Aku Jatuh Cinta | Part 1

Aku Jatuh Cinta | Part 1

Aku Jatuh Cinta | Part 1

Aku Jatuh Cinta | Part 1Sinar matahari meneroboh masuk melalui jendela kamarku. Betul saja karena silaunya membuatku terbangun, aku melihat jarum jam dinding yang tertempel di depan pintu kamar. Tepat sudah pukul 09.00 pagi. Dengan langkah sedikit malas, aku beranjak dari tempat tidur ke kamar mandi. Ku basuh muka dan gosok gigi, karena hari ini aku libur kerja jadi aku tak berniat untuk pagi.

Aku kembali di meja belajarku. Ku nyalakan laptop yang semalam telah mati, meskipun aku tidak berada di kantor namun banyak pekerjaan lainnya yang harus aku kerjakan. Aku mengecek situs blog ku kembali, dan benar saja. sudah beberapa bulan ini tidak ada aktivitas yang aku lakukan. Situsku sudah sangat berdebu, semenjak aku resmi menjadi karyawan tetap di kantor rasanya waktu telah habis dengan berbagai macam deadline dan laporan.

Aku ingat saat pertama kali aku membuat blog ini. hampir setiap hari aku bercerita tentang kehidupanku, mengenai suka dan duka selama kuliah. Menurutku saat menulis di situs ini aku merasakan kebebasan. Aku sangat tidak peduli dengan komentar orang-orang, kalau mereka memuji aku sangat bersyukur tapi kalau berkomentar jelek aku biarkan saja.

Aku berpindah dari meja belajar ke meja makan. Mamah sepertinya telah menyiapkan sarapan, sebelum berangkat ke rumah Tante. Sepi sekali, dan rasanya aku sangat suntuk dengan kehidupanku sekarang.

TRINGGGG TRINGGG TRINGGG…..

Terdengar bunyi telepon, aku memanggil seseorang yang bisa mengangkatnya. Namun aku sadar sekarang aku di rumah sendirian. Kenapa setiap hari minggu semua orang menjadi sangat mager termasuk diriku.

“Hallo Assalamualaikum.”

“Wa’alaikumsalam. Nindy ya? Ini Tante Salma Nin.”

“Oh iya Tante gimana? Hari ini Mamah ke rumah sana kan?”

“Iya barus aja sampe. Oh iya kata Mamah kamu, kamu lagi libur kerja 7 hari ya?”

“Hehehe iya, emangnya kenapa Tante?”

“Kamu nyusul Mamah ke sini dong. Soalnya 3 Hari lagi ada acara Nikahannya Iko, daripada kamu sendirian di rumah mending ke Malang sini.”

“Boleh deh Tante, nanti aku coba cek tiket pesawat Jakarta-Malang”

“Nah, gitu dong nanti kamu titipin rumahnya ke pak satpam aja ya!”

Memang selama satu minggu ini aku tak memiliki rencana pergi kemanapun. Menurutku pergi ke Malang juga tidak masalah.

Kondisi stasiun pasar senen memang selalu ramai, padahal tadi pagi aku bilang bakan ngecheck tiket dulu. Tapi entah kenapa karena gak ada kegiatan lain aku ingin langsung berangkat ke Malang hari ini. Antrian loket hari ini cukup panjang, dan yang paling menyebalkan adalah saat ada orang yang langsung menyerobot antrian begitu saja.

Jujur saja aku paling benci dengan orang yang tidak tertib. Apalagi jika orang tersebut adalah anak muda yang usianya tak terlalu jauh dariku. Tanpa pikir panjang aku langsung menegurnya, namun bukannya baris dibelakangku cowok itu hanya berkata “Misi sebentar ya mbak ini urgent.”

WHATTTTT… omegattt emang susah hidup di Indonesia orang ditegur bukannya merasa bersalah malah beralasan. Apalagi gak ada petugas stasiun pun yang lihat kelakuan cowok satu ini. Aku terus mencoba menepuk pundak cowok satu ini tapi dia terus mengacuhkanku hingga akhirnya “udah kok mbak mari.”
jujur kekesalanku rasanya masih ingin ku luapkan, tapi lebih baik aku biarkan saja. Aku tak ingin membuang tenaga hanya untuk bertengkar dengan cowok gak jelas itu.

“Selamat Siang mbak 1 tiket ke Malang buat hari ini”

“Mohon maaf mbak, untuk tiket ke Malang baru saja habis. Jika mbak berkenan mbak bisa reservasi tiket ke Malang untuk besok pagi di loket 1.”

