Bandara Kala Itu

Bandara Kala Itu

Bandara Kala Itu

Semuanya terjadi dengan baik-baik saja dan sesuai rencanaku. Hingga suatu pagi kabar buruk datang dan menghancurkan semua. Aku tak pernah menyangka jika nanti, bahkan suatu hari entah sekarang atau ratusan tahun lagi kamu seperti ini. Sebuah kabar buruk tentang kecelakaan pesawat pukul 01.29 Jakarta.

Bandara Kala Itu

Sumber photo : Photo by Ross Parmly on Unsplash

Rasanya baru semalam aku melepas pelukmu di bandara. Rasa hangatnya bahkan masih terasa hingga lekat bagaikan selimut sutra. Aku masih tak percaya sungguh…

“Yang sabar ya, kami belum tahu kondisinya. Kita doakan yang terbaik.” Ucap orangtuamu padaku, sesaat ku dengar kabar hilangnya pesawatmu. Tanpa pikir panjang aku melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumahmu. Di sana sama kacau balaunya. Ibu menangis keras, kakakmu juga, bahkan Ayahmu yang punya watak keras. Semuanya bersedih tak tahu bagaimana kondisimu saat itu. Aku bingung, dibandingkan Aku mungkin ibumu lah yang paling hancur. Tapi justru Ibumu yang sangat menguatkan ku pagi ini.

“Maafkan Aku tante..”

Tak ada kata lain yang bisa ku sampaikan selain maaf. Aku sangat menyesal, dan membenci diriku. Tepat satu minggu lalu, sebelum akhirnya kamu putuskan untuk pergi ke Bandara.

“Aku belum siap buat LDR sama kamu.” Tegasmu, ya kala itu kamu masih bucin-bucinnya.

“Heii, kamu ke Malaysia kan buat belajar bukan untuk apa-apa. Lagian LDR juga bukan masalah besar buat kita. Asal kita saling percaya.” Kalimatku yang berusaha menenangkanmu

“Tapi, Ka…”

“Don, kamu punya beasiswa untuk kuliah gratis di luar negeri karena pencapaian-pencapaianmu selama ini. Kira-kira mana lagi cewek mana yang merasa dirinya nggak beruntung bisa mendampingimu?”

“Tapi…”

“Udah jangan tapi, tapi. Pergilah dan kita akan tetap sayang dan saling percaya.”

Inilah salahku. Mengizinkanmu untuk pergi jauh, bahkan sekarang sangat jauh. Sangat, dan sangat jauh, tak ada lagi kesempatan untuk menemuimu.

Satu hari setelah kabar itu, aku seharian di rumahmu mandi, makan, bahkan tidur di kamarmu. Ibumu sangat baik, dia selalu menganggapku seperti anaknya sendiri, iya seperti kamu hanya bukan versi laki-laki.

Satu minggu berlalu, Aku sempatkan untuk mengunjungimu setiap malam. Orangtuaku mulai khawatir karena aku tak kunjung pulang ke rumah selepas acara tahlil. Hampir setiap malam Ayah dan Ibuku menemaniku berkunjung ke rumahmu.

Satu bulan, Aku masih mengunjungi rumahmu. Setidaknya seminggu sekali. Keluargamu memang belum mendapatkan kabar baik, apapun yang melekat dalam dirimu, pakaianmu, barang-barangmu, bahkan kacamatamu tak ditemukan oleh Tim SAR. Keluargamu berpasrah mereka bilang ini musibah dari Tuhan. Perlahan mereka akan belajar ikhlas, dan memintaku untuk melakukan hal yang sama.

Enam bulan berlalu, aku mulai jarang berkunjung. Ibumu selalu menanyakan kabarku setiap hari, setiap pagi memberikan doa-doa rohani agar aku selalu baik. Aku masih bingung kenapa beliau masih saja baik denganku, padahal kita bukan lagi siapa-siapa dan Aku juga sudah sangat jarang ke sana.

1 tahun tepat hari dimana kabar duka itu terdengar di telingaku. Kemarin ibumu memberi kabar jika ada acara tahlil satu tahun dirumah, ibumu memintaku untuk datang. Tapi aku memilih untuk menghindar.

Fotomu dalam bingkai di waktu kita masih berseragam sekolah, terus aku letakan di atas laci samping kasurku. Meskipun belum ada kabar baik tentangmu, entah kenapa aku selalu percaya kamu akan ada. Kamu akan datang. Dan aku sangat percaya itu.

Aku menyalakan TV di kamar, ada sebuah tayangan iklan yang lagi-lagi mengingatkanku tentangmu. Ya, tayangan iklan konser coldplay di Kuala Lumpur. Iya, itu adalah band favorit kita berdua. Setiap pulang sekolah dan selesai belajar kita habiskan waktu dengan gitar dan bernyanyi bersama. Hampir semua kunci lagu coldplay kamu hafalkan dalam waktu yang sebentar. Bahkan aku juga masih ingat, sewaktu acara pensi sekolah kita berdua berduet menyanyikan lagu “Fix You” dari lagu itu kita dinobatkan sebagai raja & ratu.

