31 OKTOBER

31 Oktober | Part 2

31 Oktober | Part 2

Lani di bawa ke rumah sakit terdekat. Suhu tubuhnya menurun drastis. Dokter memperkirakan jika Lani terkena serangan jantung. Ia harus segera dirawat lebih lanjut. Aku sangat sedih, Aku bingung apa yang harus ku katakan pada orangtuanya. Kenapa sebagai pacar Aku tak bisa menjaga Lani dengan baik. Bodoh, bodoh.

Berkali-kali aku meminta maaf pada orangtua Lani. Mereka sangat shock melihat kondisi Lani yang kini sedang terbaring koma. Orangtua Lani menangis tak henti-henti terutama sang ibu. Aku menundukkan kepala, Aku memang bukan calon menantu yang baik. Ayah Lani menepuk pundakku. Ia berkata ini bukan kesalahanmu.

Aku mendengar suara tangis, itu adalah Lani yang berada di belakangku sedari tadi. Aku menghampiri Lani. Ku tanyakan sekali lagi siapakah dia?

“Aku Lani Bob. Aku pacar kamu, kenapa kamu masih nggak percaya udah berapa lama kita pacaran. Aku sudah kenal dekat denganmu. Kamu si anak indigo yang sering dipanggil dukun selama sekolah. Kamu yang selalu datang ke rumah dan ceritain pengalaman horror tapi aku masih nggak takut. Aku Lani. Aku… pacar kamu..”

Benar dia Lani. Tangisnya, ceritanya, dan raut wajahnya. Tak ada hantu yang bisa menyerupai sepersis ini. Dia Lani yang asli.

Aku dan Lani mengobrol di lorong rumah sakit yang sudah sepi. Aku lebih tenang, dan Lani juga sudah berhenti menangis.

“Kenapa kamu bisa begini? Apa yang terjadi?”

“Aku nggak ingat jelas. Aku bersembunyi tak jauh darimu, tapi Aku berpindah seperti ada seseorang yang mengarahkanku untuk berjalan. Aku tak ingat jelas wajahnya, dia hitam dan tinggi. Aku berjalan ke ujung halaman belakang dekat dengan kolam renang. Aku sadar kemudian berlari, Aku memanggil namamu berkali-kali sampai akhirnya kamu dengar. Tapi sosok hitam itu ternyata mengikutiku saat Aku ingin berlari ke arahmu. Aku lari dan bertemu dengan pria dengan wajah penuh darah, dia menakutkan seperti ingin menyerang. Setelah itu kamu menemukanku. Aku bahkan tak sadar, jika Aku sudah terpisah dengan ragaku sendiri.”

Pria dengan wajah penuh darah. Pakaiannya saat itu juga hitam. Apa jangan-jangan ini ulahnya. Tidak bisa dimaafkan.

“Aku harus gimana Bob, Aku masih ingin hidup.”

Lani mulai menangis lagi. Aku semakin tak tega.

“Lani, tenangkan dirimu. Aku berjanji akan mencari jalan keluar, Aku akan membuatmu hidup kembali.”

Lani mengangguk. Aku langsung bergerak menuju rumah Endrew. Aku juga meminta Lani ikut agar dia bisa mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi waktu itu. Tapi setengah perjalanan Lani merasa kesakitan.

“Kakiku sakit Bob.”

Ada hantu lain yang sedang mengganggu Lani. Pasti hantu jahat yang ingin menyelakai Lani. Kami kembali ke rumah sakit. Benar ruangan Lani penuh dengan Hantu dan arwah jahat. Aku harus melindungi Lani. Tak ku biarkan hal buruk terjadi padanya malam ini. Aku masuk ke dalam ruangan, ku usir mereka satu persatu menggunakan jimat peninggalan kakek, kakek buyutku. Tapi, sepertinya tak ada arwah atau sosok hitam yang membuat Lani seperti ini. Tubuh tanpa raga memang menggiurkan bagi para hantu terutama yang jahat. Mereka bisa memanfaatkan energi dalam tubuh Lani sebagai makanan atau menjadi tuan dari raga tersebut.

Aku semakin khawatir, Aku harus mencari siapa pelaku dari semua ini. Tapi di sisi lain raga Lani harus dilindungi. Aku menundukkan kepala

“Ada apa cucu…”

“Kakek buyut.. tolonglah.. Aku..”

“Aku mengerti, Aku sudah tahu apa yang terjadi. Karena selama kamu hidup, Akulah yang mendampingi dan melindungimu selama ini.”

“Aku sangat berterima kasih atas itu. Tapi kali ini bisakah Kakek melindungi orang lain selain diriku. Tolong..”

“Lani. Aku hanya perlu menjaganya dari arwah jahat selama kau pergi. Aku bisa melakukan itu, kau sudah memiliki banyak ilmu yang setara denganku. Kau akan baik-baik saja selama beberapa hari ke depan Aku yakin itu.”

“Terima kasih Kakek buyut.”

“Bobby, ingatlah Aku hanya mampu melakukan itu. Dan tugasmu adalah menyelesaikan masalah ini bukan mengubah nasib seseorang.”

