Ngelangon, Wisata Sederhana Namun Mewah

Ngelangon, Wisata Sederhana Namun Mewah

Ngelangon, Wisata Sederhana Namun Mewah

Ngelangon, Wisata Sederhana Namun Mewah

NGELANGON? Mana tuh? Hahaha Aku tahu tempat itu masih sangat asing bagi kalian. Maklum saja, tempat itu merupakan bendungan atau waduk yang ada di Kabupaten Grobogan, Kecamatan Kradenan. Nah loh, malah tambah bingung.

Hari ini Aku mau bercerita, tentang piknik sederhana yang Aku lakukan bareng Ibu, Mbak, Keponakan, dan rombongan RT 05. Tepat lebur lebaran Hari Raya Idul Adha kemarin, Aku pulang ke rumah. Sebenarnya niat awal pulang adalah nyate, gule, tongseng, pokoknya yang berhubungan dengan daging-daging gitulah. Tapi Failed, karena kebetulan pas hari itu masjid di dekat rumah belum menyembelih kambing. Alhasil Aku makan makanan rumahan. Ya, nggak papa disyukuri aja, lagian Aku juga kangen sama masakan Ibu sendiri.

Nah, sore hari Aku dan rombongan pergi ke Ngelangon. Bagi warga Kecamatan Kradenan dan sekitarnya, mungkin sudah nggak asing. Tapi buat kalian masih penasaran. Seperti yang kita tahu, saat ini semakin banyak desa-desa kreatif. Kenapa kreatif? Karena mereka bisa memberdayakan alam sekitar untuk dijadikan tempat wisata yang lucu dan menyenangkan. Nah, sebagai penduduk yang baik, kita harus mulai mendukung mereka. Caranya berkunjung ke sana dan posting di sosial media, mudah bukan mempromosikan tempat wisata lokal ke khalayak luas.

Sebenarnya di Ngelangon sendiri, ada dua tempat yang bisa dikunjungi, Oh ya kedua tempat tersebut lebih cocok untuk dijadikan liburan bersama keluarga. Karena lokasinya yang tebuka, dan luas jadi aman buat anak. Lanjut, dua tempat yang bisa dikunjungi adalah Ngelangon Forest Camp dan Bendungan Ngelangon.

Sekadar cerita aja, sebenarnya niat awal Aku dan rombongan adalah Ngelangon Forest Camp, tapi sayangnya tutup. Ya, menurut informasi warga setempat wisata itu dibuka untuk hari sabtu dan minggu. Meskipun, Aku warga Kecamatan Kradenan tapi jujur Aku belom pernah ke sana, sedih :’( Yah, akhirnya kami banting stir ke Bendungannya.

Sekedar menggambarkan, Ngelangon Forest Camp, area tempat foto dengan pemandangan bendungan dari atas, di sana juga banyak yang jual jajan. Tempatnya cukup rindang karena dikelilingi pohon jati. Maaf ya nggak bisa ngasih foto tempatnya, tapi kalo kalian cari di google udah banyak kok.

Aku lanjut ke cerita piknik. Di bendungan ini terhampar rerumputan yang mengililingi. Oh ya di sini juga ada jalan beraspal, biasanya digunakan untuk jogging atau bersepeda. Buat temen-temen yang ngajak anak kecil, mungkin harus lebih waspada. Takutnya, anak-anak main ke dalam air dan tenggelam. Bendungan ini tidak terlalu luas, namun cukuplah untuk bermain, di bagian tengah ada daratan kecil seperti pulau. Mungkin kalau musim penghujan tiba, pulau kecil itu bakal tenggelam. Di sini juga ada jajanan kaki 5. Memang di area bendungan kurang menyediakan tempat duduk atau spot foto yang kekinian. Tapi, nggak perlu khawatir, kita masih bisa seneng-seneng dengan naik kapal mengelilingi bendungan. Cukup membayar Rp. 5.000/orang, dalam 1 kapal dapat mengangkut 8 orang dewasa. Jadi cocoklah untuk yang piknik rombongan kek Aku gini.

Oh ya ketika kalian dateng ke Bendungan Ngelangon, jangan kaget kalau ada hewan ternak dan penggembalanya. Di tempat ini memang banyak rumput, jadi beberapa warga sekitar sering angon atau menggembala hewan ternaknya di sana. Tapi kalian nggak perlu takut, hewan di sana nurut-nurut sama pemiliknya kok.