Lucunya, meskipun sudah lama. Semua hal tentangmu masih sangat melekat dan terasa erat. Lagu favoritmu hampir setiap hari aku dengar entah di radio, tempat perbelanjaan, atau beberapa orang-orang di kampusku yang menyanyikannya saat tengah berkumpul. Bukan hanya lagu yang terus melekat, film, hingga baju dengan gayamu juga sangat sering aku jumpai. Aku heran, dan aku benci. Semua ada, semua terdengar, semua terlihat, apapun yang kita pernah lakukan ada di sekitar mataku sekarang. Tapi, apa yang sangat aku butuhkan justru menghilang. Kamu, iya benar tak ada lagi yang bisa ku butuhkan selain itu.

Aku menangis tersedu. Di rumah sedang sangat sepi, melihat semua ini. Rasanya aku sangat sendiri. Terdengar egois memang, saat semua orang termasuk orangtuaku mengkhawatirkanku. Aku justru merasa sangat sengsara sendirian. “Maaf..” tak ada lagi kata yang bisa ku ucapkan setiap hari selain itu. Aku meraih bingkai foto kita, ku peluk hangat, tapi tak sehangat sata kita berada di bandara.

Aku menangis dalam lelap. Selamanya, sampai kapanpun kamu akan terus ada. Dalam hatiku, dalam ruang yang tak bisa digantikan oleh siapapun.

Aku menangis, dimimpiku pun masih terus menangis.

“Hei..”

Pria dengan kacamata yang sangat akrab ku tatap, muncul secara tiba-tiba. Membangunkanku perlahan dengan elusan tangan yang hangat. Ia menata poniku yang berantakan, dan menghapus air mataku.

Aku beranjak.

“Don..”

“Apa kabar?”

“Don..”

Kamu tersenyum, dan kita duduk bersebelahan di kasurku. Aku bingung bagaimana kamu bisa datang ke kamar? Apakah yang dikatakan Ayah dan Ibuku sewaktu pergi adalah menjemputmu kembali?

Aku memelukmu, hangat. Masih hangat seperti saat kita berada di bandara kala itu.

“Aku sangat sedih, aku sangat tidak baik saat kamu pergi.”

“Aku tahu, tapi kamu tahu sebelumnya aku sangat baik. Tapi melihatmu yang seperti ini, aku tak bisa sebaik itu.”

“Kamu harus tahu, selama satu tahun ini, orang selalu memintaku untuk ikhlasin kamu. Tapi Aku nggak bisa. Aku nggak mau. Kamu sangat aku butuhkan di sini. Bagaimana Aku bisa ikhlas kalau tanpamu aja Aku nggak bisa apa-apa.”

Aku menangis, semua aku tumpahkan kala itu. “Aku mau kamu tetap ada, selamanya.”

“Ka, kamu masih marah? Bicaramu seakan menantang semesta.”

“Aku nggak marah. Mana bisa aku marah sama kamu?”

“Bukan denganku, tapi dengan semesta.”

“Aku tidak pernah marah dengan semesta. Aku… Aku hanya… Aku hanya ingin kamu ada.”

Kamu tersenyum dengan sangat tulus. Aku belum pernah melihat senyuman itu sebelumnya.

“Aku memang selalu ada Ka. Di hatimu, kamu bahkan menyisakan tempat untukku.”

Aku merasa kamu terlihat berbeda. Cara bicaramu tak pernah sedewasa ini, kamu tak pernah seperti ini sebelumnya.

“Kamu sudah sangat berubah. Dulu kamu sangat ceria, bersuara paling keras di antara teman-teman lainnya. Bahkan tak malu untuk menari-nari sendiri di belakangku. Tapi sekarang, kamu terlihat surut. Rambutmu, wajahmu, pakaianmu, ini bukanlah kamu.”

“Kamu harus tahu satu tahun yang aku lalui selama ini, tanpa kamu.”

Kamu merapikan rambutku. Menyisirnya dengan tanganmu sendiri. Aku tahu kamu adalah orang yang sangat humoris, namun tak pernah romantis. Kamu juga mengisap pipiku, setiap air mata yang jatuh kamu usap terus. Aku bisa bayangkan betapa berantakannya aku sekarang.

“Tentu aku tahu. Jika tidak tahu mana mungkin aku kemari. Ka, kamu tahu aku sangat suka kalau kamu berpakaian rapi. Kamu tahu, kalau kamu adalah wanita yang pernah aku miliki. Kamu juga tahu, Aku tak bisa disini.”

Aku menangis, ada apa ini? Kenapa kita justru seperti ini?

“Ka, Aku sangat sayang kamu. Bahkan lebih sayang dari perasaanmu untukku. Aku nggak mau kamu kayak gini. Benar kata Ibuku, mulailah belajar ikhlas.”

“Itu sulit untukku.”

“Untuk semua orang tentu ikhlas sangat sulit. Tapi aku percaya, kamu pasti bisa tanpa peduli berapa lama.”

“Don, jangan minta Aku buat lupain kamu.”

“Tidak akan pernah aku meminta itu. Aku hanya memintamu untuk mengikhlaskanku.”

Aku semakin menangis, kali ini kamu tak mengusap pipiku lagi.

“Waktuku sudah habis Ka. Selamat bangun, dan aku ingin kamu menjalani hari yang lebih baik dari ini.”

Kamu pergi ke arah pintu kamarku. Aku mengejarmu, namun saat ku buka pintu kamarku Aku terbangun dari tidur. Aku menangis, dan terdengar oleh ibu. Aku masih menangis, sekarang aku hanya ingin satu hal. Kamu baik-baik saja di sana.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *