan berlangsung berulang kali Ken Miles menciptakan rekor baru dalam sejarah mobil balap kala itu.

Meskipun kemampuan Ken Miles sudah tak diragukan lagi, namun semua kemampuannya akhirnya dikalahkan oleh kepentingan para eksekutif. Miles yang seharusnya menjadi juara, harus menyerahkan pialanya ke lawan, “Ford!” ya bisnis itu ternyata kejam. Rasanya pada momen ini aku merasa sangat berempati pada Miles dan Shelby, ambisi dan kerja kerasnya harus dihancurkan oleh keuntungan satu pihak yang memiliki kuasa.

Sebenarnya selama scene perlombaan aku kira bakal ada adegan dramatis. Apalagi ada beberapa kisi seperti mobil yang terbakar karena masalah rem, dan tewasnya pengemudi karena kehabisan oksigen di dalam mobil yang terbakar. Ditambah lagi dengan pintu mobil yang rusak saat putaran pertama.

Namun dugaanku terpatahkan. Adegan dramatis ternyata terjadi setelah perlombaan berlangsung. Di sebuah gurun pasir dengan cuaca yang panas. Miles melakukan uji coba pada mobil balap yang baru, saat adegan ini Miles memberikan narasi yang cukup panjang. Yang intinya ia ingin menjadi dirinya sendiri. Namun siapa sangka dibalik keinginan itu, mobilnya terbakar dan dia tewas.

Kepergian Miles bukan hanya meninggalkan luka pada keluarganya namun juga Shelby, enam bulan berlalu tapi rasa dukanya tak kunjung sembuh. Kini kisah mereka berdua abadi dan dicatat oleh sejarah otomotif.

Pamflet Film ‘Telur Setengah Matang’

Nonton Bareng Film ‘Telur Setengah Matang’

Nonton Bareng Film ‘Telur Setengah Matang’Nonton Bareng Film ‘Telur Setengah Matang’

Mungkin diantara kalian suka jika makan nasi goreng yang ditambah dengan telur setengah matang? Meskipun ada sebagian orang yang tak suka jika telur yang mereka konsumsi dimasak dengan setengah matang, namun tentu ada cita rasa tersendiri yang dirasakan saat memakan makanan ini.

Nah, kali ini aku tidak akan membahas makanan. Aku akan membahas salah satu film indie yang diproduksi oleh larasati creative labs dengan judul ‘Telur Setengah Matang.’ Kebetulan kemarin aku berkesempatan untuk datang di acara bedah film tersebut bersama mahasiswa UIN Walisongo Semarang dan beberapa narasumber. Kegiatan bedah film ini berkaitan dengan memperingati 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan.

Sipnosis film

Pamflet Film ‘Telur Setengah Matang’

Film ini menceritakan seorang siswi Sekolah Menengah Pertama bernama Nina yang melakukan hubungan seks di luar nikah. Akibat dari tindakannya tersebut kini ia mengalami kehamilan yang tidak direncanakan, apalagi sang kekasih tak menunjukkan tanggung jawabnya atas perbuatan yang dilakukan.

Siswa tersebut hidup bersama sang Ayah dan tergolong sebagai keluarga menengah ke bawah. Akibat dari kehamilan ini, Ia harus dikeluarkan dari sekolah. Bahkan dalam film tersebut digambarkan jika Nina bermaksud untuk menggugurkan bayinya, seperti mengonsumsi buah nanas setiap waktu. Bahkan saat diantar sang Ayah ke puskesmas yang meminta untuk mengarbosi ditolak oleh petugas setempat. Bahkan petugas menyarankan jika sebaiknya Nina dinikahkan saja.

Sebenarnya topik yang diangkat pada film berdurasi 16 menit ini adalah isu yang sering terjadi di kalangan masyarakat. Apalagi anggapan masyarakat jika orang yang hamil diluar nikah seharusnya segera dinikahkan dengan sang pelaku menjadi solusi yang paling efektif, menjadi tamparan keras bagi penontonnya.

Akan tetapi sayang sekali, dalam film ini tidak digambarkan dengan jelas tindakan apa yang sebaiknya dilakukan. Mungkin bisa dibilang ending yang gantung saat film belum mencapai puncak klimaksnya. Namun terlepas dari kekurangannya film ini cukup diapresiasi karena telah mengangkat isu kehamilan di luar nikah pada kalangan remaja.

Sesi diskusi

Setelah film diputar, selanjutnya dibukalah sesi diskusi. Ada 3 narasumber yaitu: Mbak Uut dari Setara Semarang, Mbak Yori dari Psikolog Nusantara dan Mbak Hidayatullah Selaku Alumni UIN. Bukan hanya pembicaranya saja yang berkompeten namun acara ini juga dihadiri oleh salah satu komunitas feminisme. Aku lupa dengan nama komunitas itu jujur.. tapi aku sangat ingat argumen-argumen yang kuat yang dilontarkan oleh Mbak Nurul.

Jujur sesi diskusi saat itu cukup manyala, banyak mahasiswa yang menaruh rasa penasaran mengenai tindak kekerasan terhadap perempuan. Apalagi saat mbak Nurul berkata jika film ‘Telur Setengah Matang’ merupakan salah satu tindak pemerkosaan. sebagai informasi yang termasuk dalam tindakan pemerkosaan apabila tidak ada kesepakatan kedua pihak untuk melakukan hal tersebut. serta adanya unsur paksaan.

Yang bagus dari diskusi ini adalah menanggapi kasus kekerasan perempuan bukan hanya dari segi hukum atau psikologis saja. Mbak Hidayatullah pun ikut menanggapi dari sisi keagamaan, maaf jika selama ini wanita dianggap sebagai hiasan dunia yang dapat memicu perbuatan ‘zina.’ Hal inilah yang terkadang membuat korban kekerasan seksual khususnya wanita mengalami victim-blamming.

Melalui prespektif masing-masing meskipun kekerasan terhadap perempuan tidak dapat dikurangi secara langsung, akan tetapi dengan membuka forum seks edukasi sehingga membuat seks terasa netral. Dan mengurangi judgesment pada korban kekerasan seksual serta memberikan dorongan padanya akan menjadi sebuah gerakan yang besar.

Acara yang terlihat kurang persiapan

Mungkin karena pengalamanku sebagai aktivis kampus, jadi rasanya aku sedikit ingin memberikan saran pada para panitia. Mengingat betapa banyaknya antusias para peserta, seharusnya moderator memiliki kemampuan mengontrol yang baik. Apalagi di tengah sesi jawab sesekali aku menengok jam di layar ponselku. Terlihat waktunya sedikit molor, selain itu persiapan seperti lampu ada baiknya disiapkan pada acara seperti ini, sehingga suasana acara tidak terkesan begitu gelap.

Sebenarnya ini hanya saran, meskipun memiliki kekuarang. Acara bedah film ini telah memberikan dampak yang baik pada pesertanya, terlihat dari ruang diskusi yang dibangun. Diharapkan akan ada lebih banyak lagi ruang-ruang diskusi di kota Semarang dan kota lainnya.

Extra-Ordinary You, Lebih Dari Sekadar Pemeran Tambahan

Extra-Ordinary You, Lebih Dari Sekadar Pemeran Tambahan

Extra-Ordinary You, Lebih Dari Sekadar Pemeran TambahanExtra-Ordinary You, Lebih Dari Sekadar Pemeran Tambahan

Halo Dears bertemu lagi! Beberapa waktu ini aku emang agak disibukkan dengan aktivitas yahh… begitulah hehehe, jadi udah 3 hari ini aku gak nulis di blog tercinta…

Nah baru saja tadi pagi aku menyelesaikan serial drama korea yang ratingnya lagi bagus nih. Yups “extra-Ordinary You.” Drama dengan 32 episode ini berhasil mencuri perhatianku dan para pecinta drakor lainnya. Drama yag bergenre Fantasi-Romansa dan komedi ini sangatlah menghibur jujur, emang aku sendiri mengesampingkan pesan yang tersimpan dalam cerita. Mau bagaimana lagi cerita sangat menarik, ditambah akting para cast yang ciamik dan gemesin. Jadi semakin ditonton semakin ketagihan.

Sipnosis

Latar belakang cerita ini, mengisahkan seorang siswa yang bernama Eun Dan On (18 tahun) yang mengidap penyakit jantug sejak kecil dan menjalani cinta bertepuk sebelah tangan selama 10 tahun. Di masa SMA yang menyenangkan dia menyadari jika ada yang salah dalam dirinya, dia berusaha mencari jawaban. Jawaban dari rasa pertanyaannya terungkap selama ini ternyata dia adalah tokoh karakter tambahan dalam komik.

Karena tak ingin hidupnya dikendalikan Dan Oh berniat untuk mengubah nasibnya, hingga akhirnya ia bertemu dengan tokoh Haru. Siswa nomer 13 yang tak memiliki nama di kelas. Keinginan mengubah nasib berubah menjadi kisah asmara anak SMA. Namun yang namanya cinta memang tak selamanya mulus, apalagi di drama Korea. Cinta Haru dan Dan Oh terhalang oleh storyboard sang penulis komik, dalam cerita Dan Oh telah bertunangan dengan Baek Kyung. Baek Kyung yang semula bersikap kasar pada Dan Oh, perlahan berubah. Ia menyadari jika rasa sayangnya terhadap Dan Oh, namun Dan Oh lebih memilih Haru.

Pada tahap terakhir komik. Banyak peran tambahan yang dihilangkan oleh penulis salah satunya adalah Haru. Dan Oh merasa sangat sedih atas kepergian Haru. Akan tetapi, dijudul komik yang baru mereka akhirnya dipertemukan dan saling mengingat janji yang dulu pernah diucapkan.

Sedikit kesalahan namun termaafkan

Banyak hal yang membuat drama ini memiliki rating yang bagus, selain karena ceritanya yang menarik. Akting para cast sangatlah berkesan, chamistry antara Haru dan Dan Oh membuat banyak pecinta drama Korea berharap mereka menjadi pasangan di dunia nyata. Jujur ya, hampir seluruh cast bermain dalam drama “extra-Ordinary You” memang tidak sepopuler kalanga bintang halliyu seperti Suzy, Lee Min Hoo, IU, Yoona, Park Min Young, Park Shin Yee, Kim So  Hyun, dan deretan artis Korea lainnya yang memiliki jumlah followers instragam lebih dari 2 juta. Tapi lagi-lagi kualitas akting para aktor-aktris drama Korea memang tak usah diragukan.

Banyak sekali moment-moment menggemaskan, sedih, bahagia, dan kecewa di dalam drama. Rasanya menonton ini perasaan kita diangkat kemudian dibanting lagi. Meskipun ada beberapa kesalah adegan misalnya di episode 12, handuk Dan Oh udah jatuh duluan tapi di take berikutnya masih nempel di pundaknya. Selain itu di episode 11, Haru menggenggam pergelangan tangan Baek Kyung tapi take berikutnya justru megang bagian lengan. Meskipun ada beberapa hal yang ‘miss’ namun semua kesalahan telah termaafkan oleh akting, sinematografi dan cerita yang menarik.

Lebih menghargai nyawa seperti Dan Oh

Kisah Dan Oh mengajari kita bagaimana lebih menghargai nyawa yang diberikan Tuhan. Terkadang istilah menghargai nyawa selalu identik dengan tindakan bunuh diri. Padahal menghargai nyawa bisa dimulai dari hal sederhana misalnya seperti yang dilakukan oleh Dan Oh. Meskipun ia harus menjalani nasib seperti itu, namun ia memilih untuk tegas pada dirinya. Ia tahu apa yang disukai dan tidak disukai, ia berusaha untuk lebih mengenali dirinya dan berjuang untuk itu.

Meskipun menceritakan kisah SMA namun Drama ini sangat cocok ditonton saat pekerjaan sedang padat-padatnya. Drama korea yang sangat menghibur, sungguh aku tak menyesal menyempatkan waktu setiap minggu untuk menonton episodenya.

Nah, cukup dari ulasanku hari ini. Semoga bermanfaat bagi Dears semua!!

Belajar Ilmu Parenting Melalui Drakor “Sky  Castle”

Belajar Ilmu Parenting Melalui Drakor “Sky  Castle”

Belajar Ilmu Parenting Melalui Drakor “Sky  Castle”Belajar Ilmu Parenting Melalui Drakor “Sky  Castle”

Hai Dears bertemu lagi denganku, kali ini aku mau bahas mengenai salah satu Drama Korea (Drakor) yang sebenarnya udah lewat  beberapa bulan kemarin tapi masih relevan buat ditonton sekarang. Ya, Sky Castle, serial drama dengan 20 episode ini berhasil membuatku nonton marathon. Padahal kebiasaan nonton marathon sudah lama sekali aku singkirkan dalam hidup. Yah…. karena kurang produktif aja, dan terlalu banyak waktu yang aku buang untuk menonton serial drama.

Drama ini sebenarnya tayang di akhir tahun 2018 sampai awl tahun 2019 lalu. Kemunculan drama ini bahkan sangat Viral di Korea Selatan, hal ini dapat dilihat dari spesial episode dimana dalam acara talkshow, ada banyak video parody mengenai drama ini. Menurutku tidak mengheran jika drakor ini menjadi viral dan memiliki rating yang tinggi selama masa penayangannya.

Sebenarnya ada banyak alasan mengapa kamu harus nonton drakor ini, jujur sih dari episode 1 sampai 20 rasanya gak ada celah atau kekurangan. Rasanya benar-benar sempurna!

Pesan yang benar-benar nyampe

Alasan mengapa aku sangat menyukai drama ini adalah topik yang diangkat sangat related. Jika anak-anak di Korea Selatan belajar mati-matian demi masuk dalam 3 Universitas terbaik di Korea. Universitas itu ialah Seoul National University, Korea University, dan Yonsei University. Apalagi asumsi masyarakt yang menganggap jika tidak lolos dalam Universitas tersebut dianggap gagal dan tak bisa mencapai karier yang cemerlang.

Sebenarnya pesan itu bukan hanya untuk orangtua atau para pelajar di Korea Selatan saja. Namun juga berlaku di negara lain seperti Indonesia. Ya, terkadang memang banyak orangtua yang terobsesi atas pendidikan atau karier anaknya. Untuk mencapai hal tersebut terkadang banyak orangtua yang melakukan berbagai cara, namun sayangya banyak orangtua yang ingin anaknya sukses tapi tak mampu memahami keinginan anak yang sebenarnya.

Kalau rata-rata drama korea bergenre romansa, fantasi, ataupun comedy sangat laris. Menurutku Sky Castle adalah drama keluarga yang dapat ditonton berbagai usia. Jujur di drama ini ada banyak sekali cast, mulai dari aktris dan aktor senior yang berperan sebagai orangtua. Serta aktris dan aktor muda bahkan salah satu member idol grup SF9 turut bergabung.

Meskipun ada banyak cast, namun aku sangat merasakan jika peran masing-masing sama rata. Di setiap keluarga memiliki konflik yang berbeda-beda. Misalnya Professor Cha seorang Ayah yang keras terhadap anggota keluarganya, serta berusaha menanamkan filsafatnya untuk mencapai puncak tertinggi pada anak-anak. Lalu Suh Jin seorang ibu rumah tangga yang berusaha agar putri sulungnya lolos ke Fakultas kedokteran University National Seoul, dan menghadapi berbagai masalah keluarga lainnya. Sebenarnya masalah yang ada dalam drama ini sangatlah kompleks. Terkadang hidup dalam kemewahan tak menjamin kebahagiaan.

Set tempat yang sangat bagus kompleks rumah mewah dengan arsitekstur ala eropa. Hal inilah yang memperkuat aura persaingan sesama keluarga siapa yang paling tinggi. Hampir semua karakter digambarkan sebagai sosok yang ambisius dan haus akan pengakuan sosial. Dan inilah yang terkadang membuat kita banyak orang tak sadar, tak ada untungnya diakui oleh orang lain.

Emosi rasanya dibanting abis-abisan

Selama nonton drama ini, rasanya emosionalku becampur aduk marah, iba, sedih, hingga bahagia. Akting para pemain sungguh luar biasa, ditambah sinematografinya juga bagus. Dan yang tidak kalah penting adalah soundtrack! ‘We A Lie’ sangat outentik dan pas untuk mewakili drama ini, bukan hanya itu terkadang diputar instrumen atau lagu klasik yang bikin sakit kepala karena saking banyaknya nangis.

Aku gak bisa berkata banyak, meskipun apa yang aku tulis udah lumayan banyak :’) hehehe… mungkin ini akan jadi drama yang masih relevan untuk ditonton beberapa tahun mendatang. Oh ya.. berhubung aku belum nikah ada secret massege yang aku tangkep “membangun biduk rumah tanga itu susah neng, jadi jangan buru-buru nikah.” Semoga apa yang aku sampaikan ini bermanfaat untuk Dears semua! Nonton drakor gak salah kok, asalkan lebih selektif dan memang dilakukan di waktu luang (gak ada deadline kerjaan di kantor!). See You! Nantikan artikel menarik lainnya ya!!

‘Masih Belajar’ Bukan Hanya Untuk Pelajar

‘Masih Belajar’ Bukan Hanya Untuk Pelajar

‘Masih Belajar’ Bukan Hanya Untuk Pelajar‘Masih Belajar’ Bukan Hanya Untuk Pelajar

Sumber gambar: Shopee

Siapa yang tak kenal Imam Usman, Founder dari salah satu platform bimbel online bernama RUANGGURU. Sosok Imam Usman menjadi role model yang cocok untuk generasi sekarang. Saat ini aku berkesampatan untuk meminjam buku temanku, Dicky. Yang berjudul ‘Masih Belajar’ dari Imam Usman, sebenarnya aku belum terlalu yakin untuk membaca buku non-fiksi. Jujur aku membaca buku ini cukup lama ya karena aku membacanya di sela-sela tugas negara yang cukup padat dan jadwal tayang drama korea, hehehe..

