KESEMPATAN

KESEMPATAN

KESEMPATAN

“Menurutmu Kesempatan itu Apa?”

Aku terus memandangmu. Sejujurnya aku selalu menikmati setiap saat kita mengobrol, kamu seakan manusia maha tahu. Dimana semua pertanyaanku kamu jawab dengan mudahnya, tanpa perlu panjang memikirkan. Atau kamu saja yang menjawabnya dengan asal?

“Hmmm… Sebuah akibat saat kita memilih sesuatu.”

Aku tertawa, penjelasan yang sangat tidak masuk akal dalam logikaku.

“Mana bisa seperti itu?”

“Lucu ya? Tapi coba deh kamu pikirin setiap kali kamu memilih sesuatu, kamu akan melihat berbagai hal yang bisa menjadi kesempatanmu hidup lebih baik.”

“Lalu bagaimana dengan kesempatan kedua? Bukankah terlalu banyak memilih itu bisa aja disebut dengan plin-plan?”

“Bukankah lebih bagus kalau kita punya banyak pilihan, dibanding hanya memilih satu jalan?”

“Jawabanmu tak membuatku puas.”

Kamu tertawa.

“Menurutku, kesempatan kedua itu keputusanmu yang digabungkan dengan keputusan Tuhan.”

Bagiku menelaah setiap penjelasan darinya adalah hal yang lebih sulit dibanding Ujian Akhir Semester. Setiap kali kami bertemu, dan mengobrol bersama. Aku terus memikirkan itu. Rangkaian katanya penuh dengan makna.

Aku sangat ingin mengenalnya dulu, dan setelah itu terjadi aku merasa biasa. Ada juga kagumnya dan penasarannya. Entah dia manusia keturunan siapa. Otaknya seperti memiliki poros yang berbeda dengan manusia pada umumnya.

“Apa kamu tidak lelah?”

“Lelah dengan apa?”

Aku terdiam. Aku juga bingung kenapa aku menanyakan hal itu. “Entah.” Jawabku singkat

“Kalau ada kesempatan lagi untuk kita bertemu, kamu mau aku melakukan hal apa?”

“Jangan konyol, kamu akan pergi lagi? Untuk berapa lama? Dan kemana lagi?”

Kamu tertawa, sangat keras hingga berdahak-dahak. Aku memberikanmu minum, dengan tawamu seperti itu aku yakin tenggorokanmu pasti akan sangat kering setelahnya.

“Saat ini mungkin belum. Tapi tidak tahu besok, lusa, minggu depan, atau bulan depan lagi.”

“Kenapa kamu selalu pergi dan datang seperti ini.”

“Aku masih mencari.”

“Apa yang kamu cari?”

Kita saling berpandangan. Seketika, jantungku berdetak lebih kencang. Aku bingung setengah mati.

“Tempat pulang.”

“Inikan rumah kamu. Rumah kita.”

“Iya, aku tahu. Meski hanya panti asuhan tempat dimana kita besar. Tapi arti rumah bagiku berbeda, dia yang akan memberikanku kenyamanan bukan hanya melindungi dari air hujan.”

Aku sedikit sedih, untuk kesekian kali ia akan pergi. Ya setelah sekian lama ia menjadi seseorang yang sangat misterius di panti ini. Hanya aku, cuma aku saja yang bisa sedekat ini.

“Sampai kapan kamu mau pergi-pergi?”

“Aku tidak tahu.”

“Aku sangat sulit percaya denganmu, rasanya semua kalimat-kalimatmu hanya sebuah omong kosong belaka.”

Kamu meneguk minuman yang tadi ku berikan.

“Syukurlah, itu lebih bagus. Karena aku lebih senang kamu menjadi pribadi yang punya pendirian dibanding mengikuti kata orang.”

“Sudahlah hentikan omonganmu. Jika ingin pergi sekarang, segeralah langit sedang mendung.”

Kamu berpamitan. Untuk kesekian kalinya, aku tak menangis. Aku selalu yakin jika nanti kamu akan kembali ke sini.

Andai saja aku tahu, kamu tak pernah kembali lagi.

Sekian tahun berlalu, panti asuhan ini akan diambil alih oleh yayasan. Aku dan anak-anak akan pindah ke tempat lain. Bahkan di saat Aku memandang lama panti asuhan ini, khususnya teras depan yang sering kita gunakan untuk mengobrol berjam-jam, kamu tak kunjung datang. Mungkin kesempatan itu tak pernah ada. Entah kedua, ketiga, bahkan seterusnya.

Di tempat tinggal baru. Sedikit lebih mewah dibanding panti asuhan yang lama. Aku penasaran siapakan manusia dermawan yang berbaik hati memberikan tempat tinggal sebagus ini.

“Selamat datang, dan selamat pulang.”

Aku sangat tidak asing dengan suara ini. Suara yang hampir 2 tahun tak lama ku dengar setiap sore menjelang magrib di panti asuhan lama.

Aku berbalik. Apakah kamu manusia dermawan itu.

“Maaf, aku tak menyempatkan waktu untuk datang. Tapi setidaknya, aku bisa membawamu pulang kemari.”

