Garis Depan | Part 1

Garis Depan | Part 1

Garis Depan | Part 1Garis Depan | Part 1

“Saya Akhiri pertemuan kali ini, tolong diingat lagi mendekati UAS proposal penelitiannya segera dikumpulkan 1 minggu sebelum UAS.”

Mendengarkan 3 sks mata kuliah memang menyebalkan. Apalagi jika dosen hanya membacakan presentasi tapi tidak mengajak mahasiswanya berdiskusi. Aku adalah salah satu mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Negeri Semarang. Sebagai mahasiswa aku memang dituntut untuk belajar di kampus, tapi juga aktif dalam kegiatan sosial.

Semua mahasiswa berhamburan beberapa orang pergi ke warung atau kantin kampus untuk makan siang. Aku? dibanding harus membuang waktu bermain atau bercanda gurau lebih baik aku datang ke basecamp sesuai mandat ketua organisasi jam 2 siang nanti akan ada pertemuan. Tapi seperti biasa, aku harus pergi ke minimarket untuk membeli beberapa jajanan untuk dimakan bersama. sudah menjadi kebiasaanku menyiapkan makanan yang dapat dikonsumsi bersama.

“Grace!! Tunggu”

Suara yang tak asing untuk ku dengar, aku menghentikan langkahku saat menuruni tangga. “Grace” terdengar lagi teriakan itu. Aku pun menoleh ke belakang. Rangga. Pacarku, dia mahasiswa fakultas hukum sama sepertiku, akan tetapi dia satu tingkat lebih tinggi dariku. Aku ingat kami bertemu dalam organisasi ini, aku menjadi junior dan dia senior.

Aku ingat tepat 1  tahun yang lalu, Semenjak acara bootcamp ditengah api unggun dan udara Bandungan yang dingin. Aku memanjatkan harapan bersama lilin yang kupengang sampai ku tak sadar jika hampir semua orang telah kembali ke vila. Rangga menghampiriku, memberikan selimut ia tak memarahiku karena belum masuk kamar. Rangga justru menemaniku, kami mengobrol hangat waktu itu.

“Apa yang kamu lakukan? Kenapa tidak segera masuk kamar seperti yang lain?” tanyanya, aku tersenyum.

“Aku butuh waktu sedikit lebih lama untuk memanjatkan doa.”

“Apa yang kau doakan?”

“Bahagia dan keadilan.”

“Waw.. keren. Aku harap itu dikabulkan.”

Dan esoknya, sesampainya di kampus, aku menunggu jemputan di gerbang pintu masuk. Rangga datang menghampiriku, aku tak tahu maksudnya apa. Namun dengan tiba-tiba dia berkata “Aku menyukaimu sejak pertama melihatmu masuk organisasi. Mau jadi pacarku? Aku beri waktu untuk kita saling mengenal dulu.”

Dan beginilah kami…

Hampir 8 bulan bersama. Aku sungguh berterima kasih dengan organisasi ini, mempertemukanku dengan orang yang bisa ku percayai dan ku cintai. “Kamu mau beli jajan apa aja?” tanya Rangga sambil membolak-balik beberapa merk kripik kentang yang di-display.

“Ini masih milih-milih. Kamu mau sesuatu?”

“Aku? kalo ada Nasi Padang instant disini aku mau.”

“Ya gak adalah rangga. Roti aja ya..”

“Udah gak usah, lihat kamu udah kenyang kok.”

“Gombal.”

Dia tersenyum padaku. Setiap kali gombalan alay-nya keluar aku selalu tertawa, meskipun berlebihan tapi aku terus tertawa karenanya. Suasana basecamp sudah cukup ramai, aku datang bersama Rangga dan tampak teman-teman yang lain menyambut kami dengan gembira. Terutama dengan kantor kresek yang aku bawa.

“Minta dong… kalian memang pasangan paling top deh. Langgeng terus ya!” ucap salah satu teman seorganisasi. Aku hanya menyikapinya dengan tertawa, sepertinya rapat hari ini belum dimulai. Apalagi Mas Ilham juga belum datang, mas Ilham adalah ketua organisasi ini. Ya, dia adalah Presiden BEM Fakultas Hukum, sekaligus kakak sepupuku dan teman seangkatan Rangga. Sekantong kresek jajanan telah habis dimakan anak-anak.

Mas Ilham belum juga datang, padahal dia adalah tipekal orang yang selalu tepat waktu. Aku mencoba mengirim pesan singkat ke Mas Ilham. Aku telah mengenal Mas Ilham sejak kecil, jika sudah seperti ini biasanya aku memiliki firasat buruk. “Grace kenapa?”

“Gakpapa, aku Cuma sedikit gelisah gak biasanya Mas Ilham telat. Aku takut ada masalah..”

“Grace tenang… Ilham adalah orang yang cerdas dan kuat. Gak akan ada masalah…”

Aku mencoba tersenyum di depan Rangga, meskipun yang ia katakan benar tapi tetap saja rasa kekhawatiranku terhadap kakak sepupuku begitu besar.

30 menit berlalu… Mas Ilham datang. Membawa berlembar-lembar kertas, dengan raut wajah yang sangat serius, sedikit marah dan gelisah. Aku yakin isi kertas itulah yang membuatnya seperti ini.

Rapat dimulai, aku mendengarkan dengan seksama topik rapat kali ini. Selain itu aku membaca isi kertas yang dibagikan Mas Ilham. Aku tau kenapa Mas Ilham marah, ya… pemerintah telah berulah. Ada beberapa point UU yang bermasalah dan cenderung menguntungkan para elite politik dan merugikan rakyat kecil. Bukan hanya aku yang merasakan gejolak kekecewaan terhadap para wakil rakyat, tapi seisi ruangan juga merasakan. “Aku akan mengkoordinir beberapa mahasiswa lainnya di kampus lain. Beberapa kampus di Jakarta sudah membuat aksi untuk menggugat pengesahan RUU ini…” Mas Ilham menghela nafas. Memandangi kami satu persatu, dialah pemimpin kami. Berusaha menggerakan kami sebagai mahasiswa yang mewakili hati rakyat.

“Ingat, kita harus menyuarakan ini semua demi kepentingan bersama. aku meminta kerja sama kalian, siapa lagi yang bisa memulainya jika bukan kita generasi muda. RUU ini bukan hanya masalah utama, masih ada masalah lain yang perlu kita sampaikan. Ingat kita adalah Mahasiswa! Harus bergerak demi kepentingan semua pihak. Ini adalah kepentingan seluruh rakyat Indonesia, jangan biarkan reformasi ini dikorupsi!

Closing statement dari Mas Ilham memang selalu membakar semangat siapapun yang mendengarnya. Aku menyimpan kertas yang dibagikan Mas Ilham dalam tasku. Seusai rapat Mas Ilham dan beberapa temannya pamit pergi untuk bertemu dengan mahasiswa Univesitas lain, untuk membahas topik pembicaraan yang sama. “Mas, aku boleh ikut?”

“Kamu yakin Grace? Nanti Mas Ilham sampai malem banget, Nanti kamu dimarahin Mama.”

“Gakpapa Mas, aku ajak Rangga nanti semisal udah jam 9 biar aku pulang, jadi Mas Ilham tetep bisa nerusin obralannya. Gimana?”

“Yaudah gakpapa.. udah sana bilang sama Rangga. Mas tunggu di parkiran ya.”

“Siap!”

Ibu Lebih Sayang Kakak Part 4

Ibu Lebih Sayang Kakak | Part 4

Ibu Lebih Sayang Kakak | Part 4

Aku menoleh ke belakang, Kak Feril berdiri dan melangkah mendekatiku. “Biar aku mengantarmu..”Ibu Lebih Sayang Kakak Part 4

Sampai sekarang, aku belum merasakan ikatan batin yang dibilang orang-orang. Padahal saat ini kami sudah satu mobil, tak ada perbincangan apa pun. Kecuali saat dia menanyakan kemana alamat yang aku tuju. Suasana mobil terasa begitu hening, kak Feril fokus dengan kondisi jalanan yang ramai lancar. Sedangkan aku mengamati setiap sudut kota Bogor.

“Apa kamu ingin bertemu Ayah?”

Sebuah pertanyaan yang benar-benar tidak aku percayai akan diucapkan oleh kak Feril. “Iya Boleh.”

Aku tidak berpikir sedikit pun kemana Ayah berada sekarang, bisa saja dia bekerja atau sedang bermain dengan temannya. Oh ya sebagai kesan pertama, alangkah lebih baik aku membawa sebuah bingkisan. Aku ingat dulu setiap hari Ibu selalu mengganti bunga mawar putih yang ada di ruang tamu jika sudah layu. Apa sebaknya aku membawakan itu?

“Kak. Boleh aku membeli bunga dulu sebelum bertemu?”

Kak Feril mengangguk. Aku hanya berdiam diri mengikuti kemana jalannya mobil ini pergi, sesuai dengan permintaanku. Kak Feril memberhentikan mobilnya di sebuah Florist. Aku meminta untuk dibuatkan satu buket cantik dengan 10 mawar putih. Tak perlu menunggu lama cukup 15 menit saja buket pesenanku telah jadi. Aku kembali memasuki mobil, aku harap Ayah akan menyukainya.

Tempat yang aku sendiri tak membayangkan, selama dalam mobil aku memang tak berekspetasi apapun. Namun aku mulai memahami apa yang disebut pertemuan, saat kaki ini menginjak daerah pemakanan. Kak Feril memintaku untuk mengikutinya, sepertinya aku mulai memahami. Kakak tak mengatakan apapun selama perjalanan. Dan… mungkin ini adalah jawabannya.

Kami berhenti di salah satu makam, dengan batu nisan yang tertulis nama Abdullah Mujib – meninggal 02 Februari 2016. “sudah 3 tahun” ucap kak Feril pelan. Aku mengarahkan pandanganku padanya, tampak matanya begitu sayu.. ia meneteskan air mata dan terus memandang makam tersebut. Aku tahu ini adalah makan Ayahku.

Aku kembali menandang makam Ayah begitu dalam. Ku taruh bunga mawar putih disamping namanya.

“Ayah meninggal karena apa?”

“Serangan jantung. Dia memang keras kepala, aku selalu melarang Ayah memakan berkolestrol tinggi. Tapi, dia selalu seperti anak-anak usia 5 tahun yang bandel.”

Aku tak tahu, aku tidak bisa merasakan kesedihan apapun. Rasanya air mataku sudah kering. Atau karena aku tak bisa merasakan kesedihan sama seperti kak Feril. Jujur aku sendiri juga sedikit kecewa ketika seumur hidupku tak bisa menemui Ayah kandungku sendiri. Tapi kenapa? Tak ada setetes air mataku yang keluar karenanya.

“Setelah kepergian Ayah, aku kira.. Aku adalah anak yang paling sengsara di dunia. Kepergian Ayah sebulan sebelum pernikahanku, aku telah melihat segalanya… pakaian, foto, gedung dan segalanya. Sejak kecil Ayah selalu berharap jika ia selalu menemani momen penting dalam hidupku. Dan pernikahan adalah momen berharga bagiku.. tapi Ayah melewatkannya.”

Kami berdua saling berpandangan, jujur aku bingung harus bersikap apa. Tapi aku merasakan, rasa kehilangan dari seorang anak untuk Ayahnya. Aku merasakan kesedihan seorang saudara perempuan. Matanya sangat mirip denganku, terutama saat kami sama-sama sedang menangis.

“Maafkan aku. Harusnya aku tak melakukan ini padamu, batinku masih berperang. Aku tak bisa menjanjikan apapun…”

“Maksudnya Kak Feril menolak ajakanku ke Malang?”

Dia mengangguk. Meskipun tadi aku berkata tak apa jika aku lebih menyukai cara lain dibandingkan harus mengajak kak Feril pulang. Tapi, sejujurnya ini bukanlah harapanku. Aku takut tante kecewa, aku takut ibu tidak segera sembuh. Aku takut untuk pulang kembali… Tenanglah Keyla!!! Tenangkan dirimu!

Aku menarik napas panjang. Aku menaruh kekecewaan berat kepada kak Feril dan seluruh keluarganya. Kalau semisal mengutuk bukanlah perbuatan dosa, jujur aku ingin mengutuknya, ibunya dan Ayah! Mereka pikir siapa yang paling sengsara saat ini?

“Baiklah… bukan salah kakak juga. Ini adalah salahku terlalu percaya dengan cerita tante Yuni yang mengatakan jika aku memiliki Kakak. Penolakan kakak membuatku sadar, Kamu memang bukan kakak kandungku! Dan kita memang tidak akan pernah bersaudara.”

“Maafkan aku.. tolong pahami kondisiku”

“Bagaimana aku bisa memahamimu, kamu saja tidak memperlakukan sebaliknya padaku..” Aku tahu ini kasar, tapi aku sudah lelah. Satu hari layaknya satu tahun “…Ternyata pergi ke Bogor adalah ide terbodoh yang aku lakukan untuk kesembuhan ibu. Aku harap ini adalah pertemuan kita yang terakhir.”

Aku melangkah pergi, aku mempercepat langkahku. Aku tak peduli kak Feril mengejarku, sebenarnya tante Yuni menyuruhku untuk menginap 1 atau 2 malam. Namun, menurutku aku tidak bisa terlalu lama di sini meski hanya satu malam.

Malam tepat pukul 19.30 Bandara Soekarno-Hatta. Aku mempesiapkan diri untuk pulang kembali ke Malang. Aku terpaksa me-reschedule jadwal penerbangan ke Malang. Aku telah menelpon tante Yuni, aku mengatakan padanya jika malam ini aku akan pulang. Kaki ku begitu lemas… padahal aku hanya menangis seharian tapi kenapa kakiku yang lelah?

Pengumuman penerbangan Armada Citilink Jakarta-Malang 15 menit lagi terdengar cukup keras. Tanpa pikir panjang aku melangkah menuju terminal 2, rinduku terhadap Ibu sungguh sangat besar sekarang.

“Key…”

Seperti ada yang memanggilku? Atau hanya firasatku saja, namaku kan pasaran jadi pasti itu ditujukan untuk orang lain.

“Keyla… Keyla tunggu!!”

Aku yakin orang yang dimaksud adalah diriku. Aku berbalik. Terlihat, kak Feril yang berlari ke arahku dan disusulkan oleh suaminya. Aku tak menyangka jika ia akan kemari, padahal tadi siang aku berharap itu adalah pertemuan terakhir. Tapi saat ini aku merasa senang, kehadiran kak keyla sepertinya akan  membawa kabar bahagia untukku.

Tanpa meminta izin, Ia langsung memelukku. Begitu erat, hangat.. itulah yang aku rasakan sekarang. “Maafin kakak… Kakak memang orang yang tak berani bertanggung jawab.”

Ia melepaskan pelukannya, aku hanya terkejut dan tak bisa berkata apapun.

“Maafin Kakak terlalu egois, untung saja kakak nggak terlambat. Selamanya kakak bakal menyesal jika malam ini kehilangan kamu.”

“Maksudnya kak?”

“Ibu sudah bercerita semuanya..” ucap kak Feril sambil terisak dalam tangisnya “… Kakak akan ikut kamu ke Malang. Kakak sadar kehilangan Ayah adalah kepahitan dalam hidup kakak, dan kakak tak ingin merasakan itu lagi. Kakak tak ingin kehilangan kamu ataupun Ibu.”

Malam itu, pesawat yang seharusnya aku naiki telah terbang ke langit kota Malang. Namun aku masih berdiam di bandara, aku mendekap erat Kakakku. Mungkin ini yang dibilang ikatan batin. Ya, kami sama-sama terluka, sama-sama mengalami hal yang rumit, dan sama-sama dibohongi. Namun bukan berarti kami harus saling membenci. Tidak percaya mungkin hal yang wajar awalnya, namun jika kita mengutarakan perasaan satu sama lain. Mungkin kita akan lebih memahami satu sama lain.

Mungkin benar, aku harus terluka lebih dalam untuk menggapai hal yang besar. Aku telah terluka oleh kebohongan Ibu, namun untuk apa berkutip pada masa lalu? Jika pada akhirnya aku menemukan ikatan yang baru, Kakak kandungku.

Ibu Lebih Sayang Kakak Part 3

Ibu Lebih Sayang Kakak | Part 3

Ibu Lebih Sayang Kakak | Part 3

Pelahan mataku terbuka, aku berada dalam ruangan yang tak ku kenali. Tampak begitu samar penglihatanku, aku beberapa kali mengedipkan mata sama semua terlihat jelas. Di depanku ada sosok laki-laki yang aku temui saat berada di rumah kak Feril. Dia sedang menggendong bayi, dan mengarahkan pandangannya padaku.Ibu Lebih Sayang Kakak Part 3

“Sudah mendingan?” ucap laki-laki itu.

Aku mengangguk, dalam hatiku menebak sepertinya aku berada di rumah kak Feril. Laki-laki itu membawakan segelas air di tangan kanannya. Dan menggendong bayinya di tangan yang satunya.

“Diminum dulu, sekarang kamu ada di kamar tamu kami. Kalau sudah mendingan mari ke ruang makan di sana sudah ada Feril dan Ibu.”

Aku tahu maksud laki-laki ini baik. Mungkin sekarang kak Feril dan Ibunya sedang memperdebatkan kedatanganku. Aku pun meminta untuk diantar ke ruang makan, jujur aku sedikit takut. Aku harap apa yang aku lakukan tidak akan menyakiti kak Feril dan Ibunya. Meskipun kedatanganku saja sudah membuat konflik besar di rumah ini. Jujur saja dalam hatiku aku tak ingin peduli siapa kakak kandungku sendiri. Namun, kesembuhan Ibu adalah hal yang terus aku pikirkan.

Suasana ruang makan yang biasanya begitu hangat oleh percakapan satu sama lain, kali ini terasa begitu dingin dan mencekam. Terlihat kak Feril dan Ibunya saling menatap dengan pandangan penuh amarah. Laki-laki itu memintaku duduk di samping Ibu Kak Feril. Suasana kali ini masih dingin tak ada siapa pun yang memulai pembicaraan. Hingga laki-laki yang menjadi suami kak Feril ikut bergabung dengan kami dan memulai obrolan.

“Tadi nama kamu Keyla ya? Sebelum memulai pembicaraan ada baiknya kita makan dulu. Kasian kamu pasti tidak punya tenaga setelah pingsan.”

“Nggak usah mas. Aku nggakpapa..”

Aku bukanlah orang bodoh, mana mungkin aku bisa nafsu makan dalam situasi serumit ini. Apalagi melihat ekspresi kedua wanita yang ada di dekatku. Mereka yang meperlihatkan ketidaknyamanannya atas kehadiranku. Mana mungkin aku bisa bersantai makan di tempat yang aku sendiri tidak nyaman.

“Kita tidak akan memulai pembicaraan sampai Keyla makan!”

Dengan nada yang tegas namun tidak agresif laki-laki itu menegaskan perilaku kak Feril dan Ibunya. Akhirnya kami makan dalam suasana yang sangat canggung. Baik aku maupun kak Feril dan Ibunya sama-sama kehilangan nafsu makan. Mungkin tak lebih dari 3 sendok nasi yang masuk dalam perut kami.

30 menit setelah makan… suasana kembali mendingin. Aku tak tahu bagaimana lagi, semua yang terjadi saat ini di luar prediksiku.

“Bagaimana kamu bisa menyimpulkan jika aku ini kakak kandungmu?”

Jujur aku sendiri juga belum menyimpulkan jika aku adik kandungnya. Kejadian semalam tentang apa yang dibicarakan tante Yuni masih belum bisa aku percaya.

“Aku tidak tahu.. aku sendiri juga tidak bisa mempercayainya. Selama perjalanan aku selalu berpikir untuk menyangkal apa yang dikatakan tante kepadaku mengenai kak Feril. Bahkan untuk memanggilmu kakak saja aku belum mampu, hatiku, pikiranku bahkan tubuhku semua menolak…”

Aku mulai menjatuhkan air mata. Wajah kak Feril masih dipenuhi emosi, aku tak peduli jika dinilai ini adalah air mata buaya. Mungkin jika dia berada di posisiku dia akan paham betapa sulit menempuh perjalanan hanya untuk menemukan ikatan darah yang sempat hilang.

“…kemarahan yang kak Feril rasakan berada di luar rencanaku. Kalau ada cara lain untuk menyembuhkan Ibu selain menemui aku yakin aku akan pilih itu. Aku tahu kakak tidak bisa menerima kenyataan, aku sama.”

“Memang bagaimana kondisi ibumu sekarang?”

“Setelah pengangkatan tumor di otaknya, sebagian ingatannya hilang. Bahkan ingatannya membawa ibu ke 23 tahun lalu, sebelum aku lahir. Ibu hanya mengingat kak Feril dan Ayah, namun ia melupakanku. Dan kata dokter salah satu cara agar Ibu segera sembuh adalah membawa kak Feril dan Ayah.”

Suasana ruang makan berubah, terdengar isakan dari Ibu kak Feril. Aku mengalihkan pandanganku padanya. Jujur rasanya aku ingin membencinya seumur hidupku, wanita yang berani merenggut kebahagiaan hidup. Namun aku tahu marah pada wanita itu tak akan membantuku, kak Feril akan menjadi sulit mempercayaiku. “Tante.. anda saja banyak waktuku di Bogor. Tentu aku akan melakukan apa pun untuk membalaskan dendam Ibu. Aku ingin seumur hidupku membenci tante, tapi aku tahu itu tidak akan membuat Ibu cepat sembuh..”

Aku menyeka air mataku yang menetes.

“…Aku tahu, tante mungkin sangat bersimpati padaku. Jika aku tak bisa meyakinkan kakak ku sendiri, bisakah tante mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak berharap jika aku berhasil membawa kak Feril, justru aku berharap aku sedang bermimpi. Aku bermimpi semalaman dan di pagi hari aku melihat wajah ibuku yang tersenyum padaku.”

Suasana ruangan larut dalam emosiku. Tak ada seorang pun yang menyelaku. Semua terdiam, jujur aku ingin mengungkapkan semuanya.

“Tante adalah wanita, pasti merasakan bagaimana menjadi seorang Ibu. Tante juga pernah menjadi seorang anak bukan? Harusnya tante paham jika apa yang lakukan ini…”

“Maaf..” satu kata yang mungkin tak akan pernah bisa menebus semua yang terjadi.

“Maaf Tan?..” aku mencoba menahan emosiku, aku yakin siapa pun yang berada dalam posisiku tak akan pernah bisa menerima itu selamanya. Aku memandangi semua orang yang ada di ruang tamu ini, Kak Feril hanya memalingkan pandangannya. Sementara suami kak Feril terlihat bingung harus berkomentar apa.

“Selama 23 tahun, aku percaya dalam kebohongan Ibuku sendiri jika Ayahku meninggal saat Ibu masih mengandung. Selama 23 tahun aku percaya jika aku adalah anak tunggal, dan hanya aku satu-satunya orang yang ia sayangi. Andai saja kebenaran ini aku  ketahui lebih awal, mungkin kita seperti kakak-adik yang sangat akrab. Anda aku tahu ini, mungkin sedari dulu aku menemui Ayah, aku akan memintanya mengambilkan raportku di Sekolah…”

Aku menghela napas begitu dalam, aku tak peduli lagi dengan air mata yang terus menerus menetes.

“Aku tahu kak Feril marah atau kecewa dengan kehadiranku. Tapi cobalah memikirkan bagaimana posisiku. 23 tahun tanpa Ayah, 23 tahun hidup dalam kebohongan. Menurutku itu sudah cukup menyakitkan, dan aku tak ingin menambah luka lagi… Saat harus melalui sisa hidup tanpa diingat oleh ibuku sendiri.”

Tanpa pikir panjang, aku beranjak dari tempat duduk. Aku rasa cukup sampai di sini perjuanganku membawa kak Feril. Aku tak ingin terlalu mengulur waktu lagi. “Aku tak memiliki banyak waktu, jika memang aku tak berhasil membawa kak Feril. Aku yakin tenaga medis rumah sakit akan menemukan cara lain. Aku pergi sekarang.”

Tanpa berpikir dua kali aku melangkah menuju pintu keluar. Aku sudah tidak peduli dengan ambisiku sesampainya di Bogor, semua hanya sia-sia.

“Tunggu biar aku antar.”

Ibu Lebih Sayang Kakak Part 2

Ibu Lebih Sayang Kakak | Part 2

Ibu Lebih Sayang Kakak | Part 2

Bogor. Sebuah kota yang masuk dalam wilayah Jabodetabek, aku tak pernah berada di kota ini. Dulu waktu SMP ibu tak mengizinkanku untuk mengikuti studi tour ke Jakarta. Dia bilang Jakarta terlalu jauh, dan aku nanti kecapekan. Anehnya aku dulu menyetujui itu, Ibu benar-benar melindungiku dari kawasan kota-kota besar di wilayah barat kota Jawa.Ibu Lebih Sayang Kakak Part 2

Andai aku tahu hal ini lebih awal, mungkin dulu aku membrontak dan tetap mengikuti studi tour ke Jakarta. Bandara Soekarno-hatta begitu ramai, banyak orang yang menyambut kedatangan namun ada pula yang harus melakukan perpisahan. Sedangkan aku? aku sendiri bingung, apakah ini pergi atau pulang ke rumah ayahku sendiri.

Tante berpesan padaku, untuk menaiki taksi online kemana pun aku pergi. Dia melarangku untuk menaiki angkutan umum baik itu bus atau kereta listrik. Tak peduli semahal apapun biayanya, yang penting aku selamat dan dapat bertemu kakak dan Ayahku…

Perjalanan dari bandara sampai Bogor cukup panjang. Hampir sekitar 1,5 jam aku berada di dalam taksi. Akhirnya aku telah sampai di sebuah kompleks perumahan di daerah Ciomas, Sukamakmur. Menurutku ini kompleks perumahan yang cukup elite. Tante memberikan alamat rumah Ayah yang ia ketahui 5 tahun lalu. Aku harap dia masih disini… Apakah Ayah nanti akan mengenaliku? Atau justru berdalih dan mengatakan jika aku bukan anaknya?

Langkahku semakin getir. Ku lalui dengan kakiku kompleks perumahan yang belum pernah aku kunjungi, jujur ini cukup berbeda dengan rumah yang ada di Malang. Sebenarnya driver taksi tadi menawarkan untuk mengantarku sampai ke rumah yang dituju. Namun aku menolaknya, aku perlu beradaptasi dengan lingkungan ini. Aku juga perlu menyiapkan diri untuk mengajakan hal yang sampai sekarang tidak bisa aku percaya.

Rumah yang ku tuju, Rumah Blok D No. 28 sudah di depanku. Terlihat sangat sepi, semoga aku berhasil menemui kakak dan Ayah kandungku. Tanganku terus gemetar… bahkan mengetuk pintu rasanya begitu sulit. Sering kali aku mengalami perang batin. Pikiranku mengatakan untuk pergi saja, namun hatiku.. mengatakan aku harus tetap melakukannya.

Aku menarik nafas yang panjang, ku siapkan suaraku yang sepertinya terasa mulai serak. Aku menghapus air mataku yang setetes jatuh. Aku harus mampu melalui ini!

