31 OKTOBER

31 Oktober | Part 3

31 Oktober | Part 3

“STOP”

Lani menahanku. Arwah Lani mengikutiku sedari tadi.

“Aku nggak mau kamu jadi seorang pembunuh. Kita temukan cara lain yang lebih baik dari ini.”

Aku meletakkan gunting itu. Lani benar, Aku harus menahan emosiku. Pasti ada cara lain untuk menyelamatkan Lani.

Dua hari setelah kejadian itu, Aku masih gelisah. Aku masih bingung bagaimana cara terbaik agar Lani bisa selamat. Aku memang indigo, tapi Aku belum mampu untuk menguasai hantu. Sosok hantu yang bekerjasama dengan Endrew hantu yang kuat dan sulit bagiku untuk mengalahkannya. Jika tak segera ku temukan cara, energi kehidupan Lani akan segera habis dan dia bisa mati.

TIDAKKK

Lani tak boleh mati. Masih banyak rencana bahagia yang ingin kulakukan bersamanya. Lani harus punya umur yang panjang. Lani tolong berjuanglah sedikit lagi, kuatkan dirimu. Aku akan berusaha keras untuk menyelamatkanmu.

Aku membaca beberapa artikel dan cara-cara membatalkan janji dengan iblis. Tapi tak bisa, hanya kedua pihak yang terlihat saja, yang dapat melakukan itu. Pihak luar, justru akan menjadi pengganggu. Sampai aku menemukan satu kolom komentar. Mungkin cara ini bisa dicoba.

Pagi-pagi buta, Aku pergi menuju gunung Cermai. Lokasinya tak terlalu jauh dari Jakarta butuh setidaknya 2-3 jam untuk sampai ke sana. Pendakian memang sudah dibuka namun dibatasi oleh pihak penjaga pos. Aku dengan berbekal alat daki sederhana, melangkah menuju tempat yang ditulis dalam komentar semalam.

GOA KELELAWAR.

Disini sangat pekat, Aku berjalan 250 meter dari mulut goa. Di sini seperti tempat pertapaan. Ada banyak kelelawar yang bergantung di sela-sela stalaktit, di sini sangatlah lembah. Semua terasa basah. Aku duduk di tempat yang mungkin biasanya diduduki oleh para petapa. Aku berdiam sejenak, hanya berbekal bunga 7 rupa.

Aku masih terdiam. Sosok pria tubuh tinggi menghampiriku, dia penguasa di sini. Ada seekor harimau yang mendampingi pria tubuh tinggi ini. Aku memanggilnya Eyang. Dia menanyakan apa keperluanku sampai jauh-jauh ke sini.

“Aku ingin meminta bantuan, ada seseorang yang paling Aku sayang didunia ini. Dia dalam bahaya, nyawanya terancam oleh perbuatan orang kejam. Dia dijadikan tumbal. Aku ingin menyelamatkannya.”

Eyang terdiam. Dia sempat menolak permintaanku dan meninggalkanku begitu saja.

“Tolong, Aku akan melakukan apapun. Asal orang yang Aku sayangi selamat.”

Eyang kembali, Akhirnya ia berbicara. “Nyawa ditukar dengan nyawa, apakah sanggup dirimu menanggungnya? Nyawamu ditukar dengan nyawanya?”

Aku sedikit ragu. Rencanaku adalah menyelamatkan Lani dan kami hidup bersama dan bahagia. Aku bahkan merencanakan pernikahan tahun depan, bahkan aku telah menyicil keperluan tempat tinggal, dan semuanya agar lebih mapan secara finansial.

“Bagaimana?”

Aku masih terdiam, ini pilihan sulit. Tapi, mana sanggup aku melepas Lani begitu saja. Aku sangat mencintainya, hidup akan hampa jika tanpa Lani.

“Baiklah Aku terima.”

