Aku Jatuh Cinta Part 3

Aku Jatuh Cinta | Part 3

Aku Jatuh Cinta | Part 3

Jujur kalian yang berada di posisiku pasti tidak dapat membayangkan perasaanku saat ini. Aku melangkah sedikit mundur darinya, bahkan saat akan berpisah pun aku masih mempermalukan diri di depan Bumi.

“Sorry..”

Aku Jatuh Cinta Part 3

 

Memang tak ada kata apapun yang bisa aku sampaikan selain maaf.

“Aku yang harusnya minta maaf Nin. Aku harap ada kesempatan lagi untuk bersamamu, meskipun aku sudah punya pacar sekarang. Tapi, jika takdir mengharuskan kita bersama aku pasti akan terima.”

Aku tak mengerti dengan ucapan Bumi saat itu. Kejadian di terminal Arjosari membuatku sedikit terpukul karena begitu mudahnya jatuh cinta terhadap laki-laki.

Sepulang dari Malang aku kembali melakukan rutinitasku bekerja, makan, tidur dan membersihkan situs blog yang berdebu. Tujuan awalku hanya ingin mencari konten yang menarik, dan Bumi adalah hal yang membuatku tertarik dari Malang.

11 Bulan 15 hari setelah kepulangan dari kota Malang…

“Nindy, istrinya Iko 2 hari yang lalu lahiran. Kamu diminta dateng ke Malang sama Tante. Libur kerja daripada di rumah terus”

“Iya Mah, besok Nindy berangkat ke Malang deh..”

Untuk memenuhi keinginan Tante dan Iko, libur kerja yang hanya 4 hari ini harus ku habiskan di Malang lagi. Untung saja aku tidak ke habisan tiket kereta. Aku mendengarkan musik sambil menikmati secangkir Bubble Coffe di ruang tunggu. Tiba-tiba aku terkejut ada seorang yang tidak aku kenal duduk di sebelahku dan mengambil satu earphone-ku. Jelas itu membuatku marah, akupun berusaha menegurnya namun “Bumi!”

“Hai Nin, Long time no see…”

“Bagaimana kamu bisa ke sini?”

“Aku ingin pergi ke Malang, kamu juga kan?”

“Bagaimana kamu bisa tahu?”

“Aku telah membaca semuanya. Malang-Love Never Die, Bumi Raksasa dari arah timur, Bus cinta dalam 14 jam perjalanan, dan Bumi untuk Nindy. Apakah semua artikel itu untuk aku?”

“Kenapa kamu begitu yakin? Aku sangat sulit menulis seseorang sudah punya pacar”

“Oh itu, aku telah putus sebulan setelah berpisah denganmu di terminal. Yang jelas bukan karena kamu.”

“Terus kamu mau apa?”

“Aku mau bikin kamu jatuh cinta dengan Bumi tempat kamu berpijak, dan Bumi yang sedang kamu tatap.”

“Boleh, coba aja. Aku mau lihat apa yang kamu bisa”

Kami saling melempar senyuman. Jujur saat kembali dipertemukan dengan Bumi pun aku merasa senang. Rasa patah hati saat pepisahan di terminal rasanya menjadi hal yang tidak pernah terjadi pada aku dan Bumi.

Karena aku tahu…

BUMI….. bukan lagi tempat untuk aku datang lalu pergi. Tapi BUMI…. Dia yang selalu menemani.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *