Dulu Aku Juga Insecure, Dengan Namaku

Dulu Aku Juga Insecure, Dengan Namaku

Dulu Aku Juga Insecure, Dengan Namaku

“Insecure.”

Dulu Aku Juga Insecure, Dengan Namaku

Kata yang saat ini banyak sekali orang ucapkan. Kata insecure berkaitan dengan rasa takut atau tidak aman kita terhadap sesuatu. Misalnya saja berat badan, kecantikan, pendidikan, dan lain-lain. Emang sih namanya hidup pasti tak terlepas dari ancaman, rasa insecure mungkin menjadi pengingat kita akan sesuatu buruk yang mungkin terjadi. Tapi kadang sikap insecure ini yang bikin kita malah nggak percaya diri.

Pasti kalian juga percaya kalau aku juga mengalami rasa insecure itu. Ada banyak hal memang yang sangat membuatku tidak aman selama ini, tapi salah satu hal yang aku ingat adalah aku pernah memiliki rasa takut dan tidak aman terhadap namaku sendiri.

Seperti yang aku kenalkan di blog ini, namaku adalah Riski Wahyuningsih. Dulu sewaktu Aku kecil, orang banyak bilang kalau namaku adalah nama anak laki-laki. Bayangin sih, dulu aku cewek, cadel yang susah bilang “R” punya nama yang awalan hurufnya itu, dan dulu yang aku sampai malu buat menyebut siapa namaku sendiri.

Aku sempet mikir sih, kenapa orangtuaku nggak ngasih nama yang bagus. Nama yang emang itu nama cewek, maklum saja di lingkunganku nama Riski dan Wahyu rata-rata dimiliki oleh anak laki-laki. Apalagi saat itu sudah banyak temanku yang memiliki nama bagus. Tambah insecure-lah aku. Apalagi memasuki masa pubertas, masa ini adalah masa yang cukup sulit. Sulit mengontrol emosi kita, belum paham dan bisa menyampaikan apa yang kita inginkan dengan benar.

Aku juga sempat merasa malu punya nama “Riski” karena respon orang yang mendengarnya terkadang menyebalkan. Namun, akhirnya rasa percaya diriku terhadap namaku sendiri mulai muncul. Lebih tepatnya waktu SMA, Aku juga bingung sih awalnya kenapa. Tapi yang jelas karena aku merasa memiliki keberadaan di sana.

Perlahan aku tahu, nama tentu memiliki arti dan harapan. Sempat ada yang bilang ke aku, nama Riski bisa berarti Rejeki. Mungkin dulu, orangtuaku berharap lahirnya aku di dunia untuk membawa rejeki kepada mereka. Membawa rejeki untuk orang lain tentu bagus sekali, dimana kehadiranku bisa disyukuri orang sekitar.

Entah aku pernah menulisnya di sini atau nggak, salah satu harapanku adalah menjadi orang yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Dengan segala kompetensi yang aku punya, dan niat yang tulus. Aku ingin kehadiranku menjadi rejeki buat orang lain, setidaknya aku ada bukan untuk merugikan mereka.

Entah aku akan menjadi teman dekat, patner kerja, sekadar kenal, atau bahkan pendamping hidup. Aku ingin kehadiranku memiliki arti di hidup mereka, di hidup orang-orang yang mengenal siapa Riski entah di masa lalu, sekarang, atau mendatang.

Nama itu seperti amanah dan doa orangtua. Mungkin salah satu dari kalian pernah mengalami hal yang sama denganku, merasa malu dengan nama sendiri. Bahkan tidak percaya diri. Percayalah jika setiap nama itu bagus dan penuh makna. Karena orangtua kita dengan sangat berhati-hati memilih nama itu, dan memanjatkan doa dari kata yang disusun.

Mungkin itu dulu ceritaku hari ini. Maaf jika apa yang ku sampaikan kurang berkenan, semoga siapapun yang mengalami hal sama bisa sedikit lega. Ada aku yang pernah mengalami itu, melawan insecure memang nggak mudah. Perlu keberanian besar dan keyakinan yang kuat dalam diri kita. Mari kita latih perlahan, dan bersyukur atas apa yang diberkahi oleh Tuhan.

Terkikis

Terkikis

Terkikis

Halo, berjumpa lagi denganku. Aku ingin membagikan cerita, beberapa waktu lalu aku dan teman-temanku pergi ke sebuah villa yang terletak di wilayah Jepara Jawa Tengah. Villa Mororejo, letaknya cukup stategis di area JOP (Jepara Ocean Park).

Terkikis

Kali ini aku belum mengulas tentang Villa itu sendiri, karena ada banyak hal baru yang aku rasakan selama 2 hari 1 malam menginap di sana. Karena lokasinya yang dekat dengan pantai, jadi sangat mudah untuk melihat sunset dan sunrise. Di waktu subuh aku sudah terbangun, sedangkan teman-temanku yang lain masih tertidur. Ada yang memang sudah bangun untuk menjalankan ibadah sholat namun tidur lagi setelah itu.

Karena aku tidur yang paling awal dan sudah kena air sulit rasanya untuk tidur lagi. Aku putuskan untuk membuat segelas coklat dan duduk di halaman. Cuaca masih gelap, tapi perlahan di ujung pantai suasana merah muda. Sang surya mulai tampak, melihat dari halaman villa sepertinya kurang memuaskan. Akhirnya ku pilih turun ke pantai lagi.

Benar, suasananya lebih menyenangkan dan menyegarkan. Air sedang surut, langkah kakiku terasa lebih mudah karena kondisi pasir yang lebih halus dan basah sampai meninggalkan jejak. Aku memotret beberapa objek. Sebenarnya ada banyak objek foto menarik yang bisa ku ambil. Foto-foto ini akhirnya akan ku jadikan latar sajak-sajakku. Sajak-sajak itu akan ku unggah di Instagram.

Sebenarnya ada banyak objek foto yang bisa ku sajakkan, tapi yang cukup bagus dan bisa ku opinikan adalah tentang beton di pantai yang terkikis.

Mungkin dulu beton ini dijadikan warga sekitar sebagai alat bantu untuk menjaring ikan di pinggir pantai. Karena saat berjalan sendiri melihat sunrise 1,2 warga sekitar tengah menjaring. Ya pencari nafkah di pagi hari. Setiap dari mereka patut diapresiasi.

Kembali lagi tentang beton itu. Yang tersisa hanyalah setengah dari kondisi yang sebelumnya, bahkan kurang dari setengah. Sebagian lagi terkikis oleh asinnya air laut. Saat pertama kali melihat beton itu yang ada dipikiranku adalah terkikis.

Beton selalu menjadi bangunan, pondasi, dan infrastruktur yang kuat. Namun akan ada kalanya lapuk, termakan usia, atau kondisi alam. Kadang diri kita juga seperti itu, terlihat gagah, berkuasa, dan mampu melakukan segalanya. Tapi akan ada saatnya kita lapuk, lapuk karena sudah terlalu tua dan tak berdaya melakukan pekerjaan. Atau kita yang mungkin masih muda, namun tak siap menghadapi tantangan sehingga lebih mudah lapuk.

Kadang diri kita terkikis oleh lika-liku kehidupan. Bagaimana tidak? Coba dihitung ada berapa banyak tantangan yang harus dihadapi setiap hari, untuk bangun pagi tanpa tidur lagi saja sudah menjadi tantangan pertama saat kita memulai hari. Tantangan, masa sulit, dan hal-hal lain terkadang membuat kita terkikis secara emosional. Rasanya dari waktu ke waktu kita merasa hampa dan sulit, kekuatan untuk melawan dunia terasa habis seketika. Ada banyak luka, entah luka fisik ataupun batin.

Semua rasanya telah terkikis. Tapi, saat itu terjadi, saat itu kita alami. Kita lupa, kita masih punya kerangka. Kerangka hati, kerangka pikir dari kerangka-kerangka yang kita miliki masih ada waktu untuk memperbaikinya. Masih ada kesempatan untuk membangunnya kembali, meskipun harus membuatnya dari awal lagi. Tak masalah, masih ada kerangka yang dapat menjadi pondasi dan bisa saja bangunan itu kita improvisasi dan akhirnya menjadi bangunan baru yang mungkin lebih besar dan kokoh.

Diri yang terkikis memang kurang menyenangkan, apalagi jika terkikis sampai habis. Tapi coba tengok orang yang memiliki tubuh seperti tulang dan kulit saja masih bisa hidup dan melakukan aktivitas. Ada tulang dan persendian yang membuatnya bergerak, daging atau bangunan utuh bukanlah hal yang terlalu penting. Asal ada kerangka semua akan baik-baik saja.

Mungkin aku terlalu berbicara ngalur-ngidul, tapi Aku yakin dengan apa yang ku katakan sekarang. Aku tahu setiap tulisanku tak selamanya benar dan sesuai dengan kondisi kalian. Tapi setidaknya ketahuilah, setiap orang akan terkikis pada waktunya. PR terbesar adalah apakah dia mau membangun ulang kembali atau tetap dalam kondisi itu.

Semoga apa yang ku sampaikan kali ini bermanfaat dan bisa ditangkap pesannya, sampai bertemu di tulisan-tulisanku berikutnya.

 

Kadang Kita Yang Baperan Atau Mereka Yang Kelewatan

Kadang Kita Yang Baperan Atau Mereka Yang Kelewatan

Kadang Kita Yang Baperan Atau Mereka Yang Kelewatan

Halo semua, lama tak jumpa. Setelah membuat cerpen spesial halloween kemarin aku cukup senang, akhirnya aku bisa nyoba beberapa genre. Aku mendapatkan respon yang cukup baik dari beberapa teman yang ku minta untuk mereview.

Lanjut, hari ini aku nggak akan bahas soal tulisan, aku akan membahas tentang perasaan. Bukan aku jika tak menyebarluaskan perasaan baper ke orang-orang. Tapi aku tak membahas cinta, ada hal yang lebih dasar yang terkadang perlu dipahami sebelum mengerti cinta. Namun sebelumnya, aku mau menegaskan, Aku bukan seorang psikolog atau seorang dengan background tertentu. Aku hanyalah Aku penulis amatir yang menyampaikan pesan dan apa yang dirasa melalui tulisa-tulisannya. Jadi apa yang aku tulis di sini hanyalah opini pribadi, boleh diterima boleh tidak.

Kadang Kita Yang Baperan Atau Mereka Yang Kelewatan

Seperti yang aku bilang tadi, terkadang sebelum mengenal cinta atau benci. Kita perlu belajar tentang beragam emosi, meskipun rasa cinta dan benci termasuk dalam emosi jiwa, tapi kedua perasaan tersebut cenderung perasaan yang kompleks dan gabungan beberapa perasaan.

Ada banyak bentuk emosi yang kita rasakan sehari-hari mulai dari senang, sedih, marah, kesal, bahagia, kagum, dan lain-lain. Perasaan tersebut terkadang berpengaruh besar terhadap kegiatan kita sehari-hari. Ya, kalau lagi bahagia kita bisa sangat bersemangat, tapi kalau lagi bersedih rasanya segala hal menjadi sangat susah. Perasaan itu bukan hanya berpengaruh pada aktivitas kita saja, namun juga sikap kita ke orang lain.

Aku pernah membaca sebuah artikel yang bertemakan psikologi, kalau tidak salah judulnya Highly Sensitive Person, atau kalau diartikan orang yang baperan. Ya artinya kehidupan orang itu tak lepas dari pengaruh perasaan yang besar, entah itu perasaan positif atau negatif. Sebenarnya aku juga orang yang terkadang lebih ingin mengikuti kata hati alias emosi saja dibanding logika. Perasaan atau hati seseorang memang lebih peka dan lebih lemah dibanding pikiran kita. Tapi tanpa hati, dan hanya mendengarkan pikiran saja tentu kita akan mati ditengah jalan. Intinya hidup itu harus seimbang.

Nah, kita bahas lagi tentang ‘baperan’ pernahkan kalian berada di kondisi merasa tersakiti oleh orang lain. Baik sikapnya atau ucapannya, baik itu sengaja atau tidak, baik itu sekadar bercanda atau serius. Aku yakin pernah, apa yang dilakukan orang lain memang bukan kontrol kita. Hal-hal itu sangatlah lumrah terjadi. Mungkin beberapa orang mengungkapkan rasa kecewanya, mengekspresikan itu sesegera mungkin, atau bahkan menyimpannya rapat-rapat. Tak apa, setiap orang punya caranya masing-masing untuk menyikapi rasa sakit.

Sejujurnya aku bukan orang kuat, tapi juga orang yang terlalu lemah. Aku punya caraku sendiri untuk mengatasi itu. Terkadang hal yang menjengkelkan adalah, saat kita merasa tersakiti kita justru dihakimi. Ya, bukannya minta maaf kita justru yang dibilang baperan bukan orang yang asyik untuk diajak berteman, dan lain-lain.

Memang, salah satu cara yang menyenangkan untuk berteman adalah dengan bercanda, saling meledek kekurangan atau hal lucu lainnya, hingga akhirnya tertawa bersama. Tapi perlahan hal itu bergeser menjadi tindak pembullyan. Banyak orang yang kurang terima dengan cara berteman seperti itu. Mungkin ini efek dari si orang baperan. Tapi tunggu dulu…

Aku sendiri kadang sering bertanya-tanya, “Apakah aku yang terlalu baperan atau mereka yang terlalu kelewatan” saat menghadapi sesuatu yang menyebalkan aku sering bertanya demikian.

Kalau dipikir-pikir memang terkesan lucu jika kita kesal atas hal sederhana. Tapi kita tak pernah tahu apakah hal itu sesederhana itu. Sebagai orang lain tentu kita nggak akan paham hal-hal sensitif apa yang dimiliki teman, pasangan, keluarga, atau siapapun yang menjadi lawan bicara.

Tapi sebagai pihak yang baper kadang kita juga perlu berpikir, mungkin dia atau siapapun yang menyakitimu hari ini tak bermaksud apapun. Dia bermaksud murni membuat obrolan yang menghangatkan. Bahkan tak sadar atas apa yang barusan dilakukan atau diucapkan. Sehingga dia benar-benar tak tahu jika kita tersakiti olehnya. Mungkin ia terlihat jahat karena tertawa sedangkan kita menderita. Tapi bisa saja, dia tak bermaksud untuk menyakiti dan tak menyadari itu.

Untuk menjawab apakah kita yang “terlalu baperan atau mereka yang kelewatan”? itu perspektif masing-masing. Kita nggak bisa menyalahkan satu pihak saja, kita harus membahas keduanya. Menurutku baik yang dibilang baperan atau bercandanya kelewatan perlu saling mengukur. Kita akan terus terjebak dalam satu perasaan jika tak bisa mengukurnya dengan otak. Misalnya saja kita harus lebih mampung mengukur keterlibatan hati dan memberi sugesti baik pada diri. Atau saat kita bercanda dengan orang lain kita perlu lihat-lihat dulu, dia karakter seperti apa, kalian mengobrol di kondisi yang bagaimana, dan topik apa yang dibahas bersama.

Saling sadar satu sama lain akan meminimalisir gesekan, dan hubungan tersebut akan berlangsung panjang.

Itu dia obrolan ngalor-ngidulku hari ini. Semoga berkenan di hati kalian see you!

5 Tahun Yang Lalu Dari Diriku

5 Tahun Yang Lalu Dari Diriku

Hai, bertemu lagi denganku. Sudah seminggu aku tidak menulis, ya ini karena aku terkena flu dan demam yang alhamdulillah dikarenakan kecapekan dan bukan COVID-19. Minggu lalu Aku pulang ke rumah, dengan rencana menghadiri kawinan teman SMA. Singkat cerita dalam satu hari itu rasanya aktivitasku padat sekali apalagi aku baru sampai rumah pagi dan lanjut kondangan siang hari. Langsung deh badan ngedrop.

Sedikit cerita tentang kepulanganku kemarin. Mengingat konten reuni SEMASA kemarin, Aku membuka lagi buku tahunan, lebih tepatnya buku kenangan SMA SAKRA 2015 (sengaja aku tulis siapa tahu teman SMA-ku ada yang baca ini). Tentu saat membuka buku itu, catatan pertama yang aku cari adalah diriku. Aku melihat fotoku yang menggunakan seragam pramuka, Aku ingat saat itu aku sedang selfie menggunakan kamera digital teman sekelasku. Seperti biasa, di buku kenangan itu tertulis nama, tanggal lahir, hobi, cita-cita, dan pesan-pesan. Di buku itu aku menulis tentang cita-cita sebagai seorang penulis, dan jurnalis. Memang Aku sudah gila dengan tulisan sejak kecil cuma sekedar gila saja tanpa disebarkan.

Jika diingat, kenapa Aku menulis itu? Jawabannya karena aku ingin kuliah di ilmu komunikasi atau broadcasting. Intinya yang nanti bakal jadi broadcaster yang ada di TV gitu, yang mencari berita ke sana ke sini. Menurutku pekerjaan itu keren, apalagi di tahun 2015 hanya sekadar alat komunikasi bagiku. Jadi untuk mencari informasi menarik media eletroniklah yang paling bagus.

Waktu berjalan, apa yang ku harapkan tak terjadi. Aku ditolak universitas sana-sini. Gagal mendapatkan bea siswa, tidak masuk universitas negeri, jurusan yang ku inginkan biayanya mahal, dan orangtuaku belum punya banyak rejeki saat itu. Keinginan untuk melanjutkan jenjang universitas terancam gagal atau diundur tahun depan. Tapi, akhirnya aku menemukan 1 kampus dengan biaya yang murah dan tak jelek-jelek amat. Meskipun jurusannya bukan broadcasting, atau ilmu komunikasi. Tapi ada persamaanlah di sana.

Akhirnya aku masuk UNISBANK dengan jurusan D3-Manajemen Informatika. Aku suka komputer, karena tetangga rumahku memiliki laptop dan aku senang bermain dengan laptopnya selama SMA. Kemudian berlanjut Aku ikut organisasi Internet Club dan bergabung di departemen internal, dimana ada kegiatan jurnalistik di sana. Setidaknya aku memiliki media untuk mengembangkan tulisanku kala itu.

Aku pikir, cita-cita menjadi jurnalis sangat bisa terwujud. Tapi ternyata tidak juga, Aku bahkan sempat WB (Writer Block) Aku tak menulis sama sekali kecuali jika ada tugas dari kampus atau tugas dari IC. Tugas dari kampus pun lebih sulit dikerjakan, maklum saja bahasanya harus baku. Singkat cerita Aku mulai memberanikan diri untuk menulis lagi setelah lulus kuliah. Aku masih berkiblat di cerita fiksi, Aku belum bisa menyampaikan opiniku melalui tulisan dengan baik, seperti sekarang.

Setelah lihat-lihat buku kenangan SMA, aku berpikir lagi. Ternyata apa yang kita tulis saat itu sangat bisa terjadi, meskipun rencanaku 5 tahun lalu tak berjalan sesuai dengan keinginan. Tapi ternyata Tuhan membuat perjalanan kita sedikit berliku agar memberi sensasi seru. Mungkin saat ini aku masih seorang penulis amatir, yang menulis bebas dengan kalimat yang belum efektif. Yang masih senang bercerita dan beropini sesuai dengan kata hati. Tapi setidaknya sekarang aku bisa menjadi jurnalis. Jurnalis untuk julnalku sendiri melalui ceritani.

Meskipun bukan bagian dari pers atau terikat kontrak dengan media apapun. Aku bisa menyuarakan dan menginformasikan sesuatu dari sini. Memang, yang terpenting dari sebuah jurnal adalah value bukan media. Jika ditarik 5 tahun ke belakang, aku mungkin tak menyangka. Betapa sedihnya diriku dulu saat tahu bea siswaku tak lolos, tak ada universitas negeri yang mau menerimaku, dan aku terancam tidak kuliah padahal aku sangat ingin kuliah karena masih ingin belajar.

Tuhan memang sudah merencanakan mimpiku akan terwujud. Cuma jalannya saja yang sedikit berliku. Untuk itu, mungkin dari cerita ini aku belajar lagi. Agar lebih serius lagi dalam menulis mimpi, meskipun tak sesuai ekspetasi tapi Tuhan tahu, apa yang kita mau dan butuhkan saat ini dan suatu saat nanti. Jadi kalau ada satu momen dihidup kita, dan kita diminta untuk memanjatkan doa atau harapan sebaiknya jangan pernah sia-siakan atau diisi sembarangan.

Segitu dulu ya ceritaku hari ini. Aku masih dalam masa pemulihan, sebenarnya sudah sehat. Hanya saja Aku harus mengubah pola hidupku lagi agar lebih baik. See You!

Memang Menjadi Dewasa Itu Bagaimana?

Memang Menjadi Dewasa Itu Bagaimana?

Memang Menjadi Dewasa Itu Bagaimana?

Halo semua, kabar kalian baik bukan? Syukurlah kalau kalian semua baik-baik saja saat ini. Hari ini aku mau membagikan pandapatku tentang satu kata yag mungkin sering kita jumpai, yaps kata “Dewasa”. Menurut kalian dewasa itu apa sih?

Memang Menjadi Dewasa Itu Bagaimana?

Sumber gambar : Freepik

Dewasa melambangkan segala orgaisme yang telah matang yang lazimnya merujuk pada manusia yang bukan lagi anak-anak dan telah menjadi pria atau wanita (wikipedia.com). secara biologis seseorang dianggap dewasa jika dia telah memasuki usia 17 sampai 19 tahun. Makanya momen perayaan ulang tahun yang ke 17 sangatlah penting bagi para remaja, termasuk aku dulu. 17 tahun kita udah dapet KTP, udah dapet SIM udah kelas 3 SMA, dan udah boleh nyoblos waktu pemilu.

Tapi tentu dewasa bukan lagi diukur melalui usia kita saja. Ada banyak aspek yang menentukan seseorang tampak dewasa. Namun sebelumnya ku tegaska, apa yang aku tulis hari ini bukan berarti aku adalah benar dan sudah dewasa seutuhnya. Belajar dewasa tentu tentang sikap dan kematangan emosional seseorang.

Aku sendiri juga sering berpikir demikian, namun jika ditelaah lagi, pribadi dewasa tentu tidak cukup dari segi sikap dan kematangan emosional saja. Tentu ada beberapa kondisi dimana seseorang tampak kekanak-kanakan entah saat bersama sang kekasih, orangtua, atau bahkan teman dekat.

Aku sendiri juga sedang berada di tahap belajar, ya aku sering menunjukka egoku pada orang lain. Aku belum bisa mengambil sudut pandang pikir orang lain dengan cepat, dan Aku masih perlu belajar banyak dari orang-orang. Aku masih membutuhkan orang lain untuk diingatkan dan diyakinkan.

Tapi ini bukan maksudku menunjukkan segala kelemahanku. Aku yakin di luar sana masih ada orang yang memiliki perasaan yang sama. Membahas kata dewasa memang tak ada habisnya, ada banyak topik yang bisa dibedah.

Orang dewasa sebenarnya bisa dilihat dari bagaimana ia menyelesaikan sebuah masalah atau menghargai orang lain. Saat berada di sebuah pilihan orang dewasa tentu harus mampu menimbang dan menghadapi segala risiko dari pilihannya itu, ya orang dewasa itu bertanggung jawab atas apa yang mereka pilih.

Membahas sampai di sini saja rasanya cukup berat, belajar menjadi dewasa memang tak mudah. Pertama kita harus mengenali diri sendiri, belajar peka dengan lingkungan sekitar, mampu berpikir rasional, dan akhirnya bersikap bijak. Membahas ini rasanya cukup melelahkan tapi entah kenapa mengungkap arti kata “Dewasa” cukup menyenangkan, meski tak banyak yang ku tahu.

Kalau ditanya cara menjadi pribadi yang dewasa, emmm aku tidak tahu pasti. Belajar dewasa mungkin bisa dimulai dari apa yang kita tonton dan kita baca sehari-hari, membaur dengan beragam orang, jangan pernah takut terhadap apa yang kita pilih. Jika gagal atau risikonya besar, buat pembelajaran. Belajar Dewasa memang tak mudah, kita harus siap dengan berbagai kondisi yang ada. Belajar dewasa tentu butuh waktu, yang pati tidak bisa dihitung dengan bulanan, atau tahunan. Belajar dewasa bagiku sepanjang usia, karena setiap peristiwa yang beragam akan ada pembelajaran baru yang diterima. Sehingga membuat kita lebih bijak dalam bersikap.

Semoga kita semua menjadi pribadi yang terus mau belajar dan terbuka, karena dua hal itu seperti bekal untuk menjadi manusia yang lebih dewasa. Semoga apa yang aku sampaikan hari ini bukan hanya mewakili keluh kesahku saja, namun kita semua. See You!

Mencari Identitas Diri

Mencari Identitas Diri

Mencari Identitas Diri

Apakah kita pernah bertanya pada diri sendiri, sebenarnya siapa diri kita? Apa yang ingin dilakukan? Apa tujuan hidup kita? Ingin dikenang sebagai siapa kita? Siapa? Mau apa? Dan berbagai pertanyaan untuk diri sendiri yang mungkin butuh waktu untuk menjawabnya.

Mencari Identitas Diri

Sumber gambar: Freepik

Secara psikologis kondisi ini sering disebut Crisis Identity, sekadar informasi saja aku tidak tahu jelas tentang hal ini. Namun rasanya beberapa waktu terakhir aku merasa kehilangan siapa diriku. Rasanya sungguh berat, dan sangat sulit untuk melangkah menuju esok hari.

Mungkin di antara kalian pernah mengalami hal yang sama. Kita bingung dengan apa yang kita lakukan sekarang. Mungkin semua pekerjaan berhasil diselesaikan, mungkin kita berhasil tertawa dengan teman meskipun itu pura-pura. Ya, kehilangan siapa dri kita yang sebenarnya sangatlah wajar terjadi, jadi jangan merasa dirimu sendirian. Ada banyak problematika hidup yang sering membuat kita bertanya,

“Sebenarnya kita berguna gak sih di bumi?”

“Apa sih maksud Tuhan menciptakanku dan memberi umur sepanjang ini?”

“Apa yang harus ku lakukan selanjutnya”

Mungkin beberapa orang menganggap pertanyaan itu hanya keluh kesah yang menandakan jika sebagai manusia kita tak punya rasa syukur. Tapi, percayalah jika kita mengalaminya sendiri. Kita pasti bingung dengan hidup ini. Tujuan hidup terasa jauh dan samar, merasa asing dengan diri sendiri, dan rasanya tak orang lain yang memahami ini. Meskipun semua memberi nasehat, menguatkan tapi percayalah mereka tak sepenuhnya paham dengan apa yang kita rasakan. Orang hanya bisa melihat sesuatu dari apa yang kita tunjukkan, entah itu penampilan yang berantakan atau perubahan sikap yang tampak murung dan pendiam. Orang tak bisa melihat sisi hati kita, selain tertutup rapat, orang tak akan paham itu. Kita sebagai tuan pemilik perasaan saja merasa bingung dan kacau bagaimana orang lain. Cukup lucu jika mereka bilang “Aku juga pernah seperti itu.”

Secara garis besar orang mungkin melewati masa sulit yang serupa. Namun, ingat setiap orang itu unik, memiiki karakteristik masing-masing secara emosional atau fisik.

Saat kehilangan siapa diri kita yang sebenarnya.

Aku sendiri juga bingung. Aku selalu kerepotan dengan angan dan mimpi yang beragam, Aku terkadang juga terjebak dalam presepsi orang-orang. Aku merasa telah mengenal diriku dengan sangat baik. Tapi saat tengah jatuh, atau terluka, Aku lupa dengan segalanya. Aku lupa dengan keinginanku, kebutuhanku, dan semuanya.

Meskipun otakku terus bertanya bagaimana dan menyusun hal-hal realistis. Namun tak bisa dipungkiri, hatiku juga sakit dan berat melewati masa sulit itu. Rasa sedih bukan hanya memberatkan diriku untuk maju, namun juga membuatku tak kenal dengan siapa diriku.

Mencari identitas diri, awalnya cukup dengan mengetahui apa passion kita. Apa yang kita suka, tujuan apa yang kita kejar, dan hal-hal positif lainnya. Tapi kita lupa, untuk bertanya hal apa yang kita takutkan dan khawatirkan. Meskipun terkesan paranoid, tapi rasa khawatir dan takut bisa menjadi alasan penguat untuk menjadi seperti apa kita. Mungkin terdengar omong kosong, ya Aku sendiri juga baru memahaminya saat ini. Menentukan tujuan hidup terkadang juga harus berkali-kali jatuh, mengenal diri sendiri memang perlu dilukai sedikit. Tapi jika kamu berada di kondisi yang sama sepertiku, tengah bingung mencari apa yang sebenarnya kita mau, berusaha menggapai tujuan yang entah itu tujuan utama atau hanya sementara. Tenanglah, kamu tak sendiri, masih ada aku. Aku juga sama sepertimu, mari kita lewati bersama masa sulit ini.

Reuni Virtual 2 Ratih dan Suami

Reuni Virtual #2 : Nikah Muda? Bersama Ratih

Reuni Virtual #2 : Nikah Muda? Bersama Ratih

Halo! Setelah beberapa waktu lalu aku bikin acara reuni virtual #1 yang membahas tentang body shaming, tepat kemarin (19/09) bersama teman SMA ku Ratih. Topik yang aku angkat kemarin sangatlah menarik, jujur ini demi menjawab pertanyaanku pribadi tentang “Nikah Muda”.

Reuni Virtual 2 Ratih dan Suami

Ya, beberapa orang mungkin menganggap nikah muda adalah hal yang menyia-nyiakan masa mudanya. Kenapa demikian? Gini, Aku pun juga berpikir begitu dulu. Masa muda adalah saatnya kita mengejar mimpi, berjelajah, mencari jati diri yang sebenarnya, dan belajar menjadi lebih dewasa. Tapi jika sudah menikah, rasanya hidup bukan milik sendiri saja, namun sudah milik berdua dengan pasangan.

Kebanyakan orang berpikir di usia muda memiliki ego yang besar dan kondisi emosional yang nggak stabil. Tentu akan sulit bagi mereka untuk menghadapi berbagai problematikan pernikahan. Tapi sedikit cerita tentangku saat membahas topik ini. Sejujurnya ini topik yang cukup berat buatku, selain karena Aku yang belum menikah. Bagiku isu pernikahan muda cukup sensitif, sebelum memulai acara reunivirtual aku membekali diriku dengan beberapa pengetahuan tentang pernikahan. Aku cari UU perkawinan negara (Aku cari tahu berapa batas minimal seorang wanita menikah, Aku pribadi nggak mau jika ternyata temanku dikategorikan KAWIN ANAK, dan untunglah tidak). Aku belajar bagaimana kehidupan pernikahan melalui buku.

Sungguh, Aku sangat berhati-hati membawakan topik tersebut. Aku nggak mau, konsep awal yang ingin membedah kisah teman tentang kehidupannya yang menikah muda, justru menggiring opini audiens untuk sesegera mungkin menikah.

Lanjut ke pembahasan reuni kemarin, berbeda dengan sebelumnya. Kali ini Aku cenderung mengajukan beberapa pertanyaan kepada Ratih tentang kehidupannya saat menikah muda. Ratih menikah di saat usianya 18 tahun. Ia baru lulus SMA dan selang beberapa bulan akhirnya menikah. Tentu aku penasaran dorongan apa yang membuat dirinya pribadi memutuskan untuk menikah dengan orang yang selisihnya 13 tahun lebih tua? Bagaimana kondisi emosionalnya? Bagaimana dia menurunkan egonya?

 

Ratih menceritakan sedikit keputusannya menerima lamaran suami. Ratih mengenal suami sudah 3 tahun lamanya, setelah ia lulus. Ratih dan suami mulai menjalin hubungan spesial, selang 3 bulan. Akhirnya sang suami meminta restu kedua orangtua, singkat cerita setelah pertemuan kedua keluarga tanggal pernikahan pun diperoleh. Awalnya Ratih masih diberi kesempatan untuk merintis karir beberapa tahun, tapi ternyata ia justru akan menikah dalam waktu terdekat. Ratih sempat mengalami dilematik, antara lanjut menikah atau berhenti saja. Tapi ia pikirkan lagi, tentang kepribadian sang suami yang baik, sikap religiusnya, menurutnya sulit saat ini mencari seorang imam keluarga yang baik. dan mumpung ia menemukan calon seperti itu, akhirnya ia memilih menerima.

Di awal pernikahan Ratih juga mengalami gejolak emosi. Kehidupan pernikahan dengan kehidupan lajang tentu berbeda jauh. Namun, sang suami senantiasa sabar menyikapi gejolak emosi Ratih yang berubah. Sang suami tentu paham, selain karena usia Ratih yang masih muda, Ratih juga butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan kondisi pernikahan. Ia bilang butuh waktu 3 bulan untuk menstabilkan emosinya. Apalagi, di usia pernikahannya yang baru 1 bulan, Ratih diamanahkan anak. kondisinya yang hamil membuat Ratih harus benar-benar belajar mengendalikan emosi dan menjadi lebih dewasa.

Ratih mungkin masih menyimpan harapan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, dan merintis karir lagi. Tapi ketika anaknya lahir, Ratih mulai merasa dilema. Meskipun sang suami mendukung jika dirinya ingin mengejar cita-cita. Tapi sebagai seorang ibu, Ratih masih memikirkan tumbuh kembang anaknya yang masih berusia 4 tahun. berganti peran memang berganti sudut pandang, Ratih mungkin belum sempat mengenyam bangku Universitas. Tapi karena suaminya seorang guru, Ratih sering kali membantu suami mengoreksi hasil ujian para siswa saat UAS dan UTS. Yang itu berarti Ratih juga masih belajar, meskipun dirinya ibu rumah tangga.

Kalau membahas pernikahan memang ada aja yang dibahas, bahkan aku sempat bertanya pada Ratih, apakah dia pernah merasa menyesal karena menikah muda? Pernah merasa irikah dengan teman-teman seusianya yang bekerja atau kuliah?

Ratih menjawab jujur jika dia pernah merasakan itu. Apalagi jika dia membuka media sosial, yang isinya penuh dengan gambaran teman-temannya yang kuliah, yang merintis karir dan lain-lain. Sesekali ia bercerita dengan suami, tapi apa yang ia katakan justru membuat suami merasa bersalah. Akhirnya Ratih memendam perasaan itu, ia memilih kembali kepada komitmen yang dibangun berdua dengan pasangannya.

Kini peran Ratih tak lagi sama. Ratih menjadi anak perempuan, istri dan ibu. Peran tersebut terkadang membuatnya semakin belajar bagaimana ibunya dulu yang bersusah payah mendidik anak, sekaligus istri.

Dari obolanku malam itu, mungkin ada hal yang bisa dipetik dari kisah pernikahannya Ratih. Kunci pernikahan bukan berada di dalam diri sendiri saja, namun juga pasangan. Saat satu pihak sedang belajar maka pihak yang lain perlu bersabar.

Tujuanku tetap cukup terpenuhi malam itu. Aku ingin mematahkan streotip masyarakat yang bilang jika nikah muda itu menyia-nyiakan masa mudanya. Itu menurutku salah.

KONSEP MENYIA-NYIAKAN AKAN ADA JIKA KITA TIDAK MENIKMATI PERNIKAHAN ITU SENDIRI DAN MERASA MENYESAL ATAS KEPUTUSAN TERSEBUT.

Jadi kalau kita menikah di usia 18 seperti Ratih. Atau 20, 30, bahkan 40 tahun kalau kita tidak bisa menikmatinya dan tidak menjalin hubungan yang baik dengan pasangan semua itu akan sia-sia. Menikah muda, memang pilihan. Aku yang berusia 23 tahun saja sudah ditanya punya calon atau belom. Menikah bukan hal yang mudah, perlu banyak persiapan. Baik secara mental, emosional, fisik, dan finansial. Untuk itu sebaiknya pertimbangkan sebaik mungkin, jangan sampai merasa menyesal dengan keputusan bersama seseorang sehingga kita merasa menyia-nyiakan waktu saat bersamanya.

Itu dulu cerita dariku, semoga ada pembelajaran yang diperoleh dari sesi reuni virtual kemarin. Tunggu konten reuni virtual berikutnya ya!

Melepaskan Obsesi Demi Dia Yang Disayangi

Melepaskan Obsesi Demi Dia Yang Disayangi

Melepaskan Obsesi Demi Dia Yang Disayangi

Halo, berjumpa lagi. Hari ini aku mau bahas sesuatu yang sedikit baper karena membahas kata “sayang.” Emang sih ini bukan cerita fiksi yang aku tulis seperti biasanya. Memang kalau membahas rasa sayang kepada seseorang memang tak ada habisnya.

Melepaskan Obsesi Demi Dia Yang Disayangi

Menurut kalian sendiri sayang itu seperti apakah? Apakah tulus mencintainya tanpa pamrih? Tulus memberikan cinta dengan ikatan relasi romantis? Sayang memang banyak bentuknya, mungkin kita merasa sayang dengan orangtua, saudara, atau sahabat karib. Rasa sayang tentu juga bisa kepada kekasih hati, dalam hal ini aku masih mencangkup batas pacaran atau pedekate gitu.

Sebenarnya ada banyak teori tentang cinta yang mendeskripsikan perasaan cinta manusia. Namun karena aku tidak mempelajarinya secara mendalam teori tersebut. Langsung aja ke pembahasan kita tentang rasa obsesi.

Sebelumnya Aku pernah membuat sajak yang membandingkan rasa cinta atau sekadar obsesi belaka. Aku bukanlah orang yang berasal dari pakar relationship, tapi berkat aku menjadi content Writer dengan tema Psikologi, Seksologi, dan Relationship. Aku jadi banyak belajar dan mengenali diriku. Beberapa orang mungkin sulit mendekripsikan perasaannya kepada seseorang. Sama seperti apa yang aku alami dulu. Bagiku cukup sulit untuk akhirnya mendeteksi jika perasaan itu adalah obsesi. Mungkin sebagian dari kalian juga demikian. Awalnya kita terlalu sayang sama Dia, telalu takut hidup tanpanya, Terlalu sedih jika dikecewakannya, dan perasaan keterlaluan lainnya.

Awalnya kita mengira itu benar-benar sayang dan cinta. Dimana Cuma ada dia yang ada di hati kita, yang kita pikirkan, yang kita harapkan di masa depan. Namun semua hal yang kita rasakan, jika terlalu berlebihan tentu bukan hal yang baik. Kita menjadi lebih takut dan waspada dengan hal-hal buruk yang terjadi. Seperti penolakan, pengkhianatan, atau hal kecil seperti keinginan kita yang tak dituruti oleh pasangan.

Menyadari bahwa apa yang kita kira cinta namun ternyata obsesi belaka tentu bukan hal yang mudah. Perlu pengenalan diri, pemahanan dengan perasaan cinta itu sendiri. Meskipun istilah “Cinta tak harus memiliki” adalah hal yang menyakitkan, namun itu bisa menjadi hal yang benar. Hal yang pertama Aku sadari jika itu sebuah obsesi adalah apakah diri ini bahagia? Apakah diri ini nyaman? Apakah pasangan merasa bahagia? Apakah pasangan merasa terkekang?

Berkali-kali ku tanyakan hal itu. Terutama pada diriku sendiri, apakah Aku yakin dia yang paling ku inginkan di dunia? Terkadang kita selalu dibutakan oleh keinginan semata, tanpa sadar dia mungkin yang kita inginkan, namun tak bisa memenuhi kebutuhan kita. Apa kebutuhan kita? Tentu kebutuhan dasar kita adalah bahagia? Rasa obsesi tak bisa menjamin bahagia, obsesi hanya memberikan kecemasan, ketakutan, dan kekhawatiran.

Hal itulah yang kemudian aku sadari, jika Aku tak bisa memiliki sepenuhnya pasangan. Karena dia adalah orang yang paling berhak atas dirinya, begitupun Aku. Perlahan Aku sadar, obsesi bukan hanya membuat pasangan terkekang namun juga hati kita. Kita tak bisa bebas, selalu terusik oleh kekhawatiran, dan perasaan-perasaan yang tak pasti lainnya. Jika kita sudah di titik ini sebenarnya keputusan langkah apa selanjutnya yang akan diambil tergantung pribadi masing-masing. Mungkin beberapa akan memilih untuk memperbaiki dirinya.

Namun ada juga yang memilih untuk melepaskan. Melepaskan rasa obsesi sekaligus orang yang disayangi. Tak mudah memang, tapi kita harus sadar kebahagiaan kita sendiri yang menciptakan. Kita tak bisa memulai hubungan yang sehat jika diri sendiri tidak bahagia lebih dulu.

Aku tahu, memilih keputusan kedua itu berat. Beberapa orang akan mati-matian melepas dan menangis bermalam-malam. Namun percayalah, hal itu mungkin akan baik untukmu. Karena kita sudah tak memiliki beban, lebih bebas dan bisa menjadi diri sendiri. Memang menulis nasehat sangatlah mudah dibanding mempraktekannya. Tapi cobalah pikirkan lagi, apakah mau bertahan dalam hubungan yang terus membuat kita khawatir. Perlahan pasangan tentu tak akan betah dengan sikap obsesi yang diklaim sebagai rasa sayang.

Kita perlu paham, terkadang kehadiran seseorang di dalam hidup kita, hadir bukan untuk mendampingi namun untuk mengajari. Mari kita belajar melepas obsesi demi orang yang disayangi.

“Orang yang kita temui sepersekian detik di jalan saja sudah mengajarkan sesuatu tentang hidup. Lalu bagaimana dengan orang yang bersama kita selama berhari-hari, bermingg-minggu, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Sudah berapa banyak hal yang dipelajari darinya? Apa yang bisa kita pahami saat sedang bersamanya? Tentu tiada terkira.”

REUNIVIRTUAL #1 Menyikapi Body Shaming dengan Mera

REUNIVIRTUAL #1 : Menyikapi Body Shaming dengan Mera

REUNIVIRTUAL #1 : Menyikapi Body Shaming dengan Mera

 

REUNIVIRTUAL #1 Menyikapi Body Shaming dengan Mera

Hallo semua! Hari ini Aku mau berbagi pengalaman. Mungkin pengalaman body shaming bukan hanya dialami oleh aku saja, kebanyakan orang juga mengalaminya. Dikatain gendut lah, pendek lah, kecil lah, terlalu kurus, lah, jelek, dan lain-lain. Awalnya ledekan itu sebagai bahan bercandaan, tapi lama-lama malah menyakitkan bagi mereka yang bersangkutan.

Jujur Aku juga orang yang sering sekali mengalami body shaming. Alasannya karena tinggi badanku yang masih dibawah rata-rata orang seusiaku. Body shaming aku alami sejak SMP. Awalnya biasa, atau lebih tepatnya saat itu aku nggak bisa ngelawan. Bingung gimana caranya bisa menjawab semua ledekan mereka. Hal itu terus aku alami. Tapi aku bersyukur, dibalik teman-teman yang mengejekku masih ada teman yang mau nemenin dan berteman denganku. Kekesalanku terhadap tindakan body shaming dari teman-teman membuatku mudah marah. Aku sering memukul mereka dengan tangan atau mengumpat padanya. Maklum waktu itu aku banyak nememukan kosa kata baru, dan belum bisa bersikap sabar. Cenderung lebih sering memberontak. Aku nggak peduli apa mereka merasa sakit, karena apa yang mereka katakan jauh lebih sakit. Aku merasa menyimpan dendam pada mereka yang mengatakan itu.

Emang sih body shaming bikin rasa percaya diri kita jadi turun. Apalagi kalo diledeknya di depan orang banyak. Wahh itu pasti rasanya malu dan marah banget. Lalu saat masuk SMA, Aku mendapatkan pengalaman yang berbeda. Tepat kelas X aku bertemu dengan temanku Mera. Kami memiliki tinggi badan yang sama. Bahkan setiap kali jalan ke kantin berdua, kami dianggap kembar oleh anak-anak.

Siapa sih yang suka kalo dipanggil 1 meter tak sampai? Kalau ada mungkin dia bermental baja. Masa SMA aku memiliki teman-teman dengan bentuk tubuh yang lebih proposional dibanding waktu SMP. Anak laki-laki tubuhnya kurus tinggi. Sedangkan anak perempuan, body goals lah.

REUNIVIRTUAL #1 Menyikapi Body Shaming dengan Mera

Awalnya aku pede-pede aja karena di kelas aku bertemu banyak orang yang bertubuh mungil. Ya ngerasa ada temennya. Dan karena Mera dan teman-teman yang lain juga aku merasa lebih diterima oleh lingkungan di kelas ataupun di sekolah. Aku merasa lebih dihargai keberadaannya di banding diintimidasi. Meskipun body shaming itu tetap ada, dan beberapa orang memanfaatkan postur tubuhku untuk kepentingan pribadinya. Tapi aku merasa lebih aman di lingkungan SMA ini.

Karena apa yang aku alami sama seperti yang Mera rasakan, beberapa waktu lalu kami memutuskan untuk membuat 1 ide konten baru. Aku sungguh sangat bersyukur melalui konten #reunivirtual kemarin Aku dan Mera saling bercerita di moment kemarin. Melalui IGLIVE aku dan dia saling cerita tentang pengalaman Body shaming yang kami rasakan semasa SMA. Namun, saat masih SMA aku dan Mera merasakan dan memberikan sikap yang sama. Ya, menganggapnya sebagai lelucon yang menyenangkan. Karena jujur orang yang selalu meledek kami berdua punya gaya pelawak gitu.

Dari obrolan selama 1 jam itu, kami berdua sama-sama merasakan. Terkadang cara terbaik menyikapi body shaming atau bentuk bullying lainnya adalah dengan fokus pada diri sendiri. Memang kita nggak punya bisa meminta orang lain untuk lebih menghargai perasaan kita. Kita nggak punya kontrol atas apa yang dilakukan oleh orang lain. Kita Cuma punya kontrol pada diri sendiri.

Mera juga mengaku kalau berkat body shaming dari temen-temennya dia justru memiliki mental yang kuat. Terkadang memang Mera sering bertanya, kenapa selalu dia yang diledek dari semua temen-temennya? Kalau dipahami lagi terkadang teman-teman yang sering meledek, justru mereka yang paham betul dengan karakter kita. Karena bisa saja mereka yang meledek kita benar-benar tak bermaksud untuk melukai kita. Memang berusah mengakrabkan diri, tapi ternyata cara itu membuat kita merasa tidak nyaman.

Balik lagi ke bagaimana menyikapi Body Shaming itu. Kuncinya kita harus berganti fokus. Jangan terlalu fokus pada hal yang membuat kita terluka atau kepada mereka yang melakukan body shaming. Fokuslah pada hal besar yang kita miliki. Kondisi fisik adalah sebagian dari kehidupan kita, ada hal lain yang lebih besar dari itu. Ya sebut saja perasaan kita dan pikiran kita.

Aku sendiri juga merasa sedikit bersyukur atas hal yang tidak aku sukai di masa lalu itu. Berkat bully-an dan tindakan body shaming teman-temanku Aku bisa membuat karya yang bisa melegakan hatiku dan dinikmati orang-orang di sekitarku.

Mungkin itu dulu, sedikit rangkuman dari Reunivirtual kemarin. Semoga dengan apa yang aku dan Mera sampaikan bisa bermanfaat bagi siapa saja. Sekian dariku, selanjutnya aku akan membahas banyak hal lain dengan teman lamaku di masa SMA. See You! #reunivirtual SEMASA

Kelas Nulis Virtual Bareng IC: Mengubah Patah Hati Jadi Cerita Fiksi

Kelas Nulis Virtual Bareng IC: Mengubah Patah Hati Jadi Cerita Fiksi

Kelas Nulis Virtual Bareng IC: Mengubah Patah Hati Jadi Cerita Fiksi

Kelas Nulis Virtual Bareng IC: Mengubah Patah Hati Jadi Cerita Fiksi

Halo semua! Hari ini aku mau cerita tentang pengalamanku semalam. Ngapain coba malem jumat? Nggak kok, nggak aneh-aneh.

Beberapa hari yang lalu, gak tahu kenapa rasanya kangen bet sama kegiatan sharing gitu. Jujur Aku termasuk orang yang selalu semangat kalau acara sharing dengan topik yang menarik (menurutku) entah diposisi peserta ataupun pengisinya. Nah kemarin malam, tepat malam jumat Aku mengajak anak-anak IC (Internet Club) buat bikin kelas kepenulisan secara virtual.

Setelah aku dan anak-anak IC setuju buat bikin kelas nulis bareng, akhirnya kami nentuin tanggal dan memulainya semalam.

Secara teknis acaranya seperti acara pada umumnya, sharing 30 menit dan tanya jawab 30 menit. Untuk materi yang aku bawain, itu hampir sama dengan artikel yang aku post beberapa waktu lalu, mengubah patah hati jadi cerita fiksi.

Oh ya Aku masih ingat bagaimana reaksi orang-orang saat tahu judul acaranya seperti demikian. Semua orang pikir jika materi yang aku bawakan itu materi galau. Aku senyum-senyum sendiri lihat respon mereka. Ya, aku tahu, dan aku sengaja minta anak IC buat ngasih judul acara gitu. Ya mau bagaimana, topik galau selalu menyedok perhatian orang-orang. Maklum lebih banyak orang yang patah hatinya dibanding yang jatuh cinta.

Ini jujur sih 2 malam menjelang hari H aku belajar. Ngeresume tulisanku dari blog dan baca ulang buku langkah awal menulis buku fiksi yang aku beli di bazar buku tahun lalu. Ya, Aku diajari “Saat ngisi acara jangan hanya omong kosong. Tapi harus ada isi” setelah mendengar pernyataan itu, aku mulai paham. Jika mendapatkan amanah sebagai pengisi bukan hanya sekadar panggung namun tanggung jawab. Untuk itu Aku harus mengisi ulang otakku, berharap jika apa yang aku sampaikan bisa menjawab rasa penasaran audiens.

Aku sebenarnya nggak menargetkan jumlah peserta yang bakal ikut kelas. Cuma info yang aku dapet sekitar 20 orang, tapi ternyata jumlah peserta semalam mencapai 30 orang. Aku gak nyangka apalagi terlihat mereka banyak yang antusias. Aku berharap pertanyaan mereka aku jawab dengan baik :’)

Setelah 1 jam lebih 15 menit kelas selesai. Tak lupa Aku menutupnya dengan sajak. Bukan Riski namanya jika tak memberi virus baper ke dunia. Hahaha…

Aku banyak belajar dari acara ini. Meskipun aku di sana sebagai pengisi namun aku belajar jika diriku harus memperdalam public speaking lagi. Meskipun bukan di atas panggung, tapi sensasi deg-degannya masih terasa. Bahkan keringatku sampai keluar banyak dan membasahi jilbab. Aku juga sadar jika kata yang aku sampein ke temen-temen masih bundel. Dan aku harap kalian paham maksud aku. Aku juga sadar, Aku juga harus latihan pernapasan, hahaha… ngomong 30 menit tanpa minum ternyata ngabisin suara juga.

Udah dulu ya ceritaku hari ini, semoga ada kelas-kelas nulis lainnya yang bisa diikuti orang-orang bukan hanya anak IC saja. Mungkin di antara kalian juga bisa! See You!