Pertemanan, Liburan, Dan Pengalaman

Pertemanan, Liburan, Dan Pengalaman

Halo kembali lagi denganku, sebenarnya aku ingin bercerita tentang perjalan yang menyenangkan bersama teman-teman kuliahku. Tapi sepertinya ada pesan lain yang ingin ku sampaikan.

Entah aku tak paham betul, setelah bermain puas dengan teman-teman kuliahku ini. Bahkan masih saling menjalin komunikasi sampai sekarang dan hubungan kami masih sangat erat. Aku jadi teringat beberapa tahu lalu.

Sejujurnya aku bukanlah orang yang dari dulu punya banyak teman. SD, SMP, SMA aku hanya memiliki sedikit teman. Bahkan bisa dihitung dengan jari sendiri. Memang aku kenal beberapa orang, namun hubungan dekat seperti teman hanya terjalin ke beberapa orang saja. Aku juga tak paham apa yang aku alami dulu. Mungkin aku mengalami insecurity. Aku merasa rendah diri, sehingga setiap kali berteman dengan orang-orang yang mereka terlihat lebih baik dariku. Aku cenderung lebih memilih untuk menjauh darinya.

Aku mengalami banyak perubahan selama hidupku, mulai dari cara berpikir, bersikap, dan menjalani hidup. Kalau kita pergi ke suatu tempat dan mensyukuri nikmat Tuhan, sepertinya pemaknaan hidup akan lebih terasa. Seperti beberapa waktu lalu.

Aku pergi dengan teman-temanku. Kami bersembilan orang dalam satu mobil yang besar. Hari minggu itu kami pergi ke bagian dari Indonesia yang selalu dilabeli Istimewa. Yups, kota Jogja. Perjalanan dari kota Semarang ke Jogja membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam. Objek wisata pertama yang kami kunjungi adalah The Lost World Castle daerah Sleman. Di sana objek wisata keluarga, selain berfoto dengan spot-spot menarik seperti spot suku indian, kapan bajak laut, rumah jamur, dan kastel. Kita bisa menikmati seluncuran, (jika kalian ke sini aku sangat merekomendasikan) harganya murah dan seru. Setelah dari The Lost World Castle, kami pergi makan siang dan mengunjungi Tebing Breksi. Ini spot yang keren untuk foto OOTD, saat kami berkunjung suasananya cukup ramai. Jujur aku tak nyaman dengan suasana saat itu, rasanya lelah dan malas. Sebenarnya spot terbaik ada di bawah tebing, tapi saat itu cuacanya panas. Jadi kami naik ke atas tebing, dan udaranya cukup sejuk dan nyaman untuk berkumpul.

Dan wisata terakhir yang kami kunjungi adalah Malioboro. Bukan ke jogja kalau tak mengunjungi tempat itu.

Itulah cerita singkatnya, setelah pulang dan aku kembali ke kostan. Aku sadar, ternyata hal yang dulu tak ku rasakan, sekarang terjadi. Seperti yang aku bilang Aku bukan orang yang punya banyak teman. Hadirnya mereka teman kuliah yang dulu satu organisasi seperti pemanis dalam hidupku. Rasa rendah diriku perlahan terkikis, hadirnya mereka perlahan melengkapi kebutuhan batinku. Punya teman memang menyenangkan, tak harus sebanyak itu memang. Asal bisa bertahan dan saling berkabar sepertinya itu cukup.

Selain itu, Aku juga tak pernah punya teman baik laki-laki sebelumnya. Mengenal mereka sebenarnya karena kami satu fakultas juga. Kami semua mahasiswa Fakultas Teknologi Informatika, yang notabene didonimasi oleh laki-laki. Aku kira berteman dengan laki-laki adalah hal yang menyebalkan. Tapi ternyata seru juga, mereka punya jiwa setia kawan, mungkin di antara semuanya aku yang paling egois. Aku sering merengek manja terhadap hal yang tak ku suka. Dulu. Tapi sekarang aku mengurangi itu, aku hanya merengek pada hal-hal yang mungkin memang diluar kapasitasku, seperti pergi terlalu malam.

Jika ada yang membaca ini, Aku bersyukur dengan lini yang menyenangkan ini. Kami semua adalah orang biasa, dan selalu tampak biasa. Namun Aku sangat yakin, apa yang kami semua lakukan adalah hal yang luar biasa. Kami memiliki tujuan, mimpi, dan harapan yang besar.

Biarlah kami menjadi orang biasa, asal kami tetap bisa berkumpul bersama, saling berbagi cerita dan tawa.

Mungkin itu dulu, cerita ngalur ngidulku hari ini. Semoga berkenan di hati kalian semua!

Mareokoco Semarang, Keliling Jawa Tengah

Mareokoco Semarang, Keliling Jawa Tengah

Mareokoco Semarang, Keliling Jawa Tengah

Halo semua, bagaimana kabar kalian? Sehat ya. Hari ini aku mau cerita, rasanya udah lama banget aku gak bercerita tentang perjalanan. Nah, selama masa pandemi ini tentu ada beberapa tempat wisata yang ditutup tapi ada pula yang dibuka dengan catatan mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah.

Minggu kemarin tepat (13/9) Aku bersama ketiga temanku pergi ke berkeliling Semarang. Ya, kami menaiki bis trans Semarang dan janjian berkumpul di halte Simpang Lima. Rencana awal Aku dan teman-teman ingin berkunjung di Museum Ronggowasita. Tempat itu memang aku yang mencetuskan. Ini bukan karena kami anak culun. Aku cuma ingin salah satu vlog dari Keluarga Belo yang mengatakan, salah satu cara belajar sejarah sebuah tempat adalah dengan mengunjungi museumnya. Bagiku memang tidak adil jika bertahun-tahun merantau di kota Semarang namun tak paham bagaimana sejarahnya. Untuk itu Aku mengajak ketiga temanku ini bermain ke sana. Tapi ternyata di hari itu museum masih ditutup (sementara) dan dibuka kembali bulan depan.

Akhirnya bingung dong mau kemana, mana panas banget. Setelah diskusi akhirnya kami memilih pergi ke taman Mareokoco. Meskipun bersifat taman dan dikategorikan sebagai wisata keluarga, namun bagiku ada beberapa hal yang bisa dipelajari di tempat itu.

Kami akhirnya pergi ke halte terdekat, setelah menunggu 30 menit akhirnya kami mendapatkan bis yang mengarah ke Mareokoco langsung.

Untuk tiket masuknya sendiri seharga 15.000 cukup murah. Kebetulan siang itu suasana Taman Mareokoco sedang ramai. Namun petugas tetap memerintahkan pengunjung menaati protokol kesehatan. Sampai di sana kami berhenti di salah satu warung untuk membeli minum. Jujur siang itu cukup panas, oh ya buat temen-temen kalau beli minum jangan lupa buang sampai di tempatnya ya. Setelah ngaso kami jalan-jalan keliling rumah adat.

Meskipun dibilang wisata keluarga namun taman Mareokoco juga sering dijadikan tempat hunting foto entah untuk memenuhi feed instagram atau prewedding. Ada banyak kabupaten yang digambarkan di sini. Mulai dari kabupaten Blora, Grobogan, Semarang, Surakarta, hingga Cilacap. Kalau dilihat dari peta wisata. Dari pintu masuk telah diurutkan kabupaten-kabupaten di Jawa Tengah paling timur hingga ke paling barat.

Jadi kalau di amati kabupaten yang dekat dengan pintu dan di tengah-tengah adalah tempat yang cukup ramai dikunjungi. Oh ya tempat ini cukup luas, kalau capek mengelilingi dengan jalan kaki kita bisa pakai kereta.

Selain rumah ada, setiap kabupaten juga dilengkapi dengan ciri khas apa yang ada di sana. Misalnya Boyolali yang disebut sebagai New Zealand Central Java, dimana produksi susu di Boyolali yang tinggi. Jadi di sebelah rumah adat Boyolali dilengkapi dengan patung sapi perah. Terus, Banjarnegara yang terkenal dengan dawet Ayu, dan Jepara yang terkenal dengan kerajinan gerabahnya.

Bukan hanya itu, Ada pula gambaran laut jawa yang bisa kalian kelilingi dengan perahu, dan miniatur seperti candi waduk bahkan bengawan solo.

Kalau kita telisiki lebih jauh, ini bukan hanya liburan semata. Tapi tempat ini juga bisa jadi tempat belajar yang menyenangkan. Terutama belajar kebudayaan kalau jaman SD belajar IPS mungkin. Kalau kalian masuk ke setiap rumah, coba deh perhatikan detail-detailnya. Seperti yang kita tahu rumah adalah tempat berlindung. Setiap daerah di Jawa Tengah memiliki kondisi geografis yang beragam. Jadi dibangunnya rumah adat tiap kabupaten memiliki ciri khas yang berbeda, mulai dari pilar, bentuk atap, tegel, bahkan hal kecil seperti ukiran-ukirannya. Sayangnya Aku gak didampingi tour gate gitu. Jadi aku hanya bisa menalar pemaknaan dari setiap rumah. Tapi, saat mengunjungi tempat ini justru aku merasa mendapatkan insight baru dan ingin belajar lebih jauh lagi tentang budaya Indonesia khususnya budaya Jawa Tengah.

Mareokoco Semarang, Keliling Jawa Tengah

Maklum aku sendiri juga merasa sedikit kehilangan kejawaan-ku. Jadi berkunjung sebentar ke Mareokoco membantuku kembali untuk mengingat jati diri sendiri. dan lebih banyak belajar tentang kebudayaan terutama di bidang arsitekturnya. Ini jujur, saat mengunjungi tempat ini, rasanya Aku ingin kelak ketika sudah berkeluarga mengajak anak-anak ke tempat seperti ini. Bukan hanya liburan semata namun juga belajar dan menambah pengetahuan mereka.

Nah itu dulu cerita dariku, semoga kalian terhibur! Oh ya Foto2nya sebenarnya banyak Aku cuma milih beberapa.

Ngelangon, Wisata Sederhana Namun Mewah

Ngelangon, Wisata Sederhana Namun Mewah

Ngelangon, Wisata Sederhana Namun Mewah

Ngelangon, Wisata Sederhana Namun Mewah

NGELANGON? Mana tuh? Hahaha Aku tahu tempat itu masih sangat asing bagi kalian. Maklum saja, tempat itu merupakan bendungan atau waduk yang ada di Kabupaten Grobogan, Kecamatan Kradenan. Nah loh, malah tambah bingung.

Hari ini Aku mau bercerita, tentang piknik sederhana yang Aku lakukan bareng Ibu, Mbak, Keponakan, dan rombongan RT 05. Tepat lebur lebaran Hari Raya Idul Adha kemarin, Aku pulang ke rumah. Sebenarnya niat awal pulang adalah nyate, gule, tongseng, pokoknya yang berhubungan dengan daging-daging gitulah. Tapi Failed, karena kebetulan pas hari itu masjid di dekat rumah belum menyembelih kambing. Alhasil Aku makan makanan rumahan. Ya, nggak papa disyukuri aja, lagian Aku juga kangen sama masakan Ibu sendiri.

Nah, sore hari Aku dan rombongan pergi ke Ngelangon. Bagi warga Kecamatan Kradenan dan sekitarnya, mungkin sudah nggak asing. Tapi buat kalian masih penasaran. Seperti yang kita tahu, saat ini semakin banyak desa-desa kreatif. Kenapa kreatif? Karena mereka bisa memberdayakan alam sekitar untuk dijadikan tempat wisata yang lucu dan menyenangkan. Nah, sebagai penduduk yang baik, kita harus mulai mendukung mereka. Caranya berkunjung ke sana dan posting di sosial media, mudah bukan mempromosikan tempat wisata lokal ke khalayak luas.

Sebenarnya di Ngelangon sendiri, ada dua tempat yang bisa dikunjungi, Oh ya kedua tempat tersebut lebih cocok untuk dijadikan liburan bersama keluarga. Karena lokasinya yang tebuka, dan luas jadi aman buat anak. Lanjut, dua tempat yang bisa dikunjungi adalah Ngelangon Forest Camp dan Bendungan Ngelangon.

Sekadar cerita aja, sebenarnya niat awal Aku dan rombongan adalah Ngelangon Forest Camp, tapi sayangnya tutup. Ya, menurut informasi warga setempat wisata itu dibuka untuk hari sabtu dan minggu. Meskipun, Aku warga Kecamatan Kradenan tapi jujur Aku belom pernah ke sana, sedih :’( Yah, akhirnya kami banting stir ke Bendungannya.

Sekedar menggambarkan, Ngelangon Forest Camp, area tempat foto dengan pemandangan bendungan dari atas, di sana juga banyak yang jual jajan. Tempatnya cukup rindang karena dikelilingi pohon jati. Maaf ya nggak bisa ngasih foto tempatnya, tapi kalo kalian cari di google udah banyak kok.

Aku lanjut ke cerita piknik. Di bendungan ini terhampar rerumputan yang mengililingi. Oh ya di sini juga ada jalan beraspal, biasanya digunakan untuk jogging atau bersepeda. Buat temen-temen yang ngajak anak kecil, mungkin harus lebih waspada. Takutnya, anak-anak main ke dalam air dan tenggelam. Bendungan ini tidak terlalu luas, namun cukuplah untuk bermain, di bagian tengah ada daratan kecil seperti pulau. Mungkin kalau musim penghujan tiba, pulau kecil itu bakal tenggelam. Di sini juga ada jajanan kaki 5. Memang di area bendungan kurang menyediakan tempat duduk atau spot foto yang kekinian. Tapi, nggak perlu khawatir, kita masih bisa seneng-seneng dengan naik kapal mengelilingi bendungan. Cukup membayar Rp. 5.000/orang, dalam 1 kapal dapat mengangkut 8 orang dewasa. Jadi cocoklah untuk yang piknik rombongan kek Aku gini.

Oh ya ketika kalian dateng ke Bendungan Ngelangon, jangan kaget kalau ada hewan ternak dan penggembalanya. Di tempat ini memang banyak rumput, jadi beberapa warga sekitar sering angon atau menggembala hewan ternaknya di sana. Tapi kalian nggak perlu takut, hewan di sana nurut-nurut sama pemiliknya kok.

Oh ya saat kalian pergi ke Bendungan Ngelangon ada baiknya bawa tiket, yups karena di sana nggak ada tempat duduk khususnya di bagian dekat bendungan. Bayangin bawa tiket di dekat bendungan sambil makan jadi berasa drama korea bukan? Di sini kita nggak perlu bayar tiket masuk, cukup bayar parkir 2 ribu per motor. Murah bukan?

Loh, tapi mana kemewahannya?

Haha… ini bukan sekadar clipbait. Memang arti kemewahan setiap orang berbeda, kenapa Aku bilang mewah di sini. Ya, bagiku cukup sulit rasanya liburan keluarga dengan banyak orang. Perlu menyiapkan budgetlah, perlu membuat jadwal dulu lah, perlu lihat ramalan cuaca lah. Rumit bukan? Tapi dari piknik ku kemarin Aku belajar, terkadang dengan hal sederhana, spontanitas Aku, Mbak, Ibu dan yang lain bisa pergi bersama. Tertawa, berfoto, dan tentunya bercerita. Meskipun selama piknik Aku yang dengerin cerita mereka. Momen seperti itulah yang membuat piknikku terasa mahal. Karena Aku percaya hal seperti ini, akan jarang Aku alami. Aku harap kalian juga menemukan kemewahan tersendiri saat pergi berlibur, entah itu sendiri, berdua, atau bersama-sama.

Ngelangon, Wisata Sederhana Namun Mewah Ngelangon, Wisata Sederhana Namun Mewah Ngelangon, Wisata Sederhana Namun Mewah Ngelangon, Wisata Sederhana Namun Mewah

Semoga dengan apa yang Aku ceritakan bisa menginspirasi kita semua! See You.

 

Sisi Lain Dari Bandungan, Kota Dingin

Sisi Lain Dari Bandungan, Kota Dingin

Sisi Lain Dari Bandungan, Kota DinginSisi Lain Dari Bandungan, Kota Dingin

Hai Dears! Ketemu lagi, sebenarnya akau mau menulis ini tepat tanggal 1 Desember kemarin. Karena ingin menyambut bulan terakhir di tahun ini. Namun karena ada beberapa kegiatan aku jadi baru sempat menceritakan hal yang menyenangkan untuk menyambut bulan yang penuh pengharapan ini.

Jika beberapa waktu lalu aku berbicara tentang ‘tumpengan, di Bandungan.’ Kali ini aku mau bahas Bandungan lagi, namun berbeda. Mungkin hampir sebagian orang pernah berkunjung di tempat wisata yang ini, YUPS! Umbul Sido Mukti. Meskipun aku sudah hampir 4 tahun merantau di kota Semarang tapi jujur saja aku baru pertama kali pergi ke sana.

Sisi Lain Dari Bandungan, Kota Dingin Sisi Lain Dari Bandungan, Kota Dingin

Umbul Sido Mukti merupakan salah satu wisata yang rekomendasi banget buat temen-temen yang berlibur di kota lunpia. Di sini lagi-lagi aku pergi bersama Dicky, Adri, Yan, dan tak lupa Ammar yahh bagaimana kami satu tim, satu kantor, satu kampus dulunya, dan satu kesatuan lah :-). Bersama teman-teman dari Bratamedia dan Maragama akhirnya liburan akhir tahun ini kami adakan. Aku berangkat sekitar jam 07.40 dari kostan dan janjian sama Dicky untuk ketemu di Jatingaleh. He is the best partner that I have never met before ke-bapak-an Dicky emang mulai diasah sejak kenal sama aku wkwkwk.

Nah, lanjut setelah aku kami berdua bertemu. Aku dan Dicky pun langsung menuju Bandungan, Damn pas udah naik motor aku malah lupa gak pakek kaos kaki 🙁 everyone know gimana rasanya pakek sendal tanpa kaos kaki. Sebenarnya aku udah berusaha buat masang kaos kaki waktu di lampu merah tapi ternyata gagal, aku malah pakai kaos kaki sebelah. Gak tahu sih, gimana reaksi orang-orang pas tahu aku pakai kaos kaki Cuma sebelah. Apalagi aku sempet masuk Indomaret dengan tampilan kayak gitu,

well tapi intinya tetap percaya diri.

Akhirnya sekitar 1 jam perjalanan, kami berdua sampai di area Bandungan. Karena baru pertama kali masuk area Umbul Sido Mukti jadi awalnya aku dan Dicky bingung dimana letak kolam renangnya. Apalagi aku juga gak paham dengan sistem tiket masuknya. Jujur pertama kami dikenakan tarif 3.000 untuk satu motor. Kemudia jalan lurus lagi sekitar 10 atau 20 meter kami dikenakan 10.000 untuk dua orang. Karena gak paham jadi ngasih-ngasih aja, dan gak tahunya aku dan Dicky malah ‘keblabasan’ nyampek area Mawar Camp. Setelah nanya tukang parkir kami disuruh turun untuk sampai ke kolam renang. Sebenarnya aku tidak masalah dengan uang yang dikeluarkan namun setidaknya petugas tiket sebaiknya memberikan informasi terlebih dahulu. Karena jujur aja aku sangat bingung.

Nah, akhirnya kami berdua sampai ke Umbul, di sana sudah ada mas Agung dan Ammar. Oh ya, untuk harga tiket masuk dikenakan 15.000 (ini hanya untuk foto-foto dan main di kolam renang). Jika kalian mau mencoba permainan outbond ada tiket tersendiri. Sebenarnya aku pengen coba Flying Fox, tapi karena ada keperluan lain jadi kapan-kapan deh.

Next, aku harus naik itu ya untuk mendobrak rasa takutku lagi!!

Meskipun aku gak ikut renang bareng temen-temen yang lain, namun menurutku tempat ini juga cocok buat menikmati cuaca pegunungan. Hiruk pikuk kota besar memang terkadang membuat sakit kepala. Datang ke Umbul bisa jadi salah satu cara untuk rehat sebentar dari panasnya kota dan menumpuknya pekerjaan. di dekat kolam renang ada beberapa saung yang bisa dijadikan tempat menunggu dan menitipkan barang. Apalagi jika datangnya ramai-ramai kayak aku dan temen-temen. Sambil menikmati udara sejuk aku membaca beberapa lembar buku.

Tak lama teman yang lain pun ikut menyusul ada Yan dan Adri. Selanjutnya ada Mas Nanda, Mas Reza dan Mbak Yori. Nah buat kalian yang ke Umbul Sido Mukti tapi nggak renang atau main outbond mungkin bisa ngikutin cara aku.

  • Pertama di sini ada banyak spot foto, dan jangan tanya soal pemandangannya ya. Karena best lah! Nanti aku kasih beberapa spot foto yang menarik.
  • Kedua kamu bisa baca buku sambil ngemil, kalau kalian pakai saung kalian bisa tiduran sambil baca buku. Selain itu, kalian bisa baca buku sambil ngemil di beberapa tempat lain seperti taman lapangan, di sana disediakan meja kursi dan dekat ‘snack corner.’
  • Ketiga di taman lapangan disediain egrang buat dimainin pengunjung. Kalau ingin melestarikan permainan anak-anak tentu bermain egrang bisa dicoba.

Setelah puas main air, dan foto. Kami bersembilan memutuskan untuk mencari teman makan, sebenarnya di dekat kolam renang ada rumah makan lesehan dan harga yang ditawarkan cukup terjangkau apalagi ada paket menu yang disesuaikan dengan jumlah pengunjung.

Sisi Lain Dari Bandungan, Kota DinginNamun karena beberapa kendala akhirnya kami memutuskan untuk makan di Pemancingan dan Lesehan Suharno 3. Sebenarnya masih ada 1&2. Tapi, kayaknya 3 gak papa deh… karena kita gak mau ditigakan apaan sih gak jelas. Sumpah makan disini bener-bener rekomen ikan yang dimasak ukurannya besar-besar dan harganya terjangkau. Apalagi sambal terasinya pedes! (untuk bagian makan aku skip ya. Foto gak bisa dipost karena laper dan gak sempet fotoin menunya). Fasilitas teman makan ini juga bagus, karena ada mushola yang cukup luas. Jadi buat umat muslim jangan takut ada beberapa mukena juga yang disiapin.

Nah, itu dia sedikit cerita tentang liburan tipis-tipisku. Semoa bermanfaat bagi kalian ya Dears! Selamat menikmati bulan Desember! Semoga bulan ini kita dapat menutup tahun dengan baik, Aamiin. See you di cerita selanjutnya!

Sisi Lain Dari Bandungan, Kota Dingin Sisi Lain Dari Bandungan, Kota Dingin Sisi Lain Dari Bandungan, Kota Dingin Sisi Lain Dari Bandungan, Kota Dingin Sisi Lain Dari Bandungan, Kota Dingin Sisi Lain Dari Bandungan, Kota Dingin Sisi Lain Dari Bandungan, Kota Dingin

Kota Lama Boleh Lama, Tapi Tetap Nuansa Baru

Kota Lama Boleh Lama, Tapi Tetap Nuansa Baru

Kota Lama Boleh Lama, Tapi Tetap Nuansa Baru

Kota Lama Boleh Lama, Tapi Tetap Nuansa Baru

 

Semarang tepatnya 1 Oktober 2019 lalu, hari kesaktian pancasila. Entah niatan apa aku dan teman-temanku ingin mengunjungi salah satu ikonik kota Semarang. Mungkin kalian lebih familiar dengan monumen Tugu Muda, Lawang Sewu dan Masjid Agung Jawa Tengah. Bagaikan kota lainnya, Semarang juga memiliki kota yang penuh dengan sejarah kolonial Belanda. Kota Lama, mungkin bila dilihat sekilas daerah ini hampir mirip dengan kota tua yang ada di Jakarta.

Kotanya memang lama

Bangunan yang ada di wilayah ini memang terkesan kuno dan vintage, beberapa tahun lalu kota lama hanya diminati oleh segelintir warga semarang dan sekitarnya. Namun dalam dua tahun terakhir berkat pembangunan pemerintah kota lama di sulap menjadi kawasan wisata yang menyedot berbagai wisatawan.

Ada banyak spot foto menarik yang bisa dikunjungi, salah satu ikonik kota semarang juga berada di kawasan ini yaitu gereja blenduk. Aku tak tahu persis kapan gereja ini berdiri, namun kalian jangan khawatir karena di samping gereja ada taman kecil yang dihiasi dengan lampu-lampu warna-warni. Taman ini dinamai taman Sri Gunting, mungkin terdengar seperti nama spesies burung.

Bukan hanya spot wisata saja, di kawasan kota lama juga terdapat beberapa resto dan kafe yang bisa dikunjungi, antara lain Spiegel, Ikan Bakar Cianjur, Teko Deko, Istana Ice Cream, dan masih banyak lagi. Namun kali ini aku tidak akan membahas kuliner yang ada di kawasan kota lama Semarang.

Kebetulan hari itu adalah hari kerja, aku tepat pukul 17.15 WIB aku sudah sampai. Sambil menunggu ketiga temanku yang lain aku menikmati kota lama melalui kursi yang di sediakan Indomaret dengan sebotol air putih dan sebuah buku, aku menunggu dan mengamati orang-orang yang berlalu-lalang. Kondisi sore disini cukup bagus, sinar senja yang diperpadukan dengan arsitektur kolonial tentu saja akan memberikan kesan vintage banget dan mempercantik feed instagram.

45 menit berlalu, teman ku telah datang ya sebut saja Dicky namanya. Berbadan sixpack dan gagah perkasa (namun sekarang masih proses pembentukan). Sesuai janji dia mau menemaniku hunting foto di kawasan kota lama. Karena kedatangannya bertepatan dengan waktu magrib jadi sebelum memulai berfoto aku pergi ke mushola At-Taqwa yang jaraknya sekitar 150m dari taman Sri Gunting. Jika kalian ingin sholat di mushola ini sebenarany daerahnya aman sih menurut aku, tapi untuk mewaspadai saja ajak teman karena sepanjang jalan minim penerangan.