Oh ya saat kalian pergi ke Bendungan Ngelangon ada baiknya bawa tiket, yups karena di sana nggak ada tempat duduk khususnya di bagian dekat bendungan. Bayangin bawa tiket di dekat bendungan sambil makan jadi berasa drama korea bukan? Di sini kita nggak perlu bayar tiket masuk, cukup bayar parkir 2 ribu per motor. Murah bukan?

Loh, tapi mana kemewahannya?

Haha… ini bukan sekadar clipbait. Memang arti kemewahan setiap orang berbeda, kenapa Aku bilang mewah di sini. Ya, bagiku cukup sulit rasanya liburan keluarga dengan banyak orang. Perlu menyiapkan budgetlah, perlu membuat jadwal dulu lah, perlu lihat ramalan cuaca lah. Rumit bukan? Tapi dari piknik ku kemarin Aku belajar, terkadang dengan hal sederhana, spontanitas Aku, Mbak, Ibu dan yang lain bisa pergi bersama. Tertawa, berfoto, dan tentunya bercerita. Meskipun selama piknik Aku yang dengerin cerita mereka. Momen seperti itulah yang membuat piknikku terasa mahal. Karena Aku percaya hal seperti ini, akan jarang Aku alami. Aku harap kalian juga menemukan kemewahan tersendiri saat pergi berlibur, entah itu sendiri, berdua, atau bersama-sama.

Ngelangon, Wisata Sederhana Namun Mewah Ngelangon, Wisata Sederhana Namun Mewah Ngelangon, Wisata Sederhana Namun Mewah Ngelangon, Wisata Sederhana Namun Mewah

Semoga dengan apa yang Aku ceritakan bisa menginspirasi kita semua! See You.

 

Mengubah Patah Hati Hati Jadi Cerita Fiksi

Mengubah Patah Hati Jadi Cerita Fiksi

Mengubah Patah  Hati Jadi Cerita Fiksi

Mengubah Patah Hati jadi cerita fiski

Halo semua, sudah lama Aku tak menulis di blog ini. rasanya sudah sangat berdebu sekali bukan? Haha, Nah sesuai judul hari ini aku akan membahas tentang cara mengubah Patah hati menjadi cerita fiksi. Sebenarnya bukan cuma Aku yang melakukan hal ini, mungkin sudah banyak orang yang menjadikan pengalaman pribadi mereka menjadi sebuah karya entah dalam bentuk puisi, lagu, film, buku ataupun lainnya.

Memang karya yang dibuat yang bersumber dari perasaan kita berarti memiliki makna tersendiri. Beberapa orang yang pernah aku ajak bicara soal ini mungkin bilang “Siapa sih cowok yang bikin kamu Patah hati?” Haha, sebenarnya banyak. Eh, enggak. Aneh sih, menurutku wujud dari patah hati bukan hanya tentang hubungan asmara saja. Menurutku Patah hati tak selamanya tentang pacar, gebetan, atau hal yang berkaitan dengan cinta. Apa yang dirasakan hati kita tentu bukan hanya cinta semata, ada banyak perasaan yang kita rasakan baik itu positif maupun negatif. Menurutku pribadi Patah hati bisa berupa bentuk-bentuk emosional yang negatif, seperti perasaan nelangsa, dilematik, gelisah, dan lain-lain.

Patah hati nggak selamanya, diputusin pasangan bukan? Masak kita harus nunggu putus atau ditolak dulu baru bikin karya?

Lanjut ke pembahasan mengubah Patah hati jadi cerita Fiksi. Ya sebenarnya, Aku bukan penulis kondang yang kalian kenal. Aku hanya seorang penulis amatiran yang terus menyusun kata sampai sekarang. Dulu awalnya menulis adalah kebutuhanku untuk berekspresi dan berimajinasi. Aku sering bilang dengan orang terdekat khususnya, Aku memulai menulis sejak kelas 4 SD. Awalnya dari buku bacaan yang ada di LKS dan kartun yang Aku tonton. Jujur kedua hal itu sangat membantuku dalam mengolah imajinasi cerita. Dulu aku sangat malu dan setiap hasil tulisan selalu ku simpan sendiri. Perlahan mulai muncul rasa percaya diri, Aku mulai menulis di media sosial, SMS ke temenku, dan sampai akhirnya membuat buku serta menulis blog.

Seperti yang kita tahu, saat diri sedang Patah hati tentu yang ada hanyalah rasa marah, kesal, sedih, dan emosi-emosi negatif lainnya. Tentu hal itu membuat kita merasa nggak nyaman. Kalau Aku, merasa sangat sesak, Aku butuh media untuk mengungkapkannya. Secara psikologis, selain bercerita ke teman atau orang terpercaya. Menulis dan meluapkan segala perasaan kita adalah salah satu cara untuk mengurangi emosi negatif, ya bisa dibilang healing.

Sayangnya, beberapa orang justru meluapkan perasaan Patah hatinya dengan cara yang kurang tepat dan merugikan. Misalnya saja, pola hidup jadi berubah, jarang makan, dan gak bisa tidur. It’s okay, Patah hati emang sakit, tapi jangan ditambah dong dengan menyiksa diri. Cobalah untuk meluapkan rasa Patah hatimu dalam sebuah tulisan. Kamu bisa menulis dari satu kalimat dulu, Atau kamu menulis sesuatu yang seakan-akan kamu bercerita dengan orang lain. Tulislah apapun yang membuatmu tenang.

Jika kamu malu kalau suatu hari nanti, akan ada orang yang bakal baca tulisan itu. Kamu bisa membuat versi cerita orang lain. Buatlah seakan-akan kisah hidupmu sebuah cerita fiksi. Ubah nama setiap pelaku, tempat, dan waktu. Hal itu tentu tak akan disadari teman-temanmu. Selain itu, kisah hidupmu pribadi yang kamu samarkan bisa menjadi cerita fiksi yang menarik.

Untuk mencapai sebuah buku memang tak mudah, butuh waktu, konsistensi dan usaha yang cukup besar. Mulailah karya dari cerita sederhana, dari 1 paragraf, 1 halaman, 1 lembar hingga akhirnya menjadi 1 buku!

Nah, semoga ceritaku bisa membantu kalian dalam mengatasi segala bentuk patah hati. Cara terbaik untuk berterima kasih pada rasa patah hati adalah dengan menjadikannya karya.

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #3

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #3

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #3

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #3

Sehari setelah itu, Aku kembali ke tempat kemarin. Namun tak ada siapa-siapa, hanya ada orang biasa. Sepertinya acara itu hanya 1 hari saja. Aku kembali berganti tempat, Aku pergi pusat perbelanjaan. Namun sama saja. Aku tak menemukan badut anjing.

Aku berharap bisa bertemu mereka lagi. Tolong semesta, engkau yang mungkin paling memahami pertemukan Aku dengan mereka. Merekalah yang bisa membuatku lega. Tolonglah.

“Hei!”

Seseorang memegang tanganku. Aku menoleh, pria dengan postur tubuh tinggi. Aku cukup takut, Aku belum pernah bertemu orang asing. Apalagi sampai disentuh seperti ini. Aku terjatuh, sedikit ketakutan. Jujur ini bukan berlebihan, tapi cobalah pahami. Aku menyembunyikan wajahku, Aku sangat takut. Aku menangis.

“Maaf, tolong tenang. Maaf.”

Pria itu mendekatiku, namun tak lagi menyentuh. Aku masih dalam posisi yang sama. Ada dua orang wanita yang mendekatiku, membantuku untuk berdiri. Kedua wanita itu menenangkanku. Sedangkan pria yang tadi memegang tanganku berdiri dari kejauhan.

Aku sedikit lebih tenang.

“Kamu nggak papa? Perlu kamu bantu carikan taksi untuk pulang?”

Aku menggeleng. Aku sudah lebih baik.

“Tapi kamu benar udah baik?” Tanya wanita yang satu lagi.

Aku mengangguk. Aku yakin sudah baik, meskipun sebenarnya tidak benar-benar baik.

Mereka menanyakan beberapa hal tapi Aku tak bisa menjawab. Aku hanya bisa mengangguk dan menggeleng. Pria yang tadi memegang tanganku mendekat. Sebenarnya masih ada rasa takut, tapi dua wanita yang menolongku berkata tidak apa.

“Maaf Aku mengagetkanmu. Aku tak bermaksud jahat.”

Aku masih diam.

“Eee… Aku udah lihat kamu sebelumnya di acara kemarin, acara salam hangat TEMAN DENGAR. Aku orang yang ada di dalam kostum badut anjing. Maaf karena nggak sempet kenalan kemarin.”

Aku mengerti sekarang. Aku tersenyum sedikit namun belum juga berbicara.

“Aku Okan, mereka berdua juga dari Teman Dengar.”

“Aku Yura.” Ucapku pelan.

Okan mengulurkan tangannya, Aku meraih tangan itu.

Semenjak pertemuan itu. Aku aktif berkegiatan di komunitas Teman Dengar. Setiap minggu, ada kegiatan berkumpul. Entah hanya sekadar bermain, membuat acara, atau mengajar anak-anak jalanan. Aku senang dengan komunitas ini. Mereka benar-benar teman yang mau mendengarkan cerita satu sama lain.

Kini kegiatanku juga lebih berwarna, buku dari psikiaterku sudah mulai penuh. Setiap hari ada 3 hal yang Aku tulis, dan setiap minggu Aku menceritakan kegiatanku bersama Teman Dengar. Jika buku ini habis, sepertinya Aku perlu membeli buku yang baru. Ya, Aku merasa lebih hidup sekarang.

“Yura, semenjak kamu gabung. Kamu selalu jadi pendengar kami. Aku harap akan ada kesempatan bagi kami untuk mendengarkan cerita darimu. Kamu bisa cerita, kapanpun kamu butuh.”

Aku terdiam sebentar. Benar, selain sedikit berbicara, Aku juga belum pernah bercerita tentang diriku padahal sudah 2 bulan lebih Aku bergabung.

“Maaf…” Aku sedikit kikuk. Tapi teman-temanku menggenggam tanganku, Aku merasakan kepedulian dari mereka. Ya, Aku harus mulai percaya pada mereka.

“Maaf, karena Aku baru cerita sekarang. Tapi Aku harap kalian tetap bersamaku. Maksudku tetap mengizinkanku di sini. Aku akan cerita, sekitar 2 tahun lalu…”

Ku ceritakan semua, mulai dari tragedi 2 tahun lalu, kegiatanku sehari-hari, hubunganku dengan tante Vanya, hingga ku ceritakan jika masih melakukan pengobatan psikologis. Raut wajah mereka berubah, semua tampak sedih dan iba padaku. Namun tidak dengan Okan, di justru tersenyum.

“Kamu hebat. Selama 2 tahun kamu berjuang sendirian. Aku tahu pasti rasanya kesepian dan putus asa. Aku tak bisa membayangkan jika berada di posisimu saat ini. Aku salut padamu, ketika beberapa orang menyerah, kamu tetap bertahan dan berjuang. Meskipun butuh waktu lama, tapi kamu harus tahu Tuhan tak akan meninggalkan umatnya sendirian. Aku, atau Teman Dengar mungkin gak bisa ngasih solusi, tapi kami mau menemanimu melewati semua ini. Jangan pernah merasa sendiri. Masih ada kami, masih ada orang yang sayang kamu, masih ada Semesta yang selalu bersamamu.”

Aku meneteskan air mata. Tangisanku tak terbentung lagi, Aku merasa benar-benar egois selama ini. Aku kira, Aku adalah orang yang paling menyedihkan di dunia. Hidupku terasa hampa dan mati rasa. Tak seharusnya Aku begitu, Aku terlalu larut dalam duka, hingga lupa dengan mereka, dengan tante Vanya, dengan siapapun yang berada di sekitarku. Aku bahkan lupa dengan Pencipta-ku. Aku sungguh egois.

Aku menangis tak terhenti. Suasana sore ini menjadi larut. Semua orang di ruangan mulai menemaniku menangis, namun ada beberapa yang tidak. Mereka justru memberikan senyuman yang tulus dan pelukan hangat.

Aku pulang cukup malam. Lampu di rumah sudah menyala, ini pasti tante Vanya. Aku masuk ke dalam, terlihat tante Vanya sedang membereskan dapur. Ia bahkan mengisi kulkas dengan buah dan sayur. Aku berjalan mendekat. Dari belakang ku peluk tubuhnya yang kurus. Semenjak mengurusku sepertinya tante Vanya jauh lebih kurus.

“Maafin Yura.”

Tante Vanya terkejut dengan sikapku. Ia juga terkejut mendengar kata-kataku.

“Maafin Yura, yang selalu ngerepotin tante. Maafin Yura karena terlalu berburuk sangka kalau tante bakal ngambil rumah ini. Maafin Yura, karena membuat tante terluka selama ini.”

Tante Vanya membalikan badannya. Air mataku menetes lagi. Tante menghapus air mataku, Aku melepaskan pelukan. Aku sungguh bersalah terhadapnya. Harusnya Aku tahu, bukan hanya Aku yang kehilangan Ayah dan Ibu, tapi tante Juga. Mana bisa ia ikhlaskan kepergian Ayah, satu-satunya kakak yang ia punya.

“Akhirnya Tante mendengar kamu bicara.”

“Yura sayang sama tante. Maafin Yura, karena terlalu egois. Yura lupa, tante pasti terluka karena sikap Yura, tante pasti juga terluka karena kepergian Ayah. Maafin Yura, karena selama ini Yura kira cuma Yura yang menderita, dan nggak ada satu orang pun yang akan memahaminya. Yura lupa kalo Yura punya tante Vanya. Orang yang sangat bisa diandalkan.” Aku tersenyum namun juga menangis.