“Bagaimana bisa? Kamu jadi seperti ini.”

Aku sangat terkejut, sikap, tutur kata, bahkan intonasi suaramu tidak berubah sama sekali. Meskipun sekarang penampilanmu jauh lebih rapi.

“Selama pergi Aku punya banyak kesempatan, dan seperti inilah aku sekarang. Ajaib bukan?”

“Sangat.”

Aku sangat bahagia. “Emm… sudahkah menemukan tempatmu pulang?”

“Sudah lama ku temukan. Sudah sangat lama, kamu. Iya, kamu tempatku pulang yang paling ku inginkan. Sekarang, aku tak akan pergi lagi. Kamu sudah ku bawa kemari, akan pulang bersamamu setiap waktu.”

“Kamu tetap saja omong kosong di mataku.”

Aku tersenyum. Kamu juga demikian. Kesempatan? Entahlah aku rasa sekarang ini aku mengerti sedikit maksudnya.

Kita yang pernah

Untuk Kita yang Pernah

Untuk kita yang pernah

Sampai sekarang kamu masih saja hafal denganku. Apa makanan kesukaanku, bahkan bagiamana aku menyisihkan sawi ditepian mangkuk mi ayam. Kamu juga tahu, entah dimanapun kita makan, Aku lebih senang duduk berhadapan dibanding disampingmu. Karena bagiku saat itu, memandangmu tanpa ada kata apapun sudah sangat cukup. Iya, aku dibudakan oleh cinta sepertinya, banyak temanku yang bilang jangan terlalu gila padamu. Tapi mau bagaimana lagi, rasa sayang telah tumbuh sedemikian rupa. Tak bisa aku sangkal atau sembunyikan.

Kita yang pernah

“Kamu pernah.. mengatakan ini.’Jika suatu saat nanti kita sudah saling bertentangan kita harus sama-sama menguatkan’ Dan itu telah terjadi sekarang”

Kamu hanya bisa diam.

“Kamu juga pernah ada bilang banyak hal yang aku telah tahu darimu. Aku tahu rumahmu, keluargamu, hewan peliharaanmu, teman sepermainanmu, bahkan semua kesukaanmu.”

Aku menahan tangis.

“Kamu pernah… Kamu pernah bilang sayang yang sangat dalam padaku..”

“Semuanya pernah kita lakukan.”

Akhirnya kamu bicara.

“Semua hal yang kamu katakan sudah pernah kita lalui dan rasakan selama ini. Mungkin Aku telah berusaha menguatkanmu, tapi pada akhirnya. Kita sama-sama tak pernah setuju, kamu dan aku sudah sangat berlawanan. Menurutku ini adalah akhirnya..”

“Aku sangat membutuhkanmu. Aku sangat cinta, bahkan kita berjanji untuk hidup selamanya.”

Kamu memelukku hangat. Aku menangis dalam dekap. Kamu melepaskan tubuhmu dengan sangat pelan.

“Ini saatnya kita berpisah.”

Padahal saat itu, aku ingin berkata. Hal itu tak akan pernah terjadi, tapi mau bagaimana? Kamu sudah membulatkan keputusan itu. Hatiku hancur selama beberapa bulan. Kamu bukan cuma kenangan indah tapi juga pemberi luka yang dalam.

“Kita pernah melakukan semua hal indah, dan akhirnya semua berubah. Kita pernah saling mengenal dekat tapi perlahan rasa itu justru pekat. Kita pernah melalui semua itu. Dan sekarang kamu mau mengulanginya denganku? Tapi Aku janji tak akan meninggalkanmu”

Setelah semua hal itu kita lalui, semua kata ‘pernah’ kita lakukan. Mungkin inilah yang namanya belajar, Aku menerimamu lagi sebagai pasangan yang seutuhnya. Untuk menjalani kehidupan yang semoga selamanya.

“Iya.”

Kamu memasangkan cincin itu, dan memeluk hangat tubuhku lagi.

Kamu, Aku, Dan Satu Minggu

Kamu, Aku, Dan Satu Minggu

“Aku bingung dengan kita, bagiku kamu adalah orang baru yang ku kenal dalam waktu satu minggu.”

Aku meneguk segelas teh hangat tawar. Kamu masih menghisap rokok dan membuang jauh-jauh asapnya dari pandanganku.

“..Tapi kamu yang paling berhasil mencuri semua perhatianku dalam satu waktu.”

“Memang itulah kelebihanku.”

“Aku selalu penasaran, kenapa kamu bisa menarik semua perhatianku?”

“Itu mudah, karena Aku sendiri yang menginginkan kamu untuk lebih memperhatikanku dibanding yang lain.”

Aku meneguk lagi teh tawarku. Ini tegukan yang terakhir. Aku beranjak dari kursi dan pergi ke mas Tejo. Pemilik burjo langgananku ini. Semenjak mengenal dia, Aku mulai diajak ke tempat-tempat seperti ini.

“Kamu mulai menyukai burjo.”

“Karena ada susu Dancow coklat di sini.”

“Tapi yang kamu pesan tadi teh tawar hangat.”

“Susu Dancow coklat nomer 1, teh tawar hangat nomer 2 kesukaanku.”

“Baiklah.”

Kami menaiki motor berdua, Aku selalu diboncengnya. Jarak dari burjo ke rumah cukup jauh. Setidaknya butuh 30 menit untuk kami sampai, dengan kecepatan normal. Tapi, setiap pergi denganku dia selalu memperlambat laju motornya. Ya untuk apa lagi? Jika bukan untuk menceritakan tentang dirinya, dan mencari tahu lebih banyak tentangku.

“Kenapa kamu mengajakku ke burjo yang jauh?”

“Itu adalah burjo langgananku dan teman-teman waktu SMA. Mana bisa Aku tak singgah ke sana.”

“pernyataanmu tak menjawab sama sekali.”

“Aku tahu, sebenarnya jawaban yang kamu inginkan adalah Aku ingin lebih lama denganmu. Itu benar, tapi yang lebih benar yang barusan Aku jawab.”

Sejak seminggu lalu, kamu sangat sering berkunjung ke rumahku. Menghampiriku setelah sholat magrib, dia selalu menyempatkan waktunya untuk menemuiku. Aku heran kenapa dia bisa seajaib itu. Iya ajaib, saat teman-temanku yang lain memiliki kesibukkannya dan memilih istirahat setelah seharian beraktivitas. Dia memiliki energi yang tak ada habisnya, seharian bekerja masih menyempatkan waktu ke rumahku. Bertemu denganku, bahkan meminta izin ke orangtuaku untuk mengajakku pergi sejenak.

“Kamu tahu, apa yang membuatku sangat ingin selalu denganmu.”

“Apa?”

“Kamu itu rapi. Bajumu, kehidupanmu, pekerjaanmu, bahkan tutur katamu.”

“Lalu?”

“Cocok untuk memperbaikiku yang berantakan ini.”

“Tapi Aku baru mengenalmu seminggu.”

Kamu tertawa, lepas dan cukup keras. Padahal di sebelah kanan dan kiri kita ada pengendara lain.

“Memangnya kenapa kalau seminggu?”

“Itu sungguh mustahil untuk memperbaiki hidupmu.”

“Memangnya butuh berapa lama?”

Aku berpikir sejenak. Aku tak ada niatan untuk memperbaiki hidupnya, sama sekali tak ada. Aku hanya memikirkan diriku. Dan mempersiapkan semua mimpiku sendiri.

“Butuh waktu berapa lama?” ucapmu dengan nada yang lebih keras, namun tidak membentak. Aku masih berpikir.

“1 tahun.” Cetusku asal.

“Baik satu tahun.”

“Bukan 2 tahun deh.”

“2 tahun juga nggakpapa.”

“Nggak, selama-lamanya..”

“Syukurlah jika kamu bilang begitu.”

“Selama-lamanya Aku nggak akan pernah bisa atau mau memperbaiki hidup kamu.”

Kamu tertawa namun tak sekeras tadi. Aku tak mengerti. Laju motor sedikit lebih cepat. Sekarang kamu malah meminggirkan motornya. Kamu menggambil rokok lagi. Kamu hisap pelan-pelan dan asapnya buang jauh-jauh.

“Apa yang membuatmu tidak sukai denganku.”

“Banyak.”

“Sebutkan sepuluh saja.”

Kamu membuang rokokmu, dan kita kembali melanjutkan perjalanan.

“Pertama, kamu orang yang baru ku kenal satu minggu ini… kedua, kamu menyebalkan melakukan apapun tanpa izinku. Ketiga, kamu keras kepala, sekali. Keempat, kamu tidak beraturan. Kelima, bukan Aku yang berhak untuk mengubah ataupun memperbaiki dirimu.”

Aku terdiam, masih memikirkan hal lain yang tidak Aku sukai darimu. Aku cukup lama berpikir, ya, Aku  memang belum mengenal baik dirimu. Seperti yang Aku bilang, kita baru kenal dalam satu minggu ini.

“Kenapa? Cuma ada 4 aja?”

“Kita kan baru saling kenal. Bagaimana aku bisa menilaimu sejauh itu.”

Kamu diam. Tak merespon apapun, Aku juga. Tak ada keinginan untuk menambah pernyataan lain, atau mengatakan kalimat basa-basi. Kini kita sudah berada di depan rumahku. Aku turun dari motormu.

“Kamu masih punya hutang 6 hal yang tidak kamu sukai dariku. Selama belum genap 10, Aku akan datang ke sini terus sampai kamu bisa menyebutkan sepuluh.”

“Aku bisa menyebutkannya sekarang.”

“Sssttt… jangan buru-buru. Aku ingin kamu lebih mengenalku, ku beri waktu agar kita saling kenal dulu.”

Aku semakin diam tak ada argumen lagi yang bisa ku keluarkan jika sudah seperti ini. Kamu pamit begitu saja. Pada akhirnya kita menjadi pribadi yang saling bertemu, seiring berjalannya waktu Aku mulai paham cara pandangmu. Dan beginilah kita dua manusia yang tak jelas apa maunya.