Mencari Identitas Diri

Mencari Identitas Diri

Mencari Identitas Diri

Apakah kita pernah bertanya pada diri sendiri, sebenarnya siapa diri kita? Apa yang ingin dilakukan? Apa tujuan hidup kita? Ingin dikenang sebagai siapa kita? Siapa? Mau apa? Dan berbagai pertanyaan untuk diri sendiri yang mungkin butuh waktu untuk menjawabnya.

Mencari Identitas Diri

Sumber gambar: Freepik

Secara psikologis kondisi ini sering disebut Crisis Identity, sekadar informasi saja aku tidak tahu jelas tentang hal ini. Namun rasanya beberapa waktu terakhir aku merasa kehilangan siapa diriku. Rasanya sungguh berat, dan sangat sulit untuk melangkah menuju esok hari.

Mungkin di antara kalian pernah mengalami hal yang sama. Kita bingung dengan apa yang kita lakukan sekarang. Mungkin semua pekerjaan berhasil diselesaikan, mungkin kita berhasil tertawa dengan teman meskipun itu pura-pura. Ya, kehilangan siapa dri kita yang sebenarnya sangatlah wajar terjadi, jadi jangan merasa dirimu sendirian. Ada banyak problematika hidup yang sering membuat kita bertanya,

“Sebenarnya kita berguna gak sih di bumi?”

“Apa sih maksud Tuhan menciptakanku dan memberi umur sepanjang ini?”

“Apa yang harus ku lakukan selanjutnya”

Mungkin beberapa orang menganggap pertanyaan itu hanya keluh kesah yang menandakan jika sebagai manusia kita tak punya rasa syukur. Tapi, percayalah jika kita mengalaminya sendiri. Kita pasti bingung dengan hidup ini. Tujuan hidup terasa jauh dan samar, merasa asing dengan diri sendiri, dan rasanya tak orang lain yang memahami ini. Meskipun semua memberi nasehat, menguatkan tapi percayalah mereka tak sepenuhnya paham dengan apa yang kita rasakan. Orang hanya bisa melihat sesuatu dari apa yang kita tunjukkan, entah itu penampilan yang berantakan atau perubahan sikap yang tampak murung dan pendiam. Orang tak bisa melihat sisi hati kita, selain tertutup rapat, orang tak akan paham itu. Kita sebagai tuan pemilik perasaan saja merasa bingung dan kacau bagaimana orang lain. Cukup lucu jika mereka bilang “Aku juga pernah seperti itu.”

Secara garis besar orang mungkin melewati masa sulit yang serupa. Namun, ingat setiap orang itu unik, memiiki karakteristik masing-masing secara emosional atau fisik.

Saat kehilangan siapa diri kita yang sebenarnya.

Aku sendiri juga bingung. Aku selalu kerepotan dengan angan dan mimpi yang beragam, Aku terkadang juga terjebak dalam presepsi orang-orang. Aku merasa telah mengenal diriku dengan sangat baik. Tapi saat tengah jatuh, atau terluka, Aku lupa dengan segalanya. Aku lupa dengan keinginanku, kebutuhanku, dan semuanya.

Meskipun otakku terus bertanya bagaimana dan menyusun hal-hal realistis. Namun tak bisa dipungkiri, hatiku juga sakit dan berat melewati masa sulit itu. Rasa sedih bukan hanya memberatkan diriku untuk maju, namun juga membuatku tak kenal dengan siapa diriku.

Mencari identitas diri, awalnya cukup dengan mengetahui apa passion kita. Apa yang kita suka, tujuan apa yang kita kejar, dan hal-hal positif lainnya. Tapi kita lupa, untuk bertanya hal apa yang kita takutkan dan khawatirkan. Meskipun terkesan paranoid, tapi rasa khawatir dan takut bisa menjadi alasan penguat untuk menjadi seperti apa kita. Mungkin terdengar omong kosong, ya Aku sendiri juga baru memahaminya saat ini. Menentukan tujuan hidup terkadang juga harus berkali-kali jatuh, mengenal diri sendiri memang perlu dilukai sedikit. Tapi jika kamu berada di kondisi yang sama sepertiku, tengah bingung mencari apa yang sebenarnya kita mau, berusaha menggapai tujuan yang entah itu tujuan utama atau hanya sementara. Tenanglah, kamu tak sendiri, masih ada aku. Aku juga sama sepertimu, mari kita lewati bersama masa sulit ini.

"Kisah Kasih Kekasihku" : Isunya Bagus Tapi Kurang Dijelaskan dengan Baik

“Kisah Kasih Kekasihku” : Isunya Bagus Tapi Kurang Dijelaskan dengan Baik

“Kisah Kasih Kekasihku” : Isunya Bagus Tapi Kurang Dijelaskan dengan Baik

"Kisah Kasih Kekasihku" : Isunya Bagus Tapi Kurang Dijelaskan dengan Baik "Kisah Kasih Kekasihku" : Isunya Bagus Tapi Kurang Dijelaskan dengan Baik

Halo, hari ini aku mau review buku. Sebenarnya ini buku yang kurang dikenal banyak orang. Apalagi melihat tahun terbitnya 2016 lalu, dan aku mendapatkan buku itu di tahun 2019 saat acara bazar buku Patjar Merah. Cerita sedikit tentang momen saat aku membeli buku itu, sebenarnya aku adalah orang senang memborong buku murah saat acara bazar. Aku sangat mudah tertarik dengan buku yang tidak terlalu tebal namun berjudul menarik menurutku.

Saat melihat buku ini, Aku langsung tertarik karena judulnya. Aku senang membahas relationship, apalagi saat itu aku masih bekerja penuh sebagai content writer. Akhirnya setelah memilih 4 macam buku, aku membayar. Dan betapa kagetnya buku ‘Kisah Kasih Kekasihku’ ternyata isinya kurang menarik secara visual. Selain tone color yang cukup mengganggu, pemilihan font juga kurang tepat. Sulit untuk dibaca. Akhirnya, ku letakan buku itu dalam rak selama berbulan-bulan.

Karena sekarang ini aku memiliki banyak waktu luang, akhirnya ku buka kembali buku-buku lamaku dan Aku mulai membaca buku itu.

Buku “Kisah Kasih Kekasihku” ditulis oleh sepasang suami istri, Sirot Fajar & Futri Zakariyah. Jujur dari gambar sampulnya sih bagus. Dan itulah yang menjadi pemikat bagiku sehingga membeli buku ini.

Nah, membahas sedikit tentang buku ini. Buku ini berisikan, 50 sepintas cerita yang berkaitan dengan dunia rumah tangga. Prespektif yang diambil buku ini sebenarnya cukup beragam, akan tetapi yang paling dominan cenderung ke agama islam. Kisah-kisah pernikahan yang dijelaskan diambil dari kisah dari Nabi Muhammad SAW, dan para sahabat. Tapi ada 1 kisah yang menceritakan tentang kehidupan pernikahan Nabi Ismail AS. Aku akan menuliskan beberapa hal yang dibahas, mulai dari:

  • Pasangan yang bahagia sejak malam pertama
  • Lebih mengenal pasangan satu sama lain
  • Saling menjaga rahasia rumah tangga khususnya urusan ranjang
  • Pasangan yang saling belajar entah dengan orang lain atau pasangannya sendiri (istri yang belajar dari suami, atau suami yang belajar dari istri)
  • Saat suami istri sedang berselisih
  • Kebiasaan kecil yang berkesan sangat dalam
  • Selisih usia kedua pasangan
  • Membawa kebaikan ke masyarakat
  • Menjaga perasaan pasangan
  • Setia mendampingi pasangan
  • Dan masih banyak lagi

Sebenarnya setiap cerita yang diangkat sangatlah menarik, entah dari kisah islami ataupun kisah lainnya. Akan tetapi sangat disayangkan mereka hanya sebatas bercerita tentang point-point-nya saja, tanpa ada ulasan lebih dalam. Bagiku yang mungkin belum menikah namun cukup senang dengan kegiatan membaca merasa apa yang disampaikan dari buku ini cukup nanggung. Rasanya berhenti di tengah jalan. Memang sih, semua yang ditulis itu berdasarkan sejarah dunia, jadi butuh waktu lama untuk mengulas lebih dalam.

Selain membahas tentang cerita-cerita pernikahan tokoh-tokoh bersejarah dunia. Dalam buku ini juga dijelaskan secara singkat tentang konsep ta’aruf. Bagiku, konsep ta’aruf mungkin seperti apa yang digambarkan di ayat-ayat cinta. Ya, sekali ketemu, klik, langsung nikah. Aku sendiri melihat sistem yang seperti itu merasa cukup ngeri-ngeri sedap. Maklum saja aku bukan dari background yang ahli agama banget. Meskipun ta’aruf itu baik, namun menurutku secara pribadi menikah itu hal yang susah. Mana bisa menentukan siap hidup dengan seseorang dalam sekali bertemu.

Akan tetapi dalam buku ini dijelaskan jika ta’aruf tidak saklek seperti itu. Konsep ta’aruf pada dasarnya konsep pengenalan antara dua orang (laki-laki dan perempuan) yang berkeinginan untuk menikah. Konsep ta’aruf bukan hanya sekali pandang saja, namun kedua pihak boleh melakukan pertemuan lebih dari sekali. Jangka waktunya pun juga tidak dibatasi, seseorang bisa melakukan proses pengenalan selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, sampai pada akhirnya mantap menikah. Selain itu ta’aruf juga tidak hanya mengenalkan kedua calon namun juga keluarga besar mereka. Jadi setiap pertemuan umumnya, kedua pihak harus ditemani orang lain, baik itu teman dekat, kerabat, atau orangtuanya.

Sebenarnya buku ini cukup bagus, tapi ada beberapa hal yang disayangkan selain karena pemilihan tone color kertas (khususnya isi) serta font yang sulit dibaca. Cerita dan isu yang diangkat kurang digali lebih dalam. Jika hal itu diperbaiki mungkin akan lebih baik.

Itu dia sedikit review tentang buku yang beberapa waktu lalu ku selesaikan untuk membacanya, semoga apa yang disampaikan bermanfaat bagi semua! See you

Reuni Virtual Semasa #3 Kebebasan Diri Bersama Atma Parindra

Reuni Virtual Semasa #3 : Kebebasan Diri Bersama Atma Parindra

Reuni Virtual Semasa #3 : Kebebasan Diri Bersama Atma Parindra

Hai, bertemu lagi. masih dalam series Reuni virtual beberapa waktu lalu aku menghubungi teman SMAku, namanya Atma Parindra. Sejujurnya kami nggak pernah saling ngobrol di sekolah, kalau bicara ya paling sekadar tanya “Ada si … nggak di kelas?” udah gitu doang.

Reuni Virtual Semasa #3 Kebebasan Diri Bersama Atma Parindra

Aku memang tak akrab dengan Atma, tapi dulu waktu SMA Atma termasuk orang yang populer. Dia seperti memiliki gaya tersendiri dan dibilang cukup kreatif dibanding siswa-siswa lain. 1 minggu pertama saat masa Orientasi sekolah, kami pernah satu kelas. Sebelum akhirnya Atma pindah ke kelas ICT. Dia termasuk pribadi yang introvert.

Meskipun demikian, Aku tahu melalui akun media sosialnya dia melancong ke berbagai tempat. Bahkan Aku tahu jika beberapa waktu lalu ia bersama tim Borneo Tattoo melakukan ekspedisi kalimantan. Sebagai teman satu angkatan tentu Aku penasaran ingin mengulik kisah perjalanannya. Setelahku hubungi dan ku ajak untuk bergabung di acara reuni virtual dengan topik “Kebebasan Diri” ini.

Setelah masing-masing dari kami menyepakati jadwal, siaran langsung pun dimulai. Aku bertanya sedikit tentang ekspedisi Atma selama di Kalimantan. Atma hanya menjelaskan jika ekspedisi itu dilakukan dengan tujuan mengarsipkan tato-tato khas suku dayak baik dalam bentuk film dokumenter maupun buku.

Atma memang bisa dibilang anak pelancong, dia mengaku sering melakukan turing ke beberapa tempat di Indonesia. Mulai dari Jogja, kota-kota Jateng, NTT, NTB, Bali, dan Kalimantan. Dia merasa jiwanya lebih bergairah saat berada di jalan, memang itu arti kebebasan buat Atma. Berbeda denganku yang bebas menyusun kata, mengungkapkan perasaan, dan bercerita sepuasnya di meja depan laptop, dan alat-alat tulis.

Reuni Virtual Semasa 3 Kebebasan Diri Bersama Atma Parindra

Tapi meskipun berada di tempat yang berbeda, bukan berarti Aku yang terkekang dan Atma yang hidup liar. Bagi kami berdua kebebasan itu bukan hanya soal tempat, tapi tentang batin dan pikiran. Bahkan Atma sendiri menegaskan jika kebebasan yang mutlak tidak ada, saat seseorang memilih sesuatu atau melakukan sesuatu maka akan ada tanggung jawab atau konsekuensi yang harus dihadapi. Memang terkadang beberapa orang menganggap kebebasan adalah mereka berhak atas apa yang diinginkan, tapi kembali lagi setiap hal yang dilakukan ada risiko dan konsekuensinya.

Terkadang dalam perjalanan Atma bukan hanya mengalami kendala teknis saja namun juga terpisah dari rombongan karena beberapa hal, entah itu perbedaan visi atau hal lainnya. Ada insight baru yang aku dapatkan dari Atma, dan itu juga jadi salah satu hal penting saat membangun komunikasi dengan orang lain. Ia bilang apabila ditengah perjalanan mengalami perdebatan, Atma akan berusaha memposisikan dirinya menjadi lawan bicara. Tentu itu menjadi hal yang sering kita lupakan, saat sedang berdiskusi atau berdebat dengan teman, rekan kerja, atau pasangan sekalipun.

Jika dipikir lagi, semakin jauh Atma pergi atau berpetualang maka semakin besar dan luas pula jaringan relasi yang dimiliki. Namun bukan berarti anak rumahan tidak memiliki jaringan relasi, kunci dari membangun relasi tentu diri kita yang terbuka dengan orang lain.

Aku juga bertanya tentang satu hal yaitu finansial. Iya, tentu kesiapan finansial sangat penting sebelum berpetualang. Atma sendiri memiliki beberapa bisnis, seperti bisnis event, dan wedding photography. Selama ia melakukan ekspedisi 8 bulan bisnis-bisnis tersebut dikelola oleh orang terpercaya, untuk pembagian komisinya sendiri masih ia rahasiakan. Tapi dengan sistem seperti itu, kebutuhan batin Atma akan petualangan juga terpenuhi dan bisnis tetap berjalan. Namun bagi yang belum memulai bisnis, tentu kegiatan menabung itu penting. Pastikan uang tabungan dan perencanaan keuangan selama perjalanan itu jelas, dan jangan lupa sediakan dana darurat jika terjadi sesuatu sewaktu perjalanan.

Setiap petualangan yang dilakukan tentu memiliki masalah, salah satunya kehabisan uang. Untuk mengatasi itu, Atma bahkan sampai bekerja serabutan, entah sebagai Fotografer untuk para turist bahkan kuli bangunan. Menghadapi krisis keuangan saat di tempat orang lain tentu hal yang sulit, namun kembali lagi otak harus tetap berpikir tubuh harus bergerak manfaatkan segala yang kita miliki untuk melanjutkan hidup, petualangan atau bahkan cara pulang.

Ke depannya memang akan ada ekspedisi lagi, dengan visi tersendiri. Ada banyak persiapan yang harus dilakukan selain finansial, kesehatan tentu penting apalagi dimasa pandemi seperti ini. Selain mengonsumsi vitamin, Atma dan teman-teman Borneo Tattoo harus melakukan pemeriksaan kesehatan. Mereka tentu tak ingin niat baik justru membuat panik orang-orang.

Jiwa Atma memang petualang, tapi dia tak lupa kemana ia harus pulang. Bebas bukan pada tempat, tapi bebas adalah saat kita bisa memilih, melakukan, atau berpendapat tentang sesuatu yang disukai dan diyakini tanpa ada tekanan dari orang lain, serta kita berani bertanggung jawab atas segala resikonya. Atma petualang karena memang jiwanya ada di jalan, namun beberapa orang juga berpetualang namun dengan media yang berbeda.

Reuni Virtual 2 Ratih dan Suami

Reuni Virtual #2 : Nikah Muda? Bersama Ratih

Reuni Virtual #2 : Nikah Muda? Bersama Ratih

Halo! Setelah beberapa waktu lalu aku bikin acara reuni virtual #1 yang membahas tentang body shaming, tepat kemarin (19/09) bersama teman SMA ku Ratih. Topik yang aku angkat kemarin sangatlah menarik, jujur ini demi menjawab pertanyaanku pribadi tentang “Nikah Muda”.

Reuni Virtual 2 Ratih dan Suami

Ya, beberapa orang mungkin menganggap nikah muda adalah hal yang menyia-nyiakan masa mudanya. Kenapa demikian? Gini, Aku pun juga berpikir begitu dulu. Masa muda adalah saatnya kita mengejar mimpi, berjelajah, mencari jati diri yang sebenarnya, dan belajar menjadi lebih dewasa. Tapi jika sudah menikah, rasanya hidup bukan milik sendiri saja, namun sudah milik berdua dengan pasangan.

Kebanyakan orang berpikir di usia muda memiliki ego yang besar dan kondisi emosional yang nggak stabil. Tentu akan sulit bagi mereka untuk menghadapi berbagai problematikan pernikahan. Tapi sedikit cerita tentangku saat membahas topik ini. Sejujurnya ini topik yang cukup berat buatku, selain karena Aku yang belum menikah. Bagiku isu pernikahan muda cukup sensitif, sebelum memulai acara reunivirtual aku membekali diriku dengan beberapa pengetahuan tentang pernikahan. Aku cari UU perkawinan negara (Aku cari tahu berapa batas minimal seorang wanita menikah, Aku pribadi nggak mau jika ternyata temanku dikategorikan KAWIN ANAK, dan untunglah tidak). Aku belajar bagaimana kehidupan pernikahan melalui buku.

Sungguh, Aku sangat berhati-hati membawakan topik tersebut. Aku nggak mau, konsep awal yang ingin membedah kisah teman tentang kehidupannya yang menikah muda, justru menggiring opini audiens untuk sesegera mungkin menikah.

Lanjut ke pembahasan reuni kemarin, berbeda dengan sebelumnya. Kali ini Aku cenderung mengajukan beberapa pertanyaan kepada Ratih tentang kehidupannya saat menikah muda. Ratih menikah di saat usianya 18 tahun. Ia baru lulus SMA dan selang beberapa bulan akhirnya menikah. Tentu aku penasaran dorongan apa yang membuat dirinya pribadi memutuskan untuk menikah dengan orang yang selisihnya 13 tahun lebih tua? Bagaimana kondisi emosionalnya? Bagaimana dia menurunkan egonya?

 

Ratih menceritakan sedikit keputusannya menerima lamaran suami. Ratih mengenal suami sudah 3 tahun lamanya, setelah ia lulus. Ratih dan suami mulai menjalin hubungan spesial, selang 3 bulan. Akhirnya sang suami meminta restu kedua orangtua, singkat cerita setelah pertemuan kedua keluarga tanggal pernikahan pun diperoleh. Awalnya Ratih masih diberi kesempatan untuk merintis karir beberapa tahun, tapi ternyata ia justru akan menikah dalam waktu terdekat. Ratih sempat mengalami dilematik, antara lanjut menikah atau berhenti saja. Tapi ia pikirkan lagi, tentang kepribadian sang suami yang baik, sikap religiusnya, menurutnya sulit saat ini mencari seorang imam keluarga yang baik. dan mumpung ia menemukan calon seperti itu, akhirnya ia memilih menerima.

Di awal pernikahan Ratih juga mengalami gejolak emosi. Kehidupan pernikahan dengan kehidupan lajang tentu berbeda jauh. Namun, sang suami senantiasa sabar menyikapi gejolak emosi Ratih yang berubah. Sang suami tentu paham, selain karena usia Ratih yang masih muda, Ratih juga butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan kondisi pernikahan. Ia bilang butuh waktu 3 bulan untuk menstabilkan emosinya. Apalagi, di usia pernikahannya yang baru 1 bulan, Ratih diamanahkan anak. kondisinya yang hamil membuat Ratih harus benar-benar belajar mengendalikan emosi dan menjadi lebih dewasa.

Ratih mungkin masih menyimpan harapan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, dan merintis karir lagi. Tapi ketika anaknya lahir, Ratih mulai merasa dilema. Meskipun sang suami mendukung jika dirinya ingin mengejar cita-cita. Tapi sebagai seorang ibu, Ratih masih memikirkan tumbuh kembang anaknya yang masih berusia 4 tahun. berganti peran memang berganti sudut pandang, Ratih mungkin belum sempat mengenyam bangku Universitas. Tapi karena suaminya seorang guru, Ratih sering kali membantu suami mengoreksi hasil ujian para siswa saat UAS dan UTS. Yang itu berarti Ratih juga masih belajar, meskipun dirinya ibu rumah tangga.

Kalau membahas pernikahan memang ada aja yang dibahas, bahkan aku sempat bertanya pada Ratih, apakah dia pernah merasa menyesal karena menikah muda? Pernah merasa irikah dengan teman-teman seusianya yang bekerja atau kuliah?

Ratih menjawab jujur jika dia pernah merasakan itu. Apalagi jika dia membuka media sosial, yang isinya penuh dengan gambaran teman-temannya yang kuliah, yang merintis karir dan lain-lain. Sesekali ia bercerita dengan suami, tapi apa yang ia katakan justru membuat suami merasa bersalah. Akhirnya Ratih memendam perasaan itu, ia memilih kembali kepada komitmen yang dibangun berdua dengan pasangannya.

Kini peran Ratih tak lagi sama. Ratih menjadi anak perempuan, istri dan ibu. Peran tersebut terkadang membuatnya semakin belajar bagaimana ibunya dulu yang bersusah payah mendidik anak, sekaligus istri.

Dari obolanku malam itu, mungkin ada hal yang bisa dipetik dari kisah pernikahannya Ratih. Kunci pernikahan bukan berada di dalam diri sendiri saja, namun juga pasangan. Saat satu pihak sedang belajar maka pihak yang lain perlu bersabar.

Tujuanku tetap cukup terpenuhi malam itu. Aku ingin mematahkan streotip masyarakat yang bilang jika nikah muda itu menyia-nyiakan masa mudanya. Itu menurutku salah.

KONSEP MENYIA-NYIAKAN AKAN ADA JIKA KITA TIDAK MENIKMATI PERNIKAHAN ITU SENDIRI DAN MERASA MENYESAL ATAS KEPUTUSAN TERSEBUT.

Jadi kalau kita menikah di usia 18 seperti Ratih. Atau 20, 30, bahkan 40 tahun kalau kita tidak bisa menikmatinya dan tidak menjalin hubungan yang baik dengan pasangan semua itu akan sia-sia. Menikah muda, memang pilihan. Aku yang berusia 23 tahun saja sudah ditanya punya calon atau belom. Menikah bukan hal yang mudah, perlu banyak persiapan. Baik secara mental, emosional, fisik, dan finansial. Untuk itu sebaiknya pertimbangkan sebaik mungkin, jangan sampai merasa menyesal dengan keputusan bersama seseorang sehingga kita merasa menyia-nyiakan waktu saat bersamanya.

Itu dulu cerita dariku, semoga ada pembelajaran yang diperoleh dari sesi reuni virtual kemarin. Tunggu konten reuni virtual berikutnya ya!

Melepaskan Obsesi Demi Dia Yang Disayangi

Melepaskan Obsesi Demi Dia Yang Disayangi

Melepaskan Obsesi Demi Dia Yang Disayangi

Halo, berjumpa lagi. Hari ini aku mau bahas sesuatu yang sedikit baper karena membahas kata “sayang.” Emang sih ini bukan cerita fiksi yang aku tulis seperti biasanya. Memang kalau membahas rasa sayang kepada seseorang memang tak ada habisnya.

Melepaskan Obsesi Demi Dia Yang Disayangi

Menurut kalian sendiri sayang itu seperti apakah? Apakah tulus mencintainya tanpa pamrih? Tulus memberikan cinta dengan ikatan relasi romantis? Sayang memang banyak bentuknya, mungkin kita merasa sayang dengan orangtua, saudara, atau sahabat karib. Rasa sayang tentu juga bisa kepada kekasih hati, dalam hal ini aku masih mencangkup batas pacaran atau pedekate gitu.

Sebenarnya ada banyak teori tentang cinta yang mendeskripsikan perasaan cinta manusia. Namun karena aku tidak mempelajarinya secara mendalam teori tersebut. Langsung aja ke pembahasan kita tentang rasa obsesi.

Sebelumnya Aku pernah membuat sajak yang membandingkan rasa cinta atau sekadar obsesi belaka. Aku bukanlah orang yang berasal dari pakar relationship, tapi berkat aku menjadi content Writer dengan tema Psikologi, Seksologi, dan Relationship. Aku jadi banyak belajar dan mengenali diriku. Beberapa orang mungkin sulit mendekripsikan perasaannya kepada seseorang. Sama seperti apa yang aku alami dulu. Bagiku cukup sulit untuk akhirnya mendeteksi jika perasaan itu adalah obsesi. Mungkin sebagian dari kalian juga demikian. Awalnya kita terlalu sayang sama Dia, telalu takut hidup tanpanya, Terlalu sedih jika dikecewakannya, dan perasaan keterlaluan lainnya.

Awalnya kita mengira itu benar-benar sayang dan cinta. Dimana Cuma ada dia yang ada di hati kita, yang kita pikirkan, yang kita harapkan di masa depan. Namun semua hal yang kita rasakan, jika terlalu berlebihan tentu bukan hal yang baik. Kita menjadi lebih takut dan waspada dengan hal-hal buruk yang terjadi. Seperti penolakan, pengkhianatan, atau hal kecil seperti keinginan kita yang tak dituruti oleh pasangan.

Menyadari bahwa apa yang kita kira cinta namun ternyata obsesi belaka tentu bukan hal yang mudah. Perlu pengenalan diri, pemahanan dengan perasaan cinta itu sendiri. Meskipun istilah “Cinta tak harus memiliki” adalah hal yang menyakitkan, namun itu bisa menjadi hal yang benar. Hal yang pertama Aku sadari jika itu sebuah obsesi adalah apakah diri ini bahagia? Apakah diri ini nyaman? Apakah pasangan merasa bahagia? Apakah pasangan merasa terkekang?

Berkali-kali ku tanyakan hal itu. Terutama pada diriku sendiri, apakah Aku yakin dia yang paling ku inginkan di dunia? Terkadang kita selalu dibutakan oleh keinginan semata, tanpa sadar dia mungkin yang kita inginkan, namun tak bisa memenuhi kebutuhan kita. Apa kebutuhan kita? Tentu kebutuhan dasar kita adalah bahagia? Rasa obsesi tak bisa menjamin bahagia, obsesi hanya memberikan kecemasan, ketakutan, dan kekhawatiran.

Hal itulah yang kemudian aku sadari, jika Aku tak bisa memiliki sepenuhnya pasangan. Karena dia adalah orang yang paling berhak atas dirinya, begitupun Aku. Perlahan Aku sadar, obsesi bukan hanya membuat pasangan terkekang namun juga hati kita. Kita tak bisa bebas, selalu terusik oleh kekhawatiran, dan perasaan-perasaan yang tak pasti lainnya. Jika kita sudah di titik ini sebenarnya keputusan langkah apa selanjutnya yang akan diambil tergantung pribadi masing-masing. Mungkin beberapa akan memilih untuk memperbaiki dirinya.

Namun ada juga yang memilih untuk melepaskan. Melepaskan rasa obsesi sekaligus orang yang disayangi. Tak mudah memang, tapi kita harus sadar kebahagiaan kita sendiri yang menciptakan. Kita tak bisa memulai hubungan yang sehat jika diri sendiri tidak bahagia lebih dulu.

Aku tahu, memilih keputusan kedua itu berat. Beberapa orang akan mati-matian melepas dan menangis bermalam-malam. Namun percayalah, hal itu mungkin akan baik untukmu. Karena kita sudah tak memiliki beban, lebih bebas dan bisa menjadi diri sendiri. Memang menulis nasehat sangatlah mudah dibanding mempraktekannya. Tapi cobalah pikirkan lagi, apakah mau bertahan dalam hubungan yang terus membuat kita khawatir. Perlahan pasangan tentu tak akan betah dengan sikap obsesi yang diklaim sebagai rasa sayang.

Kita perlu paham, terkadang kehadiran seseorang di dalam hidup kita, hadir bukan untuk mendampingi namun untuk mengajari. Mari kita belajar melepas obsesi demi orang yang disayangi.

“Orang yang kita temui sepersekian detik di jalan saja sudah mengajarkan sesuatu tentang hidup. Lalu bagaimana dengan orang yang bersama kita selama berhari-hari, bermingg-minggu, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Sudah berapa banyak hal yang dipelajari darinya? Apa yang bisa kita pahami saat sedang bersamanya? Tentu tiada terkira.”

REUNIVIRTUAL #1 Menyikapi Body Shaming dengan Mera

REUNIVIRTUAL #1 : Menyikapi Body Shaming dengan Mera

REUNIVIRTUAL #1 : Menyikapi Body Shaming dengan Mera

 

REUNIVIRTUAL #1 Menyikapi Body Shaming dengan Mera

Hallo semua! Hari ini Aku mau berbagi pengalaman. Mungkin pengalaman body shaming bukan hanya dialami oleh aku saja, kebanyakan orang juga mengalaminya. Dikatain gendut lah, pendek lah, kecil lah, terlalu kurus, lah, jelek, dan lain-lain. Awalnya ledekan itu sebagai bahan bercandaan, tapi lama-lama malah menyakitkan bagi mereka yang bersangkutan.

Jujur Aku juga orang yang sering sekali mengalami body shaming. Alasannya karena tinggi badanku yang masih dibawah rata-rata orang seusiaku. Body shaming aku alami sejak SMP. Awalnya biasa, atau lebih tepatnya saat itu aku nggak bisa ngelawan. Bingung gimana caranya bisa menjawab semua ledekan mereka. Hal itu terus aku alami. Tapi aku bersyukur, dibalik teman-teman yang mengejekku masih ada teman yang mau nemenin dan berteman denganku. Kekesalanku terhadap tindakan body shaming dari teman-teman membuatku mudah marah. Aku sering memukul mereka dengan tangan atau mengumpat padanya. Maklum waktu itu aku banyak nememukan kosa kata baru, dan belum bisa bersikap sabar. Cenderung lebih sering memberontak. Aku nggak peduli apa mereka merasa sakit, karena apa yang mereka katakan jauh lebih sakit. Aku merasa menyimpan dendam pada mereka yang mengatakan itu.

Emang sih body shaming bikin rasa percaya diri kita jadi turun. Apalagi kalo diledeknya di depan orang banyak. Wahh itu pasti rasanya malu dan marah banget. Lalu saat masuk SMA, Aku mendapatkan pengalaman yang berbeda. Tepat kelas X aku bertemu dengan temanku Mera. Kami memiliki tinggi badan yang sama. Bahkan setiap kali jalan ke kantin berdua, kami dianggap kembar oleh anak-anak.

Siapa sih yang suka kalo dipanggil 1 meter tak sampai? Kalau ada mungkin dia bermental baja. Masa SMA aku memiliki teman-teman dengan bentuk tubuh yang lebih proposional dibanding waktu SMP. Anak laki-laki tubuhnya kurus tinggi. Sedangkan anak perempuan, body goals lah.

REUNIVIRTUAL #1 Menyikapi Body Shaming dengan Mera

Awalnya aku pede-pede aja karena di kelas aku bertemu banyak orang yang bertubuh mungil. Ya ngerasa ada temennya. Dan karena Mera dan teman-teman yang lain juga aku merasa lebih diterima oleh lingkungan di kelas ataupun di sekolah. Aku merasa lebih dihargai keberadaannya di banding diintimidasi. Meskipun body shaming itu tetap ada, dan beberapa orang memanfaatkan postur tubuhku untuk kepentingan pribadinya. Tapi aku merasa lebih aman di lingkungan SMA ini.

Karena apa yang aku alami sama seperti yang Mera rasakan, beberapa waktu lalu kami memutuskan untuk membuat 1 ide konten baru. Aku sungguh sangat bersyukur melalui konten #reunivirtual kemarin Aku dan Mera saling bercerita di moment kemarin. Melalui IGLIVE aku dan dia saling cerita tentang pengalaman Body shaming yang kami rasakan semasa SMA. Namun, saat masih SMA aku dan Mera merasakan dan memberikan sikap yang sama. Ya, menganggapnya sebagai lelucon yang menyenangkan. Karena jujur orang yang selalu meledek kami berdua punya gaya pelawak gitu.

Dari obrolan selama 1 jam itu, kami berdua sama-sama merasakan. Terkadang cara terbaik menyikapi body shaming atau bentuk bullying lainnya adalah dengan fokus pada diri sendiri. Memang kita nggak punya bisa meminta orang lain untuk lebih menghargai perasaan kita. Kita nggak punya kontrol atas apa yang dilakukan oleh orang lain. Kita Cuma punya kontrol pada diri sendiri.

Mera juga mengaku kalau berkat body shaming dari temen-temennya dia justru memiliki mental yang kuat. Terkadang memang Mera sering bertanya, kenapa selalu dia yang diledek dari semua temen-temennya? Kalau dipahami lagi terkadang teman-teman yang sering meledek, justru mereka yang paham betul dengan karakter kita. Karena bisa saja mereka yang meledek kita benar-benar tak bermaksud untuk melukai kita. Memang berusah mengakrabkan diri, tapi ternyata cara itu membuat kita merasa tidak nyaman.

Balik lagi ke bagaimana menyikapi Body Shaming itu. Kuncinya kita harus berganti fokus. Jangan terlalu fokus pada hal yang membuat kita terluka atau kepada mereka yang melakukan body shaming. Fokuslah pada hal besar yang kita miliki. Kondisi fisik adalah sebagian dari kehidupan kita, ada hal lain yang lebih besar dari itu. Ya sebut saja perasaan kita dan pikiran kita.

Aku sendiri juga merasa sedikit bersyukur atas hal yang tidak aku sukai di masa lalu itu. Berkat bully-an dan tindakan body shaming teman-temanku Aku bisa membuat karya yang bisa melegakan hatiku dan dinikmati orang-orang di sekitarku.

Mungkin itu dulu, sedikit rangkuman dari Reunivirtual kemarin. Semoga dengan apa yang aku dan Mera sampaikan bisa bermanfaat bagi siapa saja. Sekian dariku, selanjutnya aku akan membahas banyak hal lain dengan teman lamaku di masa SMA. See You! #reunivirtual SEMASA

Mareokoco Semarang, Keliling Jawa Tengah

Mareokoco Semarang, Keliling Jawa Tengah

Mareokoco Semarang, Keliling Jawa Tengah

Halo semua, bagaimana kabar kalian? Sehat ya. Hari ini aku mau cerita, rasanya udah lama banget aku gak bercerita tentang perjalanan. Nah, selama masa pandemi ini tentu ada beberapa tempat wisata yang ditutup tapi ada pula yang dibuka dengan catatan mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah.

Minggu kemarin tepat (13/9) Aku bersama ketiga temanku pergi ke berkeliling Semarang. Ya, kami menaiki bis trans Semarang dan janjian berkumpul di halte Simpang Lima. Rencana awal Aku dan teman-teman ingin berkunjung di Museum Ronggowasita. Tempat itu memang aku yang mencetuskan. Ini bukan karena kami anak culun. Aku cuma ingin salah satu vlog dari Keluarga Belo yang mengatakan, salah satu cara belajar sejarah sebuah tempat adalah dengan mengunjungi museumnya. Bagiku memang tidak adil jika bertahun-tahun merantau di kota Semarang namun tak paham bagaimana sejarahnya. Untuk itu Aku mengajak ketiga temanku ini bermain ke sana. Tapi ternyata di hari itu museum masih ditutup (sementara) dan dibuka kembali bulan depan.

Akhirnya bingung dong mau kemana, mana panas banget. Setelah diskusi akhirnya kami memilih pergi ke taman Mareokoco. Meskipun bersifat taman dan dikategorikan sebagai wisata keluarga, namun bagiku ada beberapa hal yang bisa dipelajari di tempat itu.

Kami akhirnya pergi ke halte terdekat, setelah menunggu 30 menit akhirnya kami mendapatkan bis yang mengarah ke Mareokoco langsung.

Untuk tiket masuknya sendiri seharga 15.000 cukup murah. Kebetulan siang itu suasana Taman Mareokoco sedang ramai. Namun petugas tetap memerintahkan pengunjung menaati protokol kesehatan. Sampai di sana kami berhenti di salah satu warung untuk membeli minum. Jujur siang itu cukup panas, oh ya buat temen-temen kalau beli minum jangan lupa buang sampai di tempatnya ya. Setelah ngaso kami jalan-jalan keliling rumah adat.

Meskipun dibilang wisata keluarga namun taman Mareokoco juga sering dijadikan tempat hunting foto entah untuk memenuhi feed instagram atau prewedding. Ada banyak kabupaten yang digambarkan di sini. Mulai dari kabupaten Blora, Grobogan, Semarang, Surakarta, hingga Cilacap. Kalau dilihat dari peta wisata. Dari pintu masuk telah diurutkan kabupaten-kabupaten di Jawa Tengah paling timur hingga ke paling barat.

Jadi kalau di amati kabupaten yang dekat dengan pintu dan di tengah-tengah adalah tempat yang cukup ramai dikunjungi. Oh ya tempat ini cukup luas, kalau capek mengelilingi dengan jalan kaki kita bisa pakai kereta.

Selain rumah ada, setiap kabupaten juga dilengkapi dengan ciri khas apa yang ada di sana. Misalnya Boyolali yang disebut sebagai New Zealand Central Java, dimana produksi susu di Boyolali yang tinggi. Jadi di sebelah rumah adat Boyolali dilengkapi dengan patung sapi perah. Terus, Banjarnegara yang terkenal dengan dawet Ayu, dan Jepara yang terkenal dengan kerajinan gerabahnya.

Bukan hanya itu, Ada pula gambaran laut jawa yang bisa kalian kelilingi dengan perahu, dan miniatur seperti candi waduk bahkan bengawan solo.

Kalau kita telisiki lebih jauh, ini bukan hanya liburan semata. Tapi tempat ini juga bisa jadi tempat belajar yang menyenangkan. Terutama belajar kebudayaan kalau jaman SD belajar IPS mungkin. Kalau kalian masuk ke setiap rumah, coba deh perhatikan detail-detailnya. Seperti yang kita tahu rumah adalah tempat berlindung. Setiap daerah di Jawa Tengah memiliki kondisi geografis yang beragam. Jadi dibangunnya rumah adat tiap kabupaten memiliki ciri khas yang berbeda, mulai dari pilar, bentuk atap, tegel, bahkan hal kecil seperti ukiran-ukirannya. Sayangnya Aku gak didampingi tour gate gitu. Jadi aku hanya bisa menalar pemaknaan dari setiap rumah. Tapi, saat mengunjungi tempat ini justru aku merasa mendapatkan insight baru dan ingin belajar lebih jauh lagi tentang budaya Indonesia khususnya budaya Jawa Tengah.

Mareokoco Semarang, Keliling Jawa Tengah

Maklum aku sendiri juga merasa sedikit kehilangan kejawaan-ku. Jadi berkunjung sebentar ke Mareokoco membantuku kembali untuk mengingat jati diri sendiri. dan lebih banyak belajar tentang kebudayaan terutama di bidang arsitekturnya. Ini jujur, saat mengunjungi tempat ini, rasanya Aku ingin kelak ketika sudah berkeluarga mengajak anak-anak ke tempat seperti ini. Bukan hanya liburan semata namun juga belajar dan menambah pengetahuan mereka.

Nah itu dulu cerita dariku, semoga kalian terhibur! Oh ya Foto2nya sebenarnya banyak Aku cuma milih beberapa.

Kelas Nulis Virtual Bareng IC: Mengubah Patah Hati Jadi Cerita Fiksi

Kelas Nulis Virtual Bareng IC: Mengubah Patah Hati Jadi Cerita Fiksi

Kelas Nulis Virtual Bareng IC: Mengubah Patah Hati Jadi Cerita Fiksi

Kelas Nulis Virtual Bareng IC: Mengubah Patah Hati Jadi Cerita Fiksi

Halo semua! Hari ini aku mau cerita tentang pengalamanku semalam. Ngapain coba malem jumat? Nggak kok, nggak aneh-aneh.

Beberapa hari yang lalu, gak tahu kenapa rasanya kangen bet sama kegiatan sharing gitu. Jujur Aku termasuk orang yang selalu semangat kalau acara sharing dengan topik yang menarik (menurutku) entah diposisi peserta ataupun pengisinya. Nah kemarin malam, tepat malam jumat Aku mengajak anak-anak IC (Internet Club) buat bikin kelas kepenulisan secara virtual.

Setelah aku dan anak-anak IC setuju buat bikin kelas nulis bareng, akhirnya kami nentuin tanggal dan memulainya semalam.

Secara teknis acaranya seperti acara pada umumnya, sharing 30 menit dan tanya jawab 30 menit. Untuk materi yang aku bawain, itu hampir sama dengan artikel yang aku post beberapa waktu lalu, mengubah patah hati jadi cerita fiksi.

Oh ya Aku masih ingat bagaimana reaksi orang-orang saat tahu judul acaranya seperti demikian. Semua orang pikir jika materi yang aku bawakan itu materi galau. Aku senyum-senyum sendiri lihat respon mereka. Ya, aku tahu, dan aku sengaja minta anak IC buat ngasih judul acara gitu. Ya mau bagaimana, topik galau selalu menyedok perhatian orang-orang. Maklum lebih banyak orang yang patah hatinya dibanding yang jatuh cinta.

Ini jujur sih 2 malam menjelang hari H aku belajar. Ngeresume tulisanku dari blog dan baca ulang buku langkah awal menulis buku fiksi yang aku beli di bazar buku tahun lalu. Ya, Aku diajari “Saat ngisi acara jangan hanya omong kosong. Tapi harus ada isi” setelah mendengar pernyataan itu, aku mulai paham. Jika mendapatkan amanah sebagai pengisi bukan hanya sekadar panggung namun tanggung jawab. Untuk itu Aku harus mengisi ulang otakku, berharap jika apa yang aku sampaikan bisa menjawab rasa penasaran audiens.

Aku sebenarnya nggak menargetkan jumlah peserta yang bakal ikut kelas. Cuma info yang aku dapet sekitar 20 orang, tapi ternyata jumlah peserta semalam mencapai 30 orang. Aku gak nyangka apalagi terlihat mereka banyak yang antusias. Aku berharap pertanyaan mereka aku jawab dengan baik :’)

Setelah 1 jam lebih 15 menit kelas selesai. Tak lupa Aku menutupnya dengan sajak. Bukan Riski namanya jika tak memberi virus baper ke dunia. Hahaha…

Aku banyak belajar dari acara ini. Meskipun aku di sana sebagai pengisi namun aku belajar jika diriku harus memperdalam public speaking lagi. Meskipun bukan di atas panggung, tapi sensasi deg-degannya masih terasa. Bahkan keringatku sampai keluar banyak dan membasahi jilbab. Aku juga sadar jika kata yang aku sampein ke temen-temen masih bundel. Dan aku harap kalian paham maksud aku. Aku juga sadar, Aku juga harus latihan pernapasan, hahaha… ngomong 30 menit tanpa minum ternyata ngabisin suara juga.

Udah dulu ya ceritaku hari ini, semoga ada kelas-kelas nulis lainnya yang bisa diikuti orang-orang bukan hanya anak IC saja. Mungkin di antara kalian juga bisa! See You!

Susah Senangnya Jadi Content Writer

Susah Senangnya Jadi Content Writer

Susah Senangnya Jadi Content Writer

Susah Senangnya Jadi Content Writer

Halo, hari ini sesuai janji di konten belajar nulis sebelumnya, kalau Aku bakal jelasin bagaimana sistem kerja content writer. Well, sebelumnya Aku kan udah bahas ya gimana mengubah patah hati menjadi cerita fiksi. Cielahh, sebenarnya menulis pada dasarnya sama sih. Mau itu nulis fiksi ataupun non-fiksi.

Cuma saat menulis fiksi dan artikel biasa, kita butuh sudut pandang yang berbeda. Hal itu juga berlaku loh, saat kita jadi content writer dan blogger. Kalau ditanya susah mana, jujur menulis fiksi lebih susah dibanding menulis artikel.

Menulis fiksi perlu imajinasi, dan sebagai penulis cerita kita harus bisa memvisualisasikan tempat, karakter, konflik, dan lain-lain. Butuh waktu dan komitmen untuk menyelesaikan ceritanya. Meskipun fiksi bisa dibuat versi cerita pendek, namun tetap saja. membuat cerita awal hingga mengakhirnya sesuai keinginan dibutuhkan fokus dan komitmen.

Nah balik lagi dipembahasan susah senangnya jadi content writer. Pada dasarnya, semua pekerjaan pasti ada susah senangnya. Karena Aku emang suka nulis dari kecil, jadi menurutku pekerjaan ini Aku nikmati. Ya, bekerja sesuai dengan apa yang kita sukai tentu menyenangkan bukan, meskipun ternyata hal itu nggak semudah yang kita kira.

Pertama kali Aku menjadi content writer sekitar bulan November 2018 silam. Saat itu aku baru lulus kuliah. Jujur Aku masih kerja part time saat itu, sambil nyari pekerjaan tetap di perusaah tertentu. Kemudian, salah satu temanku menawarkan pekerjaan ini. Saat itu, masih sekadar freelancer. Dulu, artikel yang ku buat sebanyak 5 buah artikel dengan jumlah kata 500, dan itu harus dikirim setiap minggu. Jujur pertama deg-degan sih, ya maklum saat itu aku masih nge-blog lewat steemit (platform blockchain gitulah…) dan di akun steemit itu pun aku juga lebih banyak cerita tentang fiksi.

Di bulan pertama rasanya membuat seratus kata itu susah banget. Setiap pulang kerja part time aku selalu lanjut nulis. Jujur Aku selalu bingung mau nyusun gimana? Ini tulisannya enak dibaca apa nggak? Ini nanti termasuk kena plagiasi nggak? Segala ketakutan Aku rasain saat menulis. Untunglah, di bulan-bulan berikutnya aku mendapatkan treatment yang berbeda, seperti diberi referensi website, yang bisa jadi sumber konten. Saat itu mulai rasanya sedikit ringan. Selama jadi content writer aku cenderung menerapkan konsep re-write.

Sebenarnya ada dua teknik copy writing yang bisa kita pake, yakni:

  1. Re-write (menulis ulang artikel dari 2 situs website yang menjadi referensi dengan gaya bahasa kita sendiri sehingga menciptakan artikel yang baru.)
  2. Translate (Kita mengambil artikel atau jurnal asing yang kemudian kita terjemahkan dalam bahasa Indonesia, dan disusun kembali menjadi kalimat yang enak dibaca).

Seiring berjalannya waktu Aku jadi terbiasa. Sekitar 4-5 Aku freelancer menjadi content writer website orang. Hingga akhirnya di pertengahan tahun 2019 Aku bekerja tetap sebagai content writer di sebuah kantor.

Awalnya senang dong, tapi beda freelance beda pekerja tetap. Jika freelancer hasil artikel yang diminta masih sedikit dan deadline-nya per minggu. Sekarang tantangan bertambah, setiap hari aku harus membuat 5 artikel sesuai keyword yang diberikan. Awalnya susah, namun lama-lama kebiasa. Hingga akhirnya jumlah artikel ditambah jadi 7 artikel perhari.

Selain jumlah artikel yang ditambah, tapi jumlah katanya juga. Pertama 500, 600, 800, hingga 1000 bahkan 1200. Memang setiap keahlian harus diasah bukan. Cara mengasahnya tentu dengan memberi tantangan pada diri.

Bagi  kamu yang suka dengan bidang kepenulisan mungkin pekerjaan content writer sangatlah cocok. Karena disini kamu akan belajar banyak. Seiring banyaknya pengalaman menulis secara nggak langsung kita akan lebih banyak membaca. Kita lebih banyak sudut pandang tentang sesuatu, bukan hanya kecepatan dalam menulis saja yang meningkat, namun kita bakal lebih lihai lagi dalam menyusun kalimat yang efektif dan memilih kata yang cocok.

Selain itu, bagi kamu yang juga content writer dan suka nulis cerita fiksi. Kamu beruntung, seperti yang aku bilang saat kita banyak membaca dan mendapatkan banyak sudut pandang. Kita bakal banyak ide-ide. Akan lebih mudah bagi kita buat menyusun cerita dan ide akan semakin liar. Dan aku alami sendiri, meskipun bukan dari keresahan hatiku. Tapi karena banyak menulis artikel tentang topik tertentu aku jadi paham (meskipun hanya kulit) tentang isu tertentu di masyarakat. Tentu itu bakal jadi hal seru kalau dibuat versi fiksinya.

Oh ya, sebagai content writer tentu proses menulis gak selamanya lancar. Dulu waktu awal aku selalu menjadi 100 kata sebagai takaran aman. Maksudnya aku nggak bisa santai kalau jumlah katanya belum 100. Tapi aku juga pernah ngalamin yang namanya “Eh selesai?” ya nulis berapapun kata rasanya enteng banget. Itulah pengalaman, hehehe semoga dengan apa yang aku bagi sekarang bisa jadi hal yang bermanfaat bagi kita semua. See You!

#Sajaklara: Jingga Batas Pantai

#Sajaklara: Jingga Batas Pantai

#Sajaklara: Jingga Batas Pantai

 

#Sajaklara: Jingga Batas Pantai

Hari ini adalah hari spesial buatku, tepat tanggal 22 Desember 2019, Sahabat terbaikku Milo berulang tahun ke 18. Aku dan Milo telah bersahabat sejak duduk dibangku sekolah Dasar. Oh ya, sebelumnya perkenalkan, Aku Lila. Aku dan Milo sudah saling kenal, sejak SD kami selalu berangkat sekolah bersama. Maklumlah Ayahku selalu mengantar kami berdua ke sekolah. Rumahku dan rumah Milo sangat dekat ya, hanya berjarak 3 rumah saja.

SD, SMP, hingga SMA kami selalu bersama. Satu kelas, bahkan satu bangku. Sesuai janji, hari ini kami akan merayakan pesta bersama. Jangan pikir Aku dan Milo, merayakan pesta mewah di tempat fancy layaknya anak remaja zaman sekarang. Kami berdua memiliki prinsip yang sama, yakni Jangan suka pamer kekayaan orangtua. Jadi dibanding membuang-buang uang untuk hal yang tidak penting atau sekadar eksis di media sosial, lebih baik pergi ke tempat lain.

Sore ini kami berjanji, untuk pergi ke Pantai. Melihat sunset sambil menyantap jagung bakar. Jangan kira kami berdua ini, berpacaran. ‘Kita, masih bersahabat, dengan baik. Selamanya akan seperti itu’, begitulah kata Milo setiap kali Aku merasa sedih dan butuh teman bercerita.

“Lo, pastiin kita nggak kena macet ya. Aku nggak mau kita nggak sempet lihat sunset.” Ucapku dari belakang punggungnya. Milo masih tak menyahut, suaraku lebih pelan dibanding suara angin sore ini. Aku mendekat, sampai akhirnya ku sandarkan daguku pada bahunya yang lebar. Ku ulangi kalimat yang sama seperti Tadi.

“Lo, jangan sampai kita kena macet, nanti nggak keburu lihat sunset.”

“Udah tenang aja.”

Aku selesai berbicara, tapi daguku masih bersandar di bahu Milo.

Kami melewati jalan-jalan tikus agar terhindar dari lampu merah. Milo memang jagonya lincah, ia selalu pandai mencari jalan tikus di kota Madya Semarang ini. Padahal Aku yang sejak lahir tinggal di sini tak paham betul jalan-jalan kecil yang ada di kompleks rumah.

Sampai. Milo memarkirkan motor, semilir angin berhembus. Pantai ini tidak terlalu ramai, hanya segelintir orang yang datang untuk menikmati sore. Pantai Marina, pantai ini biasanya dijadikan tempat jogging oleh warga Semarang, kadang setiap perayaan Tahun Baru tempat ini selalu penuh karena ada konser musik. Kami duduk bersebelahan, saling menatap laut lepas.

Aku menghela napas, “Haahh… Indahnya langit jingga.”

“Iya, mau makan jagung bakar?” tawar Milo. Aku menganggukan kepala penuh semangat.

Milo beranjak dan membeli jagung bakar. Aku masih memandang laut lepas. “Nih.” Tak butuh waktu lama jagung bakar hangat sudah siap disantap.

“Sorry, Aku cuma bisa traktir kamu jagung bakar.”

“Jagung bakarnya enak kok, jadi nggak masalah. Lagian, tiap hari kamu tratir aku, makan di kantin, beliin es krim, pas lagi ngerjain tugas, dan kalo main ke rumah. Setiap pergi sama kamu, Aku selalu seneng.”

“Syukurlah. Aku juga seneng kalo kamu seneng.”

Jagung bakar kami habis, langit jingga kini semakin menitis. Bagiku ini adalah momen yang romantis, Aku tak peduli siapa yang bersamaku. Apakah itu Milo sahabatku, ataupun orang lain. Aku menyukai langit jingga di ujung garis laut depan sana.

“La, setelah lulus nanti kamu mau ngelanjutin kuliah dimana?”

“Aku mau di kedokteran UGM atau nggak UNDIP. Kamu?”

“Belum tahu. Masih bingung”

“Kok belum tahu, padahal sebentar lagi UN. Terus Ujian Masuk Perguruan Tinggi kok masih bingung sih.”

“Iya ya, hmmm… Mungkin kamu boleh cerita kenapa kamu pilih kuliah kedokteran. Siapa tahu itu bisa bantu Aku.”

“Emmm. Pertama, Aku suka materi Biologi, Kimia, dan Fisika. Kedua, Aku termasuk siswa yang cerdas di sekolah. Ketiga, Aku mau nolong orang dengan cara ini. Aku emang pengen punya pekerjaan yang nggak cuma menghasilkan uang, namun juga ada visi sosialnya. Dokter itu pekerjaan mulia, dan dikagumi banyak orang. Jadi Aku ingin dan sangat bersemangat untuk menjadi dokter.”

Milo tertawa kecil, dia seperti meledek. Aku menegurnya dan sedikit marah, tapi ia berkata tidak bermaksud begitu. “Baru cerita soal alesan aja kamu udah seneng banget, gimana kalau masuk beneran.”

“Pasti bahagia banget.”

“Meskipun itu artinya kita nggak sama-sama lagi.”

Senyumku menurun. Aku sadar apa yang dikatakan Milo barusan. Aku masih belum bisa membayangkan menjalani masa kuliah tanpa ada Milo.

“Aku bakal ke Ausie La. Aku udah keterima di sana.”

Jantungku serasa berhenti. Berita baik yang sebetulnya tak ku sukai. Aku, Senang Milo bisa sejauh itu, tapi Aku masih ingin terus di samping Milo.

“Bagus, kamu hebat.”

“Kamu nggak memohon Aku buat nggak pergi.”

Aku menggeleng. Meskipun sangat ingin mengatakan jangan pergi, Aku adalah teman baik untuk Milo. Aku nggak mau ngalangin sahabat yang ingin sukses.

“Maaf ya La. Aku harus pergi dan ninggalin kamu.”

Aku tersenyum, “Masih ada Skype, WA, dan media sosial Lo. Kenapa harus ngerasa berat ketika teknologi membuat kita dekat.”

“Karena Aku sayang sama kamu.”

“Kamu bilang kita bersahabat, kita akrab, dan kita tumbuh bersama. Tapi, kenapa sekarang kamu bilang sayang?”

Milo masih diam. Ia masih kaku.

“La, semua orang akan jatuh cinta kepada lawan jenisnya jika ia terus bersama. Kamu bukan hanya cewek yang nebeng di motorku setiap berangkat dan pulang sekolah, kamu bukan hanya temen belajar setiap ada PR dari guru, kamu bukan hanya tetangga yang selalu gangguin Aku setiap hari minggu. Kamu adalah orang yang selalu ada untuk Aku.”

Aku bingung harus menjawab apa. Perasaanku terhadap Milo menjadi aneh, Aku sayang dengan Milo. Tapi Aku tak yakin rasa sayangku kepadanya sama seperti apa yang ia rasakan padaku. Aku masih tak bisa berkata apapun saat ini.

“La, mau jadi pacar Aku?”

“Kita belum dewasa Lo. Kita masih…”

“Anak-anak? Kita udah sama-sama 17 tahun.”

“Dewasa artinya apa sih Lo? Apa cuma kita yang udah dapet KTP atau ngerayain Sweet Seventeen? Dewasa bukan persoalan angka Lo. Dewasa artinya kita harus tanggung jawab dengan apa yang kita pilih.”

“Dan Aku milih kamu La, buat jadi pacar Aku.”

Aku bingung. Mungkin iya, Aku menaruh perasaan sayang sedikit kepada Milo akhir-akhir ini. Tapi untuk berpacaran, bahkan untuk pacaran jarak jauh aku belum yakin akan sanggup menjalaninya.

“Kenapa kita nggak sahabatan aja selamanya Lo. Aku belum siap untuk kita pacaran, apalagi LDR. Akan ada banyak kesalahpahaman, pertengkaran, dan akhirnya kita putus. Merasa asing satu sama lain.”

“Kenapa kamu menakutkan hal yang belum pasti terjadi La. Aku serius sayang sama kamu. Menurutmu mungkin menjadi sahabat selamanya itu indah, tapi enggak menurutku. Aku nggak bisa menahan diri waktu kamu dideketin cowok lain, Aku nggak bisa terus dengerin kamu yang cerita tentang cowok lain selain itu. Mungkin persahabatan kita tampak indah, tapi itu menyakitkan buatku La.”

Matahari sudah terbenam. Langit jingga telah berubah menjadi petang. Lampu-lampu sudah dinyalakan. Rencana kami untuk melihat senja gagal, kami justru saling berdebat.

“Maaf, kita emang lebih cocok temenan. Aku juga sayang sama kamu Lo, tapi Aku nggak bisa diminta untuk pacaran. Aku lebih suka kita temenan.”

Milo mangguk-mangguk, obrolan kita terhenti.

“Kita pulang sekarang. Gak ada lagi yang kita obrolin sekarang, hari juga udah malam.”

Di perjalanan pulang tak ada obrolan. Aku tahu akan sangat canggung jika aku berusaha mengatakan sesuatu yang menghibur hatinya. Inilah yang Aku takutkan. Hubungan persahabatan yang merenggang karena cinta.

Sampai di depan rumahku. Milo masih diam, Aku juga bingung berkata apa. Namun Aku ucapkan terima kasih padanya, Milo mengangguk dan mendorong mundur motornya.

“Milo..” teriakku.

Milo berhenti dan menoleh.

“Maaf soal tadi.”

“Iya. La, Aku bakal nembak kamu jadi pacarku lagi, selepas pulang dari Ausie.”

“Emmm… Aku nggak yakin. Kecuali, kamu bisa yakininku.”

“Aku akan berusaha yakinin kamu. Aku mohon tunggu Aku.”

 

3 tahun selepas itu.

Aku duduk lagi, di tepi pantai tepat saat Aku dan Milo dulu menghabiskan waktu sore untuk menikmati senja. Aku duduk sendirian, Milo masih belum pulang dari Ausie. Selepas kejadian yang lalu butuh 5 bulan agar kami akrab kembali. Milo masih menyimpan perasaannya padaku, setiap kali ia bilang jujur, Aku hanya tersenyum. Setiap satu minggu sekali ku habiskan waktuku di sini. Menenangkan memang menatap senja sendirian. Aku memang masih ingat pertengkaran kami berdua. Sayangnya pantai ini lebih banyak kecerian dan kebahagiaanku bersama Milo, dibanding pertengkaran itu.

“Lila!”

Aku menoleh, lelaki yang sekitar 3 tahun lalu menyatakan perasaanya kepadaku kini sudah pulang.

“La, Kamu mau tunangan sama Aku.” Ucapnya tiba-tiba sambil menjulurkan cincin. Dengan posen berlutut ibarat melamar seorang gadis pujaan.

“Kamu bilang kemarin pacaran, kemarin sekarang tunangan. Terus posenya kek ngelamar gini.”

“Aku nggak mau pacaran. Aku mau tunangan dan langsung nikah.”

“Kamu mau kan. Aku udah berusaha keras untuk yakinin kamu. Ini cara terakhirku.”

Aku tersenyum. Jika ditarik kembali, Aku ingat kata yang ku lontarkan saat itu. Apa itu dewasa? dan bagaimana Aku bertanggung jawab atas apa yang ku pilih. Milo, masih berlutut. Aku tersenyum.

Ku raih tanganku. Ku minta ia untuk berdiri tegap.

“Iya Aku mau.”

Milo teriak keras, ia memasangkan cincin itu di jari manisku. Ya, Aku merasa pilihanku 3 tahun yang lalu benar. Meskipun tak banyak kisah persahabatan yang berakhir sepertiku dan Milo. Tapi percayalah jika kita menyakini dan bertanggung jawab atas pilihan itu, kita pasti bahagia. Sama seperti Aku sekarang.