Namun rasanya baru

Seusai sholat aku pun mencari beberapa Spot foto yang menarik (menurutku). Menurutku jika kalian menyukai Street Fotografi di kawasan kota lama sangat cocok, hampir setiap jalan di beri lampu penerangan. Bisa dibilang ini perpaduan antara Malioboro Jogja dan Kota Tua Jakarta.

Oh ya kebetulan sekali selain hari kesaktian pancasila 1 Oktober diperingati sebagai hari kopi sedunia. Aku dan Dicki sangat beruntung bertemu beberapa barista kota Semarang dan sekitarnya, mereka membuka stand kecil dan menjajakan kopi secara gratis. Mereka juga menunjukan bagaimana proses membuat sebuah kopi, aku sempat bertanya-tanya sedikit mengenai kopi kepada mereka. Ya… sekedar mengakrabkan dirilah, menurut salah satu barista bernama Dimas “Kopi yang berkualitas tidak menimbulkan asam lambung. Justru kopi yang dikemas dalam sachet yang sering dibeli di toko-toko adalah kopi yang membuat asam lambung meningkat.” Setidaknya itu informasi yang aku dapatkan.Kota Lama Boleh Lama, Tapi Tetap Nuansa Baru-hari kopi sedunia Kota Lama Boleh Lama, Tapi Tetap Nuansa Baru-hari kopi sedunia

Jenis kopi yang mereka tawarkan pada kami adalah Arabica, setelah aku minum seteguk, Pahit! Memang beginilah nasibku sebagai orang yang bukan pecinta kopi, dalam tegukan berikutnya ada rasa asam dalam kopi ini.

Setelah mendapatkan Kopi kedua temanku yang lain menyusul kami, sebut mereka Adri dan Yan. Akhirnya kami berempat berjalan-jalan di kawasan Kota lama. Oh ya.. di depan Museum 3D ada bapak-bapak pemain biola, kalau kalian ke sini jangan lupa kasih uang ya. Sebab permainannya emang bagus dan setiap alunan biolanya sangat bisa untuk dinikmati.

Selain resto dan kafe, di dekat taman jika kalian masuk sedikit terdapat jajaran festival kuliner, untuk harganya sendir jelas lebih murah dibanding makan di restoran. Ditambah lagi saat itu ada event live musik. Daripada kalian semakin penasaran ada beberapa foto yang bisa aku tunjukan…

Kota Lama Boleh Lama, Tapi Tetap Nuansa Baru-hari kopi sedunia    Kota Lama Boleh Lama, Tapi Tetap Nuansa Baru-hari kopi seduniaKota Lama Boleh Lama, Tapi Tetap Nuansa Baru-hari kopi sedunia Kota Lama Boleh Lama, Tapi Tetap Nuansa Baru-hari kopi sedunia  Kota Lama Boleh Lama, Tapi Tetap Nuansa Baru-hari kopi sedunia  Kota Lama Boleh Lama, Tapi Tetap Nuansa Baru-hari kopi sedunia

Ini hanya sedikit foto, sebenarnya masih banyak foto tapi gak mungkin aku upload semua ahaha bisa jadi satu album nanti. Untuk kalian semua Dear tunggu apa lagi? penasaran langsung datang ke Kota Lama ya!

My First Solo Trip In Jogja, Part 3 : Sederhana Tapi Penuh Kesan

My First Solo Trip In Jogja, Part 3 : Sederhana Tapi Penuh Kesan

My First Solo Trip In Jogja, Part 3 : Sederhana Tapi Penuh KesanMy First Solo Trip In Jogja, Part 3 : Sederhana Tapi Penuh Kesan

Hai Dears! Ketemu lagi. Aku ingin melanjutkan cerita trip ke Jogjaku kemarin, sebelum mulai jalan-jalan Gia ngajak aku buat sarapan pagi. Nggak di Semarang nggak di Jogja, Bubur ayam tetap juara. Kalian jangan tanya ya apa perbedaan bubur ayam satu kota dengan kota lainnya karena aku sendiri juga nggak ngerti.

Started Again

Setelah kenyang dan mengumpulkan tenaga untuk jalan-jalan lagi Gia mengantarku ke halte bus UMY. Setelah 3 kali naik bus trans Jogja sepertinya aku mulai paham gimana jalur transitnya. Hari minggu ini aku berencana untuk mengunjungi taman sari. Beberapa kali ke Jogja tapi aku tak pernah datang mengunjungi wisata itu.

Rute Trans Jogja di Halte Kampus UMYDari halte bus UMY aku transit ke halte gamping, di sana aku naik bus (nomer busnya sendiri aku lupa berapa). Oh ya selalu ingat setiap kali menuju suatu tempat tanya sama petugasnya ya! Malu bertanya sesat di jalan. Dari Gamping aku turun di halte point satu. Kalo untuk ke taman sari aku cukup jalan sekitar 800 meter. Kedengerannya jauh ya? Tapi kalo dilakuin ternyata enggak kok. Justru dengan jalan kaki kita akan jauh lebih detail mengamati sekitar, oh ya karena Jogja termasuk kota jangan lupa pakai masker wajah! Biar wajah kita nggak terpapar langsung sama polusi dan sinar matahari. Selama jalan aku lewat kawasan desa wisata Kadipaten. Jujur sepanjang jalan ini rasanya nuansa Jogja terasa banget. Oh ya kalau kalian mau backpacker usahain isi ransel jangan terlalu berat.

Ketika tempat yang dinginkan tidak sesuai dengan keinginan

Tapi, makin deket sama taman sari. Rasanya suasananya semakin ramai.. jujur buat jalan aja harus mepet banget. Akhirnya aku putuskan membatalkan niatku untuk pergi taman sari. Sebelum nyampe lokasi taman sari aku mampir ke sebuah masjid. Aku berhenti sejenak di sana sambil berpikir tempat penggantin taman sari. Oh ya selama di Jogja aku selalu cek google maps, ini perlu loh. Karena dengan google maps aku bisa perhitungkan jarak yang aku tempuh. Kalau semisal aku deket aku bakal jalan, kalau jauh aku cek rute perjalanan bisa pakai gojek atau bus.

Google MapsSetelah aku cek google maps, ternyata lokasi masjid deket banget sama alun-alun kidul. Cukup jalan kaki 5 menit aku udah sampai ke alun-alun. Jujur daripada ke taman sari, aku malah lebih suka jalan-jalan seperti ini. Selain karena banyak hal yang aku amati, aku juga lebih sering berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Aku nggak merasa malu dengan kondisiku saat itu, meskipun terlihat kucel dengan tas membawa tas ransel.

Aku menikmati alun-alun menarik napas sebentar, rasanya capet juga harus jalan kaki hampir 1 km. di bawah pohon, aku mengamati suasana kota Jogja. Hari itu cukup panas sebenarnya, tapi kalau duduk di bawah pohon panasya nggak kerasa. Mungkin sangat tepat aku memilih ke tempat ini dibandingkan taman sari. Suasana taman sari kalau hari minggu begitu berisik, dan aku tidak bisa mengamati banyak hal. Aku berjalan menuju pohon beringin di tengah alun-alun. Beberapa wisatawan seperti aku mencoba peruntungan melewati bringin dengan mata tertutup. Aku sebenarnya tertarik untuk  melakukan hal yang sama, namun karena aku solo trip rasanya akan berbahaya. Akhirnya aku duduk di bawah pohon beringin sambil menatapi apa saja yang ada di depanku.

Menulis di bawah pohon rindang ternyata memberikan efek yang luar biasa. Mungkin orang lain yang melihatkan akan merasa sangat aneh. Seorang gadis yang berjiwa melankolis, duduk sendirian bagai tak memiliki teman. Menikmati rindangnya pohon beringin dalam beberapa menit sepertinya membuatku sangat puas.My First Solo Trip In Jogja, Part 3 : Sederhana Tapi Penuh Kesan

Oh ya kalau kalian ke alun-alun kidul jangan takut kelaperan, disini ada beberapa gerobak kaki lima yang mangkal di trotoar. Sehabis dari pohon beringin aku lalu menepi ke pinggir jalan dan menghampiri bapak penjual bakwan malang. Haduh jalan-jalan ke Jogja tapi makannya bakwan Malang 🙁 hehe gimana ya aku tuh pemilih banget sama makanan. Btw bakwan Malang bapaknya murah loh Cuma 6 ribu rupiah. Lumayan buat ngangetin perut sebelum naik bus.

Pesan dariku

Dears, mungkin perjalananku hari ini cuma singkat, tapi buatku berjalan sendirian menikmati indahnya kota Jogja adalah hal yang lebih berharga. Terlebih setelah aku berhasil mendobrak ketakutanku sendiri. Entah mengapa setelah melakukan solo trip pertama ini, keberanianku untuk melakukan trip selanjut muncul. Meskipun tak banyak waktu dan tempat yang aku datangi di Jogja.. tapi aku benar bersyukur. Dengan kesempatan yang diberikan Allah SWT. Karena seiring berjalannya waktu betapa pentingnya memaknai sebuah momen.

Aku sungguh sangat bersyukur bertemu dengan orang baru, meskipun hanya sekedar menanyakan tempat. Jogja memang kota istimewa, yang selalu membuatku ingin kembali. Jogja juga mendatangkan cinta, khususnya untuk diriku sendiri.

Sedikit foto amatir dariku untuk kalian!!

My First Solo Trip In Jogja, Part 3 : Sederhana Tapi Penuh Kesan       My First Solo Trip In Jogja, Part 3 : Sederhana Tapi Penuh Kesan

My First Solo Trip In Jogja, Part 3 : Sederhana Tapi Penuh Kesan       My First Solo Trip In Jogja, Part 3 : Sederhana Tapi Penuh Kesan

My First Solo Trip In Jogja, Part 3 : Sederhana Tapi Penuh Kesan      My First Solo Trip In Jogja, Part 3 : Sederhana Tapi Penuh Kesan

My First Solo Trip In Jogja, Part 2! Perjalanan Mencari Ilham

My First Solo Trip In Jogja, Part 2! Perjalanan Mencari Ilham

My First Solo Trip In Jogja, Part 2! Perjalanan Mencari Ilham

Setelah pemikiran itu menyadarkan aku! Akhirnya aku berpindah dari stasiun ke halte bus dekat sana. Oh ya di Semarang ada 2 jenis bus yaitu bus trans Semarang dan bus Trans Jateng. Berhubung aku males terlalu banyak transit jadi aku putusin buat naik bus Trans Jateng. Kondisi dalam bus saat itu gak terlalu ramai, untuk harga tiketnya murah kok Cuma 4k doang Dears. Tapi aku saranin kalau kalian naik bus trans di kota kalian usahain bayar pake uang pas ya! Jangan kek aku kemarin 🙁 karena aku gak punya uang kecil jadinya ada ibu-ibu yang baik banget ngasih aku uang 2 ribu buat bayar tiketnya. Karena kebetulan di kantong aku Cuma ada receh 2 ribu aja. Apalagi itu masih pagi, jadi gak mungkin petugasnya punya uang kembalian banyak.

Terima kasih ibu kamu baik sekali :’ jujur aja, padahal waktu itu ada beberapa orang di dalam  bus. Dari semua orang di sana Cuma ibu itu yang relain uang 2 ribu rupiah buat bayarin aku. Sorry ya aku fotoinnya gak bagus :’

Dari informasi yang aku dapet dari temenku, aku disuruh buat turun di terminal sukun Banyumanik. Ini bisa buat catatan temen-temen juga yang mau coba trip, sebenarnya bisa kalau kalian mau turun di terminal Bawen. Tapi terkadang bisa aja kalian nggak dapet tempat duduk. Jadi biar aman turun di terminal sukun aja. Kalian jangan takut kalau semisal naik bus gitu. Karena setiap bus ada kernet yang bisa ditanyain jurusan kota yang di tuju. Atau kalau bisa lihat dari kaca depan bus nama kota yang tertulis.

Langkah buat trip ke Jogja

Gak perlu waktu lama buat nunggu, karena ada bus jurusan Jogja udah ada yang nge-time. Kalau nggak salah aku naik armada bus “Abimayu”. Untuk harga tiketnya sekitar 40k, tapi kalau boleh jujur aku kurang nyaman selama perjalanan ini. Selain karena tempat dudukku gak di sebelah jendela. Kursi yang aku duduki juga terlalu ke belakang dan gak bisa diatur sesuai posisi yang aku inginkan. Jujur selama perjalanan rasanya kepalaku pusing leher juga pegel. Aku pikir aku bakal mabuk pas itu, tapi malu sih kalau mabuk dan bikin orang lain keganggu.

Akhirnya selama kurang lebih 3 jam perjalanan aku tiba di kota Jogja! Tepatnya depan terminal Jombor. Jujur abis turun dari bus kaki langsung lemes, dan perutku sakit rasanya mau mual gitu L untung aja gak jadi mual. Oh ya selama 2 hari 1 malam di Jogja aku nginep di kostan temenku anak UMY daerah Gamping Namanya Virgia! Thanks Gia udah mau menampungku.

Dari terminal aku putusin buat naik Grabbike ke UMY, jarak antara terminal dan UMY sekitar 4 – 5 Km. setelah ketemu Gia dan aku diajak ke kostannya. Aku istirahat sebentar di kamar kostnya lumayan bisa nge-charges sambil tiduran.

Jalan-jalan pertamaku

Jujur aku sendiri bingung enaknya mau pergi kemana? Aku coba cari tempat wisata yang dekat dari kostan. Setelah cari-cari akhirnya aku pilih buat pergi ke Pasar Beringharjo ya kompleks jalan Malioboro (itu lagee….) ya gimana dong abis aku bingung L tepat jam 4 sore aku putusin keluar dari kostan, dari kostan aku jalan sekitar 15 menit ke halte Bis trans Jogja. Oh ya kalian jangan takut sama rute perjalanannya, karena di setiap halte besar ada peta. Selain itu di dalam bus juga ada petugas yang ramah yang bakal ngasih tahu jalan dan halte mana aja buat transit.

taman pintarAkhirnya aku turun di halte taman pintar. Berhubung hari libur dan ada upacara penurunan bendera juga, jadi suasana lokasi 0 Km Jogja lagi ramai-ramainya.

Oh ya selama disini aku jalan terus aku, jujur niat awal aku mau jajan makanan gitu biar kek Food Vlogger. Eh tapi, jujur aku itu orang yang pemilih buat makan apalagi kalo sendirian. Meskipun udah laper tapi aku masih kuat nahan laper nyampek 2 jam kalau emang aku gak nemuin.

Sebenarnya aku berniat buat jalan-jalan semata, buat kalian yang wifi-hunter di halaman taman Pintar ada akses wifi gratis, lumayan lah buat Dears yang mau main game online atau streaming.  Lanjut aku berjalan-jalan menyelusuri jalan Malioboro. Padahal niat awal pengen ke pasar Beringharjo tapi malah gak mampir hehehe… ya maklum aku takut khilaf :’.

gelang malioboroBerhubung aku suka dengan kerajinan gelang, jadi aku sempetin buat beli disini. harganya murah loh, cukup dengan 10k kita bisa dapet 5 sampai 6 buah gelang. Kalau kalian mau jalan-jalan ke sini usahain hindari weekend. Karena jujur aja aku nyampe susah banget nyari tempat duduk. Kadang harus cepetan sama pengunjung yang lain. Oh ya aku saranin kalau kalian mau jalan-jalan ke sini bawa koyo atau balsam otot ya, karena jujur panjang banget. Apalagi jarak antara 0 km sama tugu muda sangat jauh buat kamu yang mau jalan kaki.

Kejadian yang kurang menyenangkan!!

Karena aku naik bus trans jadi aku harus selalu siaga tengok jam. Aku gak boleh malem-malem. Sebenarnya aku udah laper, dan belum nemu makanan buat dimakan. Oh ya aku saranin kalian juga bawa minum ya! Karena kalian bisa dehidrasi saking lamanya jalan, jangan kaget juga kalo harga botol mineral di sini harganya 5k. karena tempat wisata jadi harganya lebih maha dari biasanya.

Karena udah capek dan gak tahu lagi mau ngapain aku putusin buat pulang ke kost

“Mbak ke UMY bisa?”

“Maaf mbak mala mini jalan keraton ditutup coba ke halte (aku lupa namanya)”

Mendengar itu aku langsung jalan lagi dan cari halte berikutnya. Akhirnya aku ketemu halte yang bisa ke UMY meskipun harus transit dulu. Sebelum pulang aku akhirnya beli sate ayam. Aku belinya di sate di dekat halte, oh ya jangan lupa selalu tanyakan tujuan kalian ke petugas halte ya tentang rute perjalanan dan jam terakhir bus beroperasi. Karena takut kehabisan bus aku putusin buat bungkus sate ayamnya.

Sambil nunggu sate aku jadi, aku duduk deh di bangku ya kosong. Sempet sih sebelahku ada mbak-mbak. Sebelum duduk tanyain dulu ya orang itu mau bagi tempat duduk atau nggak. Akhinya aku bisa duduk sambil nungguin sate, kemudian mbak-mbak sebelah aku pamit dan diganti sama mas-mas. Ya aku sih gak mikir aneh-aneh. Karena gak mungkin ada orang yang mau nyakitin aku saat rame kayak gitu.

Dan yang aku sebel  dari mas-mas itu adalah yang tiba-tiba duduk deket banget sama aku LALU mereka ngerokok dan asepnya itu loh mengarah ke aku semua. Jujur meskipun tempat umum ya kira-kira kalau ngerokok sama siapa orang baru kenal juga. Apalagi temen-temennya godain cowok yang persis di sebelah aku, jujur rasanya ilfeel banget sumpah! Akhirnya aku putusin buat pindah dan mendekat ke ibu yang jual sate. Akhirnya sate aku udah dibungkus dan aku bisa segera pulang.

Next akhirnya aku dapet bus trans buat pulang. Karena aku naik dari jalan Malioboro, kondisi bus saat itu cukup rame. Selama di dalam bus gak ada pemisah tempat duduk antara cewek dan cowok. Jujur selama di dalam bus aku juga jengkel sama cowok yang gak peka sama cewek kek aku gini.

Dari pintu masuk sebenarnya aku udah lihat kalo ada bangku kosong gitu, eh ternyata aku keduluan sama mas-mas lagi. Ya emang bukan salahnya sih buat duduk disana, apalagi pas masuk bus posisiku ada di belakangnya. Padahal mas-mas itu termasuk masih muda, jujur aku capek dan pegel banget. Ya gimana gak pegel jalan kaki dari 0 Km – tugu muda – halte Malioboro.

Gila!! itu pasti sekitar 5 km, aku berharap bisa duduk. Awalnya aku ngasih kode dengan ngangkat kaki satu bergantian dan masang wajah melas tapi ternyata gak berhasil. Mas-masnya malah asik ngobrol sama mbak-mbak di sebelahnya, tambah jengkel dong aku sebagai single fighter. Karena masnya gak peka-peka akhirnya ada ibu-ibu yang usianya separuh banya ngasih tempat duduknya buat aku J terharu kenapa ibu-ibu baik hati semua ya?

Aku sangat berterima kasih sama ibu-ibu yang ngasih tempat duduknya buat aku karena dia bilang bentar lagi mau turun. Tapi baru 5 menit aku duduk petugas bus bilang “Ngabean yang mau transit Gamping, bla…, bla..”

Akhirnya aku berdiri lagi dan ngasih tempat duduk itu ke ibu tadi, terima kasih ya bu 5 menit yang berharga. Aku harap karena jalan jauh aku gak bau ketek jadi nggak bikin ibu-ibu atau siapapun terganggu. Akhirnya setelah berhasil dari Ngabean aku naik bus ke Gamping dan turun di UMY. Dalam hati bilang “Akhirnya istirahat juga…” 🙂

 

My First Solo Trip In Jogja, Part 1 : Terancam Batal!!!

My First Solo Trip In Jogja, Part 1 : Terancam Batal!!!

My First Solo Trip In Jogja, Part 1 : Terancam Batal!!!

My First Solo Trip In Jogja, Part 1 : Terancam Batal!!!

Hallo Dears, Alhamdulillah aku bisa berbagi cerita lagi. Hari ini aku ingin bercerita tentang single trip pertamaku di Jogja (Helehh Jogja biasa..) iya tahu biasa. Sebelumnya aku juga udah beberapa kali ke Jogja, tapi itu selalu dengan gerombolan teman-temanku. Sebenarnya sedari SMA kelas 3 aku sangat menyukai cerita-cerita backpacker gitu. Namun hal itu belum pernah aku lakukan sebelumnya, jujur aku sendiri masih takut. Nanti kalo kesasar gimana? Kalo diapa-apain orang emang kamu bisa ngelawan? Dan masih banyak lagi pemikiran negatif aku. Bukan Cuma aku sebenarnya tapi juga setiap temen-temenku yang ku mintai pendapat soal Solo trip juga bilang Jangan!!!

Ya memang susah bagi sebagian wanita buat mencoba hal yang diluar dari biasanya. Meskipun sudah banyak cewek yang pergi kemana pun sendirian, tapi bagi aku dan lingkunganku ini belum tentu bisa dilakukan. Aku sadar jika ketakutan itu berasal dari dalam diri bahkan aku pernah baca setiap hal yang kita pikirkan 95% tidak akan terjadi. Meskipun begitu kita tetap harus waspada dengan segala kemungkinan hal buruk yang terjadi.

Langkah petama Solo tripku

Hingga akhirnya aku sadar waktu liburan 17an kemarin kayaknya ini udah saatnya deh Dears! Jujur libur 2 hari di kostan aku bingung mau apa? Nulis? Tiduran? Makan? Streaming? Semua itu udah aku lakuin setiap hari. Sebagian hatiku sadar sebagai seorang penulis daya imajinasiku harus bertambah, khususnya bagimana aku mensetting sebuah cerita. Hingga malam sebelum hari sabtu aku putusin buat pergi liburan dengan budget yang minim. Memang sih tanpa planning apapun namun setidaknya aku harus berani melakukan ini sendirian.

Hal pertama yang aku lakukan adalah menentukan destinasi tempat, jujur awalnya aku sedikit bingung memiih Jogja atau Solo? Kenapa aku memilih dua kota itu, ini sedikit tips buat kamu Dears yang pertama kali mau solo trip kek aku kemarin. Usahakan memilih tempat yang pernah kalian kunjungi sebelumnya, kalau baru pertama aku saranin jangan coba tempat baru ya!

Langkah kedua yang aku siapkan adalah Budget! Ini penting khususnya buat Dears yang nasibnya masih ngekost dan gajiannya 1 bulan sekali kek aku. Perhitungkan baik-baik semua pengeluaran yang akan dipakai selama trip mulai dari akomodasi, penginapan, konsumsi, tiket wisata dan hal kecil seperti P3K. oh ya waktu kemarin aku nyiapin uang sebesar 200k buat trip 2 hari 1 malam ke Jogja.

Sebenarnya untuk perjalanan Semarang-Jogja ada dua pilihan angkutan umum yakni Bis atau kereta. Untuk bis biaya yang harus dikeluarkan berkisar 40 sampai 50 ribu rupiah. Tapi aku haru pergi dulu ke terminal Sukun dengan naik bis transJateng, tarifnya sendiri berkisar 4 ribu.

Selain bis kamu juga bisa naik kereta, bisa dipilih dari Semarang Jogja langsung atau  dari Semarang turun Solo dan dilanjut naik kereta dari Solo ke Jogja. Kalau mau hemat aku saranin buat pilih saran kedua, karena harga tiketnya 10k untuk Semarang-Solo. Tapi ada beberapa catatan yaitu jam keberangkatan kereta ke Solo Cuma ada jam 9 dan jam 3 sore. Jadi usahain waktu liburan kamu gak jadi berantakan.

Solo Trip ku terancam batal!

Sedikit cerita tentang keberangkatanku, Dears. Tepat pukul 7:45 pagi aku keluar dari kostan, niat awal aku berangkat ke Jogja pakek kereta. Ya, gimana pikir-pikir budget 50k dah bisa buat PP jadi kenapa nggak? Tepat pukul 08:00 aku udah sampai di stasiun Tawang, dalam hatiku “Akhirnya bisa liburan…” sebenarnya itu pertama kali aku pesen tiket langsung ke Tawang (biasanya aku naik dari stasiun Poncol). Sesampainya di loket aku bilang sama petugasnya. “Mas tiket ke Purowsari Solo.”

“HABIS MBAK”

Jujur kaget banget karena kedatanganku masih 1 jam sebelum jadwal keberangkatan.

“Disini kan  abis kalo di Poncol masih ada tahu gimana?” usahaku untuk menego tiket kereta

“Habis juga mbak” jawab peugasnya lagi. Mungkin dalam hati tuh petugas jengkel sama aku :’

Dalam sepersekian detik, hatiku rasanya sedih banget. Jujur semaleman aku mikirin betapa serunya nanti aku melancong sendirian ke Jogja. Aku coba hubungi temen aku yang ada di jogja, tapi dia masih tidur keknya. Aku juga coba telpon temenku yang lain, aku tanya soal bisa Semarang-Jogja. Jujur sih aku sempat ingin membatalkannya karena ya budget 50k buat PP bisa berubah 100k kalau aku naik bis. Waktu di Tawang aku masih kek orang kebingungan gitu. Mondar-mandir gak jelas, namun seketika aku berpikir.

Dan keputusanku akhirnya

Ini adalah kesempatan, kalau semisal karena biaya aku jadi membatalkannya selamanya aku gak bisa melakukan ini. Aku harus berani untuk mengambil langkah awal, meskipun harus rugi karena pengeluaranku melebihi rencana. Tapi aku yakin aku akan jauh lebih menyesal jika hari ini ku putuskan pulang kembali ke kostan.

Benar kata Ria SW, jangan biarkan jarak dan uang menjadi penghalangmu untuk melangkah. Karena jarak jauh bisa ditempuh dengan ojek online dan uang bisa dicari lagi kalau nggak lemburan ya… ngutang hehehe becanda ini.

Pengalaman dan waktu adalah hal yang berharga kalau sekali kita ngelewatin maka selamanya hal itu gak akan berulang.