“Permisi..”

TOK TOK TOK…

“Permi…”

“Iya, cari siapa mbak?” di depanku. Sosok laki-laki muda dengan tubuh yang tegap dan tinggi. Apakah ini kakakku?

“Feril..ucapku sedikit pelan. Pemuda itu mengizinkan aku masuk ke dalam rumahnya. Pria itu memintaku duduk di ruang tamu. Dari jauh tampak sosok wanita yang sedang menggendong seorang bayi. Dalam hatiku aku bertanya dimana kakak kandungku, dan dimana Ayah?

Wanita yang ku lihat dari kejauhan mendekat ke ruang tamu. Bayi yang tadi digendongnya diserahkan pada si pria tinggi tegap itu. Aku tak tahu apakah ini ikatan batin atau tebakanku saja. Wanita itu adalah Feril.

“Iya mbak ada apa cari saya? Sebelumnya Mbak siapa ya?”

“Kak Feril, ini aku Keyla….” suaraku mulai terasa berat. Rasanya aku tidak sanggup untuk mengatakan sapa identitasku yang sebenarnya. “…Aku adik kandung Kak Feril.”

Layaknya sebuah petir yang sedang menyambar rumah ini. Terlihat ekspresi Kak Feril begitu sangat terkejut. Mungkin aku terlalu frontal mengatakan ini. Tapi aku tak memiliki cara lain.

“Aku tahu aku lancang… 23 tahun kita berpisah. Aku juga baru mengetahuinya kemarin, bukan Cuma kakak yang berat tapi aku juga. Tapi aku jauh-jauh ke sini cuma ingin ngajak Kak Feril dan Ayah pulang!”

Air mataku begitu pecah.. aku tak tahu lagi bagaimana menjelaskannya. Mungkin ini berat untuk Kak Feril, tapi begitu juga buatku!

“Maaf mbak. Sepertinya mbak salah orang kalau mau menipu. Saya ini orang berpendirikan mbak, gak mungkin percaya dengan tipu daya klasik seperti itu.”

“Kak aku tahu kakak kaget, aku juga sama.. tapi tolong dengerin aku.”

“Keluar mbak. KELUAR!!!!”

Aku dikeluarkan secara kasar oleh kakakku sendiri, aku tahu saat ini dia rapuh sepertiku. Aku tak tahu bagaimana caranya meyakinkan jika apa yang ku katakan adalah sebuah kenyataan. Aku terus menangis di depan halaman rumahnya. Aku tahu beberapa orang sekitar melihatku begitu melas. Seribu alasan diotakku mengatakan sebaiknya pulang ke Malang. Tapi.. aku tidak ingin selamanya Ibu melupakanku.

Aku masih terus menangis, aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku tak boleh menyerah sekarang. Tapi aku tak tahu lagi harus bagaimana sekarang?? Aku kehabisan akal, tenagaku semakin terkuras. Tubuhku terasa sangat gemetar, rasanya tenagaku pelahan habis. Sebaiknya aku ke penginapan sekarang. Aku harus mencari cara agar bisa membawa kakak dan Ayah pulang.

Aku menguatkan kakiku untuk berdiri, tapi tanpa sadar aku terjatuh. Mataku memberat. Tenagaku benar-benar habis sekarang…

Ibu Lebih Sayang Kakak Part 1

Ibu Lebih Sayang Kakak | Part 1

Ibu Lebih Sayang Kakak | Part 1

Pagi ini, dengan tas yang dipenuhi dengan pakaian aku memasuki angkot. Untung saja isi angkot ini cukup sepi, jadi tak membuatku kerepotan untuk membawa tas besar. Sebenanya langkahku cukup sulit untuk pergi ke tempat ini. Setiap pagi aku harus mondar mandir antara rumah dan tempat yang aku tuju sekarang. Hatiku sungguh berat badanku pelahan juga semakin lelah, namun di sana ada satu orang yang teramat berharga bagiku. Aku tak bisa meninggalkannya begitu saja, dia telah berkorban banyak untukku. Sekarang adalah giliranku…Ibu Lebih Sayang Kakak Part 1

“Mbak sudah sampai”

Lamunanku pecah saat pak supir mengatakan jika aku telah sampai tujuanku. Rumah Sakit Permata Bunda, langkahku selalu berat untuk menyelusuri lorong di sini. Suara tangisan bayi, orang dewasa dan anak-anak terdengar. Ya kepergian sosok yang dicintai memang berat apalagi jika sudah terikan oleh darah. Tak sadar jika sudah berada di depan pintu ruang merak 3. Ruangan dimana orang yang paling ku sayangi terbaring lemah di dalam.

“Bu,” ucapku begitu lirih.. semenjak operasi pengankatan tumor di otak beberapa waktu lalu, Ibu menjadi sering melamun. Bukan hanya itu sekarang daya ingatnya menjadi menurun.

Aku merasa semakin sedih, karena Ibu sangat jarang memanggil namaku. Ia lebih sering memanggil nama tante setiap kali meminta bantuan. Apakah Ibu mulai melupakanku? Padahal aku adalah anak satu-satunya. Bagaimana dia bisa lupa, padahal sudah 23 tahun ini kami bersama.

Aku segera menghapus air mataku, dan kembali mendekati Ibu. “Bu.. makan bubur dulu”

“Yuni.. Yuni.. Yuni..”

“Tante Yuni lagi ke luar Bu, sementara Ibu sama Keyla dulu ya.”

“Yuni..” ucap ibu sambil dengan nada yang merengek. Kalau sudah begini, biarlah tante Yuni yang menyuapi Ibu. Aku harus mencari tante Yuni secepatnya.

Dengan sedikit berlari aku mencari sosok tante Yuni, dan tampak dari kejauhan dirinya tampak begitu lemas. Aku tahu tante Yuni amat lelah, aku ingin menggantikannya meskipun sehari saja. Namun sikap Ibu yang mengharuskan aku tersingkir. Tanpa pikir panjang.. aku menemui tante Yuni.

“Tante, Ibu nyariin tante”

“Ah Keyla udah nyampe sini ternyata”

“Wajah tante seperti habis menangis”

“Gakpapa kok, ini cuma karena kurang tidur aja”

“Maaf ya tante..”

“Nggak papa, namanya juga ujian dari Tuhan. Keyla harus kuat, kalo Keyla kuat Tante juga sama”

Aku merasa sangat bersalah dengan tante Yuni. Tak seharusnya dia menghabiskan waktu selama beberapa hari hanya untuk di rumah sakit. Bukan hanya suami dan anak tante saja yang kurang terurus namun diri tante sendiri sering diabaikan. Aku sungguh ingin meringankan tante dan Ibu!

Tak terasa aku tertidur di samping Ibu, tangannya masih saja ku genggam. Ku amati kembali wajah Ibu yang teduh. Rambutnya telah habis dicukur setelah operasi. Aku berharap besok ibu segera pulang ke rumah. Rumah sakit adalah tempat yang menyebalkan. Berulang kali aku mendengar tangisan disini. aku tak ingin melakukan hal yang serupa dengan mereka. “rill… rill…” suara Ibu terdengar samar aku mencoba mendekatkan wajahku berharap lebih jelas lagi apa yang dikatakan Ibu.

“Keyla Boleh tante bicara?”

Aku membalikan badanku, ku tatap wajah tante. Kali ini ekspresinya sangat berbeda daripada biasanya. Suasana malam begitu dingin, apalagi setelah hujan seperti ini. Aku dan tante Yuni berjalan di depan ruangan Ibu. Suasana rumah sakit sungguh sepi. wajah tante begitu sangat gelisah, sungguh aku sangat penasaran apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan?

“Sebagian ingatan Ibu kamu hilang, dan itu bisa jadi permanen. Makanya sampai sekarang Ibu tidak pernah menyebut namamu…”

Aku mendengarkan baik-baik penjelasan dari tante Yuni. Jujur dada terasa sesak, penjelasan tante Yuni begitu menyakitkan. Bagaimana bisa Ibu melupakanku, anak satu-satunya yang ia kasihi selama ini.

“Tapi ibu hanya ingat satu nama anaknya.. Feril kakakmu.”

“Siapa? Kakak? Aku nggak paham tante! Ibu bilang aku anak tunggal, dan tidak memiliki saudara.”

“Saat sedang mengandungmu. Ayah kamu ketahuan berselingkuh dengan wanita lain, tentu ibu kamu begitu sakit hati dan memutuskan untuk berpisah. Ayah kamu memilih wanita selingkuhannya dan mengajak Feril saat masih berusia 3 tahun…” suara tante Yuni semakin serak. Nadanya terasa begitu berat. Aku terus mendengarkan, meski rasanya seluruh tubuhku gemetar. Sebuah fakta yang ditutupi selama hidupku ini. Ayah yang dibilang Ibu telah meninggal ternyata meninggalkan Ibu dan aku.

“Selama ini Ibu kamu memendam lukanya sendiri. Dia tetap menyimpan dendam pada Ayah kamu, mungkin sulit baginya untuk memaafkan. Ia berharap bisa melupakan Ayahmu, tapi semakin lama kebencian Ibumu terhadap Ayah semakin tubuh. Sulit baginya untuk melupakan.”

“Tapi kenapa Ibu gak pernah cerita ke aku?”

“Tante juga nggak tahu. Ibumu mempunyai hati yang kaku, sulit bagi tante untuk menasehatinya.”

“Akibat operasi ingatan Ibu kembali pada saat masih bersama Ayah. Jadi bisakah kamu membawa Feril dan Ayahmu kemari? Semakin Ibumu mengingat sumber lukanya, maka mudah baginya mengingat hal yang lain termasuk kamu..”

Pernyataan tante Yuni semalam, bagaimakan sebuah mimpi buruk bagiku. Rasanya aku ingin berteriak dan mengatakan jika Tuhan tidak adil!! Tapi aku tau itu semua sia-sia. Tuhan akan semakin membenciku dan Ibu justru akan semakin melupakanku. Aku sudah lelah, benar-benar lelah. Semalaman aku tak bisa tidur, aku terus menangis sambil menatap Ibu. Ibu, kenapa harus menanggung kebohongan seperti ini sendirian? Kenapa tak sedari dulu Ibu jujur padaku, aku tak akan marah. Justru aku rela membagi luka denganmu.

Tante Yuni menyiapkan seluruh perlengkapanku dalam ransel. Beberapa hari ini aku akan berpisah dengan Ibu. Aku merasa berat untuk meninggalkannya meski hanya sehari, namun akan lebih berat lagi jika dalam sisa hidup Ibu tak mengingat aku anaknya sendiri.

Aku harus menempuh perjalanan dari Batu Malang menuju Bogor. Semua tiket dan penginapan telah disiapkan tante Yuni.

Ku pandang lagi wajah Ibu yang begitu lelap dalam tidur. Aku menghapus air mataku, aku tak boleh terlalu lemah. Aku harus menyimpan tenagaku. Ku tatap tante Yuni, dia tersenyum kepadaku. Aku tahu tante adalah satu-satunya orang yang bisa aku percayai untuk menjaga Ibu.

Tante merentangkan tangannya, mengisyaratkan sebuah pelukan. Pelukan tante Yuni adalah pelukan terbaik setelah Ibu. “Jaga Ibu baik-baik ya tante.”

“Pasti.” Ucapnya sambil mengecup keningku.

Papah, Mereka Terus Membullyku | Part 3

Papah, Mereka Terus Membullyku | Part 3

Papah, Mereka Terus Membullyku | Part 3

Papah, Mereka Terus Membullyku | Part 3

Ruang kepala sekolah menjadi sangat panas. Aku mandekap erat tangan Papah. Kepala sekolah sepertinya kebingungan harus meminta maaf seperti apa. Sedangkan mereka, memasang muka masam dan penuh kebencian.

“Kami paham betul bagaimana perasaan Bapak. Jadi mereka akan mendapatkan hukuman atas perbuatan mereka.”

“Menurut Bapak sebagai kepala sekolah hukuman apa yang pantas untuk mereka?”

“Kami akan memberikan skorsing selama 3 minggu dan point 50 atas kenakalan mereka.”

“skorsing 3 minggu? Apa itu cukup pak dengan trauma yang dialami anak saya? Bapak tahu, tindakan yang dilakukan oleh mereka adalah Kriminal. Bapak yakin video yang rekaman anak saya sudah dihapus di ponsel mereka? Apa bapak tidak mencurigai jika mereka punya Salinan yang lain?”

“Mohon tenang sebentar pak, percakapan kita bisa mempengaruhi kondisi psikologis murid-murid?”

“Anak saya sudah mengalami trauma psikologis oleh murid bapak. Apa bapak sebelumnya mencari Informasi mengenai anak saya? Apa bapak sempat bertanya dengan teman sekelas anak saya?”

“Saya mengerti perasaan Bapak, tapi mohon tenang sebentar, masalah ini tidak akan selesai jika menanganinya dengan emosi.”

“Anak Bapak baik-baik saja, apa dia pernah mendapatkan tindakan bully dari teman-temannya?”

Aku semakin menggenggam erat tangan Papah. Ini adalah pertama kalinya aku melihat Papah semarah ini. Aku takut… meskipun Papah tidak memarahiku. Papah menggenggam tanganku. Aku tahu semua yang dilakukannya adalah untuk melindungiku.

“Sejak umur 7 tahun, anak saya terdiagnosis komplikasi jantung. Dokter bilang jika usianya hanya sampai 20 tahun. Saya dan istri mati-matian untuk mematahkan diagnosis itu, saya ingin menciptakan kehidupan yang bahagia untuk putri saya. Kehidupan layaknya remaja normal lainnya, yang punya banyak teman yang sayang sama anak saya. Sampai tega hati saya menyekolahkan anak saya kemari padahal itu bukan keinginannya. Nak… anak saya memang tidak dibolehkan dokter untuk berolahraga fisik, karena kelelahan dapat membuat jantung bekerja lebih keras, obat yang kalian pikir itu mainan adalah obat yang harus dia minum.”

Aku memeluk Papah, dulu aku sangat marah jika Papah membahas ini di depan orang lain. Aku tidak mau terlihat lemah Pah. “Putri kuat Pah” ucapku sungguh pelan. Nafas Papah mulai berat, nadanya terdengar agak dalam.

“Putri selalu marah jika saya membahas ini. Saya berharap besar terhadap kebijakan Bapak. Saya minta hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka. Jika sampai video anak saya tersebar saya akan  menuntut pihak sekolah. Dulu sekolah ini menjadi kenangan indah bagi saya, tapi malah menjadi hal buruk untuk Putri.”

Papah mengajakku untuk keluar ruangan. Semua mata menuju padaku dan Papah. Ada murid yang melihatku dengan rasa iba, namun ada pula siswa yang melihatku kemudia membisikan apa yang ia pikirkan ke teman sebelahnya.

Sejak hari itu, Papah memutuskan untuk tidak menyekolahkanku lagi. Seminggu setelah kejadian itu, berita pembullyan ku menjadi topik utama dikoran dan televise lokal. Dalam 3 hari rumah kami menjadi rama dikunjungi para wartawan. Papah tidak hanya melindungiku di ruang kepala sekolah saja, tapi dimanapun aku berada.

Papah berhenti dari pekerjaannya dan menjadi guru privateku di rumah. Papah memutuskan untuk membangun usaha sendiri dari nol. Dia tak peduli lagi dengan besarnya gaji yang dimiliki. Papah bilang menjagaku jaauh lebih berharga daripada uang. Masa pubertasku mungkin akan segera habis, aku belum siap untuk menjadi wanita dewasa yang menjauh dari Papah. “Putri sayang sama Papah. Papah jangan nangis lagi ya, Putri kuat.”

Meskipun aku mengatakan begitu Papah terus menangis sambil memelukku. Melihat headline pagi ini dengan judul yang aku sendiri tak mampu membacanya

Video Anak SMP yang Ditelanjangi Teman Sekelasnya Tersebar Luas di Sosmed.

Papah, Mereka Terus Membullyku | Part 2

Papah, Mereka Terus Membullyku | Part 2

Papah, Mereka Terus Membullyku | Part 2

Papah, Mereka Terus Membullyku | Part 2

Aku berpamitan dengan Papah. Aku mulai memasuki ruang kelas, ini adalah ruang kelas yang lebih mewah dari sekolahku sebelumnya. Bu Guru memperkenalkanku, didepan seluruh murid kelas IX. Sebagai anak baru mungkin aku masih malu-malu, aku berharap mereka juga tidak merasa sungkan dengan kehadiranku.

Suasana istirahat, aku ingat Mamah menyiapkan bekal makanan. Meskipun Papah selalu memberikan uang sakunya, tapi ada beberapa makanan yang tak boleh aku konsumsi. Tidak hanya bekal aku juga dibawakan beberapa obat.

“WOII WONG ANYARANN!!!” bukan hanya membentak tapi gebrakan tangan mereka diatas mejaku dan membuatku sangat kaget.

Mereka merebut bekal makan siang buatan Mamah. Bukan hanya itu, tubuh mereka yang lebih besar dariku membuat mereka bisa melakukan intimidasi. Aku tak tahu apa yang mereka katakan. Jujur saja meskipun Ayah adalah orang Jogja asli, tapi semenjak aku kecil aku terbiasa tinggal berpindah dari Jakarta, Bandung, hingga Makasar. Aku sungguh tak mengerti ketika mereka berkata “ASU Koe!! Bongko wae!! Modar o Kono!!” aku sungguh tak mengerti. Tapi dari yang aku lihat mereka mengucapkan itu dengan nada yang sangat marah.

Kesan pertama yang sangat buruk. Obatku jadi berserakan di lantai, Doni sebelah bangkuku, dari tampilannya dia terlihat kutu buku. Aku mencoba menahan tangisanku, aku tak mau terlihat cengeng di depan teman-teman baruku. “Yang sabar ya! Mereka orang yang paling berkuasa di sekolah. Dari dulu setiap anak baru selalu mendapatkan perlakuan seperti ini. Dulu aku juga kayak kamu.”

Aku hanya diam, aku tak habis pikir. Apa benar ini adalah 10 sekolah terbaik di Jogja? Kenapa masih ada pembullyan seperti ini? Kenapa sekolah tidak bertindak?

“oh ya kenalin, aku Doni.”

“Putri.”

Aku ingin melaporkan tindakan mereka ke ruang BK. Tapi kata Doni lebih baik jangan. Mereka adalah anak kepala sekolah dan pemilik yayasan. Hampir semua murid yang ada di kelas, apalagi dari kalangan ekonomi menengah ke bawah selalu mendapatkan bullyan.

“lebih baik aku pindah sekolah Don, aku nggak bisa tinggal di sekolah kayak gini”

“Jangan, semester depan sudah persiapan UN. Gak semua sekolah akan menerima murid baru.”

Aku mempertimbangkan lagi apa yang dikatakan Doni. Bayanganku aku akan mendapatkan teman baru yang menyenangkan tapi nyatanya semua berbeda 180 derajat dari apa yang aku inginkan.

Jam olahraga, Papah sebenarnya berpesan padaku jika aku tak boleh mengikuti pelajaran ini. Apalagi jika membutuhkan kekuatan fisik yang besar. Semua temanku keluar dari kelas dan mengganti pakaian mereka. Aku masih menyimpan pakaian olahraga yang terlipan rapi di laci meja. “Put, kamu nggak pernah ikut olahraga kenapa?”

“Aku gak boleh Don…”

“Heh sopo ngangkon seng yang-yangan neng kene!!”

Lama kelamaan aku menjadi paham dengan Bahasa Jawa, berkat setiap kasar yang mereka lontarkan. Doni keluar dari kelas dan meninggalkanku. Aku tak menyalahkan dia karena ketakutan Doni terhadap tindakan mereka.

Mereka merebut tas ku, bukan hanya itu. Mereka juga mendorongku dari bangku. Aku tak tahu maksud mereka apa? Tapi ini sudah terlalu kasar buatku. Mereka mengeluarkan semua isi tasku, apa yang mereka cari? Salah satu diantara mereka mengambil baju olahragaku di dalam laci meja.

“Rak usah kemayu dadi wong wadon. Liyane podho melu penjaskes, koe ngopo neng kelas dewe?!!”

Mereka semakin mendekatiku. Bukan hanya itu mereka juga berani menyentuhku. Dua orang memegang tanganku, sedangkan dia sang ketua geng memaksa melepas satu demi satu kancing baju yang aku kenakan. Yang paling tak aku sangka adalah saat mereka merekam semua perilaku ini dengan ponselnya. JAHAT!!!

Aku berusaha berteriak, namun mulutku terus dibungkam. Aku menahan malu dan tangis. Tuhan bisakah Engkau membantuku sekarang? “Makane dadi wong wadon rak usah kemayu. Nek wayahe olahraga melu gabung karoan koncone! Titeni wadul karo Guru, Modar koe!!”

Bagaimana aku bisa bertahan dengan perilaku temanku yang seperti ini. Aku tak punya teman yang baik, Doni hanya sekedar lelaki pengecut yang memilih terhindar dari masalah daripada membela temannya. Guru hanya tunduk pada kekuasaan. Papah Putri mau pulang!! Putri gak mau sekolah!! Putri lebih baik di rumah!!

“Kak, masih marah sama papah?”

Papah masih bertahan di depan pintu kamarku. Sejak kemarin aku tak keluar kamar. Aku tidak marah dengan Papah, aku hanya marah dengan diriku yang tak berani menceritakan apapun. Pengalaman kemarin masih teringat jelas. Aku tak mampu merasakan lapar, haus, tidur dan hal-hal yang disukai orang normal lainnya. Aku tak tahu lagi harus bagaimana, mataku sudah sangat sembab. Tiada henti aku menangis. Aku takut Papah akan memarahi mereka dan aku takut kalau mereka berbuat nekad terhadapku.

Aku masih berselimut, aku mendengar Papah mendobrak paksa pintu kamar. aku semakin mempererat selimutku. Aku tak ingin Papah tahu kondisiku sekarang. Aku takut Pah, sangat takut!

“Kakak kenapa?” belaian tangan Papah yang lembut semakin terasa. Aku tak tahan lagi. Aku dekap erat tubuhnya, dan air mata jatuh membasahi seluruh baju papah. Aku tahu papah sudah terlambat bekerja, tapi tolong Pah. Dengarkan aku kali ini, tolong turuti permintaanku kali ini. Aku gak mau sekolah!

Papah, Mereka Terus Membullyku | Part 1

Papah, Mereka Terus Membullyku | Part 1

Papah, Mereka Terus Membullyku | Part 1

Papah, Mereka Terus Membullyku | Part 1

Hari ini, rumah yang terlihat sangat ramai dan penuh dengan perabotan kini menjadi kosong. Meskipun aku masih berusia 13 tahun namun aku sudah mengerti bagaimana kenyamanan itu terbangun. Padahal baru 3 bulan kemarin kami pindah dari sini, tapi hari ini aku dan keluargaku harus pergi lagi. Pekerjaan Ayah memang berpindah. Ini bukan pertama kalinya untukku, ini sudah ketiga kalinya. Semenjak berusia 7 tahun aku sudah terbiasa berpindah tempat dan berusaha beradaptasi di tempat yang baru. Selama berpindah aku selalu mendapatkan pengalaman baru. Beberapa pengalamanku sebelumnya aku selalu mendapatkan teman yang baik, terkadang moment kepergian seperti ini membuatku semakin sulit untuk meninggalkan rumah yang baru 3 bulan aku singgahi.

“Kak, maafin Papah ya. Mau bagaimana lagi kita sekeluarga harus pindah”

Ucapan yang selalu aku dengar dari Papah setiap kali kami pindah. Aku masih menatap dalam rumah yang bercat putih di depanku. Aku merasakan tangan Papah merangkul bahuku, tanda jika aku tak boleh berlama-lama melamun.

Selama diperjalanan menuju kota tujuan kami. Aku terus membuka buku kenang-kenangan kedua dari kedua sahabatku. Padahal baru 3 bulan tapi aku telah mendapatkan banyak sahabat. Lembar demi lembar aku membuka. Buku ini berisi foto-foto kami. Sebelum ini aku sudah berusaha meyakinkan Papah jika aku ingin tinggal. Tapi itu tak mungkin bisa diterima. Anak SMP kelas 2 yang berusaha hidup sendirian tanpa orang tua. Aku melihat pemandangan melalui jendela mobil. Papah sedang fokus menyetir. Sedangkan Mamah tertidur dibelakang sambil menyusui adikku yang masih berusia 16 bulan.

Sebagai anak tertua aku harus yang paling tegar, meskipun aku masih diusia pubertas. Aku harus berusaha memahami kondisi keluarga. “Selamat Datang di Daerah Istimewa Yogyakarta”. Kota baru, rumah baru, lingkungan baru..

Berpindah dari kota Surabaya, Makasar, hingga Yogyakarta. Aku berharap Yogyakarta menjadi tempat terakhir aku bersinggah.

Rumah baru yang kami gunakan adalah rumah kakek dan nenek. Rumah ini sudah 2 bulan kosong, sebelum aku menempati ini. Rumah ini sempat dikontrakan beberapa kali. Namun mendengar jika Papah akan pindah ke Jogja. Bu Sum, penjaga sekaligus rewang di rumah kakek meminta untuk orang yang tinggal mengontrak untuk berpindah ke tempat yang lain.

“Monggo Pak, udah saya bersihin kemarin, dari halaman depan sampai kamar non Putri sudah saya bersihkan”

“Kakak bilang makasih sama Bu Sum, kamarnya udah dibersihkan”

“Iya Pah, Makasih ya Bu Sum”

Hari itu Papah memintaku untuk membantu membereskan rumah. Sebagai anak sulung aku harus berperilaku baik dan membantu Mamah untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Semenjak adikku lahir, Mamah selalu memperhatikan adik. Hampir setiap hari kesibukan Mamah adalah bermain dengannya. Aku ingin sekali protes, tapi Papah selalu bilang jika Mamah juga sama perhatiannya denganku.

“Kak, besok temenin Papah buat cari SMP yang cocok buat sekolah baru kakak”

“Kakak gak sekolah, Pah. Kakak mau Home Schooling aja”

“Kakak kenapa gak mau sekolah?”

“Kakak capek pah. Setiap pindah sekolah nanti kakak harus pamitan lagi, harus sedih ninggalin temen-temen lagi. Apa nggak boleh kakak Home schooling aja? Kalau Home schooling kakak gak perlu kenal teman baru lagi dan gak perlu pamitan lagi.”

“Kakak boleh home schooling. Tapi Papah lebih suka kalau kakak punya temen di sekolah. Kecerdasan itu bukan hanya soal kemampuan kakak pribadi tapi juga bagaimana kakak bersosialisasi dengan teman-teman kakak. Papah janji ini adalah pindahan kita yang terakhir.”

“Waktu di Makasar Papah juga bilang kalau itu yang terakhir.”

Obrolan kami berhenti. Aku memutuskan untuk kembali ke kamar, aku tak peduli dengan Ayah. Aku tahu menjadi orangtua bukanlah hal yang mudah, namun menjadi anak yang baik untuk orangtua juga sama susahnya. Papah tak akan mengerti betapa beratnya aku melepas teman-temanku dulu, bujuk rayu Papah tak membantu apapun. Perasaanku masih tertinggal di Makasar.

Aku terpaksa mengikuti kemauan Papah, selama di mobil Papah selalu bertanya ingin makan apa? Mau jalan-jalan kemana? Atau hal lain yang biasanya aku lakukan bersama Papah. Aku tahu ini adalah bujuk rayu Papah agar akum au sekolah. Tanpa meminta izin dariku, papah memberhentikan mobilnya di sebuah halaman sekolah. Aku tak merespon apapun, dengan atau tanpa izinku Papah akan melakukan ini. Menyekolahkanku di tempat yang tak aku setujui.

“Ini adalah sekolah Papah dulu. Bukan cuma Papah Om Bayu sama Tante Tira juga disini. Semua keluarga kita selalu belomba-lomba untuk masuk sekolah ini. Waktu Papah  SMP, ini jadi sekolah terfavorite, dan sampai sekarang juga sama favoritenya. Kak…”

“Pah.. Boleh nggak kasih kakak waktu? Kakak baru kemarin nyampe Jogja, kakak masih capek hari ini kan harusnya kita jalan-jalan bukan pergi ke sekolahan”

Ayah menurut, akhirnya kami pergi dari sekolah. Semenjak keluar dari mobil aku tidak suka menjadi pusat perhatian orang-orang. Aku tak membayangkan bagaimana jika aku masuk ke lorong sekolah, pasti semua mata akan mengarah padaku.

Setelah kejadian di sekolah, 3 hari Papah membiarkanku tetap di rumah. Papah tak lagi memaksaku, di tambah akhir-akhir ini dia sedang sibuk bekerja. Di rumah aku juga tidak diam saja, aku mencoba mencari info mengenai home schooling terbaik di Jogja.

“Kakak, mau nyampe kapan didepan laptop terus?”

“Bentar lagi Mah.”

“Kakak beneran gak mau sekolah? Emang kakak gak bosen kalo di rumah terus?”

“Kakak gak tahu Mah, kemarin Papah ngajak Kakak ke SMPnya dulu. Tapi kakak belum siap buat sekolah. Kakak takut gak punya temen nanti Mah.”

“Tapi kalau di rumah teman kakak cuma Papah, Mamah, Adik, sama Bu Sum.”

Hari pertamaku masuk sekolah. Aku ingin hari ini tidak ada kesan buruk dari teman-teman baruku. Setelah berdiskusi dengan Mamah dan Papah aku putuskan untuk bersekolah. Setiap masuk ke Sekolah yang baru, Papah selalu menitipkan banyak pesan terhadap wali kelasku. Dia selalu mengatakan jika aku memiliki kebutuhan khusus dibandingkan murid yang lain. Aku tahu itu adalah salah satu cara Papah agar aku bisa nyaman bersekolah, tapi jujur aku malah malu dengan diriku.

“Putri mari masuk kelas”

Menulis Lagi | Part 3

Menulis Lagi | Part 3

Menulis Lagi | Part 3

“Apa harus kamu ambil buku itu sekarang” nadaku sudah mulai meninggi.

“Aku harus segera mengambilnya Dan. Itu penting buat aku! aku akan mengambilnya sendiri”

Menulis Lagi | Part 3

“Terserah”

“Padahal sebelum menikah kau berjanji untuk mengizinkanku untuk terus  menulis, dan aku harap kamu nggak akan lupa itu.”

Priska berlalu, malam pertama kami di Bali harus rumah karena pertengkaran. Aku membiarkannya pergi, saat ini aku ingin menenangkan diri… aku harap Priska mengerti maksud dari kemarahanku.

Tak terasa aku tertidur di atas ranjang. Aku mengecek jam di ponselku, tepat pukul 03.00 dini hari. Priska tidak ada di sampingku. Aku mulai menyelusuri kamar, area penginapan dan akhirnya aku keluar menuju resto tempat kami makan malam. Jujur aku mulai khawatir dengan Priska sekarang. Aku putuskan mulai berlari, Resto ini sudah tutup. Aku mencoba bertanya kepada salah satu pegawai yang membersihkan halaman resto. Dia bilang memang ada wanita yang mengambil buku, namun sudah dari jam 12 tadi.

Aku semakin khawatir, jujur jika Priska dalam kondisi bahaya akulah orang yang patut disalahkan. Aku terus berlari menyelusuri setiap jalan di Bali yang sepi. Hingga langkahku berhenti di pos polisi. Langkahku gontai, saat aku mendengar kabar dari polisi jika ada seorang wanita yang menjadi korban perampokan.

Tanpa pikir panjang aku langsung menuju rumah sakit yang disebutkan. Dalam hatiku, aku berharap itu bukan Priska. Tolong kabulkan, aku akan melakukan apa saja. Aku akan rajin beribadah, aku akan kembali mendekat padamu Tuhan! namun aku meminta pada-Mu, semoga wanita yang dimaksud bukan Priska.

Ketakutanku benar terjadi Priska terbaring koma dalam ruang ICU.  Kata dokter, bagian kepalanya mengalami benturan benda tumbul. Sehingga mengakibatkan penyumbatan darah pada otak. Jujur aku sangat takut mengabari keluarga yang ada di Jogja, namun sebagai suami aku harus bertanggung jawab. Aku bertanya pada dokter apakah bisa Priska dirujuk ke rumah sakit di Jogja? Dokter mengizinkannya setelah Priska sadar dan menjalani pemeriksaan. Jujur jika boleh bertukar posisi, aku rela berada di kondisi Priska saat ini.

7 hari kemudian, kemarin Priska sudah sadar dari komanya. Hari ini dengan di temani Bapak dan Ibu, Priska harus melakukan pemeriksaan. Diriku masih dipenuhi rasa bersalah, meskipun mata Priska telah terbuka. Namun tak ada kata yang ia ucapkan, pandangannya menjadi kosong. Aku semakin ketakutan dengan apa yang terjadi pada Priska.

“Akibat penyumbatan darah di kepala pasien, hal itu mengakibatkan rusaknya beberapa sistem saraf. Saya sarankan agar dia mengikuti terapi. Karena, kerusakan tersebut menyebabkan pasien kehilangan kemampuan dalam mengingat dan berpikir termasuk dalam membaca, menulis, dan berhitung. Karena luka yang dialami cukup besar, ditakutkan kemudian hari pasien akan mengalami komplikasi otak yang jauh lebih parah.”

Aku menangis, tak hentinya terus menangis. Begitu buruknya aku! suami yang tak bisa menjaga istrinya, suami yang menjadi penghalang mimpi istrinya. Aku terus menangis, bukan hanya aku tapi juga Bapak dan Ibu. Aku berulang kali meminta maaf pada mereka, aku adalah seorang yang tak amanah. Aku adalah orang yang menghancurkan putri mereka. Ibu terus mengelus kepalaku, begitupun Bapak memelukku begitu erat. “Aku memang sangat pantas kalian salahkan, maafkan aku. aku menghancurkan kepercayaan kalian.”

7 tahun pernikahan kami…

Seorang putri kecil duduk dipangkuanku. Setiap sore aku dan dia duduk di depan teras rumah, suasana Jogja memang sangat nyaman untuk dinikmati bersama orang yang dicinta. Bagiku sudah seperti kebiasaan membacakan buku cerita setiap sore dan sebelum tidur.

“Pa.. ada bukunya Mama?”

Aku selalu sedih setiap kali putri kecil ini menanyakan buku tentang ibunya. Sebenarnya itu bukan masalah, justru berita bagus jika dia memiliki rasa penasaran yang tinggi terhadap ibunya.

“Ada, bentar Papa ambilin.”

Dalam semua deretan buku yang tertata rapi di rak buku. Ku ambil satu buku yang teramat spesial. Bersama putri kecil itu, aku mendongengkannya. Cerita Indah tentang Ibunya.

“Buku Mama gak ada gambarnya ya Pa?”

“Gak ada gambar kayak di buku dongeng sayang. Tapi di belakang ada foto Mama.”

“Mama, cantik. Bukunya Mama Cuma 1 Pa?”

“Nggak, masih ada lagi… tapi kamu baca bukunya Mama kalau udah 17 tahun ya. Sementara kamu baca buku ini dulu.”

“Iya Pa, besok ziarah ke makam Mama ya Pa…”

Aku memeluk putri kecil itu, 3 tahun kepergian Priska. Sampai sekarang aku masih ingin menyalahkan diriku. Aku gagal menjaga Priska dua kali, dan aku membuat putri kecil ini tak pernah menemui ibunya sendiri.

– Kalimat Rinduku untuk Priska – Dia adalah penulis yang hebat bagiku, aku ingin cita-citanya untuk tetap menulis dapat menginspirasi banyak orang. Sejujurnya aku tak menyangka buku ini akan disukai oleh pembacanya. Buku yang sengaja aku tulis ini bukan hanya untuk mengenang Priska. Namun juga untuk mengenalkan Priska pada anaknya.

Menulis Lagi | Part 2

Menulis Lagi | Part 2

Menulis Lagi | Part 2

Terdengar lagu “can’t stop falling in love” aku yakin inilah saatnya. Semakin aku gugup aku akan semakin menunda! “Pris.. aku mau ngomong serius sama kamu.”

Menulis Lagi | Part 2

“Ngomong apa, jangan bikin aku deg-degan ya!”

“Aku nggak bisa bikin kata-kata puitis yang seperti kamu buat dalam buku atau majalah. Aku juga masih sangat kaku jika kadang berbicara dengan orangtua kamu. Tapi aku berharap ini bukan sebuah masalah besar untuk kita. Semenjak pertama kenal denganmu, semenjak nonton konser dan makan berdua denganmu. Aku semakin sadar… kita adalah dua orang yang tak bisa dipisahkan. Jadi.. maaf jika ini nggak romantis, tapi maukah kamu menikah denganku?”

“Iya!”

“Hah?”

“Iya Aku mau Dan!!”

Scmua pengunjung dan karyawan bertepuk tangan, aku memasangkan cincin ini ke jari manis Priska. Kali ini giliranku memeluknya. Aku tahu wajahnya jauh lebih bahagia sekarang. Aku harap selalu seperti ini…

Sesampainya di rumah Priska, suasana kompleks rumah sudah sangat sepi. Selama perjalanan pulang kami terus berpegangan tangan. Padahal tidak menyebrang jalan raya, tapi rasanya kami saling membutuhkan satu sama lain. “Minggu depan aku bakal minta Papah dan Mamah buat ke Jogja ngelamar kamu secara resmi, kira-kira sebelum kita menikah ada sesuatu yang kamu pengenin?”

“Umm apa ya?”

“Bilang aja nggakpapa… nanti nyesel loh.”

“Kalau semisal nanti kita menikah kamu tetep ngizinin aku buat nulis kan?”

Aku tersenyum tak ku sangka keinginan Priska begitu sederhana. Saat gadis lain meminta perhiasan dan hidup mewah setelah menikah, Priska justru meminta izin agar terus menulis… tentu aku akan mengizinkannya, aku tak ingin menjadi penghalang dari hal yang ia sukai.

“Dani kok diem? Gimana boleh?”

Aku menyentuh kepala Priska, dan mengelus pipinya yang chubby. Ku pandang kedua matanya begitu dalam. Aku mendekat padanya, Priska masih terus menatapku. Begitu pun aku yang tak bisa melarikan diri dari tatapannya, semakin ku dekatkan wajah kami. Kemudia ku kecup keningnya penuh perasaan.

Priska masih menatapku namun raut  wajahnya kali ini malu-malu. Aku tersenyum lagi padanya..

“Aku gak akan pernah melarangmu untuk menulis. Kamu boleh menulis kapan pun kamu mau.”

Satu bulan setelah aku melamar Priska. Hari ini adalah hari pernikahan kami, sesuai dengan kesepakatan bersama akhirnya resepsi pernikahan dilakukan dengan adat jawa. Hari ini sungguh membahagiakan, aku melihat Priska sangat cantik dengan pakaian adat jawanya. Padahal setiap hari dia memang selalu cantik di mataku.. kebahagian hari ini bukan hanya untuk kami berdua tapi semua yang ada disini. Aku dan Priska saling memandang lagi, aku heran kenapa kita tak pernah bosan untuk saling bertatapan?

“Yeay!!! Akhirnya ke Bali!!”

“Iya, kamu seneng?”

“Seneng banget Dan, eh Mas..”

“Kamu masih canggung manggil aku Mas?”

“Iya, tapi aku bakal mencobanya mm… Mas.”

“Kamu boleh panggil aku senyaman kamu. Kamu nggak papa kan selama 1 bulan ke depan tinggal di Bali dulu?”

“Aku justru malah seneng Mas! Aku yakin, kalau nanti aku bakal nemu ide baru buat buku selanjutnya. Karena di Bali aku pasti bakal dapet banyak inspirasi cerita!”

Aku senang setiap kali melihat Priska bahagia, seperti sekarang…

Suhu kota Denpasar memang berbeda jauh dengan Jogja. Siang ini, tepat pukul 13.00 WTA aku dan Priska telah sampai di Bali. Sesampainya di penginapan kami langsung membaringkan tubuh di kasur dan menyalakan AC kamar. wajah Priska berubah, padahal saat masih di Jogja ia terlihat begitu semangat. Tapi sekaang ia sungguh tampak lesu. Perubahan cuaca memang dapat merubah suasana hati.

Malam ini, karena rencana melihat sunset di pantai Kute batal. Akhinya kami putuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi kompleks hotel. Padahal urusanku di Bali hanya semata pekerjaan. Namun karena aku baru menikahi Priska aku harap ini adalah moment bulan madu kami berdua.

“Kamu kenapa bawa buku tulis terus?”

“Karena ini di Bali aku nggak tahu kapan ide aku muncul Mas. Kadang ideku bisa muncul kapan saja, karena Bali tempat baru buat aku. Aku yakin akan banyak ide yang muncul saat jalan-jalan begini.”

“Oh… yaudah kita makan dulu yuk”

Kami berdua bersinggah di sebuah resto yang letaknya tak jauh dari penginapan. Namanya juga Bali, pasti banyak turis asing di sini. Tempat ini memang tak seromantis restoran waktu aku melamar Priska, namun duduk bersama dengannya. Lebih dari cukup bagiku.

Priska masih sibuk menulis semua idenya ke dalam buku, angin berhembus cukup kencang malam ini. Membuat rambut Priska sedikit berantakan. Aku mencoba merapikannya kembali, aku heran kenapa dengan tampilan yang berantakan Priska masih tetap cantik.

aku ingin memarahi angin malam ini, karenanya aku merasa jatuh cinta kembali pada Priska. Matanya masih tertuju pada buku. Tanganku masih memainkan rambutnya, Priska masih belum memalingkan matanya dari buku. Aku berusaha menarik perhatiannya lagi, ku elus lembut pipinya. Namun dia hanya memandangku sesaat dan memberikan senyumannya.

Mungkin sedikit sulit menikahi seorang penulis apalagi jika seambisius Priska. Aku masih menyentuh pipinya, aku semakin terbawa suasana. Ku dekatkan wajahku padanya, ia masih tidak memperhatikanku. Mungkin cara ini bisa… pelahan ku dekatkan wajahku, dan ku cium bibirnya. Aku harap Priska bisa mengerti jika aku tidak ingin diacuhkan.

“Dani!!” ucap Priska sambil melepaskan diri dariku. Wajahnya terlihat sangat kaget, aku meraih tangannya. Aku berusaha membujuk agar dia tak marah.

“Pris.. gakpapa ini di Bali bukan di Jogja. Semua orang disini akan menganggap kita pasangan biasa.”

Priska masih terdiam, sepertinya caraku salah. Aku harus minta maaf, meskipun di Bali Priska adalah gadis Jogja yang memegang tata karma. Tak mungkin semudah itu ia memahami budaya Bali.

“Maaf aku salah, harusnya aku minta izin dulu dari kamu. Aku hanya ingin kamu perhatikan, selama kita di Bali aku harap ini waktu kita buat bulan madu. Jadi boleh luangin waktu kamu buat aku?”

Priska mulai memandangku. Ia tersenyum lagi dan memelukku.

Seusai dari tempat makan kami segera kembali ke penginapan. Aku menggenggam erat tangan Priska, tangan yang kecil. Tapi, sulit ku lepaskan. Lagu Shella On 7 mengiringi kami selama berjalan menuju penginapan.

Lagu Shella tetap kami lantunkan dan menemani kami berdansa dalam kamar.Aku memandang wajah Priska lebih dalam, kini aku ingin benar-benar menciumnya. Wajah kami semakin dekat, bibir kamu mulai merasakan sentuhan masing-masing. Namun… “Dani!!”

Priska melepaskan pelukannya.

“Aku melupakan bukuku di resto”

Jujur kali ini aku sedikit jengkel. Harusnya moment  romantis ini bisa kita lakukan dengan penuh kebahagiaan. Namun kenapa buku lagi, buku lagi…

“Dan, aku harus ngambil bukuku!”

“Kenapa kamu lebih mementingkan buku itu ketimbang aku?”

“Dani, maksud kamu apa aku nggak paham?”

“Pris, aku memaklumi kamu marah tadi saat aku menciummu di resto. Tapi, ini adalah waktu kita berdus kenapa kamu masih saja memikirkan hal yang gak penting?”

“Dani, buku itu penting buat aku. Itu bukan hanya buku, tapi juga seluruh mimpi aku, aku gak akan bisa nulis tanpa itu.”

“Apa aku nggak jauh lebih penting dari tulisan kamu?”

“Apa? Dan, baik kamu atau tulisan adalah hal yang gak bisa aku pilih. Kamu dan tulisanku sama pentingnya”

“Aku nggak percaya.”

“Aku harap kamu percaya Dan. Bukankah cinta dilandasi oleh kepercayaan?”

Aku hanya terdiam. Aku begitu kesal dengan Priska, terlihat dia bersiap pergi keluar untuk mengambil bukunya.

“Apa harus kamu ambil buku itu sekarang” nadaku sudah mulai meninggi.

“Aku harus segera mengambilnya Dan. Itu penting buat aku! aku akan mengambilnya sendiri”