Kejengkelanku kini telah mencapai puncaknya, dasar cowok gak punya aturan udah nyerobot antrian tiket terakhir ke Malang pasti di beli sama dia! Ini udah kelewatan, cowok ini harus aku tegur. Aku sangat hafal dengan tas ransel yang ia gunakan. Tas gunung motif army dengan tulisan “Love Never Die.”

Aku haru menemukannya, tepat di ruang tunggu. Dengan penuh keberanian aku menghampiri cowok itu. Ku tepuk pundaknya dan dia pun membalikan badan. Aku tak taku sekalipun meskipun postur tubuh yang dimiliki tinggi dan besar. Meskipun aku hanya setinggi ketiaknya dan harus mengangkat kepala saat harus berbicara dengannya, tapi Aku tidak TAKUT!!

“Woii mas, gara-gara anda, saya jadi ke habisan tiket ke Malang. Apa anda nggak ada perasaan bersalah sama saya? Anda sudah menerobos antrian dan membeli tiket terakhir ke Malang yang harusnya itu milik SAYA!” tanpa aku sadari intonasi suaraku yang tinggi menjadi pusat perhatian orang-orang. Cowok itu hanya diam saja, namun perhatianku teralihkan saat aku melihat sosok kakek dan nenek yang berada dibalik badan cowok itu mengucapkan maaf padaku.

“Mbak maaf..” ucap si kakek dengan sangat lirih. Kalau udah wajahnya saja aku sudah merasa iba dan nggak tega. Kakek dan nenek ini sudah sangat renta bahkan kakek harus menggunakan tongkat kayu untuk berjalan. Sedangkan nenek memiliki wajah yang sangat meneduhkan, rasanya kemarahanku hilang seketika.

“Maaf ya mbak, tiket ke Malangnya kami yang beli. Antriannya terlalu panjang saya sama istri gak kuat untuk berdiri lama. Jadi mas ini bantuin kami buat beliin tiket kereta ke Malang.”

Astaga Nindy selamat kamu telah menjadi wanita yang terbukti galak dan jahat. Tanpa pikir panjang aku mencium kedua tangan kakek dan nenek itu, jujur aku akui akulah yang salah. Memarahi orang tanpa meminta alasannya. Pantas saja tidak ada orang lain yang menegur orang ini rupanya dia bukan mementingkan keegoisannya namun mementingkan orang lain.

Aku tak ingin terlalu memikirkan kejadian barusan. Lebih baik aku mencari makan didekat stasiun dan baru pulang. Untung saja aku belum mengabari keluarga di Malang. “Heii mbak.. tunggu sebentar” aku membalikan badanku karena aku merasa panggilan itu ditujukan padaku. Ternyata benar lelaki yang baru saj aaku tegur tadi.

“Maaf ya mbak atas insiden tadi, nggak seharusnya saja nerobos antrian dan sekarang mbaknya jadi kehabisan tiket.”

“Nggak papa mas, udah lupain saja. Lagian saya bisa berangkat besok kok, udah ya mas saya duluan.”

“Tunggu mbak, daripada harus ubah jadwal, saya kasih alternatif lain mbak.”

Entah kenapa aku orang yang tak mudah percaya dengan orang baru, namun dengan cowok ini aku begitu mudah untuk menyetujuinya. Dari stasiun pasar senen, cowok mengajakku ke terminal senen. Jujur aku sendiri heran kenapa aku mengiyakan saat ia mengajakku ke terminal. Nggak seharusnya aku ikut dengan orang ini, hanya karena dia terlihat baik di keramaian bukan berarti dia akan berperilaku sama di tempat yang sepi.

Aku terus berusaha menjaga jarak darinya, apalagi postur tubuh yang dimilikinya tak akan bisa membuatku berkutik atau melawan. Dalam pikiranku aku membayangkan berbagai teknik bela diri yang aku lihat di film-film action. aku harus benar-benar mengingat dan mempelajarinya dengan cepat.

“Mbak, ini tiketnya.”

“HAH? Tiket?”

“Iya, sebagai permohonan maaf ini ada tiket bis buat ke Malang, mohon di terima ya mbak.”

“Duh mas beneran gak usah. Lagian saya udah bilang gak masalah kalo berangkat besok pagi. Malah jadi ngerepotin kan saya.”

“Udah gakpapa mbak. Lagian tujuan saya sama kok mbak, Malang. Ini tiketnya sudah dibeli sayang kali mbak kalo nggak dipake. Oh ya kita belum kenalan mbak, saya Bumi”

“Nindy.”

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *