Melankolonia

Melankoloni

Melankoloni

Melankolonia

“Jangan pernah merasa segan denganku”

Aku tertawa, sangat keras. Sampai semua orang yang ada di kiri dan kanan memperhatikan.

“Sebaiknya jangan katakan hal itu pada wanita yang kurang ajar sepertiku.”

Kamu menegup teh mu dengan sangat sopan dan elegan. Sejujurnya dari semua hal yang ku lihat sekarang, kamu selayaknya pria lembut yang sudah lama ku idamkan.

“Aku tak pernah menganggapmu kurang ajar.”

“Hah… Banyak teman wanitaku bahkan Ayahku mengatakan jika aku terlalu kurang ajar. Bahkan tak tahu malu kepada siapapun.”

“Apa yang membuat orang-orang menganggapmu kurang ajar?”

Aku berpikir sejenak, ku palingkan wajahku ke langit-langit kafe kecil ini. Kemudian aku tersadar dengan posisi dudukku yang berbeda denganmu. Kamu tampak sangat sopan menyilangkan kedua kaki dan menaruh tanganmu pada ujung lutut, dengan jemari yang saring mengikat. Sedangkan aku? Mengangkat kedua kaki dan meluruskannya sampai memenuhi sofa.

“Seperti yang kau lihat, aku tak bersikap elegan. Aku wanita dengan suara yang menyakitkan telinga orang-orang. Bukan hanya itu saja, mereka bilang Aku sangat membangkang dan sering melawan mereka.”

“Tapi dimataku kamu hidup dengan pendirian kuat. Sayangnya temanmu, Ayahmu, dan siapapun yang ada di sekitarmu menolak itu.”

“Omong kosong…”

“Aku sudah banyak sekali bertemu orang. Sampai akhirnya aku hafal dengan karakter-karakter manusia.”
“Jadi kamu mau sombong sebagai penulis kondang di tingkat Nasional?”

Giliranmu yang tertawa terbahak-bahak. Meja kita kini menjadi sorotan khalayak umum.

“Aku punya kemampuan untuk membedakan mana pecundang, mana pembangkang, dan mana pejuang.”

Kita tertawa bersama, suasana kafe kecil ini menjadi sangat ramai karena ulah kita berdua. Sekian lama tak bertemu denganmu aku menjadi banyak belajar. Tapi sayangnya obrolan kita harus terhenti sejenak. Orang-orang mulai terganggu dengan suara tawamu dan tawaku.

Kita memutuskan untuk keluar sejenak menikmati hiruk pikuk kota yang padat dengan mengandalkan kaki sendiri. Tanganku mendekap ke depan tepat di bawah dada, sedangkan tanganmu bergelantung bergerak sejalan dengan langkah kaki.

“Kapan terakhir kali kita seperti ini?”

“Saat kita kelas XII SMA.”

Aku masih ingat jelas. Pulang sekolah adalah momen yang menyenangkan untuk aku dan kamu. Saat yang lain memilih berboncengan dengan sepeda motor yang mahal. Kita justru berjalan berdua, dan beriringan namun tak perpegangan tangan sama persis dengan saat ini. Kenangan itu masih melekat jelas.

“Kamu tidak pernah berubah, sedikit pun. Seorang pria pemalu, dengan gaya yang elegan dan sangat sopan. Yah.. setidaknya itulah penilaian gadis urakan sepertiku ini.”

“Kamu juga, saat orang lain memanggilku banci.”

Kita terus berjalan hingga akhirnya di depan ada sebuah taman lengkap dengan tempat duduk yang bisa dikita singgahi berdua. Taman tengah kota di siang hari memang sangat sepi, maklum saja sejuknya pohon yang rindang kalah dengan polusi udara dan sinar matahari yang menyengat.

“Kamu tahu aku tak pernah memiliki kenangan indah di kota ini, karena ucapan mereka.”

Aku mendengarkanmu dengan seksama. Ya, kamu mengulang lagi kisah sedih di masa kecil dan remajamu. Padahal kamu harus tahu, meskipun 5 tahun kita tak bertemu. Aku masih ingat jelas ceritanya. Ejekan banci yang paling kamu benci, dijadikan kacung teman-teman laki-laki, bahkan jadi korban kekerasan fisik dan finansial. Kamu dikalahkan oleh orang yang superpower. Hingga datanglah aku, gadis berandalan yang tak pernah taat dengan aturan.

“Kamu harus bersyukur. Jika bukan karena hal buruk itu, kamu tak akan punya cerita indah yang bisa dijadikan buku.”

“Iya, aku tahu. Tapi bukan berarti cerita burukku sebagai bahan konsumsi. Aku hanya merepresentasikan perasaanku dan balas dendamku kala itu dengan cara yang amat sangat positif.”

“Tapi kamu juga harus bersyukur. Jika bukan karena aku, tak akan ada rasa berani dalam dirimu bukan?” Ucapku yang sedikit menyombongkan diri.

Kamu tertawa dan mengiyakan. Bahkan dia bilang, suatu hari dia akan menulis satu buku khusus yang nantinya akan ditujukan padaku. Ia ingin memprasastikan diriku secara abadi.

“Kenapa harus aku? Sedangkan di sekitarmu sekarang banyak orang hebat yang lebih menjual untuk dijadikan sebuah karya fiksi.”

“Kamu tak pernah kalah hebat dimataku.”

“Iya kamu benar, aku adalah orang yang sangat bisa menyombongkan diri.”

“Iya, dari dulu. Coba sebutkan lagi, apa saja yang bisa kamu sombongkan kali ini.”

Aku melihat langit lagi, tapi berbeda dengan langit-langi di kafe tadi. Yang ku lihat sekarang jauh lebih biru, jauh lebih panas, jauh lebih cerah, dan jauh lebih baik. Entah kenapa langit ini seakan berbisik lelucon ke telingaku, padahal lelucon itu mungkin suara dari hati.

“Aku pintar, Aku jauh lebih bebas, Aku punya sedikit teman namun mereka sangat sangat mengenalku dengan baik, karena Aku seperti langit biru sore ini.”

Aku terdiam, ku amati langit itu dengan pelan dan seksama. Ya sepertinya aku melihat refleksi wajahku di sana. Aku melihatnya dengan jelas, hidung dan mataku tergambar di awan yang sangat tipis.

“Iya langit biru sekarang. Meskipun nanti akan ada mendung atau berubah menjadi petang, itu hanyalah perubahan. Karena Aku tetaplah langit biru yang cerah. Yang luas, dan tinggi.”

Kamu tak merespon apapun, akhirnya suasana kita menjadi hening. Sangat jauh berbeda dari sebelumnya.

“Aku mencintaimu, sejak dulu. Sejak SMA, dan masih mencintaimu sampai sekarang.”

Aku merasa terkejut. Tapi tidak terlalu, masih pada umumnya.

“Aku mencintaimu, sungguh.”

Kamu mengulanginya, tapi aku tidak merespon apa-apa. Bahkan aku memandangmu, saat kamu ucapkan kalimat itu kedua kali.

“Harus berapa kali ku katakan, sampai kamu menganggap ucapanku itu serius?”

Aku tak tahu pasti. Sebelumnya kamu memang sudah mengatakan ini. Saat lulus SMA, semester kedua kuliah, saat aku wisuda, dan sekarang.

“Apa alasanmu tidak pernah berhenti mencintaiku?”

“Karena sayangku hanya kamu. Seluruh hatiku telah kamu bawa, aku memang tak menyediakan tempat lain lagi. Hatiku sudah penuh dengan dirimu. Namamu, senyummu, sedihmu, lukamu, dan mimpimu.”

“Kamu tahu, aku adalah orang yang sangat sombong sekali. Bahkan aku bisa menjadi orang yang 3x lipat lebih sombong darimu. Meskipun yang ku miliki hanya sepasang kaus kaki.”

“Aku tahu, kamu adalah orang yang sangat meninggi. Makanya kamu selalu melihat langit dimana pun kita bersama. Tapi itu bukan alasanku untuk berhenti mencintaimu. Saat kamu meninggikan diri, maka aku ikhlas akan merendahkan hatiku. Biarlah kamu jadi langit di setiap pagi hingga dini hari.”

Kali ini aku memandang wajahmu. Ku perhatikan baik-baik gerak bibirmu yang tipis untuk ukuran seorang pria.

“Namun, aku akan tetap menjadi tanah yang bisa terus melihatmu meskipun berjarak jauh.”

“Aku tak mau menjadi orang yang superpower dalam hidupmu. Berpasangan denganku sepertinya bukan solusi yang tepat untukmu.”

“Aku tahu, kamu punya banyak alasan. Dan yang kamu katakan tadi adalah alasan lama yang sudah kamu sampaikan di waktu awal aku menyatakan ini.”

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Aku tak bisa menjamin apapun, aku hanya mampu mendampingi dan mengajakmu ke sana kemari.”

“Tapi bagaimana jika citramu sebagai penulis yang paling melankolis di negeri ini, dirusak oleh seorang wanita yang anarkis seperti aku ini?”

“Itu mudah, aku tinggal merendahkan diriku. Mungkin yang kamu sebut penulis terkenal itu adalah kata yang sangat tinggi. Aku sudah merasa cukup bila denganmu.”

Aku masih berpikir lagi. Jika tadi terus ku dongakkan kepalaku ke atas, kini aku justru menunduk, dan melihat kaki kita berdua.

“Mari kita merendahkan hati, dan saling membuka diri.” Kamu mendongakkan kepalaku lagi. Memintaku untuk menatapmu.

“Jangan pernah memintaku untuk menetap meskipun itu sekali saja. Karena bagiku permintaan itu akan berlaku selamanya.”

Kamu tersenyum.

“Tetaplah tinggal denganku, kali ini dan selamanya sampai nanti.”

Mungkin tak ada kisah yang menarik di antara kita berdua. Maklum saja, ini hanya sekilas cerita sederhana yang tak layak untuk dikonsumsi orang-orang. Bagiku kamu tetaplah penulis kondang meskipun setelah kamu umumkan hubungan kita. Banyak pihak baik dari fans maupun menejemenmu yang berantakan dan tidak terima, dan sekarang biarlah kisah kita berdua yang diabadikan cukup di hati, tak perlu media lain lagi.

Bandara Kala Itu

Bandara Kala Itu

Bandara Kala Itu

Semuanya terjadi dengan baik-baik saja dan sesuai rencanaku. Hingga suatu pagi kabar buruk datang dan menghancurkan semua. Aku tak pernah menyangka jika nanti, bahkan suatu hari entah sekarang atau ratusan tahun lagi kamu seperti ini. Sebuah kabar buruk tentang kecelakaan pesawat pukul 01.29 Jakarta.

Bandara Kala Itu

Sumber photo : Photo by Ross Parmly on Unsplash

Rasanya baru semalam aku melepas pelukmu di bandara. Rasa hangatnya bahkan masih terasa hingga lekat bagaikan selimut sutra. Aku masih tak percaya sungguh…

“Yang sabar ya, kami belum tahu kondisinya. Kita doakan yang terbaik.” Ucap orangtuamu padaku, sesaat ku dengar kabar hilangnya pesawatmu. Tanpa pikir panjang aku melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumahmu. Di sana sama kacau balaunya. Ibu menangis keras, kakakmu juga, bahkan Ayahmu yang punya watak keras. Semuanya bersedih tak tahu bagaimana kondisimu saat itu. Aku bingung, dibandingkan Aku mungkin ibumu lah yang paling hancur. Tapi justru Ibumu yang sangat menguatkan ku pagi ini.

“Maafkan Aku tante..”

Tak ada kata lain yang bisa ku sampaikan selain maaf. Aku sangat menyesal, dan membenci diriku. Tepat satu minggu lalu, sebelum akhirnya kamu putuskan untuk pergi ke Bandara.

“Aku belum siap buat LDR sama kamu.” Tegasmu, ya kala itu kamu masih bucin-bucinnya.

“Heii, kamu ke Malaysia kan buat belajar bukan untuk apa-apa. Lagian LDR juga bukan masalah besar buat kita. Asal kita saling percaya.” Kalimatku yang berusaha menenangkanmu

“Tapi, Ka…”

“Don, kamu punya beasiswa untuk kuliah gratis di luar negeri karena pencapaian-pencapaianmu selama ini. Kira-kira mana lagi cewek mana yang merasa dirinya nggak beruntung bisa mendampingimu?”

“Tapi…”

“Udah jangan tapi, tapi. Pergilah dan kita akan tetap sayang dan saling percaya.”

Inilah salahku. Mengizinkanmu untuk pergi jauh, bahkan sekarang sangat jauh. Sangat, dan sangat jauh, tak ada lagi kesempatan untuk menemuimu.

Satu hari setelah kabar itu, aku seharian di rumahmu mandi, makan, bahkan tidur di kamarmu. Ibumu sangat baik, dia selalu menganggapku seperti anaknya sendiri, iya seperti kamu hanya bukan versi laki-laki.

Satu minggu berlalu, Aku sempatkan untuk mengunjungimu setiap malam. Orangtuaku mulai khawatir karena aku tak kunjung pulang ke rumah selepas acara tahlil. Hampir setiap malam Ayah dan Ibuku menemaniku berkunjung ke rumahmu.

Satu bulan, Aku masih mengunjungi rumahmu. Setidaknya seminggu sekali. Keluargamu memang belum mendapatkan kabar baik, apapun yang melekat dalam dirimu, pakaianmu, barang-barangmu, bahkan kacamatamu tak ditemukan oleh Tim SAR. Keluargamu berpasrah mereka bilang ini musibah dari Tuhan. Perlahan mereka akan belajar ikhlas, dan memintaku untuk melakukan hal yang sama.

Enam bulan berlalu, aku mulai jarang berkunjung. Ibumu selalu menanyakan kabarku setiap hari, setiap pagi memberikan doa-doa rohani agar aku selalu baik. Aku masih bingung kenapa beliau masih saja baik denganku, padahal kita bukan lagi siapa-siapa dan Aku juga sudah sangat jarang ke sana.

1 tahun tepat hari dimana kabar duka itu terdengar di telingaku. Kemarin ibumu memberi kabar jika ada acara tahlil satu tahun dirumah, ibumu memintaku untuk datang. Tapi aku memilih untuk menghindar.

Fotomu dalam bingkai di waktu kita masih berseragam sekolah, terus aku letakan di atas laci samping kasurku. Meskipun belum ada kabar baik tentangmu, entah kenapa aku selalu percaya kamu akan ada. Kamu akan datang. Dan aku sangat percaya itu.

Aku menyalakan TV di kamar, ada sebuah tayangan iklan yang lagi-lagi mengingatkanku tentangmu. Ya, tayangan iklan konser coldplay di Kuala Lumpur. Iya, itu adalah band favorit kita berdua. Setiap pulang sekolah dan selesai belajar kita habiskan waktu dengan gitar dan bernyanyi bersama. Hampir semua kunci lagu coldplay kamu hafalkan dalam waktu yang sebentar. Bahkan aku juga masih ingat, sewaktu acara pensi sekolah kita berdua berduet menyanyikan lagu “Fix You” dari lagu itu kita dinobatkan sebagai raja & ratu.

Lucunya, meskipun sudah lama. Semua hal tentangmu masih sangat melekat dan terasa erat. Lagu favoritmu hampir setiap hari aku dengar entah di radio, tempat perbelanjaan, atau beberapa orang-orang di kampusku yang menyanyikannya saat tengah berkumpul. Bukan hanya lagu yang terus melekat, film, hingga baju dengan gayamu juga sangat sering aku jumpai. Aku heran, dan aku benci. Semua ada, semua terdengar, semua terlihat, apapun yang kita pernah lakukan ada di sekitar mataku sekarang. Tapi, apa yang sangat aku butuhkan justru menghilang. Kamu, iya benar tak ada lagi yang bisa ku butuhkan selain itu.

Aku menangis tersedu. Di rumah sedang sangat sepi, melihat semua ini. Rasanya aku sangat sendiri. Terdengar egois memang, saat semua orang termasuk orangtuaku mengkhawatirkanku. Aku justru merasa sangat sengsara sendirian. “Maaf..” tak ada lagi kata yang bisa ku ucapkan setiap hari selain itu. Aku meraih bingkai foto kita, ku peluk hangat, tapi tak sehangat sata kita berada di bandara.

Aku menangis dalam lelap. Selamanya, sampai kapanpun kamu akan terus ada. Dalam hatiku, dalam ruang yang tak bisa digantikan oleh siapapun.

Aku menangis, dimimpiku pun masih terus menangis.

“Hei..”

Pria dengan kacamata yang sangat akrab ku tatap, muncul secara tiba-tiba. Membangunkanku perlahan dengan elusan tangan yang hangat. Ia menata poniku yang berantakan, dan menghapus air mataku.

Aku beranjak.

“Don..”

“Apa kabar?”

“Don..”

Kamu tersenyum, dan kita duduk bersebelahan di kasurku. Aku bingung bagaimana kamu bisa datang ke kamar? Apakah yang dikatakan Ayah dan Ibuku sewaktu pergi adalah menjemputmu kembali?

Aku memelukmu, hangat. Masih hangat seperti saat kita berada di bandara kala itu.

“Aku sangat sedih, aku sangat tidak baik saat kamu pergi.”

“Aku tahu, tapi kamu tahu sebelumnya aku sangat baik. Tapi melihatmu yang seperti ini, aku tak bisa sebaik itu.”

“Kamu harus tahu, selama satu tahun ini, orang selalu memintaku untuk ikhlasin kamu. Tapi Aku nggak bisa. Aku nggak mau. Kamu sangat aku butuhkan di sini. Bagaimana Aku bisa ikhlas kalau tanpamu aja Aku nggak bisa apa-apa.”

Aku menangis, semua aku tumpahkan kala itu. “Aku mau kamu tetap ada, selamanya.”

“Ka, kamu masih marah? Bicaramu seakan menantang semesta.”

“Aku nggak marah. Mana bisa aku marah sama kamu?”

“Bukan denganku, tapi dengan semesta.”

“Aku tidak pernah marah dengan semesta. Aku… Aku hanya… Aku hanya ingin kamu ada.”

Kamu tersenyum dengan sangat tulus. Aku belum pernah melihat senyuman itu sebelumnya.

“Aku memang selalu ada Ka. Di hatimu, kamu bahkan menyisakan tempat untukku.”

Aku merasa kamu terlihat berbeda. Cara bicaramu tak pernah sedewasa ini, kamu tak pernah seperti ini sebelumnya.

“Kamu sudah sangat berubah. Dulu kamu sangat ceria, bersuara paling keras di antara teman-teman lainnya. Bahkan tak malu untuk menari-nari sendiri di belakangku. Tapi sekarang, kamu terlihat surut. Rambutmu, wajahmu, pakaianmu, ini bukanlah kamu.”

“Kamu harus tahu satu tahun yang aku lalui selama ini, tanpa kamu.”

Kamu merapikan rambutku. Menyisirnya dengan tanganmu sendiri. Aku tahu kamu adalah orang yang sangat humoris, namun tak pernah romantis. Kamu juga mengisap pipiku, setiap air mata yang jatuh kamu usap terus. Aku bisa bayangkan betapa berantakannya aku sekarang.

“Tentu aku tahu. Jika tidak tahu mana mungkin aku kemari. Ka, kamu tahu aku sangat suka kalau kamu berpakaian rapi. Kamu tahu, kalau kamu adalah wanita yang pernah aku miliki. Kamu juga tahu, Aku tak bisa disini.”

Aku menangis, ada apa ini? Kenapa kita justru seperti ini?

“Ka, Aku sangat sayang kamu. Bahkan lebih sayang dari perasaanmu untukku. Aku nggak mau kamu kayak gini. Benar kata Ibuku, mulailah belajar ikhlas.”

“Itu sulit untukku.”

“Untuk semua orang tentu ikhlas sangat sulit. Tapi aku percaya, kamu pasti bisa tanpa peduli berapa lama.”

“Don, jangan minta Aku buat lupain kamu.”

“Tidak akan pernah aku meminta itu. Aku hanya memintamu untuk mengikhlaskanku.”

Aku semakin menangis, kali ini kamu tak mengusap pipiku lagi.

“Waktuku sudah habis Ka. Selamat bangun, dan aku ingin kamu menjalani hari yang lebih baik dari ini.”

Kamu pergi ke arah pintu kamarku. Aku mengejarmu, namun saat ku buka pintu kamarku Aku terbangun dari tidur. Aku menangis, dan terdengar oleh ibu. Aku masih menangis, sekarang aku hanya ingin satu hal. Kamu baik-baik saja di sana.

 

KESEMPATAN

KESEMPATAN

KESEMPATAN

“Menurutmu Kesempatan itu Apa?”

Aku terus memandangmu. Sejujurnya aku selalu menikmati setiap saat kita mengobrol, kamu seakan manusia maha tahu. Dimana semua pertanyaanku kamu jawab dengan mudahnya, tanpa perlu panjang memikirkan. Atau kamu saja yang menjawabnya dengan asal?

“Hmmm… Sebuah akibat saat kita memilih sesuatu.”

Aku tertawa, penjelasan yang sangat tidak masuk akal dalam logikaku.

“Mana bisa seperti itu?”

“Lucu ya? Tapi coba deh kamu pikirin setiap kali kamu memilih sesuatu, kamu akan melihat berbagai hal yang bisa menjadi kesempatanmu hidup lebih baik.”

“Lalu bagaimana dengan kesempatan kedua? Bukankah terlalu banyak memilih itu bisa aja disebut dengan plin-plan?”

“Bukankah lebih bagus kalau kita punya banyak pilihan, dibanding hanya memilih satu jalan?”

“Jawabanmu tak membuatku puas.”

Kamu tertawa.

“Menurutku, kesempatan kedua itu keputusanmu yang digabungkan dengan keputusan Tuhan.”

Bagiku menelaah setiap penjelasan darinya adalah hal yang lebih sulit dibanding Ujian Akhir Semester. Setiap kali kami bertemu, dan mengobrol bersama. Aku terus memikirkan itu. Rangkaian katanya penuh dengan makna.

Aku sangat ingin mengenalnya dulu, dan setelah itu terjadi aku merasa biasa. Ada juga kagumnya dan penasarannya. Entah dia manusia keturunan siapa. Otaknya seperti memiliki poros yang berbeda dengan manusia pada umumnya.

“Apa kamu tidak lelah?”

“Lelah dengan apa?”

Aku terdiam. Aku juga bingung kenapa aku menanyakan hal itu. “Entah.” Jawabku singkat

“Kalau ada kesempatan lagi untuk kita bertemu, kamu mau aku melakukan hal apa?”

“Jangan konyol, kamu akan pergi lagi? Untuk berapa lama? Dan kemana lagi?”

Kamu tertawa, sangat keras hingga berdahak-dahak. Aku memberikanmu minum, dengan tawamu seperti itu aku yakin tenggorokanmu pasti akan sangat kering setelahnya.

“Saat ini mungkin belum. Tapi tidak tahu besok, lusa, minggu depan, atau bulan depan lagi.”

“Kenapa kamu selalu pergi dan datang seperti ini.”

“Aku masih mencari.”

“Apa yang kamu cari?”

Kita saling berpandangan. Seketika, jantungku berdetak lebih kencang. Aku bingung setengah mati.

“Tempat pulang.”

“Inikan rumah kamu. Rumah kita.”

“Iya, aku tahu. Meski hanya panti asuhan tempat dimana kita besar. Tapi arti rumah bagiku berbeda, dia yang akan memberikanku kenyamanan bukan hanya melindungi dari air hujan.”

Aku sedikit sedih, untuk kesekian kali ia akan pergi. Ya setelah sekian lama ia menjadi seseorang yang sangat misterius di panti ini. Hanya aku, cuma aku saja yang bisa sedekat ini.

“Sampai kapan kamu mau pergi-pergi?”

“Aku tidak tahu.”

“Aku sangat sulit percaya denganmu, rasanya semua kalimat-kalimatmu hanya sebuah omong kosong belaka.”

Kamu meneguk minuman yang tadi ku berikan.

“Syukurlah, itu lebih bagus. Karena aku lebih senang kamu menjadi pribadi yang punya pendirian dibanding mengikuti kata orang.”

“Sudahlah hentikan omonganmu. Jika ingin pergi sekarang, segeralah langit sedang mendung.”

Kamu berpamitan. Untuk kesekian kalinya, aku tak menangis. Aku selalu yakin jika nanti kamu akan kembali ke sini.

Andai saja aku tahu, kamu tak pernah kembali lagi.

Sekian tahun berlalu, panti asuhan ini akan diambil alih oleh yayasan. Aku dan anak-anak akan pindah ke tempat lain. Bahkan di saat Aku memandang lama panti asuhan ini, khususnya teras depan yang sering kita gunakan untuk mengobrol berjam-jam, kamu tak kunjung datang. Mungkin kesempatan itu tak pernah ada. Entah kedua, ketiga, bahkan seterusnya.

Di tempat tinggal baru. Sedikit lebih mewah dibanding panti asuhan yang lama. Aku penasaran siapakan manusia dermawan yang berbaik hati memberikan tempat tinggal sebagus ini.

“Selamat datang, dan selamat pulang.”

Aku sangat tidak asing dengan suara ini. Suara yang hampir 2 tahun tak lama ku dengar setiap sore menjelang magrib di panti asuhan lama.

Aku berbalik. Apakah kamu manusia dermawan itu.

“Maaf, aku tak menyempatkan waktu untuk datang. Tapi setidaknya, aku bisa membawamu pulang kemari.”

“Bagaimana bisa? Kamu jadi seperti ini.”

Aku sangat terkejut, sikap, tutur kata, bahkan intonasi suaramu tidak berubah sama sekali. Meskipun sekarang penampilanmu jauh lebih rapi.

“Selama pergi Aku punya banyak kesempatan, dan seperti inilah aku sekarang. Ajaib bukan?”

“Sangat.”

Aku sangat bahagia. “Emm… sudahkah menemukan tempatmu pulang?”

“Sudah lama ku temukan. Sudah sangat lama, kamu. Iya, kamu tempatku pulang yang paling ku inginkan. Sekarang, aku tak akan pergi lagi. Kamu sudah ku bawa kemari, akan pulang bersamamu setiap waktu.”

“Kamu tetap saja omong kosong di mataku.”

Aku tersenyum. Kamu juga demikian. Kesempatan? Entahlah aku rasa sekarang ini aku mengerti sedikit maksudnya.

Kita yang pernah

Untuk Kita yang Pernah

Untuk kita yang pernah

Sampai sekarang kamu masih saja hafal denganku. Apa makanan kesukaanku, bahkan bagiamana aku menyisihkan sawi ditepian mangkuk mi ayam. Kamu juga tahu, entah dimanapun kita makan, Aku lebih senang duduk berhadapan dibanding disampingmu. Karena bagiku saat itu, memandangmu tanpa ada kata apapun sudah sangat cukup. Iya, aku dibudakan oleh cinta sepertinya, banyak temanku yang bilang jangan terlalu gila padamu. Tapi mau bagaimana lagi, rasa sayang telah tumbuh sedemikian rupa. Tak bisa aku sangkal atau sembunyikan.

Kita yang pernah

“Kamu pernah.. mengatakan ini.’Jika suatu saat nanti kita sudah saling bertentangan kita harus sama-sama menguatkan’ Dan itu telah terjadi sekarang”

Kamu hanya bisa diam.

“Kamu juga pernah ada bilang banyak hal yang aku telah tahu darimu. Aku tahu rumahmu, keluargamu, hewan peliharaanmu, teman sepermainanmu, bahkan semua kesukaanmu.”

Aku menahan tangis.

“Kamu pernah… Kamu pernah bilang sayang yang sangat dalam padaku..”

“Semuanya pernah kita lakukan.”

Akhirnya kamu bicara.

“Semua hal yang kamu katakan sudah pernah kita lalui dan rasakan selama ini. Mungkin Aku telah berusaha menguatkanmu, tapi pada akhirnya. Kita sama-sama tak pernah setuju, kamu dan aku sudah sangat berlawanan. Menurutku ini adalah akhirnya..”

“Aku sangat membutuhkanmu. Aku sangat cinta, bahkan kita berjanji untuk hidup selamanya.”

Kamu memelukku hangat. Aku menangis dalam dekap. Kamu melepaskan tubuhmu dengan sangat pelan.

“Ini saatnya kita berpisah.”

Padahal saat itu, aku ingin berkata. Hal itu tak akan pernah terjadi, tapi mau bagaimana? Kamu sudah membulatkan keputusan itu. Hatiku hancur selama beberapa bulan. Kamu bukan cuma kenangan indah tapi juga pemberi luka yang dalam.

“Kita pernah melakukan semua hal indah, dan akhirnya semua berubah. Kita pernah saling mengenal dekat tapi perlahan rasa itu justru pekat. Kita pernah melalui semua itu. Dan sekarang kamu mau mengulanginya denganku? Tapi Aku janji tak akan meninggalkanmu”

Setelah semua hal itu kita lalui, semua kata ‘pernah’ kita lakukan. Mungkin inilah yang namanya belajar, Aku menerimamu lagi sebagai pasangan yang seutuhnya. Untuk menjalani kehidupan yang semoga selamanya.

“Iya.”

Kamu memasangkan cincin itu, dan memeluk hangat tubuhku lagi.

Kamu, Aku, Dan Satu Minggu

Kamu, Aku, Dan Satu Minggu

“Aku bingung dengan kita, bagiku kamu adalah orang baru yang ku kenal dalam waktu satu minggu.”

Aku meneguk segelas teh hangat tawar. Kamu masih menghisap rokok dan membuang jauh-jauh asapnya dari pandanganku.

“..Tapi kamu yang paling berhasil mencuri semua perhatianku dalam satu waktu.”

“Memang itulah kelebihanku.”

“Aku selalu penasaran, kenapa kamu bisa menarik semua perhatianku?”

“Itu mudah, karena Aku sendiri yang menginginkan kamu untuk lebih memperhatikanku dibanding yang lain.”

Aku meneguk lagi teh tawarku. Ini tegukan yang terakhir. Aku beranjak dari kursi dan pergi ke mas Tejo. Pemilik burjo langgananku ini. Semenjak mengenal dia, Aku mulai diajak ke tempat-tempat seperti ini.

“Kamu mulai menyukai burjo.”

“Karena ada susu Dancow coklat di sini.”

“Tapi yang kamu pesan tadi teh tawar hangat.”

“Susu Dancow coklat nomer 1, teh tawar hangat nomer 2 kesukaanku.”

“Baiklah.”

Kami menaiki motor berdua, Aku selalu diboncengnya. Jarak dari burjo ke rumah cukup jauh. Setidaknya butuh 30 menit untuk kami sampai, dengan kecepatan normal. Tapi, setiap pergi denganku dia selalu memperlambat laju motornya. Ya untuk apa lagi? Jika bukan untuk menceritakan tentang dirinya, dan mencari tahu lebih banyak tentangku.

“Kenapa kamu mengajakku ke burjo yang jauh?”

“Itu adalah burjo langgananku dan teman-teman waktu SMA. Mana bisa Aku tak singgah ke sana.”

“pernyataanmu tak menjawab sama sekali.”

“Aku tahu, sebenarnya jawaban yang kamu inginkan adalah Aku ingin lebih lama denganmu. Itu benar, tapi yang lebih benar yang barusan Aku jawab.”

Sejak seminggu lalu, kamu sangat sering berkunjung ke rumahku. Menghampiriku setelah sholat magrib, dia selalu menyempatkan waktunya untuk menemuiku. Aku heran kenapa dia bisa seajaib itu. Iya ajaib, saat teman-temanku yang lain memiliki kesibukkannya dan memilih istirahat setelah seharian beraktivitas. Dia memiliki energi yang tak ada habisnya, seharian bekerja masih menyempatkan waktu ke rumahku. Bertemu denganku, bahkan meminta izin ke orangtuaku untuk mengajakku pergi sejenak.

“Kamu tahu, apa yang membuatku sangat ingin selalu denganmu.”

“Apa?”

“Kamu itu rapi. Bajumu, kehidupanmu, pekerjaanmu, bahkan tutur katamu.”

“Lalu?”

“Cocok untuk memperbaikiku yang berantakan ini.”

“Tapi Aku baru mengenalmu seminggu.”

Kamu tertawa, lepas dan cukup keras. Padahal di sebelah kanan dan kiri kita ada pengendara lain.

“Memangnya kenapa kalau seminggu?”

“Itu sungguh mustahil untuk memperbaiki hidupmu.”

“Memangnya butuh berapa lama?”

Aku berpikir sejenak. Aku tak ada niatan untuk memperbaiki hidupnya, sama sekali tak ada. Aku hanya memikirkan diriku. Dan mempersiapkan semua mimpiku sendiri.

“Butuh waktu berapa lama?” ucapmu dengan nada yang lebih keras, namun tidak membentak. Aku masih berpikir.

“1 tahun.” Cetusku asal.

“Baik satu tahun.”

“Bukan 2 tahun deh.”

“2 tahun juga nggakpapa.”

“Nggak, selama-lamanya..”

“Syukurlah jika kamu bilang begitu.”

“Selama-lamanya Aku nggak akan pernah bisa atau mau memperbaiki hidup kamu.”

Kamu tertawa namun tak sekeras tadi. Aku tak mengerti. Laju motor sedikit lebih cepat. Sekarang kamu malah meminggirkan motornya. Kamu menggambil rokok lagi. Kamu hisap pelan-pelan dan asapnya buang jauh-jauh.

“Apa yang membuatmu tidak sukai denganku.”

“Banyak.”

“Sebutkan sepuluh saja.”

Kamu membuang rokokmu, dan kita kembali melanjutkan perjalanan.

“Pertama, kamu orang yang baru ku kenal satu minggu ini… kedua, kamu menyebalkan melakukan apapun tanpa izinku. Ketiga, kamu keras kepala, sekali. Keempat, kamu tidak beraturan. Kelima, bukan Aku yang berhak untuk mengubah ataupun memperbaiki dirimu.”

Aku terdiam, masih memikirkan hal lain yang tidak Aku sukai darimu. Aku cukup lama berpikir, ya, Aku  memang belum mengenal baik dirimu. Seperti yang Aku bilang, kita baru kenal dalam satu minggu ini.

“Kenapa? Cuma ada 4 aja?”

“Kita kan baru saling kenal. Bagaimana aku bisa menilaimu sejauh itu.”

Kamu diam. Tak merespon apapun, Aku juga. Tak ada keinginan untuk menambah pernyataan lain, atau mengatakan kalimat basa-basi. Kini kita sudah berada di depan rumahku. Aku turun dari motormu.

“Kamu masih punya hutang 6 hal yang tidak kamu sukai dariku. Selama belum genap 10, Aku akan datang ke sini terus sampai kamu bisa menyebutkan sepuluh.”

“Aku bisa menyebutkannya sekarang.”

“Sssttt… jangan buru-buru. Aku ingin kamu lebih mengenalku, ku beri waktu agar kita saling kenal dulu.”

Aku semakin diam tak ada argumen lagi yang bisa ku keluarkan jika sudah seperti ini. Kamu pamit begitu saja. Pada akhirnya kita menjadi pribadi yang saling bertemu, seiring berjalannya waktu Aku mulai paham cara pandangmu. Dan beginilah kita dua manusia yang tak jelas apa maunya.

Sipa Dalam Kelana

Sipa Dalam Kelana

Sipa Dalam Kelana

Sipa Dalam Kelana

Sumber : Photo by Tommy Lisbin on Unsplash

Santoso Ilman Yudistira Putra Adiguna atau yang lebih akrab dipanggil Sipa. Dia adalah temanku di masa sekolah dulu, sejujurnya kami memang tidak akrab. Sama sekali tidak akrab. Bagiku Sipa hanyalah orang biasa yang terlalu banyak diperhatikan orang-orang. Tapi aku bukan termasuk ke dalam orang-orang itu.

Aku menjalani hidupku dengan sangat biasa, Lulus SMA, kuliah, mendapatkan gelar sarjana dan bekerja. Hingga suatu kejadian atau mungkin sudah rencana Tuhan, mempertemukanku dengan Sipa. Seseorang yang berada di luar rencanaku, sangat.

“Hallo kamu dimana? Aku jemput sekarang”

Telfon singkat yang bertanya namun terkesan memaksa. Aku sedikit kaget, di otakku dia adalah orang gila yang mungkin tak memiliki kerjaan yang jelas. Aku mengomel, menggunakan berbagai alasan sebelum diajak untuk melakukan tindakan yang mungkin diluar dugaanku.

“Udah, buruan shareloc.”

Sipa mulai bosan dengan omelanku. Aku setengah ragu, namun juga setengah ingin. Aku tak tahu, sekadar cerita saja, dia bisa tiba-tiba datang dan melakukannya. Ini benar-benar gila. Aku bersiap sederhana, tak ada riasan ataupun pakaian bagus yang ku kenakan. Selama hidupku aku hanya tampil rapi dan bagus beberapa kali dan di acara tertentu saja, sisanya aku berpenampilan sesuai keinginan hati.

Setengah jam menunggu, kamu datang tepat di depan kostku. Kamu menyalakan klason beberapa kali. Aku bersiap mengambil helm dan tas ransel. “Udah siap?” tanyamu.

“Emang kita mau kemana?”

“Pulang ke rumahmu?”

“HAH!!!”

Aku benar terkejut, setelah beberapa hari aku menangis karena rindu Ayah dan Ibuku. Lalu ku ceritakan semuanya padamu, tiba-tiba kamu datang dengan motor tuamu. Lengkap dengan gaya pakaianmu yang tak pernah berubah dari waktu ke waktu.

Bukannya senang, aku malah mengomel padamu. Aku benar-benar heran sepertinya pikiranmu berisi tentang hal-hal yang tak pernah aku temui. “Udah Ayo.”

Aku beranjak dan duduk tepat dibelakangmu. Aku sedikit bingung, kemana sebaiknya aku berpegangan? Pundakmu? Tidak. Melingkari perutmu? Tidak akan pernah. Aku menemukan sejumput kain, entah bagian jaket jeansmu yang mungkin lupa untuk kau jahit.

Selama perjalanan kamu yang lebih banyak berbicara dibanding Aku. Padahal setiap kata yang keluar cukup sama untuk ku dengar. Suara angin, motormu, dan orang-orang berlalu-lalang cenderung lebih dominan.

Baru 30 menit kita berjalan tiba-tiba motormu bermasalah. Aku tak paham itu apa, kamu mencoba menjelaskannya dengan sangat sederhana. Tapi tetap saja, aku hanya bisa bila “Oke.” Karena memang tak tahu lagi jawaban apa yang paling cocok untuk meresponmu.

Aku meminta tolong pada seorang bapak yang berusia paruh baya. Aku tak paham, bahkan sampai sekarang aku masih terheran-heran. Aku hanya bisa melihat dan tak bisa membantu apapun. Kalaupun mengomel lagi, itu pasti akan memperburuk suasana kita.

“Jadi bagaimana caramu mengenal bapak itu?”

“Kami baru pertama kali bertemu.”

“Tapi kenapa bisa membantumu?” Aku masih tak mengerti, logikaku bertanya-tanya.

“Untuk anak vespa, mereka harus menolong anak vespa lain jika motornya sedang bermasalah di jalan.”

“Itu hukum alam yang berlaku pada setiap geng motor?”

“Mungkin.”

Kita berdua melanjutkan perjalanan. Melewati pusat kita hingga kepinggiran. Sesekali kamu fokus ke jalan, tapi kadang kala kamu banyak cerita. Terkadang dalam hati aku bertanya-tanya sendiri, kenapa aku bisa mengenalmu sih?

1 jam perjalanan tapi kita belum ada seperempat perjalanan. Aku menggerutu, adakah cara yang lebih cepat agar sampai di rumah? Kamu hanya bilang sabar. Mengesalkan memang, hatiku sebenarnya menggebu ingin segera sampai rumahku, badanku sangat lelah karena aktivitas seharian ini.

Sudah ketiga kalinya motormu ini bermasalah. Terpaksa kita turun, kamu mendorongnya sendirian. “Aku juga harus mendorong?” tanyaku yang terdengar sedikit ketus. Beberapa orang  menawarkan kita bantuan atau sekadar bertanya masalah apa yang sedang kami hadapi.

“Beginilah hidup di jalan. Banyak orang baik yang membantu kita kan.”

Aku hanya diam.

“Aku pernah jauh lebih stugle dibanding ini, bahkan sendirian.”

“Kalau tahu akan sesusah ini, pasti akan ku tolak ajakanmu sejak kamu tiba dikostan ku.”

Sepertinya selama perjalanan, aku bukanlah orang yang menyenangkan bagimu. Dan dalam hati, aku berharap kamulah yang menyesal mengajakku dan tak akan menawarkan tumpangan lagi.

“Safa perlu diistirahatkan.”

“SAFA??!!”

“Iya motorku ini, kamu sudah satu jam lebih memboncengnya tapi kamu malah tidak mengenalinya. Sini dielus dulu, siapa tahu dia mau nurut sama kamu.”

“Tidak mau.”

Sungguh alasan yang tak logis untuk mengelus sebuah benda mati, kemudian berharap dia tidak akan bermasalah lagi setelah itu.

Kamu masih menutun motormu atau Safamu sendirian. “Kita makan di angkringan depan”

Tanpa persetujuanku, kamu melaju lebih cepat. Aku duduk lebih dulu sambil mengamatimu yang masih sibuk mengobrol dengan bapak pemilik angkringan dan juga Safa. Baru dua jam kita bejalan, aku sedikit paham bagaimana polamu membangun relasi. Tak heran kamu tak pernah khawatir jika suatu saat, kamu pergi sendiri dan terjadi sesuatu padamu.

Kamu mengambil nasi bungkus, dan makan dengan gaya yang rakus. Aku heran, kenapa bisa demikian. Ahh sial, ada apa dengan malam ini rasanya cukup menyebalkan. Aku meneguk teh hangat, sambil melihat beberapa story WhatApps teman-temanku. Kamu sekarang sibuk dengan Handphone mu banyak orang yang menawarkan bantuan. Aku tidak peduli, dipikiranku malam ini adalah pulang dan segera istirahat.

Kamu bercerita tentang pengalamanmu, yang sebenarnya aku tidak tahu jelas bagaimana itu. Aku makan dengan santai, kamu masih sibuk dengan Hp-mu. Sejujurnya, selama perjalanan ini. Kita berdua menunjukkan 2 sikap yang berbeda.