Tante Vanya memelukku. Malam itu. Hari itu, rasanya hatiku terbuka lebar. Hatiku terasa lebih lapang. Aku bahagia sekarang. Jika Ayah dan Ibu melihat mungkin ia akan senang.

 

Hari ini, warna dihidupku yang dulunya hanya monokrom telah berubah

Aku mulai melukis lagi, ku ambil warna yang lebih cerah

Monokrom hanyalah dasar lukisan

Akan ku sampaikan kepada Semesta

Terima kasih telah menemaniku yang kesepian

Terima kasih telah memberikan jalan dan kanvas kosong

Aku akan melukis lagi dengan warna-warna pelangi

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #2

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #2

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #2

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #2

Siang yang terik. Sangat cerah, banyak orang beraktivitas di luar. Sedangkan Aku masih menatap jendela kamar. Persediaan makanku sudah habis, saatnya pergi berbelanja. HP-ku bergetar, itu tante Vanya lagi, kenapa belum cukup bertemu kemarin sampai akhirnya menelpon seperti ini?

“Yura, Tante telah mengirim uang bulanan ke rekening kamu. Simpan uang tabungan dari asuransi Ayah dan Ibu. Mulai sekarang biar tante yang mencukupi kebutuhan hidupmu.”

Aku hanya diam. Aku tak merasa senang, atau terhina. Aku hanya merasa hampa.

“Yura. Sampai kapan kamu berdiam diri seperti ini? Sudah 2 tahun, kamu tidak berbicara denganku. Tolonglah, tolong sekali, satu kata saja. Katakan sesuatu, jangan sampai tante lupa bagaimana suara kamu.”

Aku mematikan telponnya. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali berbicara dengan tante Vanya. Aku hanya berteriak saat sesi konseling, dan kalimatnya pun sama. Jika bukan karena teriakan itu mungkin Aku sudah lupa bagaimana suaraku, atau lupa bagaimana caranya berbicara.

Mi instant, makanan kaleng, snack, minuman botol, dan soda. Hanya itu kebutuhan dapurku. Aku tak pernah menyetok sayuran, buah, nasi, atau bahan makanan yang sehat lainnya. Selepas belanja, Aku selalu langsung pulang ke rumah.

Seseorang yang berkostum hewan anjing memberikannya padaku. Aku menerima brosur itu, hanya sekadar iseng saja. “KOMUNITAS TEMAN DENGAR” Ku simpan kertas itu dalam tas belanja.

Hari demi hari Aku lalui dengan sama. Tidur di sore hari, terjaga di malam hari, makan, dan melamun. Aku tak pernah keluar dari rumah. Jika keluar pun itu untuk kebutuhan hidup dan berobat.

“Yura. Sudah 2 tahun proses konseling kita. Perubahan kamu belum signfikan, bagaimana jika kita ubah metodenya.”

Aku diam, tak merespon apapun. Aku tentu akan mengikuti seluruh arahan psikiater, karena Aku juga ingin sembuh dari luka batin ini.

“Aku berikan buku. Mulai sekarang cobalah tulis hal-hal sederhana yang kamu sukai setiap hari. Lalu, kamu juga perlu menceritakan apa yang terjadi dalam satu minggu.” Aku menerima buku itu. Aku tak ada pilihan lain, selain mengikuti arahan psikiaterku.

Aku pulang dengan berjalan kaki. Hatiku, pikiranku, dan pandanganku kosong. Hampa sekali rasanya, Aku lupa bagaimana perasaan bahagia, bagaimana perasaan sedih, dan bagaimana perasaan marah. Hatiku sungguh mati rasa.

Aku terhenti, seseorang memegang tanganku. Aku terkejut dan sedikit takut. Aku menoleh berharap itu bukan orang jahat. Seseorang dengan kostum anjing yang sama. kami bertemu lagi, Aku jadi ingat brosur yang diberikan beberapa waktu lalu. Orang itu melakukan gerakan, mengisyaratkan ekspresi gembira. Dia juga menggerakkannya ke arah kiri. Memintaku untuk bergabung. Aku masih terdiam, kostum itu menggambarkan anjing yang ceria. Apalagi dengan gerakan yang menggemaskan, Aku tersenyum sedikit. Aku masih berdiri, orang itu masih menungguku. Ku putuskan untuk melangkah. Aku menuruti ajakannya.

Sebuah taman terbuka, di sana sudah disediakan kursi dan panggung. Aku duduk di bangku paling belakang. Suasana tidak terlalu ramai. Hanya ada 10 orang di bangku penonton. Iringan musik memeriahkan suasana. Aku menikmatinya, tak lama segerombolan anak-anak kecil datang. Mereka seperti anak-anak yang biasa menjual koran di jalan. Mereka tertawa, tampak menggemaskan. Beberapa panitia membagikan permen kepada kami. Terlihat anak-anak itu sangat senang saat mendapatkan permen lolipop yang berwarna-warni. Bahkan di antara mereka meminta 2 permen.

“Jangan cul, gigi kamu nanti tambah ompong.” Celetuk salah satu anak yang usianya tampak paling tua.

Anak itu malah merengek dan meminta 2 permen. Namun teman-temannya tak membolehkan. Aku tersenyum lagi. Aku melihat permenku, Aku tidak makan makanan manis. Ku berikan permen itu pada anak kecil yang merengek.

Anak itu tampak cerita dan berterima kasih kepadaku. Bahkan teman-temannya juga ikut berterima kasih. Aku membalas mereka dengan senyuman. Aneh dalam 1 hari, Aku sudah 3 kali tersenyum. Acara dimulai, sangat menyenangkan. Anak-anak juga tampak lebih ceria, mereka tampak bersemangat saat sesi game berlangsung. Bahkan mereka sangat antusias untuk bermain game dan memenangkan hadiahnya.

Aku tersenyum lagi, sangat indah. Tiba-tiba air mataku mengalir. Aku tak tahu perasaan apa ini, tangisan ini sangat jauh berbeda saat Aku melakukan sesi konseling. Tangisan ini membuat hatiku lega. Aku berusaha menahan air mata. Suasana sore ini sangat cerah, tak mungkin ku hancurkan dengan air mata. Aku terus mengusap air mataku, dan terus tersenyum. Perasaan apa ini? Apa semesta ingin menyampaikan sesuatu padaku?

“Ini Kak, permen.”

Aku mengangkat kepalaku. Anak kecil yang tadi ku beri permen, justru mengembalikan permennya padaku. “Jangan sedih. Aku kembalikan permen Kakak. Belom Aku gigit kok.”

“Terima kasih.” Tanpa sadar Aku mengucapkan kalimat itu.

Anak kecil itu, kembali bersama teman-temannya mereka bersiap untuk pergi. Sempat mereka melambaikan tangan padaku. Bahkan terdengar “Dada kakak cantik!”

Tepat pukul 1 pagi Aku masih terjaga. Aku merasa sedikit lega karena kejadian tadi sore. Buku yang diberikan dokter masih ku pegang. Aku ingin menulis sesuatu sekarang. Aku mungkin sudah lama tak berbicara, namun bukan berarti Aku lupa bagaimana cara menyusun kata.

Tanggal : 1 januari

Hal yang Aku syukuri hari ini:

  • Bertemu badut anjing lucu
  • Tersenyum lebih dari 3 kali sehari
  • Dikasih permen sama anak kecil
  • Dipanggil kakak cantik
Sajak Lara : Memeluk Kesepian #1

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #1

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #1

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #1

Aku masih belum tidur, padahal ini sudah pukul 2 pagi. Mataku sudah bekedip dari tadi, tapi rasa ngantuk belum juga ku rasa. Sudah 1 tahun ini Aku mengalami Insomia, sejujurnya Aku ingin tidur nyenyak setiap malam. Aku beranjak dari kasur. Bagi sebagian orang kasur adalah tempat yang nyaman, namun tidak bagiku. Terkadang Aku takut dengan tidur malam, entah aneh sekali. Aku selalu cemas setiap kali tidur, mungkin ini adalah alasan mengapa aku insomia.

Aku mengarah ke dapur, aku memanaskan susu kotak. Ya, kata orang susu hangat akan mengantarkan kita pada lelap.

TANG…

Sebuah benda logam jatuh. Ini mengagetkan, Aku menjadi sedikit takut. Tak mungkin itu hantu, Aku sudah tinggal di rumah ini sejak kecil. Hal-hal ganjil seperti itu tak pernah ku temui selama ini. Aku memberanikan diri untuk mengambil benda jatuh itu. Sejujurnya sekaligus mencari tahu siapa atau apa yang menjatuhkannya. Aku menyalakan lampu, kosong, tidak ada siapa-siapa.

BRAKKKK

Sebuah benda tumpul, seperti ongkat kayu menghantam kepalaku. Aku terjatuh dan tak sadarkan diri. Tak sempat Aku melihat sang pelaku, yang ku ingat hanyalah sosok tinggi berpakaian hitam.

Ya, kejadian semalam seperti mimpi buruk bagiku. Rumahku kerampokan, Aku mengalami luka lebam di kepala. Aku kira pencuri itu hanya mengambil barang berharga di rumah saja. Namun sepertinya tidak cukup. Pencuri itu juga mengambil nyawa Ayah dan Ibu.

“AA!!!!” teriakku begitu keras.

Meskipun 2 tahun berlalu, kejadian perampokan itu masih terasa seperti beberapa hari yang lalu. “AAA… Enggak jangan, tolong.” Aku selalu berteriak, meminta tolong, dan menangis.

“Tenang Yura. Tenang, di sini kamu aman.”

Aku masih berteriak dan menangis, meskipun psikiaterku mengatakan tidak apa-apa. Tapi tetap saja Aku ketakutan. Insomiaku semakin parah, bahkan Aku pernah 2 hari tak tidur sekali.

“Ini obatnya.”

Aku menghela napas. Bukan karena lega, tapi karena Aku merasa kenapa hidupku selalu penuh dengan obat. Kenapa 2 tahun lalu Aku tidak ikut mati bersama Ibu dan Ayah. Kenapa Aku masih bertahan di sini? Kenapa? Kenapa hanya ada Aku sendiri di dunia ini? Apakah ini hukuman dari semesta? Dosa besar apa yang Aku lakukan sampai semesta membenciku?

Aku pulang ke rumah. Aku tak ada pilihan tempat tinggal lagi. Hanya rumah dengan kenangan buruk ini yang Aku punya. Sudah 2 tahun Aku berusaha menjual rumah ini. Tapi, gagal. Berita tentang perampokan dan pembunuhan menurunkan minat pembeli terhadap rumahku.

“Yura.”

Aku menoleh ke belakang. Tante Vanya, dia pasti baru saja membersihkan rumah ini.

“Lebih baik kamu tinggal bersama tante. Tante khawatir kamu sendirian di sini. Tante janji bakal bantuin kamu buat jual rumah ini. Tapi, tolong jangan tinggal sendirian di sini. Terlalu berbahaya buat kamu.”

Aku pergi ke kamar, dan tak mendengarkannya.

“Yura! Tolong dengerin Tante.”

Aku masih mengabaikannya. Aku masuk ke dalam kamar. Aku tak peduli apakah Tante Vanya masih di sini atau pergi. Aku tidak menyukai tante Vanya, dulu sewaktu Ayah masih hidup dia selalu bertengkar dengan Ayah. Mereka memperdebatkan bisnis keluarga dan warisan. Tante Vanya orang yang terobsesi akan kesuksesan. Tapi entah kenapa semenjak Ayah pergi, ia berubah menjadi baik. Aku tak yakin kebaikan itu tulus.

Hari demi hari berganti. Tabunganku mulai menipis, selama 2 tahun Aku hidup dengan uang asuransi kematian Ayah dan Ibu. Sebagian besar habis untuk pengobatan. Kuliah? Aku sudah lama berhenti, Aku malu dan takut untuk bertemu orang baru. Padahal, aku punya mimpi yang besar terhadap pendidikanku sendiri.

Memikirkan hidupku sangatlah lelah. Aku merasa sedikit mengantuk sekarang.

“TILIK” Short Movie Bahasa Jawa Yang Membumi

“TILIK” Short Movie Bahasa Jawa Yang Membumi

“TILIK” Short Movie Bahasa Jawa Yang Membumi

“TILIK” Short Movie Bahasa Jawa Yang Membumi

Halo, sudah lama sekali Aku nggak review film hehehe. Ya maklumlah lagi pandemi kayak gini gak bisa pergi ke bioskop. Meskipun begitu, bukan berarti Aku tak memiliki tontonan. Di masa pandemi saat ini tentu banyak orang yang beralih ke streaming serial dan film yang berbayar atau bajakan. Bahkan sadar atau nggak saat ini, selama pandemi ini Drama Korea begitu laris di pasaran. Sebut aja The World Of Married, Crash Landing On You, Itaewon Class, sampai yang barusan selesai Pshyco But It’s Okay.

Aku memang termasuk orang yang suka nonton drama korea. Cuma semenjak lulus kuliah, dan mempersiapkan diri untuk TA (tugas akhir) jatah drakorku sangat Aku kurangi. Bahkan keblabasan sampai sekarang, padahal dulu candu banget bahkan kalo udah marathon gila banget nyampe makan dan mandi.

Eits… tapi kali ini Aku nggak mau bahas Drakor. Hahaha mumpu masih hangat suasana kemerdekaan alias 17an Aku mau bahas film pendek yang sangat viral diperbincangkan oleh netizen bahkan sempet trending di Twitter. Ya, nggak lain dan nggak bukan itu adalah ‘TILIK.’ Tilik merupakan film pendek yang diproduksi oleh Ravacana Film. Untuk set tempatnya sendiri berlokasi di kota istimewa Yogyakarta.

Aku mau bahas sedikit sipnosisnya.

Kisah ini menceritakan sebuah rombongan ibu-ibu yang hendak berkunjung atau lebih tepatnya menjenguk Bu Lurah yang sedang sakit di rumah sakit kota Jogjakarta. Karena lokasinya yang jauh akhirnya rombongan ibu-ibu itu menggunakan truk angkut barang untuk menuju rumah sakit. Selama diperjalanan, banyak cerita yang mereka sampaikan. Ya, bisa dibilang rumpinya ibu-ibu tentang sosok gadis desa yang bernama Dian. Dalam cerita ada tokoh ibu-ibu yang bisa dibilang “Biang Gosip” bernama Bu Tejo. Nah, sama halnya cerita pada umumnya, ada sisi peran protagonis yang berusaha mengingatkan Bu Tejo untuk tidak asal cerita tentang sosok Dian, dia adalah Yu Ning. Selama perjalanan mereka sering kali berdebat, bahkan sempat karena perdebatan mereka truk yang ditumpangi kena tilang pak polisi. Singkat cerita mereka sampai ke Rumah Sakit, namun karena Bu Lurah masih dalam kamar ICU dan tak bisa dijenguk akhirnya rombongan ibu-ibu itu pulang kembali. Yang sedikit mengejutkan diakhir adalah apa yang diceritakan Bu Tejo ternyata benar adanya.

Setelah menonton film ini, banyak hal yang Aku sukai. Pertama karena Aku orang jawa, Aku merasa sangat related apalagi orang desa umumnya seperti itulah cara ngerumpinya. Mulai dari topik, sampai hal-hal sepele tentang ledekan yang berkaitan dengan informasi di internet sangatlah mirip dengan kondisi ibu-ibu yang ada di rumahku. Kedua, secara nggak langsung film ini mengajarkan kita tentang bahasa krama alus, emang sekarang banyak anak muda yang mengalami kesusahan jika berbicara krama alus, termasuk diriku yang kebiasaan ngomong bahasa Indonesia saat bekerja dan ngobrol dengan teman-teman kuliah. Mungkin Aku paham sedikitlah tentang krama alus, tapi ketika menonton film ini Aku merasa benar-benar diajari. Ketiga, film ini membangun nuansa jawa yang kental. Mungkin bagi orang yang tinggil di luar Jawa Tengah dan Yogyakarta, akan merasakan kehidupan sederhana orang-orang jawa. Keempat, Film pendek berdurasi 30 menitan ini, memiliki alur cerita yang ringan, ringkas, dan sederhana. Meskipun begitu, banyak pelajaran yang kita dapatkan. Seperti, jangan sembarang menceritakan hal yang belum tentu benar, selalu punya empati terhadap orang lain. Serta yang paling utama kita harus ati-ati kalau kemana-mana jangan sampai tahu tetangga, takutnya malah diomongin sampai segitunya, hehehe becanda.

Jujur film ini sangat menghibur, apalagi karakter Bu Tejo. Memang biang gosip adalah peran yang nggak baik dalam hidup bermasyarakat, tapi dalam film ini Bu Tejo-lah yang menjadi attention-nya. Mulai dari cara bahasanya, bahkan ekspresi dan gerakan mulutnya lah yang membuat para penonton terhibur dan merasa sangat related. Bahkan kata temen-temenku “Kek tetanggaku banget!”

Setelah nonton ini, rasanya Aku lebih membumi dengan sekitar dan negara Indonesia ini tentunya. Bahkan karena sangat related, Aku jadi ingat kehidupan di rumah, memang pada umumnya kalau mau jenguk atau tilik orang yang sedang sakit modelnya rombongan gitu, tapi nggak harus pakai truk bis atau mobil travel juga bisa. Setelah nonton Film ini, rasanya film Indonesia tak kalah menghibur dibanding Drakor atau film luar lainnya. Ya, ada baiknya kita menonton film-film seperti ini terlebih dahulu, rehatlah dari Drakor yang mungkin membuat kita baper tapi nggak bisa bikin kita kangen sama kampung halaman.

Nah, itu dia pendapat Aku tentang Tilik. Semoga kalian yang belum nonton, bisa nonton segera mumpu bisa ditonton gratis di YouTube! See You… Eh Sampai ketemu lagi!