Aku mendekat, perjanjian itu ditulis dengan darah. Darahku. Demi Lani, demi hidupnya, Aku rela. Aku menggoreskan beling ke tangan. Darahku perlahan keluar, tapi beling itu terlempar begitu saja. Siapa lagi yang menggangguku?

Lani datang dengan kakek buyutku.

Lani menangis, apa dia mendengar perbincanganku tadi? Kakek buyut tampak sangat marah. Ia mengambil beli itu. Hanya ada sedikit darah yang keluar.

“Bukankah sudah ku bilang, urusanmu hanyalah menyelesaikan masalah. Bukan mengubah nasib seseorang.”

“Tapi Aku tak bisa hidup tanpa Lani. Aku mencintainya, Aku tak bisa membiarkannya pergi. Aku hanya perlu mengganti posisi Lani.”

“Perilakumu ini telah melampaui batas. Aku memang menurunkan kemampuan ini padamu, tapi bukan berarti kau berhak atas nasib seseorang. Atas kehidupan/kematian seseorang. Apa yang dialami Lani telah menjadi suratan takdir, sebagai manusia kau seharusnya menerima dengan ikhlas bukan berusaha mengingkarinya.”

“Tapi kek. Aku tak bisa melihat Lani pergi, aku sangat mencintainya.”

“Cinta itu datangnya dari Tuhan. Nafsumu ini yang membuat cinta menjadi salah dan melakukan hal yang paling dibenci oleh-Nya. Lani tak akan bahagia jika dia tahu dirimulah yang berkorban nyawa atas dirinya.”

“Aku nggak mau kamu mati Bob, apalagi demi Aku. Aku nggak mau, Aku nggak bisa.”

“Sama halnya denganku Lan, Aku nggak bisa membiarkanmu mati. Biar aku yang mati, asal kamu hidup bahagia.”

“Bagaimana Aku bisa bahagia, setelah tahu kamu begini? Aku akan selamanya sengsara”

Lani perlahan menghilang, energi kehidupannya mulai habis. Tidak, jangan. Aku harus menyelamatkannya. Berulang kali ku goreskan tanganku ke batu yang tajam agar terluka dan berdarah. Tapi gagal kakek menghalangiku. Aku sampai memohon dan mencium kakinya agar mengizinkanku untuk menyelamatkan Lani. Tapi keputusannya tetap sama. Dia tak ingin aku melakukan ini.

“Bobby, kamu cukup mengingatku. Hiduplah bahagia, terima kasih telah melakukan sejauh ini. Aku tahu kamu seorang indigo, pasti akan ada saatnya kita bertemu lagi. Meskipun aku bukan manusia sepertimu.”

Lani benar-benar menghilang. Aku menjerit keras yang tersisa di goa hanya Aku sendirian. Kakek buyut hanya melihatku, sebelum akhirnya melangkah pergi.

“Kenapa kakek menghalangiku?”

“Karena kakek menyayangimu, kau akan mengalami masalah yang lebih besar dari ini jika kau membuat janji yang syirik.”

“Lani. Lani hanya korban, Aku berusaha menyelamatkannya. Lalu bagaimana dengan Endrew, seharusnya dia yang mati bukan Lani.”

“Hanya Tuhan yang mampu menghukum seseorang. Pulanglah, temui Lani sebelum ia dikuburkan.”

Aku menangis. Sepanjang jalan, ingatanku dengan Lani terasa jelas. Aku tak sanggup dengan ini, perasaanku terhadap Lani sangatlah pekat dan lekat. Aku merasa sedikit menyesal menjadi Indigo. Tapi setiap kali perasaan sesal ini muncul, saat berulang kali ku coba hilangkan kemampuan ini. Orang-orang hanya berkata “Terima kondisimu apa adanya. Berdamailah dengan itu, kamu akan bahagia. Apapun yang dialami seseorang itu adalah kuasa Tuhan.”

Meskipun aku selalu sakit setiap kali mendengar cerita duka, atau melihat orang lain yang tanpa raga. Aku harus terbiasa.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *