Dulu Aku Juga Insecure, Dengan Namaku

Dulu Aku Juga Insecure, Dengan Namaku

Dulu Aku Juga Insecure, Dengan Namaku

“Insecure.”

Dulu Aku Juga Insecure, Dengan Namaku

Kata yang saat ini banyak sekali orang ucapkan. Kata insecure berkaitan dengan rasa takut atau tidak aman kita terhadap sesuatu. Misalnya saja berat badan, kecantikan, pendidikan, dan lain-lain. Emang sih namanya hidup pasti tak terlepas dari ancaman, rasa insecure mungkin menjadi pengingat kita akan sesuatu buruk yang mungkin terjadi. Tapi kadang sikap insecure ini yang bikin kita malah nggak percaya diri.

Pasti kalian juga percaya kalau aku juga mengalami rasa insecure itu. Ada banyak hal memang yang sangat membuatku tidak aman selama ini, tapi salah satu hal yang aku ingat adalah aku pernah memiliki rasa takut dan tidak aman terhadap namaku sendiri.

Seperti yang aku kenalkan di blog ini, namaku adalah Riski Wahyuningsih. Dulu sewaktu Aku kecil, orang banyak bilang kalau namaku adalah nama anak laki-laki. Bayangin sih, dulu aku cewek, cadel yang susah bilang “R” punya nama yang awalan hurufnya itu, dan dulu yang aku sampai malu buat menyebut siapa namaku sendiri.

Aku sempet mikir sih, kenapa orangtuaku nggak ngasih nama yang bagus. Nama yang emang itu nama cewek, maklum saja di lingkunganku nama Riski dan Wahyu rata-rata dimiliki oleh anak laki-laki. Apalagi saat itu sudah banyak temanku yang memiliki nama bagus. Tambah insecure-lah aku. Apalagi memasuki masa pubertas, masa ini adalah masa yang cukup sulit. Sulit mengontrol emosi kita, belum paham dan bisa menyampaikan apa yang kita inginkan dengan benar.

Aku juga sempat merasa malu punya nama “Riski” karena respon orang yang mendengarnya terkadang menyebalkan. Namun, akhirnya rasa percaya diriku terhadap namaku sendiri mulai muncul. Lebih tepatnya waktu SMA, Aku juga bingung sih awalnya kenapa. Tapi yang jelas karena aku merasa memiliki keberadaan di sana.

Perlahan aku tahu, nama tentu memiliki arti dan harapan. Sempat ada yang bilang ke aku, nama Riski bisa berarti Rejeki. Mungkin dulu, orangtuaku berharap lahirnya aku di dunia untuk membawa rejeki kepada mereka. Membawa rejeki untuk orang lain tentu bagus sekali, dimana kehadiranku bisa disyukuri orang sekitar.

Entah aku pernah menulisnya di sini atau nggak, salah satu harapanku adalah menjadi orang yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Dengan segala kompetensi yang aku punya, dan niat yang tulus. Aku ingin kehadiranku menjadi rejeki buat orang lain, setidaknya aku ada bukan untuk merugikan mereka.

Entah aku akan menjadi teman dekat, patner kerja, sekadar kenal, atau bahkan pendamping hidup. Aku ingin kehadiranku memiliki arti di hidup mereka, di hidup orang-orang yang mengenal siapa Riski entah di masa lalu, sekarang, atau mendatang.

Nama itu seperti amanah dan doa orangtua. Mungkin salah satu dari kalian pernah mengalami hal yang sama denganku, merasa malu dengan nama sendiri. Bahkan tidak percaya diri. Percayalah jika setiap nama itu bagus dan penuh makna. Karena orangtua kita dengan sangat berhati-hati memilih nama itu, dan memanjatkan doa dari kata yang disusun.

Mungkin itu dulu ceritaku hari ini. Maaf jika apa yang ku sampaikan kurang berkenan, semoga siapapun yang mengalami hal sama bisa sedikit lega. Ada aku yang pernah mengalami itu, melawan insecure memang nggak mudah. Perlu keberanian besar dan keyakinan yang kuat dalam diri kita. Mari kita latih perlahan, dan bersyukur atas apa yang diberkahi oleh Tuhan.

saling bertemu dalam ruang bertamu

Saling Bertemu Dalam Ruang Bertamu

Saling Bertemu Dalam Ruang Bertamu

Hari ini, adalah hari pertama aku menggelar acara bedah buku. Momen yang telah ku tunggu setelah 1 tahun lamanya. Banyak jadwal yang terundur memang, karena kondisi yang tak memungkinkan. Aku cukup senang salah satu impianku terwujud satu demi satu, tapi Aku cukup terkejut jika kota pertama yang Aku kunjungi dalam acara bedah buku ini adalah Kota Semarang.

saling bertemu dalam ruang bertamu

Kota besar namun tak metropolitan seperti Jakarta. Kota ini merupakan kota yang bersejarah bagiku secara pribadi. Aku pernah merasakan perantauan di sini. Tepat 3 tahun yang lalu, saat aku masih berstatus Mahasiswa Ilmu Komunikasi. Masa kuliahku cukup berkesan, suka dan duka terurai dengan jelas dan membekas dalam.

Aku sudah sampai di salah satu Toko buku, Aku memasuki aula dan terlihat. Sudah banyak penggemar bukuku yang duduk rapi di sana. Semua bersorak, dan merasa bahagia saat duduk di atas sofa kecil.

Acara bedah buku pun dimulai, banyak interaksi yang terjalin antara Aku dan para pembaca. Sampai pada momen terakhir acara, dimana Aku bisa berintaksi dengan mereka satu persatu. Entah meminta tanda tangan atau foto bersama. Aku menyapa mereka dengan hangat maklum saja, berkat mereka tulisanku rasanya lebih bernyawa.

Aku menikmati masa ini, masa yang sangat Aku nanti-nanti. Perlahan para pembaca yang sudah mendapatkan tanda tangan dan foto bersama keluar ruangan. Hanya ada hitungan jari orang-orang yang masih di sini. Sampai pada keloter terakhir, Aku menerima sebuah buku dari tangan yang sangat ku kenali.

Tangan pria berkulit sawo matang yang memiliki tato mawar lengkap durinya di pergelangan tangan namun dekat dengan ibu jari. Aku mendongakkan kepala. Pria yang sama. Aku sungguh tak menduga dia datang ke sini. Padahal sudah lama sekali Aku tak bertukar kabar dengannya, bahkan aku kehilangan kontaknya.

“Hai.”

Dia pria yang 3 tahun lalu ku temui. 3 tahun lalu ku bersamai, 3 tahun lalu kami berpisah mengejar mimpi masing-masing.

Acara bedah buku telah selesai Aku meminta izin untuk makan siang di dekat hotel. Di depan pintu keluar Dia ternyata menungguku. Benar, dia bukan hanya sekadar pembaca bukuku seperti orang pada umumnya. Dia teman lamaku, teman yang sangat dekat, bahkan lebih dari teman dulunya.

Kini kami berdua duduk di meja yang sama. Dia menikmati kopi latte-nya sedangkan Aku menikmati secangkir coklat tiramisu yang hangat. Sudah 3 tahun lamanya, minuman yang kami pesan tetap sama. Bahkan cara duduk kami juga, kami selalu memilih meja dekat jendela kaca. Mengobrol dengan berhadapan. Semuanya sama, maklum saja ini sudah menjadi kebiasaan kami berdua. Yang berbeda hanyalah kondisi jika Aku dan dia tak bersama lagi.

“Bagaimana kabarmu?” Tanyaku sedikit basa-basi

“Baik, kamu?”

“Seperti yang kamu lihat. Aku sangat baik.”

“Aku senang mimpimu sebagai penulis terwujud dengan baik. Bahkan sampai bisa road-show bedah buku ke sini. Kamu sangat keren sekarang.”

“Terima kasih, ya Aku sendiri masih merasa kaget. Lalu apa yang kamu lakukan sekarang?”

“Ummmm… Aku meneruskan usaha keluarga. Mungkin bisa dibilang cukup sibuk, tapi tak lebih sibuk darimu.”

“Syukurlah. Senang bertemu denganmu..”

“La, kamu punya waktu bulan depan?”

Aku terkejut, dan detak jantung menjadi sedikit tidak karuan. Pertanyaan darinya membuatku membuka sedikit perasaan lama.

“Belum tahu.”

Dia menyodorkan secarik kertas yang dihias indah, kertas yang sama sekali tak ku sangka akan ku dapatkan secepat ini.

Kertas undangan pernikahan : Kania & Arsa

Aku tersenyum, turut bahagia. Namun ada sedikit nyerinya, kabar yang secepat ini. Aku sendiri tidak siap untuk ini, tapi mau bagaimana lagi? Semuanya telah terjadi.

“Kamu akan menikah? Selamat, Aku turut bahagia”

Aku berusaha tersenyum. Senyuman ini tak sepenuhnya tulus. Ada sedikit bohongnya, karena hatiku masih sedikit menyimpan rasa pada Arsa.

“Awalnya Aku nggak mau ngasih ini ke kamu. Aku sangat bingung, tapi Aku mengundang seluruh teman kita satu angkatan. Sangat tidak adil jika kamu terlewat. Ya, Aku tahu kamu sibuk sekarang, tapi setidaknya kamu harus tahu kabar pernikahanku. Jadi Aku sengaja datang ke acara bedah bukumu hari ini. Untuk bertemu denganmu.”

Aku tersenyum sambil mengangguk, kali ini aku tak berani menatap Arsa. Aku berusaha mengalihkan pandanganku ke jendela kaca. Pemandangan di luar sangat cerah, sungguh indah.

“Kamu nggak berubah La, sama sekali nggak berubah setelah 3 tahun lamanya.”

Aku memberanikan diri menatap pria di depanku ini. Wajahnya sama sayunya denganku sekarang.

“Aku masih ingat La. Saat pertama kali kita bertemu. Kamu ingatkan? Kita masuk di kelas yang sama, mata kuliah yang sama, bahkan baris meja yang sama. Kita tak saling kenal, kita hanya berbicara secukupnya saja. Sampai akhirnya kita jadi satu kelompok penelitian. Kita banyak berbincang hingga akhirnya Aku nyaman denganmu. Kamu juga begitu. Kita sama-sama nyaman dan saling suka, sampai Aku menembakmu. Tepat dihari ulangtahunku….”

Teater pikiranku berjalan mengenang setiap kejadian yang diceritakan Arsa. Rasanya seperti masih baru, meskipun itu sudah 3 tahun berlalu.

“….Kita saling menyayangi dan berjanji untuk bersama, selamanya. Tapi perlahan, kita malah sering bertengkar. Rasa romantisme kita kian memudar, ego kita berdua saling bertentangan. Malah Aku sendiri merasa menyesal telah menembakmu dulu. Dari hari ke hari kita terus bertengkar, Aku menganggapmu terlalu idealis, kamu juga mengatakan jika aku ini terlalu realistis. Karena sama-sama tak sepaham, akhirnya kita berpisah. Kamu lulus kuliah dan pulang ke rumah. Aku masih melanjutkan tugas akhirku dan berjuang untuk hidupku.”

“Pada akhirnya, kita sama-sama menjadi orang yang ambisius Sa. Gak ada yang mau ngalah…”

Aku tak ingin bersedih, tapi aku tak bisa berbohong. Rasanya tidak adil menangisi seseorang yang hendak menikah. Tapi bagaimana lagi, 3 tahun pergi darinya ternyata tak membuatku pulih. Bertemu dengannya justru membuatku mengingat kisah lama.

“Tapi Aku bahagia La, Aku sangat bahagia dengan hubungan kita. Meskipun itu nggak selamanya.”

Air mataku menetes satu. Buru-buru ku hapus, Aku tak ingin menggagalkan rencana bahagia milik Arsa. Ini sudah keputusan kita berdua.

“Aku kira.. Aku sudah sangat pulih tapi ternyata belum sepenuhnya.”

“Maaf La, hari ini Aku justru membuat luka baru lagi. Aku nggak bermaksud begitu. Aku hanya ingin bertemu.”

Aku tersenyum, rasanya sedikit sedih. Namun ada kelegaan di hati kecilku.

“Sa, kamu tahu kalau Aku suka bermain ‘seandainya’. Kamu mau nggak main itu lagi untuk terakhir kalinya.”

Arsa menganggup. Aku mengumpulkan suaraku, rasa ingin menangis membuat suarakan seakan habis. Aku menarik napas sebentar.

“Sa, seandainya saja 3 tahun lalu kita nggak berpisah. Seandainya saja hubungan kita langgeng-langgeng aja. Apakah mungkin sekarang ini kita akan menikah? Apakah mungkin kita akan bersama dan bahagia?”

Arsa, terdiam. Ini memang pertanyaan yang bodoh. Sebaiknya tak ku tanyakan, meskipun hatiku sangat ingin tahu jawaban Arsa.

“…Lupain aja Sa, itu cuma pertanyaan konyol.” Sambungku.

“Kita akan tetap bertengkar.” Jawab Arsa cepat.

“Kita akan sulit untuk saling belajar, kita akan lebih mengutamakan ego masing-masing. Akhirnya kita sendiri yang lelah dan kita yang merasa bersalah atas satu sama lain. La, kamu tahu. Aku sangat belajar banyak darimu, bahkan saat kita sudah berpisah sekalipun. Kamu adalah orang pertama yang Aku sayangi dengan sepenuh hati, kamu juga orang pertama yang terlalu dalam menyakiti. Aku tahu, tak semuanya menjadi salahmu. La, seperti yang Aku bilang. Aku sangat bahagia, bahkan sampai sekarang saat bertemu denganmu. Kadang kita perlu belajar bukan cuma tentang mengikhlaskan. Tapi juga belajar untuk memperbaiki diri lagi. Saat aku kehilanganmu, akhirnya Aku belajar lagi untuk mengontrol ego, dan mendewasakan diri lagi. La berpisah denganmu jujur memang sakit, tapi akhirnya Aku tahu mana yang harus aku perbaiki dari diriku. Sebelum akhirnya Aku menemukan Kania, dan bisa mendampinginya selamanya.”

Entah perasaan apa ini. Sakit, tapi tidak terlalu sakit. Aku merasa belajar dari Arsa. Dia sungguh sangat berubah. Sedangkan Aku masih sama saja.

“La, Aku yakin kamu bisa. Kamu pasti bisa menemukan seseorang yang akan kamu cintai selamanya. Pulihkan dirimu dulu, legakan hatimu. Jika suatu saat nanti kamu telah menemukan pria yang jauh lebih baik dariku. Jangan lupa mengabari.”

Aku tersenyum. Arsa sungguh baik, dia selalu memberikan doa dan ucapan baik kepadaku. Sama seperti dulu.

“Sa, satu jam lalu. Aku merasa sedikit sedih saat kamu datang dan meminta tanda tangan. Tapi sekarang, Aku merasa sangat lega. Aku sangat belajar darimu, kamu adalah salah satu orang yang banyak membantu dalam hidupku. Terima kasih telah datang, membawa kabar, dan menuntaskan masa laluku. Akan ku usahakan untuk datang bulan depan.”

Arsa mengulurkan tangan. Kami saling berjabat tangan, pertemuan singkat dan mengesankan. Mungkin setelah ini, Aku akan menulis buku lagi. Mengisahkan ruang-ruang indah kita dulu, sebagai kenangan yang abadi. Hanya sekadar dikenang saja bukan untuk di sesali. Terima kasih Arsa.

 

Saling bertemu dalam ruang bertamu

Kita dipersatukan oleh waktu

Tapi akhirnya waktu memberikan batasannya untuk kita bisa bersama

Sekian tahun telah berlalu

Waktu memberi kesempatan untuk kita berjumpa dan saling bertegur sapa

Tapi sayangnya waktu untuk bersama sudah tak ada

Kamu menjalani kehidupanmu, begitupun aku

Biarlah sekarang menjadi pertemuan yang sederhana, tanpa membawa perasaan lama

  • com

Pertemanan, Liburan, Dan Pengalaman

Pertemanan, Liburan, Dan Pengalaman

Halo kembali lagi denganku, sebenarnya aku ingin bercerita tentang perjalan yang menyenangkan bersama teman-teman kuliahku. Tapi sepertinya ada pesan lain yang ingin ku sampaikan.

Entah aku tak paham betul, setelah bermain puas dengan teman-teman kuliahku ini. Bahkan masih saling menjalin komunikasi sampai sekarang dan hubungan kami masih sangat erat. Aku jadi teringat beberapa tahu lalu.

Sejujurnya aku bukanlah orang yang dari dulu punya banyak teman. SD, SMP, SMA aku hanya memiliki sedikit teman. Bahkan bisa dihitung dengan jari sendiri. Memang aku kenal beberapa orang, namun hubungan dekat seperti teman hanya terjalin ke beberapa orang saja. Aku juga tak paham apa yang aku alami dulu. Mungkin aku mengalami insecurity. Aku merasa rendah diri, sehingga setiap kali berteman dengan orang-orang yang mereka terlihat lebih baik dariku. Aku cenderung lebih memilih untuk menjauh darinya.

Aku mengalami banyak perubahan selama hidupku, mulai dari cara berpikir, bersikap, dan menjalani hidup. Kalau kita pergi ke suatu tempat dan mensyukuri nikmat Tuhan, sepertinya pemaknaan hidup akan lebih terasa. Seperti beberapa waktu lalu.

Aku pergi dengan teman-temanku. Kami bersembilan orang dalam satu mobil yang besar. Hari minggu itu kami pergi ke bagian dari Indonesia yang selalu dilabeli Istimewa. Yups, kota Jogja. Perjalanan dari kota Semarang ke Jogja membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam. Objek wisata pertama yang kami kunjungi adalah The Lost World Castle daerah Sleman. Di sana objek wisata keluarga, selain berfoto dengan spot-spot menarik seperti spot suku indian, kapan bajak laut, rumah jamur, dan kastel. Kita bisa menikmati seluncuran, (jika kalian ke sini aku sangat merekomendasikan) harganya murah dan seru. Setelah dari The Lost World Castle, kami pergi makan siang dan mengunjungi Tebing Breksi. Ini spot yang keren untuk foto OOTD, saat kami berkunjung suasananya cukup ramai. Jujur aku tak nyaman dengan suasana saat itu, rasanya lelah dan malas. Sebenarnya spot terbaik ada di bawah tebing, tapi saat itu cuacanya panas. Jadi kami naik ke atas tebing, dan udaranya cukup sejuk dan nyaman untuk berkumpul.

Dan wisata terakhir yang kami kunjungi adalah Malioboro. Bukan ke jogja kalau tak mengunjungi tempat itu.

Itulah cerita singkatnya, setelah pulang dan aku kembali ke kostan. Aku sadar, ternyata hal yang dulu tak ku rasakan, sekarang terjadi. Seperti yang aku bilang Aku bukan orang yang punya banyak teman. Hadirnya mereka teman kuliah yang dulu satu organisasi seperti pemanis dalam hidupku. Rasa rendah diriku perlahan terkikis, hadirnya mereka perlahan melengkapi kebutuhan batinku. Punya teman memang menyenangkan, tak harus sebanyak itu memang. Asal bisa bertahan dan saling berkabar sepertinya itu cukup.

Selain itu, Aku juga tak pernah punya teman baik laki-laki sebelumnya. Mengenal mereka sebenarnya karena kami satu fakultas juga. Kami semua mahasiswa Fakultas Teknologi Informatika, yang notabene didonimasi oleh laki-laki. Aku kira berteman dengan laki-laki adalah hal yang menyebalkan. Tapi ternyata seru juga, mereka punya jiwa setia kawan, mungkin di antara semuanya aku yang paling egois. Aku sering merengek manja terhadap hal yang tak ku suka. Dulu. Tapi sekarang aku mengurangi itu, aku hanya merengek pada hal-hal yang mungkin memang diluar kapasitasku, seperti pergi terlalu malam.

Jika ada yang membaca ini, Aku bersyukur dengan lini yang menyenangkan ini. Kami semua adalah orang biasa, dan selalu tampak biasa. Namun Aku sangat yakin, apa yang kami semua lakukan adalah hal yang luar biasa. Kami memiliki tujuan, mimpi, dan harapan yang besar.

Biarlah kami menjadi orang biasa, asal kami tetap bisa berkumpul bersama, saling berbagi cerita dan tawa.

Mungkin itu dulu, cerita ngalur ngidulku hari ini. Semoga berkenan di hati kalian semua!

Kita Yang Pernah

Kita Yang Pernah

Sore ini hujan sangat deras, Aku masih duduk santai di teras kantorku. Menunggu hujan reda, setiap kali hujan turun menjelang petang. Aku selalu ingat, hari dimana kita pernah terjebak hujan berdua.

Sepulang mencari buku untuk mata pelajaran teori warna, kita adalah teman satu jurusan, satu angkatan, dan satu kelas di kampus. Awal pertemuan kita adalah hari pertama OSPEK. Aku masih bingung tak ada teman satu sekolah denganku yang masuk dalam jurusan DKV Kampus kita. Kamu juga mengalami hal yang serupa, akhirnya di hari pertama ospek kita saling mengenal satu sama lain. Sejak saat itu, kita saling mengobrol. Kamu selalu membantu mengerjakan tugas kuliah yang mungkin itu mudah namun sulit bagiku. Kita juga sering menjadi teman satu kelompok, bahkan setiap kali masuk kelas, kita selalu bersebelahan.

Awalnya Aku menganggapmu sebagai sahabat baik. Sampai sore itu saat pulang dari gramedia, kamu menembakku. Di saat hujan seperti ini. Di saat kita masih menunggu hujan reda di parkiran motor gramedia. Sebenarnya aku bukan orang yang percaya dengan cinta. Tapi setengah hatiku sadar, kamu adalah orang yang selalu hadir selama ini. Jadi, tak ada salahnya untuk mencoba.

Aku menerimamu, kita sama-sama bahagia kala itu. Semakin hari kita semakin dekat, apalagi saat teman sekelas kita dulu tahu jika kita berdua memiliki hubungan spesial. Kamu bahkan dimintai banyak traktiran. Aku selalu geli jika mengingatnya.

Dulu, bersamamu adalah hal yang membahagiakan. Kamu selalu menjemputku di depan kost, tepat waktu. Bahkan lebih sering menunggu. Berulang kali kamu protes tapi Aku selalu manjawab.

“Cewek itu ribet, kalau bajunya nggak cocok mereka sama dandanannya nanti malunya setengah mati tahu.”

Aku bukanlah orang yang percaya diri saat memakai pakaian atau dandanan yang tak sesuai denganku. Padahal hampir setiap malam, entah mengerjakan tugas kuliah atau tidak. Entah di malam minggu atau malam-malam biasa. Kamu selalu melihatku apa adanya. Tanpa dandanan, dan daster bunga-bunga. Aku sendiri juga heran, kenapa di depanmu aku justru lebih percaya diri dengan diriku.

Hari terus berjalan. Kita juga semakin mesra, Aku ingat. Satu momen besar dalam hidupku, saat pertama kali kamu menciumku. Aku tak pernah dicium oleh siapapun. Cuma kamu kala itu, dan baru kamu saja yang berani melakukan itu padaku. Kala itu juga sama, Aku menelponmu tiba-tiba. Teman kostanku yang lain pergi ke rumahnya. Aku sendirian, dan di luar hujan deras. Aku takut jika sendirian di bangunan besar seperti kostku ini. Aku memintamu untuk menjemputku, Aku bilang. “Aku mau tidur di kostan temanku yang lain.” Aku ingin kamu segera datang ke kostan, sampai merengek saking takutnya. Akhirnya benar, 20 menit kamu tiba di depanku. Seluruh bajumu basah, kamu minta rehat sejenak, Aku juga masih bersiap-siap. Sampai akhirnya listrik padam. Aku berteriak, kamu datang dengan lampu senter Hp sebagai penerang seadanya. Tubuh kita berdua saling bertubrukan karena sama-sama panik. Entah mengapa saat itu, saat kamu basah kuyup. Kamu jauh lebih nakal. Kamu meraih tubuhku, perlahan mendekap, dan menciumku hangat. Itu ciuman yang cukup lama, sampai tak sadar jika lampu telah menyala. Dan, Aku semakin mencintaimu.

Setahun berlalu, Aku merasa kita adalah pasangan yang paling romantis di kampus. Kita selalu terlihat ceria dan bahagia. Tapi setiap hubungan pasti akan adanya bertengkar. Aku lupa apa pemicu awalnya. Mungkin karena ego kita yang mulai muncul dan meninggi. Aku mementingkan diriku, begitupun kamu kala itu. Aku menuntutmu ini dan itu, kamu tidak mau tahu.

Kita terus mempermasalahkan hal yang sama, setiap hari dan setiap kali diungkit. Aku berusaha mengalah, Aku mengikuti apa yang kamu minta. Aku berhenti memintamu berubah, Kamu juga kamu lebih meluangkan waktu denganku. Kita saling menguatkan, namun akhirnya bertengkar kembali.

Hari demi hari Aku mulai bosan denganmu. Padahal dulu saat kita baru bertemu, saat kita baru menyatakan perasaan, setiap hari rasanya rindu. Kini Aku muak denganmu, muak dengan hubungan kita yang terus begitu. Bertengkar, baikan, bertengkar lagi, baikan lagi. Itu seperti roda sepeda yang berputar tapi tak berjalan. Kita terus mengulangi kesalahan, tak mau berbedah diri. Bahkan mulai saling menghakimi dan tak menghargai.

Kita yang dulu pernah, merasa bahagia. Perlahan menderita di tahun hubungan kedua. Aku menangis di kamar temanku. Mengeluhkan sikapmu yang selalu mengecewakan. Beberapa dari temanku mengatakan bertahan namun ada juga yang memintaku berpisah.

Aku tak pernah tahu, bahkan sampai sekarang. Apakah kamu juga merasa begitu dulu?

Aku memendam semua rasa penasaranku. Dulu saat awal jadian, kita selalu mengobrol tentang hal-hal yang menyenangkan. Namun, kala itu Aku justru bingung harus membicarakan apa. Suaraku sudah sangat serat setelah semalaman menangis. Kamu juga tak memulai obrolan. Sebenarnya apa yang salah dari kita?

Kita yang pernah, saling menggenggam erat kedua tangan, dan pantang menyerah. Pada akhirnya kita sama-sama lelah. Aku lelah denganmu, dengan perasaanku, dengan hubungan ini. Aku juga tahu kamu merasa begitu, hanya saja kamu tak mengungkapkannya. Kamu lebih memilih untuk diam. Bahkan kamu bilang “Aku benci drama!” saat itu kamu marah besar, Aku hanya bisa menangis sepanjang jalan.

Kita yang dulu selalu ingin bertemu, akhirnya terus berseteru. Aku capek, aku sangat capek. Hubungan ini rasanya percuma. Aku lebih mencintaimu yang dulu, sekarang kamu terlalu sering melukaiku.

Saat hujan lagi. Aku menunggu kamu menjemputku di kafe dekat kampus. Kamu bilang ada pertemuan organisasi, Aku hanya megiyakan dan padahal saat itu kamu janji akan menemaniku mengerjakan proposal. Cuaca belum terang, kamu belum juga datang. Aku mengirim pesan, tapi kamu tak segera membalas. Aku tak bermaksud posesif saat itu, Aku hanya mengkhawatirkanmu.

Satu jam berlalu, hujan berubah menjadi gerimis. Beberapa area kampus tergenang air, Aku masih menunggu. Aku bahkan sempat menelponmu, tapi kamu bilang “Bentar lagi Aku jemput tunggu ya.” Aku sadar, Aku bukan prioritasmu lagi. Kamu sudah sibuk dengan duniamu. Bahkan Aku tak punya celah untuk berperan di dalamnya. Aku terlalu terasingkan sekarang.

Kamu datang dengan motormu. Meminta maaf karena sangat terlambat. Hujan kala itu, Aku meminta putus. “Kita putus aja. Aku lelah kita terus begini, yang Aku tuntut selalu hal yang sama. Dan yang kamu lakuin juga selalu sama. Kita nggak bisa gini terus. Kita nggak bisa bersama selamanya. Ada baiknya kita pisah.”

Sekuat tenaga ku jelaskan alasanku untuk berpisah denganmu. Kamu diam, Aku benar-benar tak tahu apa yang kamu pikirkan saat ku minta putus. Kamu mengangguk, kamu bilang iya. Kita benar-benar berpisah sekarang. Ucap hatiku saat itu. Kamu masih mengantarku pulang, kamu bilang Aku masih bisa menganggapmu teman. Jadi jangan pernah sungkan.

Meskipun aku tahu itu tulus. Tapi semenjak putus, Aku tak pernah mau meminta bantuan darimu. Sekuat tenaga ku tegarkan hatiku, ku sembuhkan sendiri rasa perih di hati. Aku berusaha tetap tegar saat kita bertemu. Kamu juga demikian. Padahal Aku sangat kacau, Aku butuh sandaran. Bohong memang saat Aku bilang Aku tak menyesal. Aku sangat menyesal, Aku ingin kita balikan. Tapi, kesempatan itu tak pernah ada.

Hujan selalu membawa kenangan itu padaku. Bahkan sampai sekarang, Aku masih ingat kamu. Hujan seperti simbol hubungan kita berdua. Kini hari sudah petang, hujan juga sudah reda. Sebuah mobil sedan terparkir di depan kantor. Itu suamiku, dia datang menjemput. Saatnya Aku pulang, hujan telah berlalu sama halnya hubungan kita. Aku harap kamu juga bahagia, Aku tak pernah tahu kabarmu yang sekarang. Aku hanya bisa berharap kamu punya kehidupan yang layak. ‘Kita’ yang pernah ada, namun sekarang ‘Kita’ tak akan pernah ada untuk kita berdua.

Terkikis

Terkikis

Terkikis

Halo, berjumpa lagi denganku. Aku ingin membagikan cerita, beberapa waktu lalu aku dan teman-temanku pergi ke sebuah villa yang terletak di wilayah Jepara Jawa Tengah. Villa Mororejo, letaknya cukup stategis di area JOP (Jepara Ocean Park).

Terkikis

Kali ini aku belum mengulas tentang Villa itu sendiri, karena ada banyak hal baru yang aku rasakan selama 2 hari 1 malam menginap di sana. Karena lokasinya yang dekat dengan pantai, jadi sangat mudah untuk melihat sunset dan sunrise. Di waktu subuh aku sudah terbangun, sedangkan teman-temanku yang lain masih tertidur. Ada yang memang sudah bangun untuk menjalankan ibadah sholat namun tidur lagi setelah itu.

Karena aku tidur yang paling awal dan sudah kena air sulit rasanya untuk tidur lagi. Aku putuskan untuk membuat segelas coklat dan duduk di halaman. Cuaca masih gelap, tapi perlahan di ujung pantai suasana merah muda. Sang surya mulai tampak, melihat dari halaman villa sepertinya kurang memuaskan. Akhirnya ku pilih turun ke pantai lagi.

Benar, suasananya lebih menyenangkan dan menyegarkan. Air sedang surut, langkah kakiku terasa lebih mudah karena kondisi pasir yang lebih halus dan basah sampai meninggalkan jejak. Aku memotret beberapa objek. Sebenarnya ada banyak objek foto menarik yang bisa ku ambil. Foto-foto ini akhirnya akan ku jadikan latar sajak-sajakku. Sajak-sajak itu akan ku unggah di Instagram.

Sebenarnya ada banyak objek foto yang bisa ku sajakkan, tapi yang cukup bagus dan bisa ku opinikan adalah tentang beton di pantai yang terkikis.

Mungkin dulu beton ini dijadikan warga sekitar sebagai alat bantu untuk menjaring ikan di pinggir pantai. Karena saat berjalan sendiri melihat sunrise 1,2 warga sekitar tengah menjaring. Ya pencari nafkah di pagi hari. Setiap dari mereka patut diapresiasi.

Kembali lagi tentang beton itu. Yang tersisa hanyalah setengah dari kondisi yang sebelumnya, bahkan kurang dari setengah. Sebagian lagi terkikis oleh asinnya air laut. Saat pertama kali melihat beton itu yang ada dipikiranku adalah terkikis.

Beton selalu menjadi bangunan, pondasi, dan infrastruktur yang kuat. Namun akan ada kalanya lapuk, termakan usia, atau kondisi alam. Kadang diri kita juga seperti itu, terlihat gagah, berkuasa, dan mampu melakukan segalanya. Tapi akan ada saatnya kita lapuk, lapuk karena sudah terlalu tua dan tak berdaya melakukan pekerjaan. Atau kita yang mungkin masih muda, namun tak siap menghadapi tantangan sehingga lebih mudah lapuk.

Kadang diri kita terkikis oleh lika-liku kehidupan. Bagaimana tidak? Coba dihitung ada berapa banyak tantangan yang harus dihadapi setiap hari, untuk bangun pagi tanpa tidur lagi saja sudah menjadi tantangan pertama saat kita memulai hari. Tantangan, masa sulit, dan hal-hal lain terkadang membuat kita terkikis secara emosional. Rasanya dari waktu ke waktu kita merasa hampa dan sulit, kekuatan untuk melawan dunia terasa habis seketika. Ada banyak luka, entah luka fisik ataupun batin.

Semua rasanya telah terkikis. Tapi, saat itu terjadi, saat itu kita alami. Kita lupa, kita masih punya kerangka. Kerangka hati, kerangka pikir dari kerangka-kerangka yang kita miliki masih ada waktu untuk memperbaikinya. Masih ada kesempatan untuk membangunnya kembali, meskipun harus membuatnya dari awal lagi. Tak masalah, masih ada kerangka yang dapat menjadi pondasi dan bisa saja bangunan itu kita improvisasi dan akhirnya menjadi bangunan baru yang mungkin lebih besar dan kokoh.

Diri yang terkikis memang kurang menyenangkan, apalagi jika terkikis sampai habis. Tapi coba tengok orang yang memiliki tubuh seperti tulang dan kulit saja masih bisa hidup dan melakukan aktivitas. Ada tulang dan persendian yang membuatnya bergerak, daging atau bangunan utuh bukanlah hal yang terlalu penting. Asal ada kerangka semua akan baik-baik saja.

Mungkin aku terlalu berbicara ngalur-ngidul, tapi Aku yakin dengan apa yang ku katakan sekarang. Aku tahu setiap tulisanku tak selamanya benar dan sesuai dengan kondisi kalian. Tapi setidaknya ketahuilah, setiap orang akan terkikis pada waktunya. PR terbesar adalah apakah dia mau membangun ulang kembali atau tetap dalam kondisi itu.

Semoga apa yang ku sampaikan kali ini bermanfaat dan bisa ditangkap pesannya, sampai bertemu di tulisan-tulisanku berikutnya.

 

Kadang Kita Yang Baperan Atau Mereka Yang Kelewatan

Kadang Kita Yang Baperan Atau Mereka Yang Kelewatan

Kadang Kita Yang Baperan Atau Mereka Yang Kelewatan

Halo semua, lama tak jumpa. Setelah membuat cerpen spesial halloween kemarin aku cukup senang, akhirnya aku bisa nyoba beberapa genre. Aku mendapatkan respon yang cukup baik dari beberapa teman yang ku minta untuk mereview.

Lanjut, hari ini aku nggak akan bahas soal tulisan, aku akan membahas tentang perasaan. Bukan aku jika tak menyebarluaskan perasaan baper ke orang-orang. Tapi aku tak membahas cinta, ada hal yang lebih dasar yang terkadang perlu dipahami sebelum mengerti cinta. Namun sebelumnya, aku mau menegaskan, Aku bukan seorang psikolog atau seorang dengan background tertentu. Aku hanyalah Aku penulis amatir yang menyampaikan pesan dan apa yang dirasa melalui tulisa-tulisannya. Jadi apa yang aku tulis di sini hanyalah opini pribadi, boleh diterima boleh tidak.

Kadang Kita Yang Baperan Atau Mereka Yang Kelewatan

Seperti yang aku bilang tadi, terkadang sebelum mengenal cinta atau benci. Kita perlu belajar tentang beragam emosi, meskipun rasa cinta dan benci termasuk dalam emosi jiwa, tapi kedua perasaan tersebut cenderung perasaan yang kompleks dan gabungan beberapa perasaan.

Ada banyak bentuk emosi yang kita rasakan sehari-hari mulai dari senang, sedih, marah, kesal, bahagia, kagum, dan lain-lain. Perasaan tersebut terkadang berpengaruh besar terhadap kegiatan kita sehari-hari. Ya, kalau lagi bahagia kita bisa sangat bersemangat, tapi kalau lagi bersedih rasanya segala hal menjadi sangat susah. Perasaan itu bukan hanya berpengaruh pada aktivitas kita saja, namun juga sikap kita ke orang lain.

Aku pernah membaca sebuah artikel yang bertemakan psikologi, kalau tidak salah judulnya Highly Sensitive Person, atau kalau diartikan orang yang baperan. Ya artinya kehidupan orang itu tak lepas dari pengaruh perasaan yang besar, entah itu perasaan positif atau negatif. Sebenarnya aku juga orang yang terkadang lebih ingin mengikuti kata hati alias emosi saja dibanding logika. Perasaan atau hati seseorang memang lebih peka dan lebih lemah dibanding pikiran kita. Tapi tanpa hati, dan hanya mendengarkan pikiran saja tentu kita akan mati ditengah jalan. Intinya hidup itu harus seimbang.

Nah, kita bahas lagi tentang ‘baperan’ pernahkan kalian berada di kondisi merasa tersakiti oleh orang lain. Baik sikapnya atau ucapannya, baik itu sengaja atau tidak, baik itu sekadar bercanda atau serius. Aku yakin pernah, apa yang dilakukan orang lain memang bukan kontrol kita. Hal-hal itu sangatlah lumrah terjadi. Mungkin beberapa orang mengungkapkan rasa kecewanya, mengekspresikan itu sesegera mungkin, atau bahkan menyimpannya rapat-rapat. Tak apa, setiap orang punya caranya masing-masing untuk menyikapi rasa sakit.

Sejujurnya aku bukan orang kuat, tapi juga orang yang terlalu lemah. Aku punya caraku sendiri untuk mengatasi itu. Terkadang hal yang menjengkelkan adalah, saat kita merasa tersakiti kita justru dihakimi. Ya, bukannya minta maaf kita justru yang dibilang baperan bukan orang yang asyik untuk diajak berteman, dan lain-lain.

Memang, salah satu cara yang menyenangkan untuk berteman adalah dengan bercanda, saling meledek kekurangan atau hal lucu lainnya, hingga akhirnya tertawa bersama. Tapi perlahan hal itu bergeser menjadi tindak pembullyan. Banyak orang yang kurang terima dengan cara berteman seperti itu. Mungkin ini efek dari si orang baperan. Tapi tunggu dulu…

Aku sendiri kadang sering bertanya-tanya, “Apakah aku yang terlalu baperan atau mereka yang terlalu kelewatan” saat menghadapi sesuatu yang menyebalkan aku sering bertanya demikian.

Kalau dipikir-pikir memang terkesan lucu jika kita kesal atas hal sederhana. Tapi kita tak pernah tahu apakah hal itu sesederhana itu. Sebagai orang lain tentu kita nggak akan paham hal-hal sensitif apa yang dimiliki teman, pasangan, keluarga, atau siapapun yang menjadi lawan bicara.

Tapi sebagai pihak yang baper kadang kita juga perlu berpikir, mungkin dia atau siapapun yang menyakitimu hari ini tak bermaksud apapun. Dia bermaksud murni membuat obrolan yang menghangatkan. Bahkan tak sadar atas apa yang barusan dilakukan atau diucapkan. Sehingga dia benar-benar tak tahu jika kita tersakiti olehnya. Mungkin ia terlihat jahat karena tertawa sedangkan kita menderita. Tapi bisa saja, dia tak bermaksud untuk menyakiti dan tak menyadari itu.

Untuk menjawab apakah kita yang “terlalu baperan atau mereka yang kelewatan”? itu perspektif masing-masing. Kita nggak bisa menyalahkan satu pihak saja, kita harus membahas keduanya. Menurutku baik yang dibilang baperan atau bercandanya kelewatan perlu saling mengukur. Kita akan terus terjebak dalam satu perasaan jika tak bisa mengukurnya dengan otak. Misalnya saja kita harus lebih mampung mengukur keterlibatan hati dan memberi sugesti baik pada diri. Atau saat kita bercanda dengan orang lain kita perlu lihat-lihat dulu, dia karakter seperti apa, kalian mengobrol di kondisi yang bagaimana, dan topik apa yang dibahas bersama.

Saling sadar satu sama lain akan meminimalisir gesekan, dan hubungan tersebut akan berlangsung panjang.

Itu dia obrolan ngalor-ngidulku hari ini. Semoga berkenan di hati kalian see you!