Aku baru saja menyelesaikannya, jujur itu buku biografi pertama yang aku baca. Sebelumnya aku membaca buku psikologi yang judulnya “Baca Buku Ini Saat Engkau Lelah.” Jujur awalnya aku sempat membandingkan kedua buku tersebut. karena keduanya sama-sama buku motive. Aku merasa kurang nyaman membaca buku karya Imam ini, sebenarnya ini hanyalah masalah sudut pandang. Karena di buku Usman aku cenderung menjadi penonton, namun karena sudah ditagih dicky akhirnya aku paksakan membaca sampai selesai.

Sedikit cerita tentang buku

Awalnya mungkin aku sedikit jenuh membaca buku ini, namun sepertiga terakhir barulah daya tarikku muncul. Aku sangat salut dengan sosok Imam kegigihannya dalam belajar tergambar begitu jelas. Penggambaran mengenai kisah Imam saat duduk di bangku Sekolah Dasar yang mendirikan perpustakaan agar teman-teman sebayanya dapat fasilitas membaca. Dijelaskan jika jiwa sosial Imam mulai terbentuk saat itu.

Berlanjut pada sekolah menengah Pertama saat ia mulai belajar bisnis dengan menjual marchendiese Harry Potter. Imam selayaknya orang biasa, dibalik kegigihannya dalam belajar dan kecerdasannya di bidang akademik Imam pun pernah mengalami kegagalan. Salah satunya saat hampir gagal masuk dalam sekolah favorite dan gagal menjadi ketua OSIS. Seperti apa yang orang-orang katakan kegagalan adalah hal yang wajar tapi yang terpenting adalah bagaimana caranya agar kita dapat bangkit.

Cerita Imam bisa dibilang menarik sosok yang sangat ambisius namun on the track. Perencanaannya tentang hidup di usia yang masih muda sangat bisa kita tiru. Aku ingat jika semasa kuliah ia selalu membuat goals yang akan dicapai, bukan hanya dari segi akademik saja namun apa yang disukai, apa yang bisa dilakukan, apa yang dimiliki dan apa pun yang ada dalam dirinya. Terlihat dia adalah pribadi yang sangat mengenal diri sendiri.

Buku yang masih [ingin] belajar

Melalui buku ini, aku menemukan pola-pola baru dalam hidup mungkin belajar dari seorang Imam, apalagi penggunaan bahasa yang santai ‘gue’ sangat cocok untuk dibaca kalangan remaja dan dewasa awal. Ya tak bisa dipungkiri saat ini banyak generasi muda yang mengalami kecemasan terhadap apa yang akan terjadi di masa depan atau quarter life crisis.

Dalam buku tersebut aku bukan hanya tahu tentang semangat belajar Imam saja, namun bagaimana seorang Imam memiliki value. Bahkan di bab terakhirnya ia menjelaskan soal legalicy atau warisan dan pesannya untuk anak cucu. Di bab itu aku cukup tersentuh ketika ia berpesan kepada anaknya untuk menjadi seseorang yang bahagia dan berguna terlepas siapapun bapak mereka.

Bahkan sebuah kutipan indah yang bisa jadi pukulan bagi pembaca “bagaimana harapannya tetap hidup meskipun sekelilingnya tetap hidup –menjadi  terang dan bukan hanya mengutuk gelap” banyak tips&trick yang dibagikan imam tentang membagi waktu, mengubah mindset, tidak membatasi diri, dan meraih target hidup. Imam memang sosok muda yang memiliki value bermakna.

Namun entah mengapa aku sedikit kurang nyaman dengan banyaknya #ceritatemanuntukImam, menurutku ini terlalu banyak dan menggangguku. Aku tidak terlalu paham apakah semua buku biografi harus memuat sekitar 10 testimoni atau mungkin lebih. Aku juga tidak yakin jika ini bagian dari narsistik. Namun terlepas dari pendapatku pribadi buku ini merupakan buku yang bagus, selain karena isinya. Susunan buku yang dibuat lebih interaktif dengan pembaca merupakan nilai plus. Ada beberapa kolom kosong yang digunakan sebagai catatan pembaca.

Buku “Masih Belajar” adalah salah satu buku yang sangat rekomen bagi pelajar, mahasiswa, fresh graudate, yang sudah bekerja, ataupun yang telah memiliki usaha.