Tanpa pikir panjang Bobby menuju rumah Endrew dia harus bertemu dengan sosok hantu pria dengan wajah penuh darah. Pasti dia penyebab Lani mengalami hal ini. Rumah Endrew menjadi sepi, semenjak kejadian Lani pingsan semua orang panik dan tak ada yang mau melanjutkan pesta. Semua orang pulang ke rumahnya masing-masing.

Aku mengetuk pintu rumah Endrew berkali-kali. Belum ada jawaban, Aku mencoba menelpon Andrew. Tapi terus terhubung. Aku mendengar seseorang sedang memanggilku. Wujud seorang anak kecil yang seperti mengajakku ke sebuah tempat.

Aku mengikuti langkahnya. Aku berjalan ke samping rumah Endrew, di dekat kolam renang sudah ada sosok yang menantiku. Sosok yang menjadi sasaran kemarahanku. Malam ini Aku ingin menghabisinya. Meskipun Aku belum tahu benar cara menghabisi sosok hantu. Aku membawa sebotol air, ku ucapkan beberapa doa dan mantra jawa yang sempat ku pelajari dalam buku. Selangkah lagi menuju, sosok pria dengan wajah penuh darah. Aku menyiram air tersebut.

Hantu itu sedikit terluka, Aku merasa marah. Lukanya tak sebanding dengan luka milik Lani. Anak kecil yang mengantarkan memintaku berhenti. Ada yang ingin mereka berdua jelaskan.

“Apa?”

“Kami tak bermaksud jahat padamu atau manusia. Kami hanyalah arwah yang meminta didoakan.”

“Apa karena aku tak menolongmu waktu itu, kau menyelakai orang yang sangat berharga bagiku.”

“Kami hanyalah arwah penasaran. Tak memiliki kekuatan untuk menyentuh apalagi menyelakai manusia. Aku hanya ingin menjelaskan sesuatu. Jika saja waktu itu kau menyempatkan waktu, semua ini tak akan terjadi.”

“Maksudnya?”

“Sosok di rumah ini, yang lebih berkuasa membuat janji dengan manusia. Janji terlarang. Janji itu meminta korban, dan korbannya harus wanita. Tapi di rumah ini semuanya adalah pria. Tak ada lagi cara yang bisa dilakukan selain mengorbankan wanita milik orang lain.”

Aku paham dengan apa yang dimaksud oleh sosok pria dengan wajah penuh darah itu. Pelaku yang sebenarnya bukanlah dia, tapi Endrew. Pasti Endrew dan keluarganya. Aku kembali ke pintu depan, berulang kali mengedor-ngedor pintu. Tapi masih saja tidak dibuka, dengan terpaksa ia memecahkan jendela kaca depan rumah Endrew. Ku panggil nama Endrew dengan sangat keras. Aku bahkan menyelusuri semua sudut rumah namun tak ada orang. Kemana mereka semua? Dari jendela kaca, anak kecil dan pria dengan wajah penuh darah itu menunjuk ke arah belakang rumah. Ya, di sana hanya ada satu bangunan yakni garasi mobil yang berukuran cukup besar. Mereka pasti bersembunyi di sana.

Pintu ku dorbak dengan keras. Benar Endrew ada di sana, sosok hitam pekat menghilang seketika saat Aku masuk.

BRAKKKKK…..

Aku membanting tubuh Endrew dengan penuh tenaga. Aku sanga marah, siapapun yang berada di posisiku mungkin akan bertindak sama. Ku pukuli habis-habisan wajah Endrew. Kenapa Aku bisa punya teman sejahat Endrew? Kenapa dia mengorbankan Lani yang jelas-jelas kekasihku,  dan kenapa dia membuat perjanjian dengan iblis?

Endrew tertawa, bibirnya berdarah. Endrew bangkit, Aku tahu ia tak bermaksud memukul balik. Setengah hatinya mungkin tak tega jika melawanku, atau memang dia yang tak sanggup. Atau bisa saja kalau dia yakin, jika Aku tak akan membunuhnya malam ini. Endrew tahu betul, prinsip yang selama ini aku pegang tak bisa membunuh temannya dengan tanganku sendiri.

“Sudah puas Bob?”

“Kenapa? Kenapa lo tega sama gue?”

“Bukan gue yang nggak tega, tapi itu adalah keputusan dari iblis. Nggak bisa gue tolak, jika iblis sudah menginginkannya mau gimana lagi.”

“Tapi kenapa harus Lani???”

“Karena memang itu keinginan mereka bukan keinginanku. Lagi pula dunia ini terlalu kejam buat Lani.”

“Lo yang kejam, lo lebih dari iblis.”

“Ayolah Bob, kematian Lani nanti kan membawa keuntungan bagi kita berdua. Aku nggak masalah kalau harus membagi komisi. Ya 70, 30 nggakpapa. Mengingat kamu yang bakal butuh lebih banyak uang setelah Lani pergi.”

Aku memukul Endrew lagi. Kini aku memukulnya habis-habisan, sampai Endrew tak bisa bangun. Aku melihat sekeliling, dan tampak sebuah gunting yang biasa digunakan untuk memotong rumput tergeletak di meja dekat mobil. Aku mengambil gunting kebun itu, sepertinya prinsip yang aku tanam sekian lama tak berlaku lagi. Aku berdiri di atas tubuh Endrew, ku gunakan kakiku untuk menahan tubuh Endrew. Ku angkat gunting ini, Akan ku tancapkan tepat di jantungnya.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *