31 OKTOBER

31 Oktober | Part 3

31 Oktober | Part 3

“STOP”

Lani menahanku. Arwah Lani mengikutiku sedari tadi.

“Aku nggak mau kamu jadi seorang pembunuh. Kita temukan cara lain yang lebih baik dari ini.”

Aku meletakkan gunting itu. Lani benar, Aku harus menahan emosiku. Pasti ada cara lain untuk menyelamatkan Lani.

Dua hari setelah kejadian itu, Aku masih gelisah. Aku masih bingung bagaimana cara terbaik agar Lani bisa selamat. Aku memang indigo, tapi Aku belum mampu untuk menguasai hantu. Sosok hantu yang bekerjasama dengan Endrew hantu yang kuat dan sulit bagiku untuk mengalahkannya. Jika tak segera ku temukan cara, energi kehidupan Lani akan segera habis dan dia bisa mati.

TIDAKKK

Lani tak boleh mati. Masih banyak rencana bahagia yang ingin kulakukan bersamanya. Lani harus punya umur yang panjang. Lani tolong berjuanglah sedikit lagi, kuatkan dirimu. Aku akan berusaha keras untuk menyelamatkanmu.

Aku membaca beberapa artikel dan cara-cara membatalkan janji dengan iblis. Tapi tak bisa, hanya kedua pihak yang terlihat saja, yang dapat melakukan itu. Pihak luar, justru akan menjadi pengganggu. Sampai aku menemukan satu kolom komentar. Mungkin cara ini bisa dicoba.

Pagi-pagi buta, Aku pergi menuju gunung Cermai. Lokasinya tak terlalu jauh dari Jakarta butuh setidaknya 2-3 jam untuk sampai ke sana. Pendakian memang sudah dibuka namun dibatasi oleh pihak penjaga pos. Aku dengan berbekal alat daki sederhana, melangkah menuju tempat yang ditulis dalam komentar semalam.

GOA KELELAWAR.

Disini sangat pekat, Aku berjalan 250 meter dari mulut goa. Di sini seperti tempat pertapaan. Ada banyak kelelawar yang bergantung di sela-sela stalaktit, di sini sangatlah lembah. Semua terasa basah. Aku duduk di tempat yang mungkin biasanya diduduki oleh para petapa. Aku berdiam sejenak, hanya berbekal bunga 7 rupa.

Aku masih terdiam. Sosok pria tubuh tinggi menghampiriku, dia penguasa di sini. Ada seekor harimau yang mendampingi pria tubuh tinggi ini. Aku memanggilnya Eyang. Dia menanyakan apa keperluanku sampai jauh-jauh ke sini.

“Aku ingin meminta bantuan, ada seseorang yang paling Aku sayang didunia ini. Dia dalam bahaya, nyawanya terancam oleh perbuatan orang kejam. Dia dijadikan tumbal. Aku ingin menyelamatkannya.”

Eyang terdiam. Dia sempat menolak permintaanku dan meninggalkanku begitu saja.

“Tolong, Aku akan melakukan apapun. Asal orang yang Aku sayangi selamat.”

Eyang kembali, Akhirnya ia berbicara. “Nyawa ditukar dengan nyawa, apakah sanggup dirimu menanggungnya? Nyawamu ditukar dengan nyawanya?”

Aku sedikit ragu. Rencanaku adalah menyelamatkan Lani dan kami hidup bersama dan bahagia. Aku bahkan merencanakan pernikahan tahun depan, bahkan aku telah menyicil keperluan tempat tinggal, dan semuanya agar lebih mapan secara finansial.

“Bagaimana?”

Aku masih terdiam, ini pilihan sulit. Tapi, mana sanggup aku melepas Lani begitu saja. Aku sangat mencintainya, hidup akan hampa jika tanpa Lani.

“Baiklah Aku terima.”

Aku mendekat, perjanjian itu ditulis dengan darah. Darahku. Demi Lani, demi hidupnya, Aku rela. Aku menggoreskan beling ke tangan. Darahku perlahan keluar, tapi beling itu terlempar begitu saja. Siapa lagi yang menggangguku?

Lani datang dengan kakek buyutku.

Lani menangis, apa dia mendengar perbincanganku tadi? Kakek buyut tampak sangat marah. Ia mengambil beli itu. Hanya ada sedikit darah yang keluar.

“Bukankah sudah ku bilang, urusanmu hanyalah menyelesaikan masalah. Bukan mengubah nasib seseorang.”

“Tapi Aku tak bisa hidup tanpa Lani. Aku mencintainya, Aku tak bisa membiarkannya pergi. Aku hanya perlu mengganti posisi Lani.”

“Perilakumu ini telah melampaui batas. Aku memang menurunkan kemampuan ini padamu, tapi bukan berarti kau berhak atas nasib seseorang. Atas kehidupan/kematian seseorang. Apa yang dialami Lani telah menjadi suratan takdir, sebagai manusia kau seharusnya menerima dengan ikhlas bukan berusaha mengingkarinya.”

“Tapi kek. Aku tak bisa melihat Lani pergi, aku sangat mencintainya.”

“Cinta itu datangnya dari Tuhan. Nafsumu ini yang membuat cinta menjadi salah dan melakukan hal yang paling dibenci oleh-Nya. Lani tak akan bahagia jika dia tahu dirimulah yang berkorban nyawa atas dirinya.”

“Aku nggak mau kamu mati Bob, apalagi demi Aku. Aku nggak mau, Aku nggak bisa.”

“Sama halnya denganku Lan, Aku nggak bisa membiarkanmu mati. Biar aku yang mati, asal kamu hidup bahagia.”

“Bagaimana Aku bisa bahagia, setelah tahu kamu begini? Aku akan selamanya sengsara”

Lani perlahan menghilang, energi kehidupannya mulai habis. Tidak, jangan. Aku harus menyelamatkannya. Berulang kali ku goreskan tanganku ke batu yang tajam agar terluka dan berdarah. Tapi gagal kakek menghalangiku. Aku sampai memohon dan mencium kakinya agar mengizinkanku untuk menyelamatkan Lani. Tapi keputusannya tetap sama. Dia tak ingin aku melakukan ini.

“Bobby, kamu cukup mengingatku. Hiduplah bahagia, terima kasih telah melakukan sejauh ini. Aku tahu kamu seorang indigo, pasti akan ada saatnya kita bertemu lagi. Meskipun aku bukan manusia sepertimu.”

Lani benar-benar menghilang. Aku menjerit keras yang tersisa di goa hanya Aku sendirian. Kakek buyut hanya melihatku, sebelum akhirnya melangkah pergi.

“Kenapa kakek menghalangiku?”

“Karena kakek menyayangimu, kau akan mengalami masalah yang lebih besar dari ini jika kau membuat janji yang syirik.”

“Lani. Lani hanya korban, Aku berusaha menyelamatkannya. Lalu bagaimana dengan Endrew, seharusnya dia yang mati bukan Lani.”

“Hanya Tuhan yang mampu menghukum seseorang. Pulanglah, temui Lani sebelum ia dikuburkan.”

Aku menangis. Sepanjang jalan, ingatanku dengan Lani terasa jelas. Aku tak sanggup dengan ini, perasaanku terhadap Lani sangatlah pekat dan lekat. Aku merasa sedikit menyesal menjadi Indigo. Tapi setiap kali perasaan sesal ini muncul, saat berulang kali ku coba hilangkan kemampuan ini. Orang-orang hanya berkata “Terima kondisimu apa adanya. Berdamailah dengan itu, kamu akan bahagia. Apapun yang dialami seseorang itu adalah kuasa Tuhan.”

Meskipun aku selalu sakit setiap kali mendengar cerita duka, atau melihat orang lain yang tanpa raga. Aku harus terbiasa.

31 OKTOBER

31 Oktober | Part 2

31 Oktober | Part 2

Lani di bawa ke rumah sakit terdekat. Suhu tubuhnya menurun drastis. Dokter memperkirakan jika Lani terkena serangan jantung. Ia harus segera dirawat lebih lanjut. Aku sangat sedih, Aku bingung apa yang harus ku katakan pada orangtuanya. Kenapa sebagai pacar Aku tak bisa menjaga Lani dengan baik. Bodoh, bodoh.

Berkali-kali aku meminta maaf pada orangtua Lani. Mereka sangat shock melihat kondisi Lani yang kini sedang terbaring koma. Orangtua Lani menangis tak henti-henti terutama sang ibu. Aku menundukkan kepala, Aku memang bukan calon menantu yang baik. Ayah Lani menepuk pundakku. Ia berkata ini bukan kesalahanmu.

Aku mendengar suara tangis, itu adalah Lani yang berada di belakangku sedari tadi. Aku menghampiri Lani. Ku tanyakan sekali lagi siapakah dia?

“Aku Lani Bob. Aku pacar kamu, kenapa kamu masih nggak percaya udah berapa lama kita pacaran. Aku sudah kenal dekat denganmu. Kamu si anak indigo yang sering dipanggil dukun selama sekolah. Kamu yang selalu datang ke rumah dan ceritain pengalaman horror tapi aku masih nggak takut. Aku Lani. Aku… pacar kamu..”

Benar dia Lani. Tangisnya, ceritanya, dan raut wajahnya. Tak ada hantu yang bisa menyerupai sepersis ini. Dia Lani yang asli.

Aku dan Lani mengobrol di lorong rumah sakit yang sudah sepi. Aku lebih tenang, dan Lani juga sudah berhenti menangis.

“Kenapa kamu bisa begini? Apa yang terjadi?”

“Aku nggak ingat jelas. Aku bersembunyi tak jauh darimu, tapi Aku berpindah seperti ada seseorang yang mengarahkanku untuk berjalan. Aku tak ingat jelas wajahnya, dia hitam dan tinggi. Aku berjalan ke ujung halaman belakang dekat dengan kolam renang. Aku sadar kemudian berlari, Aku memanggil namamu berkali-kali sampai akhirnya kamu dengar. Tapi sosok hitam itu ternyata mengikutiku saat Aku ingin berlari ke arahmu. Aku lari dan bertemu dengan pria dengan wajah penuh darah, dia menakutkan seperti ingin menyerang. Setelah itu kamu menemukanku. Aku bahkan tak sadar, jika Aku sudah terpisah dengan ragaku sendiri.”

Pria dengan wajah penuh darah. Pakaiannya saat itu juga hitam. Apa jangan-jangan ini ulahnya. Tidak bisa dimaafkan.

“Aku harus gimana Bob, Aku masih ingin hidup.”

Lani mulai menangis lagi. Aku semakin tak tega.

“Lani, tenangkan dirimu. Aku berjanji akan mencari jalan keluar, Aku akan membuatmu hidup kembali.”

Lani mengangguk. Aku langsung bergerak menuju rumah Endrew. Aku juga meminta Lani ikut agar dia bisa mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi waktu itu. Tapi setengah perjalanan Lani merasa kesakitan.

“Kakiku sakit Bob.”

Ada hantu lain yang sedang mengganggu Lani. Pasti hantu jahat yang ingin menyelakai Lani. Kami kembali ke rumah sakit. Benar ruangan Lani penuh dengan Hantu dan arwah jahat. Aku harus melindungi Lani. Tak ku biarkan hal buruk terjadi padanya malam ini. Aku masuk ke dalam ruangan, ku usir mereka satu persatu menggunakan jimat peninggalan kakek, kakek buyutku. Tapi, sepertinya tak ada arwah atau sosok hitam yang membuat Lani seperti ini. Tubuh tanpa raga memang menggiurkan bagi para hantu terutama yang jahat. Mereka bisa memanfaatkan energi dalam tubuh Lani sebagai makanan atau menjadi tuan dari raga tersebut.

Aku semakin khawatir, Aku harus mencari siapa pelaku dari semua ini. Tapi di sisi lain raga Lani harus dilindungi. Aku menundukkan kepala

“Ada apa cucu…”

“Kakek buyut.. tolonglah.. Aku..”

“Aku mengerti, Aku sudah tahu apa yang terjadi. Karena selama kamu hidup, Akulah yang mendampingi dan melindungimu selama ini.”

“Aku sangat berterima kasih atas itu. Tapi kali ini bisakah Kakek melindungi orang lain selain diriku. Tolong..”

“Lani. Aku hanya perlu menjaganya dari arwah jahat selama kau pergi. Aku bisa melakukan itu, kau sudah memiliki banyak ilmu yang setara denganku. Kau akan baik-baik saja selama beberapa hari ke depan Aku yakin itu.”

“Terima kasih Kakek buyut.”

“Bobby, ingatlah Aku hanya mampu melakukan itu. Dan tugasmu adalah menyelesaikan masalah ini bukan mengubah nasib seseorang.”

Tanpa pikir panjang Bobby menuju rumah Endrew dia harus bertemu dengan sosok hantu pria dengan wajah penuh darah. Pasti dia penyebab Lani mengalami hal ini. Rumah Endrew menjadi sepi, semenjak kejadian Lani pingsan semua orang panik dan tak ada yang mau melanjutkan pesta. Semua orang pulang ke rumahnya masing-masing.

Aku mengetuk pintu rumah Endrew berkali-kali. Belum ada jawaban, Aku mencoba menelpon Andrew. Tapi terus terhubung. Aku mendengar seseorang sedang memanggilku. Wujud seorang anak kecil yang seperti mengajakku ke sebuah tempat.

Aku mengikuti langkahnya. Aku berjalan ke samping rumah Endrew, di dekat kolam renang sudah ada sosok yang menantiku. Sosok yang menjadi sasaran kemarahanku. Malam ini Aku ingin menghabisinya. Meskipun Aku belum tahu benar cara menghabisi sosok hantu. Aku membawa sebotol air, ku ucapkan beberapa doa dan mantra jawa yang sempat ku pelajari dalam buku. Selangkah lagi menuju, sosok pria dengan wajah penuh darah. Aku menyiram air tersebut.

Hantu itu sedikit terluka, Aku merasa marah. Lukanya tak sebanding dengan luka milik Lani. Anak kecil yang mengantarkan memintaku berhenti. Ada yang ingin mereka berdua jelaskan.

“Apa?”

“Kami tak bermaksud jahat padamu atau manusia. Kami hanyalah arwah yang meminta didoakan.”

“Apa karena aku tak menolongmu waktu itu, kau menyelakai orang yang sangat berharga bagiku.”

“Kami hanyalah arwah penasaran. Tak memiliki kekuatan untuk menyentuh apalagi menyelakai manusia. Aku hanya ingin menjelaskan sesuatu. Jika saja waktu itu kau menyempatkan waktu, semua ini tak akan terjadi.”

“Maksudnya?”

“Sosok di rumah ini, yang lebih berkuasa membuat janji dengan manusia. Janji terlarang. Janji itu meminta korban, dan korbannya harus wanita. Tapi di rumah ini semuanya adalah pria. Tak ada lagi cara yang bisa dilakukan selain mengorbankan wanita milik orang lain.”

Aku paham dengan apa yang dimaksud oleh sosok pria dengan wajah penuh darah itu. Pelaku yang sebenarnya bukanlah dia, tapi Endrew. Pasti Endrew dan keluarganya. Aku kembali ke pintu depan, berulang kali mengedor-ngedor pintu. Tapi masih saja tidak dibuka, dengan terpaksa ia memecahkan jendela kaca depan rumah Endrew. Ku panggil nama Endrew dengan sangat keras. Aku bahkan menyelusuri semua sudut rumah namun tak ada orang. Kemana mereka semua? Dari jendela kaca, anak kecil dan pria dengan wajah penuh darah itu menunjuk ke arah belakang rumah. Ya, di sana hanya ada satu bangunan yakni garasi mobil yang berukuran cukup besar. Mereka pasti bersembunyi di sana.

Pintu ku dorbak dengan keras. Benar Endrew ada di sana, sosok hitam pekat menghilang seketika saat Aku masuk.

BRAKKKKK…..

Aku membanting tubuh Endrew dengan penuh tenaga. Aku sanga marah, siapapun yang berada di posisiku mungkin akan bertindak sama. Ku pukuli habis-habisan wajah Endrew. Kenapa Aku bisa punya teman sejahat Endrew? Kenapa dia mengorbankan Lani yang jelas-jelas kekasihku,  dan kenapa dia membuat perjanjian dengan iblis?

Endrew tertawa, bibirnya berdarah. Endrew bangkit, Aku tahu ia tak bermaksud memukul balik. Setengah hatinya mungkin tak tega jika melawanku, atau memang dia yang tak sanggup. Atau bisa saja kalau dia yakin, jika Aku tak akan membunuhnya malam ini. Endrew tahu betul, prinsip yang selama ini aku pegang tak bisa membunuh temannya dengan tanganku sendiri.

“Sudah puas Bob?”

“Kenapa? Kenapa lo tega sama gue?”

“Bukan gue yang nggak tega, tapi itu adalah keputusan dari iblis. Nggak bisa gue tolak, jika iblis sudah menginginkannya mau gimana lagi.”

“Tapi kenapa harus Lani???”

“Karena memang itu keinginan mereka bukan keinginanku. Lagi pula dunia ini terlalu kejam buat Lani.”

“Lo yang kejam, lo lebih dari iblis.”

“Ayolah Bob, kematian Lani nanti kan membawa keuntungan bagi kita berdua. Aku nggak masalah kalau harus membagi komisi. Ya 70, 30 nggakpapa. Mengingat kamu yang bakal butuh lebih banyak uang setelah Lani pergi.”

Aku memukul Endrew lagi. Kini aku memukulnya habis-habisan, sampai Endrew tak bisa bangun. Aku melihat sekeliling, dan tampak sebuah gunting yang biasa digunakan untuk memotong rumput tergeletak di meja dekat mobil. Aku mengambil gunting kebun itu, sepertinya prinsip yang aku tanam sekian lama tak berlaku lagi. Aku berdiri di atas tubuh Endrew, ku gunakan kakiku untuk menahan tubuh Endrew. Ku angkat gunting ini, Akan ku tancapkan tepat di jantungnya.

31 OKTOBER

31 OKTOBER Part 1

31 OKTOBER | Part 1

Bagi orang indonesia, hari halloween bukan hari yang penting. Bahkan ada beberapa orang tak kenal hari itu. Maklum saja, Halloween bukan budaya Indonesia tapi budaya barat. Tapi, sekarang banyak anak muda yang mengikuti budaya barat, jadi jangan heran setiap tanggal 31 satu beberapa masyarakat kota khususnya area jakarta yang berpesta dengan teman-temannya di sebuah resort, villa, atau apartemen dengan menggunakan kostum menyeramkan. Pesta Halloween juga menjadi ajang pamer ke teman-teman. Entah pamer kekayaan atau pamer pacar. Tapi sudah 3 tahun berlalu semenjak Aku lulus kuliah dan rutin ikut pesta Halloween, Aku tak pernah memamerkan apapun. Pacar yang ku bawa selalu sama, harta? Apalah yang ku punya, hanya itu-itu saja.

31 OKTOBER

Oh ya jika ditanya adakah orang yang berhasil berdandan seram di pesta halloween selama Aku ikuti? Jawabannya TIDAK. Seseram apapun dandanan dan pakaian mereka, Aku tidak akan takut. Sebetulnya Aku adalah seorang Indigo, yang terbiasa melihat penampakan hantu selama 20 tahun. Asal kalian tahu saja, Aku bukan hanya melihat sosok hantu saja. Aku bisa berkomunikasi bahkan mengusir mereka jika suatu saat mereka mengganggu kehidupanku. Bisa dibilang aku memiliki bakat seorang dukun.

Dulu, kakek dari kakek buyutku juga memiliki kemampuan yang sama, kemampuan inilah yang akhirnya menurun padaku. Seperti anak indigo lainnya, dulu aku sangat takut. Tapi Aku mulai terbiasa dengan hadirnya sosok mereka. Bahkan, saat berada di pesta halloween beberapa dari mereka turut bergabung dan bergembira bersama. Namun sekali lagi mereka tak kasat mata.

29 Oktober, 3 hari sebelum pesta halloween berlangsung. Undangan dari teman-teman sudah penuh di grup WA. Tak lupa kostum tahun ini harus disesuaikan dengan protokol kesehatan, tapi kalau begitu kenapa bir dan alkohol sekalian tidak disediakan saja? Haha, anak muda dasar. Jika tidak mabuk cinta ya mabuk alkohol.

Terdengar dering dari ponselku. Itu Lani, pacarku. Kami sudah 5 tahun menjalin hubungan asmara dan rencananya tahun depan Aku akan melamar Lani.

“Hallo Bobby. Lagi apa?”

“Emm lagi kangen sama kamu.”

“Gombal deh, udah dapet undangan pesta halloween?”

“Udah.”

“Aku bingung mau pakai kostum apa.”

“Gadis kerudung merah aja, nanti aku pakek aksesoris serigala.”

“Oke. Nanti Aku yang dandanin kamu.”

Beginilah repotnya punya kekasih. Selalu bertanya bagaimana pakaiannya, cocok atau tidak? Terlihat cantik atau jelek dan lain-lain. Tapi mau bagaimanapun Lani Aku akan tetap mencintainya.

Sepulang kerja Aku sudah janji akan berkumpul dengan teman, Endrew. Tuan rumah pesta helloween nanti. Bukan hanya aku saja, ada beberapa teman lain juga yang ikut berkumpul. Selama perjalanan di mobil Aku merasa tidak enak. Rasanya ada orang yang mengikuti, ini pasti arwah jahat. Silahkan ganggu, tapi setelah itu kau akan kena batunya. Benar, seorang hantu pria dengan wajah penuh darah menghampiriku. Dia menggoyang-goyangkan pohon depan rumah Endrew. Seperti ingin menyampaikan pesan. Ah, maaf Aku sedang buru-buru. Ucapku dengan bahasa isyarat.

Aku masuk ke dalam rumah Endrew, kami mengobrol sampai sangat larut. Tentang pekerjaan, kehidupan pribadi, dan persiapan pesta halloween nanti. Endrew ingin saat pesta nanti akan berbeda dari pesta biasanya. Ia ingin membuat kesan yang lebih menyeramkan, Endrew tahu jika Aku anak indigo. Tapi, Aku menolak, jelas saja ia ingin semua orang bisa melihat hantu selama pesta. Tentu Aku tak ingin itu terjadi. Bisa-bisa semua orang di sana akan pingsan, dan Aku lagi yang kerepotan. Setelah berbagai perdebatan, akhirnya Endrew memilih untuk membuat game petak umpet. Ini game anak-anak sederhana, sepertinya akan aman.

“Tapi ada ritual pemanggil arwah.”

“Enggak, itu bahaya.”

“Lo kan pawangnya setan masak takut sih Bob.”

“Karena gue pawangnya makanya gue nolak. Pokoknya, nggak. Cukup petak umpet biasa.”

“Oke.. Tapi gue yang setting tempat.”

Aku menyetujui itu. Lagi pula pesta halloween nanti digelar di rumah Endrew. Rumah ini bukan rumah angker bila dibanding rumahku yang terlalu banyak barang-barang kuno.

Pesta Halloween. Pesta kali ini tak terlalu banyak orang yang datang. Kami hanya mengundung teman-teman yang tinggal di area Jakarta saja. Sedangkan teman-teman yang ada di luar kota, hanya bisa titip salam dan melihat kami di sosial media. Beginilah yang namanya jarak.

Aku dan Lani datang, pakaian kami sesuai dengan apa yang ku janjikan beberapa waktu lalu. Sebenarnya aku asal omong saja, tapi tahunya beneran. Aku menjadi manusia serigala. Kalau di film Twilight Jacob terlihat tampan dan gagah perkasa. Aku? Terlihat memalukan. Bahkan hantu dan para arwah saja menertawakan. Tapi bodo amatlah, yang penting Lani senang.

Pesta sangat menyenangkan, Aku menikmati ini berdansa dengan Lani. Kini tiba saatnya permainan petak umpet. Endrew memang tak main-main, ia membuat rumahnya tampak rumah hantu seperti yang ada di wahana bermain. Halaman belakang rumah yang tampak luas, sekarang penuh sekat. Ditambah taburan bunga 7 rupa yang berada di setiap sudut.

“Kita akan main petak umpet selama 1 jam. Salah satu dari kita akan menjadi setan yang tugasnya mencari setiap orang yang bersembunyi di rumah ini. Selama 1 jam, lampu rumah akan padam, yang berhak memegang senter adalah yang menjadi setan. Jadi semua orang harap, harap HP-nya dikumpulin di meja depan. Di sana ada undian setiap orang mengambil satu. Undian dengan simbil merah adalah dia yang menjadi setan. Kalau siap bisa kita mulai sekarang.”

Aku mendengar itu, sepertinya akan seru. Aku akan bersembunyi di dekat Lani nanti. Tapi, setelah semua undian dibagi, justru Aku yang menjadi setan. Lani tertawa terkekeh-kekeh. Dia sedikit menggoda, dia bilang “Aku ahlinya bersembunyi. Kamu pasti bakal kesulitan nemuin aku.”

Permainan di mulai. Jika lampu dipadamkan rasanya rumah Endrew sama menyeramkannya dengan rumahku. Tapi Aku tidak takut, Aku akan menyelesaikan permainan ini kurang dari satu jam. Beberapa hantu dan arwah penasaran ikut bermain game, padahal mereka tidak terdaftar sebagai peserta. Dibanding menggangguku, lebih baik kalian membantuku mencari orang-orang.

Satu per satu aku menemukan temanku. Setelah ku temukan mereka mendekat, ternyata mereka juga ketakutan saat lampu dipadamkan seperti ini. Bahkan mereka bilang, suasananya terasa lebih lembab dan dingin. Aku menengok persembunyiannya, benar saja ada hantu yang ikut bersembunyi di sebelah kanan. Saat Aku menengok, hantu iku hanya tersenyum seperti tersipu malu.

Setengah jam, Aku sudah menemukan hampir semua orang. Benar, Lani sangat sulit dicari. Bahkan saat semua orang sudah berhasil ku temukan tinggal Lani seorang yang belum berhasil. Beberapa temanku ikut membantu, ia tidak betah dengan game ini. Jiwanya sedikit penakut memang. Berbeda dengan Lani, dia sangat berani meskipun Aku menceritakan penampakan-penampakan hantu di sekitarnya.

“Bobby!”

Seseorang memanggilku. Aku mengarahkan senter ke segala arah. Tapi tak ada siapa pun. “Bobby!” panggilnya sekali lagi, tapi sama saja. Aku berjalan, ke sebelah kanan. Menuju gerbang masuk rumah Endrew. Bayangan menggunakan jubah merah seperti tengah berlari. Itu Lani.

Aku mengejar pelan, tapi setengah hatiku merasa tidak enak. Di depanku sekarang adalah pohon yang digoyangkan seorang arwah lelaki dengan wajah penuh darah waktu itu. “Bobby!” Lani, dia tersenyum. Aku berhasil menemukannya. Aku mendekat.

“BOBBYYY!!!” Teriak Endrew sangat keras

Betapa kagetnya Aku. Lani jatuh pingsan. Sedangkan di belakangku juga ada sosok Lani yang lain. Siapa kau? Tanyaku.

Aku Lani. Akhirnya kamu menemukanku. Ucapnya.

Aku menggeleng jelas Lani yang asli sedang pingsan, dan Lani yang ada di belakangku itu pasti palsu.

5 Tahun Yang Lalu Dari Diriku

5 Tahun Yang Lalu Dari Diriku

Hai, bertemu lagi denganku. Sudah seminggu aku tidak menulis, ya ini karena aku terkena flu dan demam yang alhamdulillah dikarenakan kecapekan dan bukan COVID-19. Minggu lalu Aku pulang ke rumah, dengan rencana menghadiri kawinan teman SMA. Singkat cerita dalam satu hari itu rasanya aktivitasku padat sekali apalagi aku baru sampai rumah pagi dan lanjut kondangan siang hari. Langsung deh badan ngedrop.

Sedikit cerita tentang kepulanganku kemarin. Mengingat konten reuni SEMASA kemarin, Aku membuka lagi buku tahunan, lebih tepatnya buku kenangan SMA SAKRA 2015 (sengaja aku tulis siapa tahu teman SMA-ku ada yang baca ini). Tentu saat membuka buku itu, catatan pertama yang aku cari adalah diriku. Aku melihat fotoku yang menggunakan seragam pramuka, Aku ingat saat itu aku sedang selfie menggunakan kamera digital teman sekelasku. Seperti biasa, di buku kenangan itu tertulis nama, tanggal lahir, hobi, cita-cita, dan pesan-pesan. Di buku itu aku menulis tentang cita-cita sebagai seorang penulis, dan jurnalis. Memang Aku sudah gila dengan tulisan sejak kecil cuma sekedar gila saja tanpa disebarkan.

Jika diingat, kenapa Aku menulis itu? Jawabannya karena aku ingin kuliah di ilmu komunikasi atau broadcasting. Intinya yang nanti bakal jadi broadcaster yang ada di TV gitu, yang mencari berita ke sana ke sini. Menurutku pekerjaan itu keren, apalagi di tahun 2015 hanya sekadar alat komunikasi bagiku. Jadi untuk mencari informasi menarik media eletroniklah yang paling bagus.

Waktu berjalan, apa yang ku harapkan tak terjadi. Aku ditolak universitas sana-sini. Gagal mendapatkan bea siswa, tidak masuk universitas negeri, jurusan yang ku inginkan biayanya mahal, dan orangtuaku belum punya banyak rejeki saat itu. Keinginan untuk melanjutkan jenjang universitas terancam gagal atau diundur tahun depan. Tapi, akhirnya aku menemukan 1 kampus dengan biaya yang murah dan tak jelek-jelek amat. Meskipun jurusannya bukan broadcasting, atau ilmu komunikasi. Tapi ada persamaanlah di sana.

Akhirnya aku masuk UNISBANK dengan jurusan D3-Manajemen Informatika. Aku suka komputer, karena tetangga rumahku memiliki laptop dan aku senang bermain dengan laptopnya selama SMA. Kemudian berlanjut Aku ikut organisasi Internet Club dan bergabung di departemen internal, dimana ada kegiatan jurnalistik di sana. Setidaknya aku memiliki media untuk mengembangkan tulisanku kala itu.

Aku pikir, cita-cita menjadi jurnalis sangat bisa terwujud. Tapi ternyata tidak juga, Aku bahkan sempat WB (Writer Block) Aku tak menulis sama sekali kecuali jika ada tugas dari kampus atau tugas dari IC. Tugas dari kampus pun lebih sulit dikerjakan, maklum saja bahasanya harus baku. Singkat cerita Aku mulai memberanikan diri untuk menulis lagi setelah lulus kuliah. Aku masih berkiblat di cerita fiksi, Aku belum bisa menyampaikan opiniku melalui tulisan dengan baik, seperti sekarang.

Setelah lihat-lihat buku kenangan SMA, aku berpikir lagi. Ternyata apa yang kita tulis saat itu sangat bisa terjadi, meskipun rencanaku 5 tahun lalu tak berjalan sesuai dengan keinginan. Tapi ternyata Tuhan membuat perjalanan kita sedikit berliku agar memberi sensasi seru. Mungkin saat ini aku masih seorang penulis amatir, yang menulis bebas dengan kalimat yang belum efektif. Yang masih senang bercerita dan beropini sesuai dengan kata hati. Tapi setidaknya sekarang aku bisa menjadi jurnalis. Jurnalis untuk julnalku sendiri melalui ceritani.

Meskipun bukan bagian dari pers atau terikat kontrak dengan media apapun. Aku bisa menyuarakan dan menginformasikan sesuatu dari sini. Memang, yang terpenting dari sebuah jurnal adalah value bukan media. Jika ditarik 5 tahun ke belakang, aku mungkin tak menyangka. Betapa sedihnya diriku dulu saat tahu bea siswaku tak lolos, tak ada universitas negeri yang mau menerimaku, dan aku terancam tidak kuliah padahal aku sangat ingin kuliah karena masih ingin belajar.

Tuhan memang sudah merencanakan mimpiku akan terwujud. Cuma jalannya saja yang sedikit berliku. Untuk itu, mungkin dari cerita ini aku belajar lagi. Agar lebih serius lagi dalam menulis mimpi, meskipun tak sesuai ekspetasi tapi Tuhan tahu, apa yang kita mau dan butuhkan saat ini dan suatu saat nanti. Jadi kalau ada satu momen dihidup kita, dan kita diminta untuk memanjatkan doa atau harapan sebaiknya jangan pernah sia-siakan atau diisi sembarangan.

Segitu dulu ya ceritaku hari ini. Aku masih dalam masa pemulihan, sebenarnya sudah sehat. Hanya saja Aku harus mengubah pola hidupku lagi agar lebih baik. See You!

Gadis Dengan Garis Senyum Yang Panjang

Perempuan Dengan Garis Senyum Yang Panjang

Perempuan Dengan Garis Senyum Yang Panjang

Gadis Dengan Garis Senyum Yang Panjang

Sumber Gambar : Photo by Christian Gertenbach on Unsplash

Aku sudah mengenal Tiara, gadis dengan garis senyum yang panjang. Namanya indah dan wajahnya selalu cerah. Aku sudah mengenal Tiara sejak kami sekolah di SD yang sama, belajar di tempat bimbel yang sama hingga akhirnya tepat 15 tahun Aku mengenalnya.

Seandainya dulu ku dengarkan kata orang kalau “Jangan berteman dengan lawan jenis kalau nggak mau terjebak friendzone.” Dan inilah kondisinya sekarang. Mengenal Tiara sejak kecil membuatku menaruh simpati padanya perlahan. Masih terbayang di kepala saat Tiara masih menangis karena diganggu kakak kelas waktu SMP atau jatuh saat naik sepeda di lapangan tenis kompleks.

Tiara, Tiara, Tiara… simpatiku kini berubah menjadi cinta. Cinta yang mungkin dirimu sendiri tidak tahu, cinta yang bahkan tak kamu sadari. Jangan bayangkan Aku dan Tiara memiliki hubungan dekat seperti sahabat yang digambarkan di novel atau film romantis.

Aku dan Dia hanya teman biasa, yang bicara secukupnya, dan saling menundukkan kepala saat berpapasan di jalan. Kami saling berkomunikasi saat ada keperluan penting entah terkait pelajaran di sekolah, amanah orangtua, atau pekerjaan.

Oh ya sebelumnya perkenalkan Aku Reno. Rumahku terletak tak jauh dari rumah Tiara. Meskipun satu sekolah, satu kantor dan satu lingkungan tempat tinggal kami tak pernah jalan berdua. Dia dijemput oleh pacarnya, Aku naik motor sendiri di belakang sambil membayangkan akan ada satu hari dimana kamu duduk membonceng motor ini.

“Minum air anget lagi?” Sapaku basa-basi.

“Iya, mari..” jawab Tiara singkat dan pergi begitu saja.

Sebenarnya Aku sudah tahu, bahkan hafal. Setiap hangat dia selalu minum air hangat di pantry, Aku juga hafal takarannya. 1/3 gelas air panas 3/4 air biasa, Tiara selalu minum air hangat entah cuacanya panas atau dingin. Entah sedang sakit tenggorokan atau sehat-sehat saja. Tiara lebih senang mengambil air hangat sendiri dibanding meminta bantuan OB. Tiara takut jika air hangat yang dibuat terlalu panas atau terlalu dingin.

Aku telah mengamati Tiara selama ini. Perasaanku terhadapnya semakin mendalam, andai ada satu momen sekali seumur hidupku untuk menyatakan perasaan cintaku padanya. Aku tak akan melewatkan itu, tak peduli apakah akan diterima atau ditolak.

Tapi Aku sadar, banyak orang yang menyukai Tiara. Hampir semua devisi di kantor ini mengetahui siapa Tiara, dan hampir sebagian besar berusaha merebut hatinya. Maklum saja, Tiara terkenal bukan karena wajahnya yang cantik. Dia punya nilai yang bagus, jiwa kepemimpinan yang baik terhadap tim, ramah dengan siapapun, bertanggung jawab penuh atas pekerjaan, dan berani berargumen. Aku tahu itu, karena banyak teman-temanku di kantor yang meminta tolong untuk mendekatkan mereka dengan Tiara. Tentu Aku menolak keras permintaan itu.

Aku saja tidak mampu mendekati Tiara, bagaimana bisa menolong mereka. Kalaupun bisa Aku sangat tidak ikhlas. Sore ini, cuaca sedikit mendung. Sepertinya akan hujan lebat, Aku melihat lamaran cuaca di Hp-ku. Sekitar pukul 18.00 WIB akan terjadi hujan deras. Padahal di jam itu, banyak karyawan yang pulang.

Tiba-tiba Tiara berada di sampingku. Kami berdua melihat cuaca sore ini di jendela yang sama. Aku melirik wajahnya sedikit. Tampak raut wajah yang cemas, tapi apa yang perlu dikhawatirkan jika Dia dijemput oleh pacar yang mengendarai mobil.

Kali ini Aku tak menyapanya. Kami memang sedikit berbicara, lagi pula Aku sudah tahu apa yang akan Dia jawab. “Iya..” hanya kata itu saja yang selalu Tiara ucapkan setiap kali Aku berbicara kepadanya tentang hal apapun.

Hujan mulai turun. Pekerjaanku tinggal sedikit, satu per satu karyawan pulang. Tinggal Aku yang masih bertahan di ruangan ini. Rasanya ingin segera menyusul pulang, tapi di luar masih hujan deras dan pekerjaanku tak selesai.

Tepat 18.30 hujan mulai mereda, pekerjaanku juga sudah selesai. Aku mematikan Laptop dan membereskan meja kerjaku. Aku turun ke loby kantor untuk melakukan absensi.

Di depan mataku, ada mobil yang tampaknya tidak asing. Itu mobil pacar Tiara, dari depan kantor Aku melihat siluet orang yang sedang bertengkar. Pertengkarannya sepertinya hebat. Aku sedikit penasaran. Tapi jangan deh, siapa diriku yang ikut campur kehidupan cinta orang lain. Meskipun Aku mencintai Tiara diam-diam, tapi Aku juga tak punya hak atas urusan cintanya.

Aku menuju parkiran motor.

BRAKK suara benturan yang cukup keras. Tiara keluar dari mobil pacarnya. Tiara kehujanan, sedangkan pacarnya pergi meninggalkan Tiara dengan kecepatan tinggi. Tiara menepi di depan gedung, rambuh dan bahunya basah.

“Aku bawa helm dua” ucapku sedikit memberanikan diri. Dengan membawa motorku, ku tawarkan ia tumpangan untuk pulang ke rumah.

Wajahnya seperti cuaca hari ini, mendung dan hancur. Aku memang tak pandai menghibur, tapi setidaknya Aku ingin menemani Tiara menangis sore ini. Pertengkaran dengan kekasih tentu menyakitkan, setidaknya itu kata orang-orang.

“Maaf Ren, Aku udah pesen taksi.” Ucapnya sambil tersenyum lebar dan menunjukkan wajah kuat.

 

 

Memang Menjadi Dewasa Itu Bagaimana?

Memang Menjadi Dewasa Itu Bagaimana?

Memang Menjadi Dewasa Itu Bagaimana?

Halo semua, kabar kalian baik bukan? Syukurlah kalau kalian semua baik-baik saja saat ini. Hari ini aku mau membagikan pandapatku tentang satu kata yag mungkin sering kita jumpai, yaps kata “Dewasa”. Menurut kalian dewasa itu apa sih?

Memang Menjadi Dewasa Itu Bagaimana?

Sumber gambar : Freepik

Dewasa melambangkan segala orgaisme yang telah matang yang lazimnya merujuk pada manusia yang bukan lagi anak-anak dan telah menjadi pria atau wanita (wikipedia.com). secara biologis seseorang dianggap dewasa jika dia telah memasuki usia 17 sampai 19 tahun. Makanya momen perayaan ulang tahun yang ke 17 sangatlah penting bagi para remaja, termasuk aku dulu. 17 tahun kita udah dapet KTP, udah dapet SIM udah kelas 3 SMA, dan udah boleh nyoblos waktu pemilu.

Tapi tentu dewasa bukan lagi diukur melalui usia kita saja. Ada banyak aspek yang menentukan seseorang tampak dewasa. Namun sebelumnya ku tegaska, apa yang aku tulis hari ini bukan berarti aku adalah benar dan sudah dewasa seutuhnya. Belajar dewasa tentu tentang sikap dan kematangan emosional seseorang.

Aku sendiri juga sering berpikir demikian, namun jika ditelaah lagi, pribadi dewasa tentu tidak cukup dari segi sikap dan kematangan emosional saja. Tentu ada beberapa kondisi dimana seseorang tampak kekanak-kanakan entah saat bersama sang kekasih, orangtua, atau bahkan teman dekat.

Aku sendiri juga sedang berada di tahap belajar, ya aku sering menunjukka egoku pada orang lain. Aku belum bisa mengambil sudut pandang pikir orang lain dengan cepat, dan Aku masih perlu belajar banyak dari orang-orang. Aku masih membutuhkan orang lain untuk diingatkan dan diyakinkan.

Tapi ini bukan maksudku menunjukkan segala kelemahanku. Aku yakin di luar sana masih ada orang yang memiliki perasaan yang sama. Membahas kata dewasa memang tak ada habisnya, ada banyak topik yang bisa dibedah.

Orang dewasa sebenarnya bisa dilihat dari bagaimana ia menyelesaikan sebuah masalah atau menghargai orang lain. Saat berada di sebuah pilihan orang dewasa tentu harus mampu menimbang dan menghadapi segala risiko dari pilihannya itu, ya orang dewasa itu bertanggung jawab atas apa yang mereka pilih.

Membahas sampai di sini saja rasanya cukup berat, belajar menjadi dewasa memang tak mudah. Pertama kita harus mengenali diri sendiri, belajar peka dengan lingkungan sekitar, mampu berpikir rasional, dan akhirnya bersikap bijak. Membahas ini rasanya cukup melelahkan tapi entah kenapa mengungkap arti kata “Dewasa” cukup menyenangkan, meski tak banyak yang ku tahu.

Kalau ditanya cara menjadi pribadi yang dewasa, emmm aku tidak tahu pasti. Belajar dewasa mungkin bisa dimulai dari apa yang kita tonton dan kita baca sehari-hari, membaur dengan beragam orang, jangan pernah takut terhadap apa yang kita pilih. Jika gagal atau risikonya besar, buat pembelajaran. Belajar Dewasa memang tak mudah, kita harus siap dengan berbagai kondisi yang ada. Belajar dewasa tentu butuh waktu, yang pati tidak bisa dihitung dengan bulanan, atau tahunan. Belajar dewasa bagiku sepanjang usia, karena setiap peristiwa yang beragam akan ada pembelajaran baru yang diterima. Sehingga membuat kita lebih bijak dalam bersikap.

Semoga kita semua menjadi pribadi yang terus mau belajar dan terbuka, karena dua hal itu seperti bekal untuk menjadi manusia yang lebih dewasa. Semoga apa yang aku sampaikan hari ini bukan hanya mewakili keluh kesahku saja, namun kita semua. See You!