Aku Jatuh Cinta | Part 1

Aku Jatuh Cinta | Part 1

Aku Jatuh Cinta | Part 1

Aku Jatuh Cinta | Part 1Sinar matahari meneroboh masuk melalui jendela kamarku. Betul saja karena silaunya membuatku terbangun, aku melihat jarum jam dinding yang tertempel di depan pintu kamar. Tepat sudah pukul 09.00 pagi. Dengan langkah sedikit malas, aku beranjak dari tempat tidur ke kamar mandi. Ku basuh muka dan gosok gigi, karena hari ini aku libur kerja jadi aku tak berniat untuk pagi.

Aku kembali di meja belajarku. Ku nyalakan laptop yang semalam telah mati, meskipun aku tidak berada di kantor namun banyak pekerjaan lainnya yang harus aku kerjakan. Aku mengecek situs blog ku kembali, dan benar saja. sudah beberapa bulan ini tidak ada aktivitas yang aku lakukan. Situsku sudah sangat berdebu, semenjak aku resmi menjadi karyawan tetap di kantor rasanya waktu telah habis dengan berbagai macam deadline dan laporan.

Aku ingat saat pertama kali aku membuat blog ini. hampir setiap hari aku bercerita tentang kehidupanku, mengenai suka dan duka selama kuliah. Menurutku saat menulis di situs ini aku merasakan kebebasan. Aku sangat tidak peduli dengan komentar orang-orang, kalau mereka memuji aku sangat bersyukur tapi kalau berkomentar jelek aku biarkan saja.

Aku berpindah dari meja belajar ke meja makan. Mamah sepertinya telah menyiapkan sarapan, sebelum berangkat ke rumah Tante. Sepi sekali, dan rasanya aku sangat suntuk dengan kehidupanku sekarang.

TRINGGGG TRINGGG TRINGGG…..

Terdengar bunyi telepon, aku memanggil seseorang yang bisa mengangkatnya. Namun aku sadar sekarang aku di rumah sendirian. Kenapa setiap hari minggu semua orang menjadi sangat mager termasuk diriku.

“Hallo Assalamualaikum.”

“Wa’alaikumsalam. Nindy ya? Ini Tante Salma Nin.”

“Oh iya Tante gimana? Hari ini Mamah ke rumah sana kan?”

“Iya barus aja sampe. Oh iya kata Mamah kamu, kamu lagi libur kerja 7 hari ya?”

“Hehehe iya, emangnya kenapa Tante?”

“Kamu nyusul Mamah ke sini dong. Soalnya 3 Hari lagi ada acara Nikahannya Iko, daripada kamu sendirian di rumah mending ke Malang sini.”

“Boleh deh Tante, nanti aku coba cek tiket pesawat Jakarta-Malang”

“Nah, gitu dong nanti kamu titipin rumahnya ke pak satpam aja ya!”

Memang selama satu minggu ini aku tak memiliki rencana pergi kemanapun. Menurutku pergi ke Malang juga tidak masalah.

Kondisi stasiun pasar senen memang selalu ramai, padahal tadi pagi aku bilang bakan ngecheck tiket dulu. Tapi entah kenapa karena gak ada kegiatan lain aku ingin langsung berangkat ke Malang hari ini. Antrian loket hari ini cukup panjang, dan yang paling menyebalkan adalah saat ada orang yang langsung menyerobot antrian begitu saja.

Jujur saja aku paling benci dengan orang yang tidak tertib. Apalagi jika orang tersebut adalah anak muda yang usianya tak terlalu jauh dariku. Tanpa pikir panjang aku langsung menegurnya, namun bukannya baris dibelakangku cowok itu hanya berkata “Misi sebentar ya mbak ini urgent.”

WHATTTTT… omegattt emang susah hidup di Indonesia orang ditegur bukannya merasa bersalah malah beralasan. Apalagi gak ada petugas stasiun pun yang lihat kelakuan cowok satu ini. Aku terus mencoba menepuk pundak cowok satu ini tapi dia terus mengacuhkanku hingga akhirnya “udah kok mbak mari.”
jujur kekesalanku rasanya masih ingin ku luapkan, tapi lebih baik aku biarkan saja. Aku tak ingin membuang tenaga hanya untuk bertengkar dengan cowok gak jelas itu.

“Selamat Siang mbak 1 tiket ke Malang buat hari ini”

“Mohon maaf mbak, untuk tiket ke Malang baru saja habis. Jika mbak berkenan mbak bisa reservasi tiket ke Malang untuk besok pagi di loket 1.”

Kejengkelanku kini telah mencapai puncaknya, dasar cowok gak punya aturan udah nyerobot antrian tiket terakhir ke Malang pasti di beli sama dia! Ini udah kelewatan, cowok ini harus aku tegur. Aku sangat hafal dengan tas ransel yang ia gunakan. Tas gunung motif army dengan tulisan “Love Never Die.”