Akhirnya kita melanjutkan perjalanan, sekarang sudah terhitung 3,5 jam kita bersama. Dan inilah puncaknya, motormu mogok lagi dan lagi. “Safa nggak bisa dipaksain lagi.”

Rasanya aku sangat ingin menangis, badanku semua lelah. Bahkan kakiku gemetaran nggak jelas. Tapi aku menahannya, menunjukkan perasaanku sekarang tak akan mengubah keadaan. Mungkin kamu kamu juga kerepotan, harus mengurus motormu dan diriku.

Kamu menghubungi beberapa orang untuk dimintain bantuan, dan mungkin orang-orang itu tak aku kenal sama sekali. Aku bingung sudahlah aku pasrah yang penting bisa pulang ke rumah. Dengan selamat tentunya.

Jika dalam situasi seperti ini, mungkin bersamamu adalah cara yang terbaik. Pada akhirnya kamu sangat pandai dalam menghadapi situasi sulit. Kamu juga pandai bagaimana meminta bantuan di jalan seperti ini.

Akhirnya ada sepasang orang lain menghampiri kita menawarkan bantuan yang itu memacu adrenalinku. Hal ini memaksaku untuk berpegangan lebih erat pada jaket jeansmu itu.

“Ini pertama kalinya kamu mendapatkan bantuan dari orang yang tak dikenal bukan?”

“Iya, dan ini juga pertama kalinya aku pulang dan mengalami mogok dijalan sebanyak 5 kali. Semua pengalaman ini adalah pertama kali.”

4 jam sudah. Ada orang baru yang aku kenal malam itu, dan kamu juga mengenalnya beberapa bulan yang lalu. Menghampiri kita dan menawarkan bantuan. Kamu merasa terharu dengan segala bentuk bantuan yang diberikan Tuhan melalui orang-orang yang kita temui selama perjalanan ini. Akhirnya aku menunjukkan sedikit perasaanku padamu. Tapi yang terjadi kita justru berdebat. Aku yang teramat sayang dengan nyawaku tidak melanjutkan itu. Berusaha untuk mengademkan hatimu. Sebisaku. Untunglah ini bukan perdebatan hebat, ya hanya perdebatan biasa yang seperti kita lakukan melalui via chat.

Sampai di depan rumahku.

“Bagaimana? Kamu telah mengerti sedikit tentang duniaku, apa perasaanmu?”

“Sangatlah berantakan, jangan pernah mengajakku lagi setelah ini.”

Kamu tertawa, dan bilang “Belajarlah untuk tidak menyesali apapun malam ini.”

Kamu pergi begitu saja, pikiranmu sekarang adalah Safa. 5 jam berjalan denganmu sungguh perasaan yang aneh. Menjelang tidur aku masih membayangkan hal-hal yang kami berdua lewati tadi, itu seakan sebuah mimpi. Aku tak pernah menyangka jika akan mengalami hal itu.

Karena selama ini, aku lebih sering menjadi center diantara teman-teman ataupun lingkungan keluarga. Dimana hampir semua perhatian, cenderung mengarah padaku. Aku juga merasa hebat karena bisa bersabar dalam waktu sebanyak itu. Semua kejadian yang ada diluar dugaanku, dan setidaknya aku bisa menahan 50% perasaan yang sebenar-benarnya ingin ku luapkan selama perjalanan.

Aku benar-benar tak paham apa makna dibalik sikapmu dan perasaanku selama perjalanan itu. Entahlah, sudah hampir tengah malam. Saatnya istirahat.

saling bertemu dalam ruang bertamu

Saling Bertemu Dalam Ruang Bertamu

Saling Bertemu Dalam Ruang Bertamu

Hari ini, adalah hari pertama aku menggelar acara bedah buku. Momen yang telah ku tunggu setelah 1 tahun lamanya. Banyak jadwal yang terundur memang, karena kondisi yang tak memungkinkan. Aku cukup senang salah satu impianku terwujud satu demi satu, tapi Aku cukup terkejut jika kota pertama yang Aku kunjungi dalam acara bedah buku ini adalah Kota Semarang.

saling bertemu dalam ruang bertamu

Kota besar namun tak metropolitan seperti Jakarta. Kota ini merupakan kota yang bersejarah bagiku secara pribadi. Aku pernah merasakan perantauan di sini. Tepat 3 tahun yang lalu, saat aku masih berstatus Mahasiswa Ilmu Komunikasi. Masa kuliahku cukup berkesan, suka dan duka terurai dengan jelas dan membekas dalam.

Aku sudah sampai di salah satu Toko buku, Aku memasuki aula dan terlihat. Sudah banyak penggemar bukuku yang duduk rapi di sana. Semua bersorak, dan merasa bahagia saat duduk di atas sofa kecil.

Acara bedah buku pun dimulai, banyak interaksi yang terjalin antara Aku dan para pembaca. Sampai pada momen terakhir acara, dimana Aku bisa berintaksi dengan mereka satu persatu. Entah meminta tanda tangan atau foto bersama. Aku menyapa mereka dengan hangat maklum saja, berkat mereka tulisanku rasanya lebih bernyawa.

Aku menikmati masa ini, masa yang sangat Aku nanti-nanti. Perlahan para pembaca yang sudah mendapatkan tanda tangan dan foto bersama keluar ruangan. Hanya ada hitungan jari orang-orang yang masih di sini. Sampai pada keloter terakhir, Aku menerima sebuah buku dari tangan yang sangat ku kenali.

Tangan pria berkulit sawo matang yang memiliki tato mawar lengkap durinya di pergelangan tangan namun dekat dengan ibu jari. Aku mendongakkan kepala. Pria yang sama. Aku sungguh tak menduga dia datang ke sini. Padahal sudah lama sekali Aku tak bertukar kabar dengannya, bahkan aku kehilangan kontaknya.

“Hai.”

Dia pria yang 3 tahun lalu ku temui. 3 tahun lalu ku bersamai, 3 tahun lalu kami berpisah mengejar mimpi masing-masing.

Acara bedah buku telah selesai Aku meminta izin untuk makan siang di dekat hotel. Di depan pintu keluar Dia ternyata menungguku. Benar, dia bukan hanya sekadar pembaca bukuku seperti orang pada umumnya. Dia teman lamaku, teman yang sangat dekat, bahkan lebih dari teman dulunya.

Kini kami berdua duduk di meja yang sama. Dia menikmati kopi latte-nya sedangkan Aku menikmati secangkir coklat tiramisu yang hangat. Sudah 3 tahun lamanya, minuman yang kami pesan tetap sama. Bahkan cara duduk kami juga, kami selalu memilih meja dekat jendela kaca. Mengobrol dengan berhadapan. Semuanya sama, maklum saja ini sudah menjadi kebiasaan kami berdua. Yang berbeda hanyalah kondisi jika Aku dan dia tak bersama lagi.

“Bagaimana kabarmu?” Tanyaku sedikit basa-basi

“Baik, kamu?”

“Seperti yang kamu lihat. Aku sangat baik.”

“Aku senang mimpimu sebagai penulis terwujud dengan baik. Bahkan sampai bisa road-show bedah buku ke sini. Kamu sangat keren sekarang.”

“Terima kasih, ya Aku sendiri masih merasa kaget. Lalu apa yang kamu lakukan sekarang?”

“Ummmm… Aku meneruskan usaha keluarga. Mungkin bisa dibilang cukup sibuk, tapi tak lebih sibuk darimu.”

“Syukurlah. Senang bertemu denganmu..”

“La, kamu punya waktu bulan depan?”

Aku terkejut, dan detak jantung menjadi sedikit tidak karuan. Pertanyaan darinya membuatku membuka sedikit perasaan lama.

“Belum tahu.”

Dia menyodorkan secarik kertas yang dihias indah, kertas yang sama sekali tak ku sangka akan ku dapatkan secepat ini.

Kertas undangan pernikahan : Kania & Arsa

Aku tersenyum, turut bahagia. Namun ada sedikit nyerinya, kabar yang secepat ini. Aku sendiri tidak siap untuk ini, tapi mau bagaimana lagi? Semuanya telah terjadi.

“Kamu akan menikah? Selamat, Aku turut bahagia”

Aku berusaha tersenyum. Senyuman ini tak sepenuhnya tulus. Ada sedikit bohongnya, karena hatiku masih sedikit menyimpan rasa pada Arsa.

“Awalnya Aku nggak mau ngasih ini ke kamu. Aku sangat bingung, tapi Aku mengundang seluruh teman kita satu angkatan. Sangat tidak adil jika kamu terlewat. Ya, Aku tahu kamu sibuk sekarang, tapi setidaknya kamu harus tahu kabar pernikahanku. Jadi Aku sengaja datang ke acara bedah bukumu hari ini. Untuk bertemu denganmu.”

Aku tersenyum sambil mengangguk, kali ini aku tak berani menatap Arsa. Aku berusaha mengalihkan pandanganku ke jendela kaca. Pemandangan di luar sangat cerah, sungguh indah.

“Kamu nggak berubah La, sama sekali nggak berubah setelah 3 tahun lamanya.”

Aku memberanikan diri menatap pria di depanku ini. Wajahnya sama sayunya denganku sekarang.

“Aku masih ingat La. Saat pertama kali kita bertemu. Kamu ingatkan? Kita masuk di kelas yang sama, mata kuliah yang sama, bahkan baris meja yang sama. Kita tak saling kenal, kita hanya berbicara secukupnya saja. Sampai akhirnya kita jadi satu kelompok penelitian. Kita banyak berbincang hingga akhirnya Aku nyaman denganmu. Kamu juga begitu. Kita sama-sama nyaman dan saling suka, sampai Aku menembakmu. Tepat dihari ulangtahunku….”

Teater pikiranku berjalan mengenang setiap kejadian yang diceritakan Arsa. Rasanya seperti masih baru, meskipun itu sudah 3 tahun berlalu.

“….Kita saling menyayangi dan berjanji untuk bersama, selamanya. Tapi perlahan, kita malah sering bertengkar. Rasa romantisme kita kian memudar, ego kita berdua saling bertentangan. Malah Aku sendiri merasa menyesal telah menembakmu dulu. Dari hari ke hari kita terus bertengkar, Aku menganggapmu terlalu idealis, kamu juga mengatakan jika aku ini terlalu realistis. Karena sama-sama tak sepaham, akhirnya kita berpisah. Kamu lulus kuliah dan pulang ke rumah. Aku masih melanjutkan tugas akhirku dan berjuang untuk hidupku.”

“Pada akhirnya, kita sama-sama menjadi orang yang ambisius Sa. Gak ada yang mau ngalah…”

Aku tak ingin bersedih, tapi aku tak bisa berbohong. Rasanya tidak adil menangisi seseorang yang hendak menikah. Tapi bagaimana lagi, 3 tahun pergi darinya ternyata tak membuatku pulih. Bertemu dengannya justru membuatku mengingat kisah lama.

“Tapi Aku bahagia La, Aku sangat bahagia dengan hubungan kita. Meskipun itu nggak selamanya.”

Air mataku menetes satu. Buru-buru ku hapus, Aku tak ingin menggagalkan rencana bahagia milik Arsa. Ini sudah keputusan kita berdua.

“Aku kira.. Aku sudah sangat pulih tapi ternyata belum sepenuhnya.”

“Maaf La, hari ini Aku justru membuat luka baru lagi. Aku nggak bermaksud begitu. Aku hanya ingin bertemu.”

Aku tersenyum, rasanya sedikit sedih. Namun ada kelegaan di hati kecilku.

“Sa, kamu tahu kalau Aku suka bermain ‘seandainya’. Kamu mau nggak main itu lagi untuk terakhir kalinya.”

Arsa menganggup. Aku mengumpulkan suaraku, rasa ingin menangis membuat suarakan seakan habis. Aku menarik napas sebentar.

“Sa, seandainya saja 3 tahun lalu kita nggak berpisah. Seandainya saja hubungan kita langgeng-langgeng aja. Apakah mungkin sekarang ini kita akan menikah? Apakah mungkin kita akan bersama dan bahagia?”

Arsa, terdiam. Ini memang pertanyaan yang bodoh. Sebaiknya tak ku tanyakan, meskipun hatiku sangat ingin tahu jawaban Arsa.

“…Lupain aja Sa, itu cuma pertanyaan konyol.” Sambungku.

“Kita akan tetap bertengkar.” Jawab Arsa cepat.

“Kita akan sulit untuk saling belajar, kita akan lebih mengutamakan ego masing-masing. Akhirnya kita sendiri yang lelah dan kita yang merasa bersalah atas satu sama lain. La, kamu tahu. Aku sangat belajar banyak darimu, bahkan saat kita sudah berpisah sekalipun. Kamu adalah orang pertama yang Aku sayangi dengan sepenuh hati, kamu juga orang pertama yang terlalu dalam menyakiti. Aku tahu, tak semuanya menjadi salahmu. La, seperti yang Aku bilang. Aku sangat bahagia, bahkan sampai sekarang saat bertemu denganmu. Kadang kita perlu belajar bukan cuma tentang mengikhlaskan. Tapi juga belajar untuk memperbaiki diri lagi. Saat aku kehilanganmu, akhirnya Aku belajar lagi untuk mengontrol ego, dan mendewasakan diri lagi. La berpisah denganmu jujur memang sakit, tapi akhirnya Aku tahu mana yang harus aku perbaiki dari diriku. Sebelum akhirnya Aku menemukan Kania, dan bisa mendampinginya selamanya.”

Entah perasaan apa ini. Sakit, tapi tidak terlalu sakit. Aku merasa belajar dari Arsa. Dia sungguh sangat berubah. Sedangkan Aku masih sama saja.

“La, Aku yakin kamu bisa. Kamu pasti bisa menemukan seseorang yang akan kamu cintai selamanya. Pulihkan dirimu dulu, legakan hatimu. Jika suatu saat nanti kamu telah menemukan pria yang jauh lebih baik dariku. Jangan lupa mengabari.”

Aku tersenyum. Arsa sungguh baik, dia selalu memberikan doa dan ucapan baik kepadaku. Sama seperti dulu.

“Sa, satu jam lalu. Aku merasa sedikit sedih saat kamu datang dan meminta tanda tangan. Tapi sekarang, Aku merasa sangat lega. Aku sangat belajar darimu, kamu adalah salah satu orang yang banyak membantu dalam hidupku. Terima kasih telah datang, membawa kabar, dan menuntaskan masa laluku. Akan ku usahakan untuk datang bulan depan.”

Arsa mengulurkan tangan. Kami saling berjabat tangan, pertemuan singkat dan mengesankan. Mungkin setelah ini, Aku akan menulis buku lagi. Mengisahkan ruang-ruang indah kita dulu, sebagai kenangan yang abadi. Hanya sekadar dikenang saja bukan untuk di sesali. Terima kasih Arsa.

 

Saling bertemu dalam ruang bertamu

Kita dipersatukan oleh waktu

Tapi akhirnya waktu memberikan batasannya untuk kita bisa bersama

Sekian tahun telah berlalu

Waktu memberi kesempatan untuk kita berjumpa dan saling bertegur sapa

Tapi sayangnya waktu untuk bersama sudah tak ada

Kamu menjalani kehidupanmu, begitupun aku

Biarlah sekarang menjadi pertemuan yang sederhana, tanpa membawa perasaan lama

  • com

Kita Yang Pernah

Kita Yang Pernah

Sore ini hujan sangat deras, Aku masih duduk santai di teras kantorku. Menunggu hujan reda, setiap kali hujan turun menjelang petang. Aku selalu ingat, hari dimana kita pernah terjebak hujan berdua.

Sepulang mencari buku untuk mata pelajaran teori warna, kita adalah teman satu jurusan, satu angkatan, dan satu kelas di kampus. Awal pertemuan kita adalah hari pertama OSPEK. Aku masih bingung tak ada teman satu sekolah denganku yang masuk dalam jurusan DKV Kampus kita. Kamu juga mengalami hal yang serupa, akhirnya di hari pertama ospek kita saling mengenal satu sama lain. Sejak saat itu, kita saling mengobrol. Kamu selalu membantu mengerjakan tugas kuliah yang mungkin itu mudah namun sulit bagiku. Kita juga sering menjadi teman satu kelompok, bahkan setiap kali masuk kelas, kita selalu bersebelahan.

Awalnya Aku menganggapmu sebagai sahabat baik. Sampai sore itu saat pulang dari gramedia, kamu menembakku. Di saat hujan seperti ini. Di saat kita masih menunggu hujan reda di parkiran motor gramedia. Sebenarnya aku bukan orang yang percaya dengan cinta. Tapi setengah hatiku sadar, kamu adalah orang yang selalu hadir selama ini. Jadi, tak ada salahnya untuk mencoba.

Aku menerimamu, kita sama-sama bahagia kala itu. Semakin hari kita semakin dekat, apalagi saat teman sekelas kita dulu tahu jika kita berdua memiliki hubungan spesial. Kamu bahkan dimintai banyak traktiran. Aku selalu geli jika mengingatnya.

Dulu, bersamamu adalah hal yang membahagiakan. Kamu selalu menjemputku di depan kost, tepat waktu. Bahkan lebih sering menunggu. Berulang kali kamu protes tapi Aku selalu manjawab.

“Cewek itu ribet, kalau bajunya nggak cocok mereka sama dandanannya nanti malunya setengah mati tahu.”

Aku bukanlah orang yang percaya diri saat memakai pakaian atau dandanan yang tak sesuai denganku. Padahal hampir setiap malam, entah mengerjakan tugas kuliah atau tidak. Entah di malam minggu atau malam-malam biasa. Kamu selalu melihatku apa adanya. Tanpa dandanan, dan daster bunga-bunga. Aku sendiri juga heran, kenapa di depanmu aku justru lebih percaya diri dengan diriku.

Hari terus berjalan. Kita juga semakin mesra, Aku ingat. Satu momen besar dalam hidupku, saat pertama kali kamu menciumku. Aku tak pernah dicium oleh siapapun. Cuma kamu kala itu, dan baru kamu saja yang berani melakukan itu padaku. Kala itu juga sama, Aku menelponmu tiba-tiba. Teman kostanku yang lain pergi ke rumahnya. Aku sendirian, dan di luar hujan deras. Aku takut jika sendirian di bangunan besar seperti kostku ini. Aku memintamu untuk menjemputku, Aku bilang. “Aku mau tidur di kostan temanku yang lain.” Aku ingin kamu segera datang ke kostan, sampai merengek saking takutnya. Akhirnya benar, 20 menit kamu tiba di depanku. Seluruh bajumu basah, kamu minta rehat sejenak, Aku juga masih bersiap-siap. Sampai akhirnya listrik padam. Aku berteriak, kamu datang dengan lampu senter Hp sebagai penerang seadanya. Tubuh kita berdua saling bertubrukan karena sama-sama panik. Entah mengapa saat itu, saat kamu basah kuyup. Kamu jauh lebih nakal. Kamu meraih tubuhku, perlahan mendekap, dan menciumku hangat. Itu ciuman yang cukup lama, sampai tak sadar jika lampu telah menyala. Dan, Aku semakin mencintaimu.

Setahun berlalu, Aku merasa kita adalah pasangan yang paling romantis di kampus. Kita selalu terlihat ceria dan bahagia. Tapi setiap hubungan pasti akan adanya bertengkar. Aku lupa apa pemicu awalnya. Mungkin karena ego kita yang mulai muncul dan meninggi. Aku mementingkan diriku, begitupun kamu kala itu. Aku menuntutmu ini dan itu, kamu tidak mau tahu.

Kita terus mempermasalahkan hal yang sama, setiap hari dan setiap kali diungkit. Aku berusaha mengalah, Aku mengikuti apa yang kamu minta. Aku berhenti memintamu berubah, Kamu juga kamu lebih meluangkan waktu denganku. Kita saling menguatkan, namun akhirnya bertengkar kembali.

Hari demi hari Aku mulai bosan denganmu. Padahal dulu saat kita baru bertemu, saat kita baru menyatakan perasaan, setiap hari rasanya rindu. Kini Aku muak denganmu, muak dengan hubungan kita yang terus begitu. Bertengkar, baikan, bertengkar lagi, baikan lagi. Itu seperti roda sepeda yang berputar tapi tak berjalan. Kita terus mengulangi kesalahan, tak mau berbedah diri. Bahkan mulai saling menghakimi dan tak menghargai.

Kita yang dulu pernah, merasa bahagia. Perlahan menderita di tahun hubungan kedua. Aku menangis di kamar temanku. Mengeluhkan sikapmu yang selalu mengecewakan. Beberapa dari temanku mengatakan bertahan namun ada juga yang memintaku berpisah.

Aku tak pernah tahu, bahkan sampai sekarang. Apakah kamu juga merasa begitu dulu?

Aku memendam semua rasa penasaranku. Dulu saat awal jadian, kita selalu mengobrol tentang hal-hal yang menyenangkan. Namun, kala itu Aku justru bingung harus membicarakan apa. Suaraku sudah sangat serat setelah semalaman menangis. Kamu juga tak memulai obrolan. Sebenarnya apa yang salah dari kita?

Kita yang pernah, saling menggenggam erat kedua tangan, dan pantang menyerah. Pada akhirnya kita sama-sama lelah. Aku lelah denganmu, dengan perasaanku, dengan hubungan ini. Aku juga tahu kamu merasa begitu, hanya saja kamu tak mengungkapkannya. Kamu lebih memilih untuk diam. Bahkan kamu bilang “Aku benci drama!” saat itu kamu marah besar, Aku hanya bisa menangis sepanjang jalan.

Kita yang dulu selalu ingin bertemu, akhirnya terus berseteru. Aku capek, aku sangat capek. Hubungan ini rasanya percuma. Aku lebih mencintaimu yang dulu, sekarang kamu terlalu sering melukaiku.

Saat hujan lagi. Aku menunggu kamu menjemputku di kafe dekat kampus. Kamu bilang ada pertemuan organisasi, Aku hanya megiyakan dan padahal saat itu kamu janji akan menemaniku mengerjakan proposal. Cuaca belum terang, kamu belum juga datang. Aku mengirim pesan, tapi kamu tak segera membalas. Aku tak bermaksud posesif saat itu, Aku hanya mengkhawatirkanmu.

Satu jam berlalu, hujan berubah menjadi gerimis. Beberapa area kampus tergenang air, Aku masih menunggu. Aku bahkan sempat menelponmu, tapi kamu bilang “Bentar lagi Aku jemput tunggu ya.” Aku sadar, Aku bukan prioritasmu lagi. Kamu sudah sibuk dengan duniamu. Bahkan Aku tak punya celah untuk berperan di dalamnya. Aku terlalu terasingkan sekarang.

Kamu datang dengan motormu. Meminta maaf karena sangat terlambat. Hujan kala itu, Aku meminta putus. “Kita putus aja. Aku lelah kita terus begini, yang Aku tuntut selalu hal yang sama. Dan yang kamu lakuin juga selalu sama. Kita nggak bisa gini terus. Kita nggak bisa bersama selamanya. Ada baiknya kita pisah.”

Sekuat tenaga ku jelaskan alasanku untuk berpisah denganmu. Kamu diam, Aku benar-benar tak tahu apa yang kamu pikirkan saat ku minta putus. Kamu mengangguk, kamu bilang iya. Kita benar-benar berpisah sekarang. Ucap hatiku saat itu. Kamu masih mengantarku pulang, kamu bilang Aku masih bisa menganggapmu teman. Jadi jangan pernah sungkan.

Meskipun aku tahu itu tulus. Tapi semenjak putus, Aku tak pernah mau meminta bantuan darimu. Sekuat tenaga ku tegarkan hatiku, ku sembuhkan sendiri rasa perih di hati. Aku berusaha tetap tegar saat kita bertemu. Kamu juga demikian. Padahal Aku sangat kacau, Aku butuh sandaran. Bohong memang saat Aku bilang Aku tak menyesal. Aku sangat menyesal, Aku ingin kita balikan. Tapi, kesempatan itu tak pernah ada.

Hujan selalu membawa kenangan itu padaku. Bahkan sampai sekarang, Aku masih ingat kamu. Hujan seperti simbol hubungan kita berdua. Kini hari sudah petang, hujan juga sudah reda. Sebuah mobil sedan terparkir di depan kantor. Itu suamiku, dia datang menjemput. Saatnya Aku pulang, hujan telah berlalu sama halnya hubungan kita. Aku harap kamu juga bahagia, Aku tak pernah tahu kabarmu yang sekarang. Aku hanya bisa berharap kamu punya kehidupan yang layak. ‘Kita’ yang pernah ada, namun sekarang ‘Kita’ tak akan pernah ada untuk kita berdua.

31 OKTOBER

31 Oktober | Part 3

31 Oktober | Part 3

“STOP”

Lani menahanku. Arwah Lani mengikutiku sedari tadi.

“Aku nggak mau kamu jadi seorang pembunuh. Kita temukan cara lain yang lebih baik dari ini.”

Aku meletakkan gunting itu. Lani benar, Aku harus menahan emosiku. Pasti ada cara lain untuk menyelamatkan Lani.

Dua hari setelah kejadian itu, Aku masih gelisah. Aku masih bingung bagaimana cara terbaik agar Lani bisa selamat. Aku memang indigo, tapi Aku belum mampu untuk menguasai hantu. Sosok hantu yang bekerjasama dengan Endrew hantu yang kuat dan sulit bagiku untuk mengalahkannya. Jika tak segera ku temukan cara, energi kehidupan Lani akan segera habis dan dia bisa mati.

TIDAKKK

Lani tak boleh mati. Masih banyak rencana bahagia yang ingin kulakukan bersamanya. Lani harus punya umur yang panjang. Lani tolong berjuanglah sedikit lagi, kuatkan dirimu. Aku akan berusaha keras untuk menyelamatkanmu.

Aku membaca beberapa artikel dan cara-cara membatalkan janji dengan iblis. Tapi tak bisa, hanya kedua pihak yang terlihat saja, yang dapat melakukan itu. Pihak luar, justru akan menjadi pengganggu. Sampai aku menemukan satu kolom komentar. Mungkin cara ini bisa dicoba.

Pagi-pagi buta, Aku pergi menuju gunung Cermai. Lokasinya tak terlalu jauh dari Jakarta butuh setidaknya 2-3 jam untuk sampai ke sana. Pendakian memang sudah dibuka namun dibatasi oleh pihak penjaga pos. Aku dengan berbekal alat daki sederhana, melangkah menuju tempat yang ditulis dalam komentar semalam.

GOA KELELAWAR.

Disini sangat pekat, Aku berjalan 250 meter dari mulut goa. Di sini seperti tempat pertapaan. Ada banyak kelelawar yang bergantung di sela-sela stalaktit, di sini sangatlah lembah. Semua terasa basah. Aku duduk di tempat yang mungkin biasanya diduduki oleh para petapa. Aku berdiam sejenak, hanya berbekal bunga 7 rupa.

Aku masih terdiam. Sosok pria tubuh tinggi menghampiriku, dia penguasa di sini. Ada seekor harimau yang mendampingi pria tubuh tinggi ini. Aku memanggilnya Eyang. Dia menanyakan apa keperluanku sampai jauh-jauh ke sini.

“Aku ingin meminta bantuan, ada seseorang yang paling Aku sayang didunia ini. Dia dalam bahaya, nyawanya terancam oleh perbuatan orang kejam. Dia dijadikan tumbal. Aku ingin menyelamatkannya.”

Eyang terdiam. Dia sempat menolak permintaanku dan meninggalkanku begitu saja.

“Tolong, Aku akan melakukan apapun. Asal orang yang Aku sayangi selamat.”

Eyang kembali, Akhirnya ia berbicara. “Nyawa ditukar dengan nyawa, apakah sanggup dirimu menanggungnya? Nyawamu ditukar dengan nyawanya?”

Aku sedikit ragu. Rencanaku adalah menyelamatkan Lani dan kami hidup bersama dan bahagia. Aku bahkan merencanakan pernikahan tahun depan, bahkan aku telah menyicil keperluan tempat tinggal, dan semuanya agar lebih mapan secara finansial.

“Bagaimana?”

Aku masih terdiam, ini pilihan sulit. Tapi, mana sanggup aku melepas Lani begitu saja. Aku sangat mencintainya, hidup akan hampa jika tanpa Lani.

“Baiklah Aku terima.”

Aku mendekat, perjanjian itu ditulis dengan darah. Darahku. Demi Lani, demi hidupnya, Aku rela. Aku menggoreskan beling ke tangan. Darahku perlahan keluar, tapi beling itu terlempar begitu saja. Siapa lagi yang menggangguku?

Lani datang dengan kakek buyutku.

Lani menangis, apa dia mendengar perbincanganku tadi? Kakek buyut tampak sangat marah. Ia mengambil beli itu. Hanya ada sedikit darah yang keluar.

“Bukankah sudah ku bilang, urusanmu hanyalah menyelesaikan masalah. Bukan mengubah nasib seseorang.”

“Tapi Aku tak bisa hidup tanpa Lani. Aku mencintainya, Aku tak bisa membiarkannya pergi. Aku hanya perlu mengganti posisi Lani.”

“Perilakumu ini telah melampaui batas. Aku memang menurunkan kemampuan ini padamu, tapi bukan berarti kau berhak atas nasib seseorang. Atas kehidupan/kematian seseorang. Apa yang dialami Lani telah menjadi suratan takdir, sebagai manusia kau seharusnya menerima dengan ikhlas bukan berusaha mengingkarinya.”

“Tapi kek. Aku tak bisa melihat Lani pergi, aku sangat mencintainya.”

“Cinta itu datangnya dari Tuhan. Nafsumu ini yang membuat cinta menjadi salah dan melakukan hal yang paling dibenci oleh-Nya. Lani tak akan bahagia jika dia tahu dirimulah yang berkorban nyawa atas dirinya.”

“Aku nggak mau kamu mati Bob, apalagi demi Aku. Aku nggak mau, Aku nggak bisa.”

“Sama halnya denganku Lan, Aku nggak bisa membiarkanmu mati. Biar aku yang mati, asal kamu hidup bahagia.”

“Bagaimana Aku bisa bahagia, setelah tahu kamu begini? Aku akan selamanya sengsara”

Lani perlahan menghilang, energi kehidupannya mulai habis. Tidak, jangan. Aku harus menyelamatkannya. Berulang kali ku goreskan tanganku ke batu yang tajam agar terluka dan berdarah. Tapi gagal kakek menghalangiku. Aku sampai memohon dan mencium kakinya agar mengizinkanku untuk menyelamatkan Lani. Tapi keputusannya tetap sama. Dia tak ingin aku melakukan ini.

“Bobby, kamu cukup mengingatku. Hiduplah bahagia, terima kasih telah melakukan sejauh ini. Aku tahu kamu seorang indigo, pasti akan ada saatnya kita bertemu lagi. Meskipun aku bukan manusia sepertimu.”

Lani benar-benar menghilang. Aku menjerit keras yang tersisa di goa hanya Aku sendirian. Kakek buyut hanya melihatku, sebelum akhirnya melangkah pergi.

“Kenapa kakek menghalangiku?”

“Karena kakek menyayangimu, kau akan mengalami masalah yang lebih besar dari ini jika kau membuat janji yang syirik.”

“Lani. Lani hanya korban, Aku berusaha menyelamatkannya. Lalu bagaimana dengan Endrew, seharusnya dia yang mati bukan Lani.”

“Hanya Tuhan yang mampu menghukum seseorang. Pulanglah, temui Lani sebelum ia dikuburkan.”

Aku menangis. Sepanjang jalan, ingatanku dengan Lani terasa jelas. Aku tak sanggup dengan ini, perasaanku terhadap Lani sangatlah pekat dan lekat. Aku merasa sedikit menyesal menjadi Indigo. Tapi setiap kali perasaan sesal ini muncul, saat berulang kali ku coba hilangkan kemampuan ini. Orang-orang hanya berkata “Terima kondisimu apa adanya. Berdamailah dengan itu, kamu akan bahagia. Apapun yang dialami seseorang itu adalah kuasa Tuhan.”

Meskipun aku selalu sakit setiap kali mendengar cerita duka, atau melihat orang lain yang tanpa raga. Aku harus terbiasa.

31 OKTOBER

31 Oktober | Part 2

31 Oktober | Part 2

Lani di bawa ke rumah sakit terdekat. Suhu tubuhnya menurun drastis. Dokter memperkirakan jika Lani terkena serangan jantung. Ia harus segera dirawat lebih lanjut. Aku sangat sedih, Aku bingung apa yang harus ku katakan pada orangtuanya. Kenapa sebagai pacar Aku tak bisa menjaga Lani dengan baik. Bodoh, bodoh.

Berkali-kali aku meminta maaf pada orangtua Lani. Mereka sangat shock melihat kondisi Lani yang kini sedang terbaring koma. Orangtua Lani menangis tak henti-henti terutama sang ibu. Aku menundukkan kepala, Aku memang bukan calon menantu yang baik. Ayah Lani menepuk pundakku. Ia berkata ini bukan kesalahanmu.

Aku mendengar suara tangis, itu adalah Lani yang berada di belakangku sedari tadi. Aku menghampiri Lani. Ku tanyakan sekali lagi siapakah dia?

“Aku Lani Bob. Aku pacar kamu, kenapa kamu masih nggak percaya udah berapa lama kita pacaran. Aku sudah kenal dekat denganmu. Kamu si anak indigo yang sering dipanggil dukun selama sekolah. Kamu yang selalu datang ke rumah dan ceritain pengalaman horror tapi aku masih nggak takut. Aku Lani. Aku… pacar kamu..”

Benar dia Lani. Tangisnya, ceritanya, dan raut wajahnya. Tak ada hantu yang bisa menyerupai sepersis ini. Dia Lani yang asli.

Aku dan Lani mengobrol di lorong rumah sakit yang sudah sepi. Aku lebih tenang, dan Lani juga sudah berhenti menangis.

“Kenapa kamu bisa begini? Apa yang terjadi?”

“Aku nggak ingat jelas. Aku bersembunyi tak jauh darimu, tapi Aku berpindah seperti ada seseorang yang mengarahkanku untuk berjalan. Aku tak ingat jelas wajahnya, dia hitam dan tinggi. Aku berjalan ke ujung halaman belakang dekat dengan kolam renang. Aku sadar kemudian berlari, Aku memanggil namamu berkali-kali sampai akhirnya kamu dengar. Tapi sosok hitam itu ternyata mengikutiku saat Aku ingin berlari ke arahmu. Aku lari dan bertemu dengan pria dengan wajah penuh darah, dia menakutkan seperti ingin menyerang. Setelah itu kamu menemukanku. Aku bahkan tak sadar, jika Aku sudah terpisah dengan ragaku sendiri.”

Pria dengan wajah penuh darah. Pakaiannya saat itu juga hitam. Apa jangan-jangan ini ulahnya. Tidak bisa dimaafkan.

“Aku harus gimana Bob, Aku masih ingin hidup.”

Lani mulai menangis lagi. Aku semakin tak tega.

“Lani, tenangkan dirimu. Aku berjanji akan mencari jalan keluar, Aku akan membuatmu hidup kembali.”

Lani mengangguk. Aku langsung bergerak menuju rumah Endrew. Aku juga meminta Lani ikut agar dia bisa mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi waktu itu. Tapi setengah perjalanan Lani merasa kesakitan.

“Kakiku sakit Bob.”

Ada hantu lain yang sedang mengganggu Lani. Pasti hantu jahat yang ingin menyelakai Lani. Kami kembali ke rumah sakit. Benar ruangan Lani penuh dengan Hantu dan arwah jahat. Aku harus melindungi Lani. Tak ku biarkan hal buruk terjadi padanya malam ini. Aku masuk ke dalam ruangan, ku usir mereka satu persatu menggunakan jimat peninggalan kakek, kakek buyutku. Tapi, sepertinya tak ada arwah atau sosok hitam yang membuat Lani seperti ini. Tubuh tanpa raga memang menggiurkan bagi para hantu terutama yang jahat. Mereka bisa memanfaatkan energi dalam tubuh Lani sebagai makanan atau menjadi tuan dari raga tersebut.

Aku semakin khawatir, Aku harus mencari siapa pelaku dari semua ini. Tapi di sisi lain raga Lani harus dilindungi. Aku menundukkan kepala

“Ada apa cucu…”

“Kakek buyut.. tolonglah.. Aku..”

“Aku mengerti, Aku sudah tahu apa yang terjadi. Karena selama kamu hidup, Akulah yang mendampingi dan melindungimu selama ini.”

“Aku sangat berterima kasih atas itu. Tapi kali ini bisakah Kakek melindungi orang lain selain diriku. Tolong..”

“Lani. Aku hanya perlu menjaganya dari arwah jahat selama kau pergi. Aku bisa melakukan itu, kau sudah memiliki banyak ilmu yang setara denganku. Kau akan baik-baik saja selama beberapa hari ke depan Aku yakin itu.”

“Terima kasih Kakek buyut.”

“Bobby, ingatlah Aku hanya mampu melakukan itu. Dan tugasmu adalah menyelesaikan masalah ini bukan mengubah nasib seseorang.”

Tanpa pikir panjang Bobby menuju rumah Endrew dia harus bertemu dengan sosok hantu pria dengan wajah penuh darah. Pasti dia penyebab Lani mengalami hal ini. Rumah Endrew menjadi sepi, semenjak kejadian Lani pingsan semua orang panik dan tak ada yang mau melanjutkan pesta. Semua orang pulang ke rumahnya masing-masing.

Aku mengetuk pintu rumah Endrew berkali-kali. Belum ada jawaban, Aku mencoba menelpon Andrew. Tapi terus terhubung. Aku mendengar seseorang sedang memanggilku. Wujud seorang anak kecil yang seperti mengajakku ke sebuah tempat.

Aku mengikuti langkahnya. Aku berjalan ke samping rumah Endrew, di dekat kolam renang sudah ada sosok yang menantiku. Sosok yang menjadi sasaran kemarahanku. Malam ini Aku ingin menghabisinya. Meskipun Aku belum tahu benar cara menghabisi sosok hantu. Aku membawa sebotol air, ku ucapkan beberapa doa dan mantra jawa yang sempat ku pelajari dalam buku. Selangkah lagi menuju, sosok pria dengan wajah penuh darah. Aku menyiram air tersebut.

Hantu itu sedikit terluka, Aku merasa marah. Lukanya tak sebanding dengan luka milik Lani. Anak kecil yang mengantarkan memintaku berhenti. Ada yang ingin mereka berdua jelaskan.

“Apa?”

“Kami tak bermaksud jahat padamu atau manusia. Kami hanyalah arwah yang meminta didoakan.”

“Apa karena aku tak menolongmu waktu itu, kau menyelakai orang yang sangat berharga bagiku.”

“Kami hanyalah arwah penasaran. Tak memiliki kekuatan untuk menyentuh apalagi menyelakai manusia. Aku hanya ingin menjelaskan sesuatu. Jika saja waktu itu kau menyempatkan waktu, semua ini tak akan terjadi.”

“Maksudnya?”

“Sosok di rumah ini, yang lebih berkuasa membuat janji dengan manusia. Janji terlarang. Janji itu meminta korban, dan korbannya harus wanita. Tapi di rumah ini semuanya adalah pria. Tak ada lagi cara yang bisa dilakukan selain mengorbankan wanita milik orang lain.”

Aku paham dengan apa yang dimaksud oleh sosok pria dengan wajah penuh darah itu. Pelaku yang sebenarnya bukanlah dia, tapi Endrew. Pasti Endrew dan keluarganya. Aku kembali ke pintu depan, berulang kali mengedor-ngedor pintu. Tapi masih saja tidak dibuka, dengan terpaksa ia memecahkan jendela kaca depan rumah Endrew. Ku panggil nama Endrew dengan sangat keras. Aku bahkan menyelusuri semua sudut rumah namun tak ada orang. Kemana mereka semua? Dari jendela kaca, anak kecil dan pria dengan wajah penuh darah itu menunjuk ke arah belakang rumah. Ya, di sana hanya ada satu bangunan yakni garasi mobil yang berukuran cukup besar. Mereka pasti bersembunyi di sana.

Pintu ku dorbak dengan keras. Benar Endrew ada di sana, sosok hitam pekat menghilang seketika saat Aku masuk.

BRAKKKKK…..

Aku membanting tubuh Endrew dengan penuh tenaga. Aku sanga marah, siapapun yang berada di posisiku mungkin akan bertindak sama. Ku pukuli habis-habisan wajah Endrew. Kenapa Aku bisa punya teman sejahat Endrew? Kenapa dia mengorbankan Lani yang jelas-jelas kekasihku,  dan kenapa dia membuat perjanjian dengan iblis?

Endrew tertawa, bibirnya berdarah. Endrew bangkit, Aku tahu ia tak bermaksud memukul balik. Setengah hatinya mungkin tak tega jika melawanku, atau memang dia yang tak sanggup. Atau bisa saja kalau dia yakin, jika Aku tak akan membunuhnya malam ini. Endrew tahu betul, prinsip yang selama ini aku pegang tak bisa membunuh temannya dengan tanganku sendiri.

“Sudah puas Bob?”

“Kenapa? Kenapa lo tega sama gue?”

“Bukan gue yang nggak tega, tapi itu adalah keputusan dari iblis. Nggak bisa gue tolak, jika iblis sudah menginginkannya mau gimana lagi.”

“Tapi kenapa harus Lani???”

“Karena memang itu keinginan mereka bukan keinginanku. Lagi pula dunia ini terlalu kejam buat Lani.”

“Lo yang kejam, lo lebih dari iblis.”

“Ayolah Bob, kematian Lani nanti kan membawa keuntungan bagi kita berdua. Aku nggak masalah kalau harus membagi komisi. Ya 70, 30 nggakpapa. Mengingat kamu yang bakal butuh lebih banyak uang setelah Lani pergi.”

Aku memukul Endrew lagi. Kini aku memukulnya habis-habisan, sampai Endrew tak bisa bangun. Aku melihat sekeliling, dan tampak sebuah gunting yang biasa digunakan untuk memotong rumput tergeletak di meja dekat mobil. Aku mengambil gunting kebun itu, sepertinya prinsip yang aku tanam sekian lama tak berlaku lagi. Aku berdiri di atas tubuh Endrew, ku gunakan kakiku untuk menahan tubuh Endrew. Ku angkat gunting ini, Akan ku tancapkan tepat di jantungnya.