Aku haru menemukannya, tepat di ruang tunggu. Dengan penuh keberanian aku menghampiri cowok itu. Ku tepuk pundaknya dan dia pun membalikan badan. Aku tak taku sekalipun meskipun postur tubuh yang dimiliki tinggi dan besar. Meskipun aku hanya setinggi ketiaknya dan harus mengangkat kepala saat harus berbicara dengannya, tapi Aku tidak TAKUT!!

“Woii mas, gara-gara anda, saya jadi ke habisan tiket ke Malang. Apa anda nggak ada perasaan bersalah sama saya? Anda sudah menerobos antrian dan membeli tiket terakhir ke Malang yang harusnya itu milik SAYA!” tanpa aku sadari intonasi suaraku yang tinggi menjadi pusat perhatian orang-orang. Cowok itu hanya diam saja, namun perhatianku teralihkan saat aku melihat sosok kakek dan nenek yang berada dibalik badan cowok itu mengucapkan maaf padaku.

“Mbak maaf..” ucap si kakek dengan sangat lirih. Kalau udah wajahnya saja aku sudah merasa iba dan nggak tega. Kakek dan nenek ini sudah sangat renta bahkan kakek harus menggunakan tongkat kayu untuk berjalan. Sedangkan nenek memiliki wajah yang sangat meneduhkan, rasanya kemarahanku hilang seketika.

“Maaf ya mbak, tiket ke Malangnya kami yang beli. Antriannya terlalu panjang saya sama istri gak kuat untuk berdiri lama. Jadi mas ini bantuin kami buat beliin tiket kereta ke Malang.”

Astaga Nindy selamat kamu telah menjadi wanita yang terbukti galak dan jahat. Tanpa pikir panjang aku mencium kedua tangan kakek dan nenek itu, jujur aku akui akulah yang salah. Memarahi orang tanpa meminta alasannya. Pantas saja tidak ada orang lain yang menegur orang ini rupanya dia bukan mementingkan keegoisannya namun mementingkan orang lain.

Aku tak ingin terlalu memikirkan kejadian barusan. Lebih baik aku mencari makan didekat stasiun dan baru pulang. Untung saja aku belum mengabari keluarga di Malang. “Heii mbak.. tunggu sebentar” aku membalikan badanku karena aku merasa panggilan itu ditujukan padaku. Ternyata benar lelaki yang baru saj aaku tegur tadi.

“Maaf ya mbak atas insiden tadi, nggak seharusnya saja nerobos antrian dan sekarang mbaknya jadi kehabisan tiket.”

“Nggak papa mas, udah lupain saja. Lagian saya bisa berangkat besok kok, udah ya mas saya duluan.”

“Tunggu mbak, daripada harus ubah jadwal, saya kasih alternatif lain mbak.”

Entah kenapa aku orang yang tak mudah percaya dengan orang baru, namun dengan cowok ini aku begitu mudah untuk menyetujuinya. Dari stasiun pasar senen, cowok mengajakku ke terminal senen. Jujur aku sendiri heran kenapa aku mengiyakan saat ia mengajakku ke terminal. Nggak seharusnya aku ikut dengan orang ini, hanya karena dia terlihat baik di keramaian bukan berarti dia akan berperilaku sama di tempat yang sepi.

Aku terus berusaha menjaga jarak darinya, apalagi postur tubuh yang dimilikinya tak akan bisa membuatku berkutik atau melawan. Dalam pikiranku aku membayangkan berbagai teknik bela diri yang aku lihat di film-film action. aku harus benar-benar mengingat dan mempelajarinya dengan cepat.

“Mbak, ini tiketnya.”

“HAH? Tiket?”

“Iya, sebagai permohonan maaf ini ada tiket bis buat ke Malang, mohon di terima ya mbak.”

“Duh mas beneran gak usah. Lagian saya udah bilang gak masalah kalo berangkat besok pagi. Malah jadi ngerepotin kan saya.”

“Udah gakpapa mbak. Lagian tujuan saya sama kok mbak, Malang. Ini tiketnya sudah dibeli sayang kali mbak kalo nggak dipake. Oh ya kita belum kenalan mbak, saya Bumi”

“Nindy.”

Maaf Ayah, Aku telah Curang | Part 2

Maaf Ayah, Aku telah Curang | Part 2

Maaf Ayah, Aku telah Curang | Part 2Maaf Ayah, Aku telah Curang | Part 2

Hari berikutnya, Ujian hari ini dijadwalkan adalah Bahasa Inggris dan Fisika. Banyak temanku yang mengaku kalah dengan mata pelajaran ini. Bagaimanapun aku tidak boleh kalah! Aku terus belajar di depan ruangan, ku bolak-balik lagi halaman dalam buku catatanku. Ditengah suasana belajar beberapa siswa hilir mudik melewatiku. Sempat aku mendengar “kuncinya udah bocor” bahkan ini masih sangat pagi. Ayolah kenapa dengan diriku, kamu harus percaya usaha tak akan mengkhianati hasil!

Hari ini lagi-lagi aku masih melakukan hal yang sama, aku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengerjakan soal ini. Semua yang aku pelajari hanya sedikit yang keluar di dalam soal. Akhirnya aku melakukan tindakan gegabah seperti kemarin.

Jam istirahatku hanya ku gunakan untuk belajar. Ratih menghampiriku, dia sangat perihatin melihatku di kelas. Dia berusaha menghiburku, hingga dengan sengaja dia mengirim semua kunci jawaban melalui pesan SMS ke padaku. Dia bilang “aku ingin kita lulus bareng-bareng”.

Selama ujian kedua berlangsung aku berusaha menahan diriku untuk mengerjakan apapun dengan segala kemampuan yang aku bisa. Perbuatan curang bukanlah bagian dariku. Tapi aku ingat kata Ayah saat kami makan malam di warung mi ayam “Nak, kalau nanti udah lulus dan dapat nilai terbaik Ayah janji bakal mengizinkan kamu untuk masuk universitas manapun”. Aku tak ingin mengecewakan Ayah dengan hasil nilai ujian yang buruk, dan aku juga ingin masuk unversitas yang aku pilih.

Ujian telah berlalu dan pendaftaran mahasiswa baru di berbagai universitas telah dibuka, sore ini aku duduk di depan teras rumah. Bersama Ayah aku menikmati secangkir teh. Kami bercanda seperti biasanya, aku menyerahkan selembar undangan dari sekolah. Surat yang berisikan pengumuman kelulusan siswa kelas XII besok lusa. Ayah sangat senang melihatnya, dan aku yakin besok namaku akan masuk siswa terbaik di sekolah.

Suara motor yang kencang, asap kenalpot, dan berbagai warna-wani memenuhi SMA. semua siswa kelas XII bersiap untuk menunggu keputusan sekolah. Aku duduk dibelakang bersama Ratih. Di dalam tas kami sebenarnya telah siap serbuk warna dan spidol untuk menandatangani seragam putih abu-abu ini.

Akhirnya pengumuman 5 siswa yang memiliki nilai UN terbaik di sekolah. Ayah akan ku buktikan padamu, jika aku adalah anak yang membanggakan! Satu per satu nama disebut. Namun yang terjadi..

Aku tak mendengar namaku di panggil. Kenapa? Aku coba mendengar satu nama terakhir, mungkin itu adalah aku. “yang mendapat nilai tertinggi di SMA Pancasila adalah RATIH TRIMULANSARI”.

Ratih tak berhenti memelukku! Dia sangat kegirangan. Ratih mulai melangkah menuju podium dan memberikan beberapa sambutan untuk siswa dan para orangtua. Kenapa? Kenapa harus Ratih, aku telah belajar dengan giat? Dan aku mendapatkan kunci jawaban yang sama dengannya! Tapi kenapa harus dia bukan aku? Seluruh jawaban Ratih adalah hasil bocornya kunci, sedangkan aku 60% berdasarkan apa yang aku pikirkan! Apa Ratih sengaja memberikan kunci jawaban yang salah? Tidak! Itu bukan salahnya dan dia bukan tipekal teman yang menusuk dari belakang. Pandanganku beralih keposisi duduk Ayah, dari belakang Ayah mungkin sangat kecewa denganku.

 “pengumuman hasil UN dilakukan seretak diberbagai sekolah di Indonesia banyak indikasi terjadinya kecurangan selama proses ujian berlangsung…”

Malam ini berita yang ada di berbagai channel di TV membahas mengenai UN. Aku masih menyantap makan malam bersama Ayah dan Ibu.

“sekarang memang banyak siswa yang dapat nilai bagus karena kunci jawaban. Itu sama saja bohong, nilai bagus tapi dari kecurangan… Ayah senang nilai yang kamu dapatkan adalah nilai murni dari hasil belajar.”

Dalam hati aku sungguh bersalah, hanya karena kepentinganku Aku rela membohongi Ayah yang seumur hidupnya mempercayaiku. Kali ini aku tak bisa menjawab apapun dari pernyataan Ayah. Aku hanya diam dan berpura-pura tak mendengarkannya. Maaf Ayah kali ini aku gagal membanggakanmu, adalah kesalahanku saat Ayah percaya dengan diriku tapi aku malah ragu. Maaf Ayah, aku telah berbuat curang.

IC-Talk  Social Impact In Startup Era 2019, “Spektakuler” Kah?

IC-Talk Di Startup Era 2019, “Spektakuler” Kah?

Dampak Sosial IC-Talk Di Startup Era 2019, “Spektakuler” Kah?

Semarang (21/09) Talkshow yang digelar oleh salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dari Universitas Stikubank, Interet Club. Sebenarnya menyambutku kemarin hanya untuk mengisi waktu luang di hari libur kerja. Aku juga bingung bagaimana menjelaskan posisiku saat itu, aku meminta peserta atau tamu undangan. Meskipun aku alumni organisasi, bukan berarti aku leluasa untuk membahas berbagai kegiatan yang mereka adakan.

Ajakan dari Mas Reza (membicarakan salah satu narasumber talkshow) untuk datang dan mendampinginya selama acara berlangsung. Aku cukup bingung apakah ini termasuk ulasan acara? Atau sebagian dari diaryku.

Kesan pertama dalam acara …

Acara dimulai sekitar jam 09.00 pagi atau justru lebih. Saat itu aku duduk di meja paling depan, untuk lokasinya sendiri terletak di Sasana Kridangga Lt. 9 kampus Kendeng UNISBANK. Jujur, kesan pertama aku masuk ruangan jujur sedikit nostalgia waktu ospek dan upacara wisuda. Sedikit menggambarkan ruangan, jujur ini termasuk ruangan yang luas dalam satu ruangan ada 3 garis lapangan batminton yang dibuat. Di sebelah kanan-kiri terdapat tribun dulu tempat itu diperuntukan orangtua wisudawan. Pada bagian depan terdapat sebuah panggung yang cukup besar dengan burung garuda yang gagah diatasnya.

Kedatanganku disambut baik oleh para panitia, tak lama setelah aku ikut nimbrung dengan beberapa narasumber yang lain. Acara pun dimulai, mungkin ini sedikit kritikan bagi panitia acara aku tahu ini adalah ruangan yang besar, namun sepertinya panitia kurang menyesuaikan set tempat. Jarak antara kursi peserta dan panggung narasumber cukup jauh. Mungkin jika setiap barisan 1,5 meter maju ke depan jarak yang ada tidak terkesan terlalu jauh.

Acara dimulai dengan pembukaan dari MC yang memperkenalkan diri, dan diikuti menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh semua orang di dalam ruangan. Selanjutnya ada sambutan dari ketua organisasi dan ketua acara, saat itu aku tak menghitung persis berapa menit yang dibutuhkan dalam sesi tersebut.

Setelah acara disambut oleh petinggi-petinggi organisasi, masih ada beberapa sosialisasi kalau tidak salah sosialisasi dari kegiatan Iconclass, Cymed sebagai salah satu produk mereka dan yang terakhir sosialisasi dari “cicil”. Pada momen ini aku merasa cukup bosan dengan apa yang sajikan di atas panggung. Hampir 20-30 menit ternyata dapat menurunkan tingkat interest-ku sebagai penonton. Aku tahu adik-adikku sedang belajar sekarang 🙂 tapi saat diriku memposisikan diri sebagai peserta memang sungguh kerasa pembawaan yang kurang menyenangkan dari sosialisasi mereka jadi terkesan lebih lama. But jangan berkecil hati karena masih ada banyak waktu untuk belajar.

Pembicara yang berkompeten

Setelah semua selingan disampaikan, barulah acara inti di Mulai, dengan dinarasumberi oleh Reza Aditya N. (Founder Bratamedia), Aditya Setiawan (Founder Idelokal), dan Aditya Dwi Putra (Founder Bizlab). Aku mungkin akan membahas sedikit materi yang dibicarakandari ketiga pmbicara.

Seperti yang telah kita ketahui banyak startup digital yang sedang berkembang di Indonesia. Setiap startup memiliki tujuan dan value-nya masing-masing. Dengan perkembangan saat ini mungkin ini adalah saatnya anak muda bergerak lebih maju khususnya di kalangan mahasiswa. Market yang begitu besar membuat kita sadar jika saat ini bukan waktunya berkompetisi atau memperbanyak musuh, banyaknya startup dan kebutuhan pasar yang bermacam-macam menuntun kita untuk saling berkolaborasi. Setidaknya itu adalah inti yang dibicarakan oleh Mas Reza.

Tak jauh berbeda dengan apa yang dikatakan Mas Reza, Mas Aditya pun menambahkan materi yang benar-benar memberikan wawasan bagiku sebagai penonton. Misalnya teknik marketing yang bukan lagi memperkenalkan sebuah produk atau jasa saja. Namun berubah menjadi bagaimana seorang marketer menarik perhatian para calon cutomernya bahkan dari sisi psikologi sekalipun. Saat ini banyak orang yang berada di usia produktif, namun justru mereka tidak bekerja secara produktif. Bukan hanya itu Mas Adit juga menjelaskan terjadi sebuah “GAP!”dimana banyak orang yang kesulitan mencari pekerjaan, namun ternyata banyak perusahaan yang kesulitan mencari tenaga kerja yang berkompeten. Menjadi mahasiswa memang selau identik dengan kegiatan pekuliahan, namun kenyataannya mata kuliah yang diajarkan tak mencakupi apa yang dibutuhkan sebuah industri.

Materi terakhir dibawakan oleh mas Aditya Setiawan (Mas Awan), meskipun dia yang paling muda. Namun value yang dimiliki tidak kalah dari kedua pembicara yang lain. Muda, Kaya, dan Berguna… kalimat yang begitu melekat. Banyak orang yang mengidamkan pensiun di usia muda, namun tak banyak orang yang sadar seberapa manfaat dirinya bagi lingkungan selama dia hidup. Sebuah tamparan untuk kaum muda. Banyak orang yang membangun sebuah bisnis hanya untuk pencapaian pribadi sehingga melupakan apa manfaat dari bisnis yang dibuat. Dengan gayanya yang humoris aku akui value yang diberikan dapat menghipnotis siapapun yang berbicara dengannya. Bahkan untuk memulai sebuah bisnis Mas Awan lebih menyarankan agar memilih ide dengan impact yang besar terhadap lingkungan sosial. Banyak startup yang jatuh karena apa yang dibuat kurang bermanfaat bagi masyarakat. Niat baik akan menghasilkan hal baik pula.

Konsep bagus tapi,…

Kurang lebih itulah yang disampaikan ketiga pembicara, semuanya memiliki value masing-masing. Aku sangat memuji dengan konsep acara yang dibuat cukup menarik (kecuali bagian pembukaan dan sosialisasi yang terlalu lama). Konsep yang cukup kreatif dengan memberikan game yang pada akhirnya memberikan wawasan bagi pesertanya. Namun sangat disayangkan interest yang sangat minim dari peserta. Bahkan tak ada seorang pun yang berani mengajukan pertanyaan kepada ketiga narasumber.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, acara ini cukup berdampak baik bagi diriku secara pribadi. Materi yang begitu menarik, pembawaan narasumber yang berkompeten menjadikan nilai plus. Semoga dengan adanya acara seperti ini akan banyak kesadaran yang muncul pada kalangan muda mudi. Pada akhirnya acara talkshow diakhiri dengan closing statement dari kedua moderator. (jujur terdengar samar…) Aku sendiri sangat menyayangkan sambutan yang dibilang “Spektakuler” tapi tidak sesuai dengan apa yang terjadi, terlepas dari kepasifan peserta. Karena ada dari faktor ruangan dan teknis (mic yang bermasalah dan jarak pandang peserta yang kurang jelas dengan layar proyektor).

Namun saya ingat Indonesia apa yang diutarakan pembicara, jika Indonesia sangat siang menjadi konsumen digital. Namun Indonesia belum siap untuk menjadi pemain digital, perlu adanya edukasi dari pihak yang membutuhkan-digital. Dan semua bisa diawali dengan permintaan kita untuk lebih mandiri, karena setiap melakukan sesuatu Anda harus tahu apa alasan terbesar untuk Anda.

Mulai dengan Mengapa?

Sekian dari ceritaku semoga ada manfaat yang bisa kamu ambil!

 

 

Maaf Ayah, Aku telah Curang | Part 1

Maaf Ayah, Aku telah Curang | Part 1

Maaf Ayah, Aku telah Curang | Part 1Maaf Ayah, Aku telah Curang | Part 1

Suasana sekolah menjelang Ujian Nasional memang sangat meneganggkan. Sudah hampir 1 bulan ini mengikuti kegiatan Bimbel, bersama beberapa temanku yang lain. Meskipun disekolah diajarkan mata pelajaran yang sama, namun bagi Ayahku pendidikan di sekolah tak akan mencukupi kebutuhan belajarku.

Bukan hanya itu, sehabis sholat magrib TV di rumah tak boleh dinyalakan. Itu semua Ayah lakukan agar aku terus belajar dengan giat. Aku memang anak terakhir dari 3 bersaudara. Kedua kakak telah bekerja dan merantau jauh di kota Jakarta. Yang tersisa di rumah tinggal aku, Ayah dan Ibu. Ayahku adalah seorang penjahit yang hampir setiap hari merima vermak. Aku tahu biaya sekolahku cukup tinggi, dan Ayah hanya mengandalkan mesin jahitnya untuk menafkahi Aku dan Ibu. Meskipun kedua kakak ku telah bekerja, bukan berarti Ayah hanya tinggal meminta.

Ayah tahu kehidupan perantauan sangatlah sulit, ia tak ingin merepotkan kedua anaknya meskipun tujuannya hanya untuk membayar uang SPP bulananku. Aku ingat kejadian semester kemarin, saat pertama kali aku melihat raut muka yang sangat kecewa dari Ayah. Dalam sejarah pendidikanku aku mendapatkan nilai yang rendah. Walau taka da sepatah  kata apapun yang diucapkan Ayah, tapi dari mimik wajahnya aku yakin dia sangat kecewa denganku.

Mungkin itu adalah salah satu alasan kenapa satu bulan yang lalu Ayah mendaftarkanku di tempat bimbel. Aku berusaha meyakinkannya jika untuk meraih peringkat satu cukup belajar kelompok di rumah. Tapi Ayah adalah orang yang keras kepala, apapun alasanku Ayah tidak bisa diterima olehnya begitu saja.

Tiga hari sebelum pelaksanaan Ujian Nasional. Pihak sekolah mengadakan doa bersama, suasana Aula yang dulunya sepi dan hanya digunakan untuk kegiatan bazar atau ekstrakulikuler kini berubah menjadi sangat ramai. Aku berada di barisan paling belakang bersama 3 sahabatku lainnya. Selama acara berlangsung kami terus bercerita meski sesekali ditegur oleh beberapa guru untuk diam. Ketiga sahabatku mengatakan jika mereka sangat tegang dengan hasil Ujian Nasional nanti. Apalagi jika mereka tidak masuk Universitas Negeri.

Aku hanya mampu mendengarkan, karena bagiku aku yakin aku mampu melewati UN dengan mudah. Usahaku dalam belajar tak mungkin kalah dengan soal Ujian. Acara istighosah berlangsung cukup lama karena terdapat beberapa doa kami panjatkan. Tepat pukul 13.30 siang, kami siswa kelas XII keluar dan kembali ke kelasnya masing-masing. Pak guru mengarahkan kami untuk tidak mampir main dan segera beristirahat di rumah. Tapi kami bukanlah anak kecil yang dilarang untuk pergi ke tempat yang kami sukai.

Aku dan ketiga sahabatku yang lain mengemasi alat tulis dan buku yang sangat berantakan di atas meja. Tapi sepertinya suasana sekolah sangat aneh tidak seperti biasanya…

Memang sebagian besar dari siswa kelas XII sudah pergi meninggalkan sekolah. Namun aku merakan hal yang tak biasa ketika salah satu temanku diam-diam mengajakku di GOR sekolah. Aku sangat heran padahal hari ini aku dijadwalkan untuk bimbel. Dia bilang untuk menemaninya sebentar setelah itu dia akan mengantarku pulang. Sebagai teman aku hanya mampu mengikutinya.

Bukan hanya siswa sebagian besar guru juga sudah pulang, itu terlihat dari ruangan yang tinggal 3 -5 guru saja. aku mencoba berjalan biasa saja, tapi Ratih (temanku) kenapa mengendap-ngendap? Apa yang dia takutkan?

Rasa penasaranku terjawab saat masuk ke GOR sekolah. Disana berkumpul sekitar 14 siswa XII dari berbagai kelas IPA dan IPS. Ada beberapa yang tak aku kenali. Begitu sampai mereka langsung memintaku untuk segera menutup pintu. Forum apa ini?

Suara yang sangat pelan, Udin. Siswa dari kelas XII IPA 4 memimpin forum ini. Dari diskusi yang dilakukan sesame angkatan ternyata ini adalah pembahasan mengenai Kunci Jawaban UN! Aku sangat terkejut, rasanya aku ingin lari dari tempat itu! Tapi lagi-lagi Ratih berhasil membujukku.

Sehari setelah kejadian itu, membuatku semakin tak fokus dalam belajar. Kunci jawaban UN yang bocor sebenarnya bukan rahasia umum lagi di kalangan pelajar. Banyak orang yang terbukti lulus Ujian karena Kunci Jawaban yang digunakan. Awalnya aku sangat yakin dengan kemampuanku sendiri, namun dalam hati kecilku ini sungguh tidak Adil. Aku belajar dengan keras, bukan hanya aku tapi juga Ayah! Tapi mereka yang tanpa belajar dan selalu bertingkah nakal kenapa harus mudah diluluskan dengan nilai baik pula!

Setelah aku kalah berdebat dengan Ayah aku berjanji padanya akan mendapatkan nilai baik di Ujian Nasional tapi kalau begini aku akan kalah dengan temanku yang curang! Ini gak adil!

Ratih mengajakku ke kantin, hari ini iuran untuk membeli kunci jawaban telah ditetapkan. Total biaya yang harus dibayar ke calonya adalah 10 juta. Nominal yang sangat besar untuk anak SMA, oleh sebab itu hasil forum kemarin menyatakan jika setiap anak yang ingin mendapatkan kunci jawaban harus membayar 70 ke koordinator. Dan Ratih adalah salah satu koordinatornya.

Seharian aku menemani Ratih di kelas, kantin, dan kelas XII yang lain hanya untuk menarik iuran ke teman-teman seangkatan. Aku melihat hampir sebagian berkontribusi dalam tindakan curang ini.

“Na, kamu nggak mau ikut gabung?” tanyanya.

Aku menggelengkan kepalaku, aku berusaha yakin dengan diriku sendiri. Ratih membiarkanku, meskipun dia menjadi koordinator tapi dia tak memaksaku untuk terlibat. Bagiku 70 ribu adalah uang yang besar. Uang jajan harianku saja hanya 10 ribu. Bayangkan jika aku memutuskan untuk bergabung aku bisa saja tidak jajan dalam satu minggu ke depan.

Malam ini, Ayah membebaskanku untuk tidak belajar. Malam ini aku diajak Ayah untuk makan Mi Ayam di tempat Favorite kami. Selain karena harganya yang murah semenjak ibu mengandungku Ayah sering datang ke sini. Aku memang sangat dekat dengan Ayah dibandingkan dengan Ibu, karena setiap malam ibu harus menemani nenek yang sedang sakit.

“Nak, kalau nanti udah lulus dan dapat nilai terbaik Ayah janji bakal mengizinkan kamu untuk masuk universitas manapun” ucap Ayah.

Mendengar kalimat itu tentu saja aku langsung bersemangat menghadapi UN beso lusa. Di tengah kekhawatiranku selama ini ternyata ucapan Ayah membuatku semakin optimis dan percaya diri. Aku berjanji, Aku akan jadi anak yang membanggakan untuk Ayah! Adalah janji yang benar-benar aku ucapkan dari hatiku terdalam.

Inilah hari penentuan, suasana sekolah sangatlah tenang. Tak ada kegaduhan apapun, siswa kelas X dan XI diliburkan. Sedangkan kami masih dalam ruangan. Aku melihat teman-temanku begitu tenang saat ujian berlangsung. Soal telah dibagikan, ada beberapa hal yang bisa ku kerjakan namun ada pertanyaan yang membuatku berpikir cukup lama. Saking seriusnya mengerjakan aku tak sadar jika 10 menit lagi waktu ujian selesai. Aku sangat kebingungan aku baru mengerjakan tiga perempat dari seluruh soal. Sedangkan temanku yang lain dengan percaya diri meninggalkan kelas. Tanganku gemetaran, guru pengawan memintaku untuk bersikap tenang dan santai. Namun hal itu tidak mudah, aku sangat gugup. Aku mengarang semua sisa jawaban yang belum terjawab.

Jam istirahat berlangsung sekitar 30 menit aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi tadi. Kemarin aku sungguh percaya diri, namun apa yang terjadi! Aku malah berpikir terlalu lama. Ratih sangat memperhatikanku, dia juga teman yang peduli denganku. Sebelum ujian kedua berlangsung dia menawarkan akan membagikan kunci jawabannya jika aku meminta, tapi.. aku harus yakin dengan diriku sendiri.

My First Solo Trip In Jogja, Part 1 : Terancam Batal!!!

My First Solo Trip In Jogja, Part 1 : Terancam Batal!!!

My First Solo Trip In Jogja, Part 1 : Terancam Batal!!!

My First Solo Trip In Jogja, Part 1 : Terancam Batal!!!

Hallo Dears, Alhamdulillah aku bisa berbagi cerita lagi. Hari ini aku ingin bercerita tentang single trip pertamaku di Jogja (Helehh Jogja biasa..) iya tahu biasa. Sebelumnya aku juga udah beberapa kali ke Jogja, tapi itu selalu dengan gerombolan teman-temanku. Sebenarnya sedari SMA kelas 3 aku sangat menyukai cerita-cerita backpacker gitu. Namun hal itu belum pernah aku lakukan sebelumnya, jujur aku sendiri masih takut. Nanti kalo kesasar gimana? Kalo diapa-apain orang emang kamu bisa ngelawan? Dan masih banyak lagi pemikiran negatif aku. Bukan Cuma aku sebenarnya tapi juga setiap temen-temenku yang ku mintai pendapat soal Solo trip juga bilang Jangan!!!

Ya memang susah bagi sebagian wanita buat mencoba hal yang diluar dari biasanya. Meskipun sudah banyak cewek yang pergi kemana pun sendirian, tapi bagi aku dan lingkunganku ini belum tentu bisa dilakukan. Aku sadar jika ketakutan itu berasal dari dalam diri bahkan aku pernah baca setiap hal yang kita pikirkan 95% tidak akan terjadi. Meskipun begitu kita tetap harus waspada dengan segala kemungkinan hal buruk yang terjadi.

Langkah petama Solo tripku

Hingga akhirnya aku sadar waktu liburan 17an kemarin kayaknya ini udah saatnya deh Dears! Jujur libur 2 hari di kostan aku bingung mau apa? Nulis? Tiduran? Makan? Streaming? Semua itu udah aku lakuin setiap hari. Sebagian hatiku sadar sebagai seorang penulis daya imajinasiku harus bertambah, khususnya bagimana aku mensetting sebuah cerita. Hingga malam sebelum hari sabtu aku putusin buat pergi liburan dengan budget yang minim. Memang sih tanpa planning apapun namun setidaknya aku harus berani melakukan ini sendirian.

Hal pertama yang aku lakukan adalah menentukan destinasi tempat, jujur awalnya aku sedikit bingung memiih Jogja atau Solo? Kenapa aku memilih dua kota itu, ini sedikit tips buat kamu Dears yang pertama kali mau solo trip kek aku kemarin. Usahakan memilih tempat yang pernah kalian kunjungi sebelumnya, kalau baru pertama aku saranin jangan coba tempat baru ya!

Langkah kedua yang aku siapkan adalah Budget! Ini penting khususnya buat Dears yang nasibnya masih ngekost dan gajiannya 1 bulan sekali kek aku. Perhitungkan baik-baik semua pengeluaran yang akan dipakai selama trip mulai dari akomodasi, penginapan, konsumsi, tiket wisata dan hal kecil seperti P3K. oh ya waktu kemarin aku nyiapin uang sebesar 200k buat trip 2 hari 1 malam ke Jogja.

Sebenarnya untuk perjalanan Semarang-Jogja ada dua pilihan angkutan umum yakni Bis atau kereta. Untuk bis biaya yang harus dikeluarkan berkisar 40 sampai 50 ribu rupiah. Tapi aku haru pergi dulu ke terminal Sukun dengan naik bis transJateng, tarifnya sendiri berkisar 4 ribu.

Selain bis kamu juga bisa naik kereta, bisa dipilih dari Semarang Jogja langsung atau  dari Semarang turun Solo dan dilanjut naik kereta dari Solo ke Jogja. Kalau mau hemat aku saranin buat pilih saran kedua, karena harga tiketnya 10k untuk Semarang-Solo. Tapi ada beberapa catatan yaitu jam keberangkatan kereta ke Solo Cuma ada jam 9 dan jam 3 sore. Jadi usahain waktu liburan kamu gak jadi berantakan.

Solo Trip ku terancam batal!

Sedikit cerita tentang keberangkatanku, Dears. Tepat pukul 7:45 pagi aku keluar dari kostan, niat awal aku berangkat ke Jogja pakek kereta. Ya, gimana pikir-pikir budget 50k dah bisa buat PP jadi kenapa nggak? Tepat pukul 08:00 aku udah sampai di stasiun Tawang, dalam hatiku “Akhirnya bisa liburan…” sebenarnya itu pertama kali aku pesen tiket langsung ke Tawang (biasanya aku naik dari stasiun Poncol). Sesampainya di loket aku bilang sama petugasnya. “Mas tiket ke Purowsari Solo.”

“HABIS MBAK”

Jujur kaget banget karena kedatanganku masih 1 jam sebelum jadwal keberangkatan.

“Disini kan  abis kalo di Poncol masih ada tahu gimana?” usahaku untuk menego tiket kereta

“Habis juga mbak” jawab peugasnya lagi. Mungkin dalam hati tuh petugas jengkel sama aku :’

Dalam sepersekian detik, hatiku rasanya sedih banget. Jujur semaleman aku mikirin betapa serunya nanti aku melancong sendirian ke Jogja. Aku coba hubungi temen aku yang ada di jogja, tapi dia masih tidur keknya. Aku juga coba telpon temenku yang lain, aku tanya soal bisa Semarang-Jogja. Jujur sih aku sempat ingin membatalkannya karena ya budget 50k buat PP bisa berubah 100k kalau aku naik bis. Waktu di Tawang aku masih kek orang kebingungan gitu. Mondar-mandir gak jelas, namun seketika aku berpikir.

Dan keputusanku akhirnya

Ini adalah kesempatan, kalau semisal karena biaya aku jadi membatalkannya selamanya aku gak bisa melakukan ini. Aku harus berani untuk mengambil langkah awal, meskipun harus rugi karena pengeluaranku melebihi rencana. Tapi aku yakin aku akan jauh lebih menyesal jika hari ini ku putuskan pulang kembali ke kostan.

Benar kata Ria SW, jangan biarkan jarak dan uang menjadi penghalangmu untuk melangkah. Karena jarak jauh bisa ditempuh dengan ojek online dan uang bisa dicari lagi kalau nggak lemburan ya… ngutang hehehe becanda ini.

Pengalaman dan waktu adalah hal yang berharga kalau sekali kita ngelewatin maka selamanya hal itu gak akan berulang.

My First Post

My First Post!

My First Post!

Holaaa Dears!!! Selamat datang di halaman ceritaku, mungkin kamu banyak yang belum mengenalku. Sebelum aku memulai bercerita aku ingin memperkenalkan diri. Namaku Riski Wahyuningsih, kamu boleh memanggilku Riski, Kiki, atau Sayang

mungkin EH!

Di postingan pertamaku aku ingin menceritakan sedikit tentang diriku. Sebenarnya aku bukanlah gadis populer dengan latar belakang keluarga ternama. Ya, mungkin bisa dibilang gadis biasa, tapi bukan berarti pengalaman hidupku biasa-biasa saja.

Aku lahir di sebuah desa kecil  yang terletak di Kabupaten Grobogan, saat ini aku sedang merantau di salah satu kota yang menjadi ibukota provinsi Jawa Tengah. Yups, Semarang! Kota lunpian ini akan menjadi saksi dimana aku dapat meraih mimpi. Sebagai anak perantauan pasti ada cerita suka dan duka. Mungkin diantara kamu juga merasakan hal yang sama denganku.

My First Post!

Dears, bagiamana pun suasana hati kamu entah bahagia atau sedih sekalipun. Kamu tetap membutuhkan teman untuk diajak bercerita, apalagi jika nasib yang dialami sama. Percaya atau engga berbagi cerita  dengan orang lain akan mengurangi beban pikiran kamu dan akan membuat hati jauh lebih tenang.

Namun ada sebagian orang yang mungkin merasa kurang nyaman untuk menceritakan masalah mereka dengan orang lain. Meskipun begitu janganlah memendam perasaan itu terlalu lama, kamu masih punya banyak cara untuk mengungkapkan.

Seperti aku, ya aku lebih memilih menuangkan perasaanku dalam sebuah tulisan. Mungkin sebagian dari kamu juga bisa merasa lebih tenang saat seluruh isi hati ditulis, meskipun tak ada seorangpun yang mengerti. Tapi siapa peduli, justru itu yang membuat kita semakin cinta dengan tulisan.

Dears, untuk mencurahkan isi hatiku dan mewakili perasaan kamu. Aku akan menceritakan kisah-kisah menarik yang sering kita rasakan tapi sulit sekali diungkapkan.

Sekian dulu perkenalanku meski tak banyak yang ku jelaskan, namun seiring waktu kamu akan semakin mengenalku begitupun aku! Yang akan mendengarkan cerita kamu Dears!